SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Tak Seindah Cinta Yang Semestinya


__ADS_3

"Hei, Mimu kenapa nangis sesenggukan begini?" Otakku masih berusaha mencerna segala yang sudah terjadi. Sebentar, ini di kamar? Bukannya tadi aku ada di jalanan, ya? Terus ... ini Miku? Bukannya tadi ....


"Mimu mimpi? Iya?" Diusapnya air mataku lalu mengusap lembut pucuk kepala ini. Masih bingung. Kesadaran belum terkumpul sempurna.


Mimpi? Jadi tadi itu cuma mimpi? Gegas aku beringsut duduk dan memeluk Miku erat.


"Miku jahaaat!"


"Jahat? Jahat kenapa? Memangnya apa yang aku lakukan?" Dia menjauhkan tubuhku. Melonggarkan pelukan lalu menatap wajah ini dengan ekspresi bingung.


"Tadi kamu mau ninggalin aku, Cil," sungutku. Telunjuknya langsung mengarah ke wajah ini.


"Hayooo, barusan manggilnya apaaa?"


"Eum, Miuw. Eh, Miku," ralatku nyengir.


"Ninggalin? Kapan coba? Orang aku dari tadi nonton tv, dan Mbak tidur di sini. Pas kebetulan masuk sini, Mbak udah nangis-nangis."


Kini gantian telunjukku yang mengarah ke wajahnya. Dia masih bingung belum sadar apa kesalahannya. Dia bertanya 'kenapa' dengan gerakan wajahnya.


"Miku yang buat aturan, Miku juga yang melanggarnya. Katanya udah sepakat mau manggil Miku sama Mimu, tapi barusan manggil apa coba?"


Dia cengengesan, garuk tengkuk kemudian minta maaf. Enak aja! Tidak semudah itu bufalo! Tadi aja aku dihukum. Masa dia enggak? Enak di dia dong! Aku melirik guling, dan secepat kilat tanganku menyambarnya lalu memukulkan ke bahu Miku tanpa ampun. Dia juga meraih bantal, dan perang bantal pun berlangsung sangat sengit.


Sampai akhirnya Miku terjatuh. Dia reflek mungkin niatnya mau pegangan tanganku, tapi aku tak punya kesiapan buat nahan dia. Kami pun jatuh ke lantai. Aku tertelungkup menindih badannya. Dalam hitungan detik kami saling tatap, terdiam menikmati detak jantung yang gemuruh tak beraturan.


"Malah keenakan dianya. Gak tahu apa suaminya engap," gumamnya. Gegas aku bangkit dan kembali ke atas kasur.


"Bangun-bangun sendiri. Gak ada inisiatifnya buat bantuin suami bangun." Dia lanjut ngedumel.


"Udah gede 'kan? Bisa bangun sendiri, 'kaaan?" Dia manyun dan nyusul duduk bersisian memeluk guling.


Detik kemudian dia tampak gelisah. Melirikku sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke sisi lain. Menoleh lagi, kemudian mendongak menatap langit-langit kamar. Seperti akan bicara, tapi bingung mau mulai dari mana.


"Eh, jangan tidur dulu!" cegahnya sambil memegang lengan ini.


"Kenapa?"


"Eum, Mimu ...." Ucapannya terhenti, dia lanjut menggaruk kepalanya yang aku yakin sebenarnya gak gatal.


"Apaaa?"


"Udaaah ...."


"Ck, udah apaaa?!" Geram juga lama-lama.


"Selesai belum?"


Dahiku mengernyit tak paham. "Selesai apanya?"


"Itunyaaa." Matanya membidik ke arah terlarang.


"Awww!" ringisnya saat mendapat tabokan dariku.


"Orang nanya baik-baik malah digeplak!" sungutnya.


"Belum!" ketusku.


"Masih berapa lama lagi?"


