
Aku menengok ke belakang. Ulfa rupanya mengekor. Menangis sambil berlari ternyata cukup menguras energi. Sampai di depan kantor, mobil ambulans sudah berjalan keluar gerbang. Aku terus berlari sambil terengah-engah, berusaha mengejar, melambaikan tangan berharap salah seorang di dalam ambulans itu menyadari keberadaaku. Namun, nyatanya mobil itu terus melaju. Aku panik dan khawatir. Terduduk di tepi jalan, di luar gerbang kantor, memeluk lutut dan tersedu.
"Tenanglah, Safa." Kurasakan Ulfa menyentuh kedua sisi bahu ini, "Aku pesankan taksi online, ya. Aku temani nyusul suamimu. Sebentar, sekalian aku telepon Pak Broto buat izin," lanjutnya. Aku masih betah pada posisi semula.
Tangisku kian deras saat teringat tadi dia sudah begitu baik, mengerjakan semua pekerjaan rumah, membuatkan kopi, ketika di kantor melihatku kelelahan dia memijit bahu dan kening ini, ia tak henti-hentinya merayu agar aku berhenti merajuk. Seharusnya tadi ... aku maafkan saja dia.
Aku memang bodoh! Naif! Maafkan aku, Cil! Maaf! Aku gak akan maafin diriku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu padamu.
"Nah, ini taksinya udah dateng. Yuk, aku anter ke rumah sakit tempat suamimu dirawat." Ulfa membantuku berdiri, lalu memapah diri ini memasuki mobil. Kemudian dia turut duduk bersebelahan.
"Sabar ya, Fa, kita doakan saja supaya suamimu baik-baik aja. Udah dong, nangisnya," ujar Ulfa sambil mengusap lembut bahu ini. Aku tak bisa berhenti menangis dan menyalahkan diri sendiri. Iya, aku yang salah, aku yang udah keterlaluan dan mengakibatkan bocil kecelakaan saat bekerja. Mungkin dia bisa sampai jatuh karena gagal fokus aku cuekin dan ketusin dari semalam.
Argh! Aku memang payah!
"Sudah sampek, Fa. Ayok, turun!" Aku nurut saja saat Ulfa menuntunku turun di depan sebuah rumah sakit.
"Udah, biar aku aja yang bayar taksinya," katanya saat aku akan membayar pakai aplikasi.
"Kamu yakin, ini rumah sakitnya?" tanyaku memastikan seusai taksinya pergi.
"Bener kok, menurut info yang aku dapat, ini rumah sakitnya."
Cepat aku berjalan masuk dan bertanya kepada resepsionis akan di mana keberadaan suamiku.
"Maaf, nama suaminya siapa, ya, Bu?" tanya seorang wanita yang tengah bertugas di meja resepsionis dengan ramah.
"Bocil, eum, Miku. Bukan! Maksud saya, eum, Dafa. Ya, Dafa." Aku panik dan tergagap. Ulfa berusaha menyalurkan kekuatan dan ketenangan melalui usapan lembut di bahu ini.
"Maaf, kalau boleh tahu lagi nama kepanjangannya siapa ya, Bu? Pasalnya di sini ada beberapa pasien bernama Dafa."
"Dafa Alfarizki."
"Oh, masih di UGD, Bu."
"UGD-nya sebelah mana ya, Mbak?" Kali ini Ulfa yang mewakili bertanya. Kami berdua lantas menuju UGD sesuai arahan dari petugas administrasi tadi.
Sampai di depan UGD pintunya masih tertutup. Salah satu office boy yang turut mengantar si Bocil tengah berdiri melipat tangan di dada dan berdiri bersandar pada salah satu sisi dinding.
Cepat aku mendekat. "Bagaimana kondisi Dafa? Kenapa kamu gak ngasih tahu saya tadi? Kenapa pas saya teriak-teriak manggil minta ditunggu gak ada yang denger?" Office boy itu terbengong. Dahinya mengernyit. Heran mungkin.
