SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Hari yang Segar


__ADS_3

"Hei, kamu kenapa?"


Aku membuka mata dan kudapati wajah suamiku tampak kebingungan. Aku bergegas menghambur ke pelukannya. Lanjut terisak di sana. Dia makin bingung, terus melontarkan tanya sambil mengusap kepalaku lembut. Ditariknya tubuhku menjauh dan dibingkai wajah ini. Matanya menatapku lekat.


"Mimu kenapa? Ada apa menangis? Coba cerita!"


Aku masih tersedu-sedu. Dia pamit mengambil air minum. Aku mengamati sekeliling. Ternyata ini masih di kamar. Itu artinya, semua cerita mengerikan tadi hanya mimpi. Aku menghela napas sedikit lega, tetapi kemudian dihinggapi rasa takut lagi. Takut kalau mimpi itu menjadi nyata. Bagaimana dengan suamiku? Benarkah dia bakal menerima aku apa adanya?


"Nih, minum dulu biar tenang!" Aku tersentak dari lamunan, lantas meminum air pemberiannya hingga tandas.


Dia kembali merengkuh tubuhku seusai menaruh gelas kosong ke atas meja di sisi ranjang. "Kamu kenapa, sih? Hmmm? Kenapa  nangis?"


"Aku mimpi buruk." Tenggorokan ini kembali tercekat rasanya. Mimpi ketika dokter menjelaskan bahwa aku mandul terekam jelas di ingatan.


"Mimpi apa? Hmmm?" cecarnya sambil membingkai wajah ini.


Aku menggeleng, tak sanggup menceritakan padanya. Air mataku meleleh lagi. Dia menarik kepalaku dan dibenamkan dalam dekapannya. Kurasakan dia mengecup puncak kepalaku.


"Udah, nggak usah nangis lagi. Itu hanya mimpi. Nggak usah diceritain dan dipikirin. Oke!" Dia membingkai wajahku lagi. Detik kemudian dikecupnya bibir ini. Morning kiss, katanya supaya aku semangat menjalani hari ini.


"Nah, gitu dong. Senyum." Dijawilnya dagu ini, lalu mencubit gemas pipiku. Kemudian dia mengajakku joging.


"Tumben?" celetukku.


"Kita kan, udah lama banget nggak olahraga. Iya, kan?"


"Hmmm." Anggukan pembenaran mengiringi.


"Ya udah, sana cuci muka terus siap-siap. Aku tunggu di teras, ya." Aku mengangguk setuju.


*****


"Capek. Haus juga plus laper," rengekku saat kami istirahat di bangku taman.


"Ya udah, kita langsung cari rumah makan aja, yuk. Cari minum sekaligus sarapan!" ajaknya.


"Ayok!" Dia pun langsung menggandeng tanganku. Kami berjalan keluar area taman. Mencari warung makan pinggir jalan yang sudah buka.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu!" sapa kami pada pemilik warung.


"Pagi. Mau makan, ya?" balas wanita paruh baya pemilik warung ini.


"Iya, Bu." Suamiku yang menjawab. Aku hanya mengangguk membenarkan.


"Ya sudah, silakan duduk! Tapi, menunya baru beberapa yang siap," terang wanita itu.


"Ya, nggak papa, Bu. Kami makan makanan yang sudah siap santap saja. Ada apa aja Bu, yang sudah masak?"


Ibu pemilik warung menjawab pertanyaan si Bocil. Saat ibu itu menyebut rendang jengkol, mataku langsung terbelalak. Suamiku menoleh, tatapan kami bertemu. Dia mengedikkan alis, aku mengangguk. Dua porsi nasi hangat plus rendang jengkol, itulah menu yang kami pesan.


"Cepet ya, Bu. Istri saya sudah lapar soalnya."


"Siap, Mas!"


Kami pun duduk menunggu pesanan datang. Melihat rambut lelakiku berantakan, tangan ini reflek merapikan.


"Makasih, Sayang."


"Hmmm."


"Kenapa?" tanyanya saat aku berpaling dari kamera.


"Aku lagi jelek. Nggak mau foto. Nggak make-up tadi," rengekku.


"Kamu itu tetep cantik meski nggak pake make-up. Percaya diri aja napa, sih?"


"Nggak mau. Malu."


"Orang cuma buat di-save di galeri doang nggak diposting di medsos, kok. Ya udah, kita selfi muka jelek aja!" ajaknya. Kami pun berpose muka jelek, lalu tertawa saat melihat hasilnya. Lucu juga.


"Ini makanannya, Mas, Mbak. Silakan!" ujar pegawai di warung makan ini.


"Terima kasih, Mbak," balasku dan suamiku kompak. Wanita yang lebih muda dari pemilik warung ini mengangguk dan tersenyum ramah.


"Oya, minumnya apa?" tanyanya kemudian. Aku dan si Bocil kompak saling lirik.

__ADS_1


"Teh hangat saja," jawab kami kompak lagi. Pelayan di depan kami hanya senyum, lalu mengangguk dan pergi membuatkan teh untuk kami yang sedang tersipu. Eum, mungkin lebih tepatnya aku yang tersipu.


Aku mengangguk-angguk sambil mengunyah rendang jengkol. Rasanya ngebland abis di mulut. Ada pedes, manis dan gurih serta kenyal jengkolnya. Perpaduan yang ciamik banget saat disatukan di dalam mulut dengan nasi hangat. Mata ini sampai merem melek menikmati sensasinya. Pecah banget di mulut, meluncur tanpa macet di tenggorokan, lalu mendarat dengan mulus di lambung. Yami.


"Ya ampun, sampai belepotan gini makannya." Aku tersentak saat tangan lelakiku mengusap sisa makanan yang nyasar ke sudut bibir.


"Enak, ya?" Aku mengangguki tanyanya.


"Ya udah, kita pesen dua porsi lagi ya, untuk nanti makan siang," lanjutnya.


Aku mengangguk setuju sambil mengacungkan kedua jempol ke hadapannya. "Jengkol rendangnya aja. Nasinya nanti kita masak sendiri."


"Oke."


*****


"Kamu belum siap-siap?" tanyanya setelah agak siang. Kebetulan ini hari Sabtu dan kantor libur.


"Siap ke mana?" Dahi ini mengernyit.


"Katanya hari ini mau cek ke dokter. Mau mulai program hamil?"


Aku terdiam. Mendadak jantung ini berdebar-debar. Lagi, ingatan soal mimpi tadi pagi terekam kembali. Rasa takut kembali menghantui.


"Eum." Rasa bimbang mendadak menyergap. Rasanya aku masih butuh waktu lagi. Terlalu banyak ketakutan yang menghantui.


"Kalau memang kamu belum siap, ya udah, nggak papa lain kali aja kita ke dokternya." Dia seperti bisa membaca gelagatku. Digenggamnya kedua tanganku erat. Aku mengangguk sepakat menunda ke dokter.


"Mimu nggak usah takut. Dengan atau tanpa anak, aku nggak akan berpaling darimu. Sejak awal, niatku ingin menua bersamamu. Kalau pun kita dianugerahi anak, itu aku anggap sebagai bonus. Kalau enggak, ya nggak papa. Karena bersamamu saja sudah lebih dari cukup."


"Kamu itu duniaku, segalanya bagiku," lanjutnya sambil mengusap air mata yang meleleh di pipi ini.


Aku langsung memeluknya erat. "Makasih ya, udah jadi suami terbaik buat aku. Maaf, kalau aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu. Maaf, kalau aku masih suka ngegas ...." Dia menarik tubuhku menjauh dari pelukannya, lalu menempelkan telunjuk di bibir ini.


"Satu hal yang harus kamu tahu, aku jatuh hati padamu karena itu. Karena kamu itu suka ngegas dan terkesan galak. Di balik itu, aku tahu dan bisa merasakan kelembutan hatimu, istriku terlove. Jadi, aku malah suka kalau kamu ngegas. Kadang malah suka kangen diketusin sama kamu."


Kusergap bibirnya. Tak kuberi dia kesempatan untuk mengoceh atau protes. Sampai akhirnya kami pun harus mandi keramas lagi. Padahal hari masih menjelang siang, tetapi sudah mandi dua kali.

__ADS_1


"Ahhh, hari yang segar," celetuknya sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Aku hanya mengulum bibir, mata kami saling lirik.


__ADS_2