"Safa, tenangkan dirimu! Tanyanya satu-satu," sahut Ulfa lembut. Dia lanjut minta maaf atas namaku ke office boy itu.
"Saya minta maaf. Saya terlalu khawatir dengan kondisi suami."
"Oh, jadi Bu Safa ini istrinya Mas Dafa, to?"
__ADS_1
Jadi, ternyata office boy ini belum tahu kalau Dafa itu suamiku. Pantesan tadi malah bengong.
"Iya. Dia ini istrinya Dafa. Dafa gimana kondisinya?" Lagi, Ulfa mewakili pertanyaanku.
"Dafa masih ditangani oleh dokter di dalam," jelas office boy yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Deni.
"Gimana ceritanya dia bisa sampai jatuh begitu?" cecarku.
"Kronologisnya gimana, saya juga gak tahu, Bu. Tahu-tahu dia sudah terguling dan jatuh ke bawah. Kemungkinan terpeleset," terang Deni.
"Lukanya gimana? Parah gak? Bagian mana saja yang terluka?" Lagi, aku memberondongnya dengan serentetan tanya.
"Kalau di badannya aku gak tau ada lukanya apa enggak. Tadi yang mengeluarkan darah di bagian kepala sama sebelah matanya, Bu."
Selepas mendengar penuturan Deni, aku limbung. Nyaris ambruk. Lutut ini rasanya lemas. Tulang di kaki seolah tak berfungsi menopang tubuh. Aku takut dia kenapa-kenapa.
"Duduk dulu, Fa!" titah Ulfa sambil berusaha menopang tubuhku yang gemetar dan lemas.
Aku pun duduk. Jantung berdebar tak menentu menunggu dokter keluar. Mataku terus tertuju pada pintu kaca.
Tak lama Pak Broto datang, menanyakan kondisi si Bocil. Kujelaskan sesuai fakta bahwa dia masih di dalam sana menjalani serangkaian pemeriksaan.
"Turut prihatin atas apa yang menimpa Dafa. Kamu yang sabar, ya! Saya akan minta pada dokter supaya melakukan yang terbaik untuk suamimu. Dan semua biaya pengobatannya biar saya yang tanggung," ujar Pak Broto kemudian.
"Terima kasih banyak, Pak."
Saat pintu UGD terbuka, aku cepat-cepat berdiri, disusul Ulfa dan yang lain. Aku, Ulfa dan Pak Broto juga Deni bersamaan menanyakan kondisi si Bocil. Dokter terdiam beberapa saat, matanya memonitor kami satu per satu.
"Ini semua keluarga pasien?" tanya dokter. Hanya aku yang mengangguk mengiyakan.
"Saya yang bertanggung jawab untuk semua biaya perawatan pasien, Dok." Pak Broto berujar sambil menyalami dokter, "Jadi, bagaimana kondisi pasien?" imbuhnya.
"Kondisi pasien, ada satu luka robek di kepalanya sepanjang 3 centi." Aku membungkam mulutku yang menganga.
"Lalu luka memar di pelipis, dan lecet kecil di beberapa bagian badannya, dan semua itu sudah kami tangani sebaik mungkin. Luka robeknya juga sudah kami jahit, dan ...."
"Kalau tulangnya aman, kan, Dok? Gak ada yang patah atau retak, kan?" Aku menyela tak sabar.
"Tulangnya, ada yang memar di bagian dadanya, dan ini kemungkinan akan berakibat ...."
"Berakibat apa, Dok?" Lagi, aku menyela sambil sport jantung.
"Mungkin karena memar pada tulang dadanya itu akan mengakibatkan pasien nanti merasakan sesak pada dadanya."
Badanku limbung lagi mendengar itu semua. Aku semakin merasa bersalah. Juga merasa takut akan kemungkinan terburuk yang terjadi padanya.
__ADS_1
"Dok, pokoknya saya mohon lakukan yang terbaik untuk pasien. Tolong dirawat sampai sembuh total. Soal biayanya biar saya yang urus mau habis berapa pun," ujar Pak Broto. Dokter mengangguk siap memberikan pelayanan terbaiknya. Tak lupa kuucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Pak Broto yang sudah berbaik hati.
"Itu memang sudah menjadi tanggung jawab dan kewajiban saya, Safa. Secara Dafa kecelakaan saat masih jam kerja dan masih di area kantor," imbuh Pak Broto.
"Oya, Dok, apa saya sudah boleh melihat kondisi suami saya?"
"Sebaiknya tunggu pasien dipindahkan ke ruang rawat dulu, ya," saran dokter. Aku hanya bisa mengangguk patuh.
Selepas dokter pamit menangani pasien lain. Pak Broto pamit pergi juga karena ada hal penting yang harus ia urus. Deni juga pamit kembali ke kantor. Kini tinggal aku dan Ulfa yang memaksa tinggal karena tak tega denganku.
*****
Akhirnya aku bisa melihat kondisi si Bocil juga setelah dipindahkan ke ruang rawat. Dia masih belum sadarkan diri. Kondisinya sangat kacau. Perban putih melingkar di kepala, pelipis membiru dan luka kecil di beberapa bagian tubuhnya yang lain seperti halnya di siku dan lengan.
Serta selang oksigen terpasang di hidung, juga jarum infus menancap di punggung tangannya. Air mataku menetes lagi, rasanya aku tak sanggup melihatnya tergolek tak berdaya begini.
Aku sudah rindu saja sama keusilan dan ketengilannya. Rindu perhatian kecilnya juga keromantisannya. Ternyata benar ya, semua akan terasa sangat berarti ketika sesuatu itu telah hilang.
Tidak! Aku tidak akan kehilangannya. Dia pasti akan kembali seperti sedia kala. Ya, aku yakin itu. Aku percaya dia orang yang kuat dan hebat.
"Sabar ya, Fa, semoga suamimu cepat pulih seperti sedia kala." Aku mengangguki ucapan Ulfa.
"Oya, terima kasih kamu udah nemenin aku sampai selama ini."
"Sama-sama, Fa. Udah deh, gak usah formal gitu. Kek sama siapa aja."
"Sekarang kan, suamiku udah dipindahin ke ruang rawat. Aku udah agak tenang kok. Aku bisa hendel semuanya. Jadi, kamu mending balik ke kantor aja. Sekalian tolong hendel kerjaan aku," pintaku sesopan mungkin.
"Jadi ceritanya aku diusir, nih?"
"Gak gitu maksud aku ...." Ulfa terkekeh melihat ekspresi bersalahku.
"Iya iya, aku ngerti kok. Ya udah, aku balik ke kantor. Kamu yang kuat dan sabar. Kalau butuh bantuan jangan sungkan call me!"
"Siap, Ndan!"
Ulfa pun pergi balik ke kantor. Aku menarik kursi ke sebelah ranjang si Bocil. Kugenggam tangannya yang dingin. Kukecup beberapa kali punggung tangannya.
Maaf, kalau aku tak pernah menaruh hormat padamu, tak pernah mengecup punggung tanganmu. Maaf, aku belum bisa menjadi istri yang baik. Sedangkan kamu udah selalu berusaha menjadi yang terbaik buat aku.
Aku tersentak dari lamunan saat kudengar dia melenguh. Cepat kuusap air mata. Aku mengucap syukur berulangkali saat dia mulai membuka mata. Aku menghela napas lega.
"Syukurlah kamu udah sadar. Aku seneng banget. Jangan tinggalin aku lagi, ya! Jangan bikin aku takut lagi," cerocosku sambil menggenggam tangannya. Air mataku jatuh berderai lagi. Aku terisak haru, dia telah kembali.
"Kenapa kamu liatin aku seperti itu?" tanyaku saat dia menatapku dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Kamu ... siapa?" tanyanya lemah. Duniaku serasa runtuh seketika. Hatiku nyesek parah. Semua tulangku seperti menghilang. Lemas.
Apa dia amnesia?