"Lama. Bisa 10 hari lagi atau 15 hari lagi." Dia mendesah lesu. Aku mengulum bibir menahan tawa.


"Apa lagiiii?!" ketusku saat lagi-lagi aku dilarang berbaring.


"Ngomong-ngomong ... tadi mimpi apa? Kenapa sampek nangis sesenggukan gitu?" Dia menatapku antusias menunggu jawaban.


"Udah lupa!" dalihku.


"Hilih, bohooong! Kalau gak mau cerita taak ...." Dia membentuk jarinya menjadi seperti pistol, tanda siap buat menggelitik pinggang ini.


"Eh, eh, jangan macem-macem, ya!" ancamku. Dia semakin mendekatkan jarinya ke pinggang. Aku sudah capek tadi perang bantal. Rasanya udah gak ada energi kalau harus menghadapi serangan susulan darinya lagi. Aku pun memilih menceritakan mimpiku.


"Ciyeee, takut banget kayaknya ditinggalin," ledeknya tengil, "Mana tadi di mimpi manggilnya 'Miku' lagi. Panggilan itu keknya udah merasuk ke dalam palung hati Mimu, yaaa? Sampek di mimpi pun manggilnya pake panggilan kesayangan. Ciyeeee," lanjutnya ngeselin.


Aku berdecak kesal lalu ambil posisi miring membelakanginya. Kuabaikan dia yang mencoba merayu agar aku merubah posisi menjadi menghadapnya. Dia malah memelukku dari belakang, dan kakinya ditindihkan ke kakiku. Aku terkunci tak bisa gerak.


"Mikuuu, aku gak bisa geraaaak!"

__ADS_1


"Biarin! Biar Mimu diem. Emang gak capek apa dari tadi lari-larian di pikiran aku terus?"


"Ck! Singkirkan kakimu! Tanganmu juga!" Dia nurut. Kaki dan tangannya tak lagi mengunci diri ini.


"Awww!" rintihnya setelah terdiam beberapa saat. Sontak aku pun berbalik ke arahnya dan bertanya kenapa.


"Kelilipan," katanya sambil mengucek matanya.


"Coba ngadep sini biar aku liat." Kubingkai wajahnya siap memeriksa matanya, tapi dia malah mengunci badanku lagi ke dalam pelukannya. Argh! Kena jebakan betmen lagi.


"Bociiiil!"


"Eits, manggilnya apaaa?"


"Mikuuu," ralatku lesu.


"Pinteeer," sahutnya, dan malah semakin mengeratkan pelukan.


Walaupun dia itu bocil, tapi dia suamimu Safa. Hargai dan hormati dia. Tahan, jangan digeplak kepalanya! Meskipun kamu sangat menginginkannya. Oke! Huffh!


*****


Ini adalah hari ter-ngeselin bin menyebalkan yang pernah aku alami seumur hidupku di bumi pertiwi ini. Bagaimana tidak? Sepulang menghadiri acara pernikahan sahabatnya si Boc ... eh, Miku, motor mogok. Mana aku pakai heels. Argh!


Aku berjalan terseok di belakang Miku yang tengah mendorong motornya. Kaki ini rasanya sudah mulai pegal-pegal. Sudah kisaran 200 meter berjalan menggunakan heels. Beuh, nikmat tiada tara.


Tadi di tempat pesta mana pake acara jatuh segala lagi pas mau turun dari atas pelaminan usai memberi selamat ke kedua mempelai. Malunya masih berasa sampek sekarang tahu gak, sih? Uhh! Ya, meskipun tadi sempat ditangkep sama si Boc ... eh, Miku, tapi tetap aja endingnya kami jatuh dalam posisi saling tindih. Iyuuuuwh! Parahnya malah ada yang suit-suit riuh banget.


"Tadi udah aku bilang kan, naik taksi aja. Ngeyel sih, kalau dibilangin istri. Mogok juga kan, akhirnya itu motor! Dipikir gak capek apa jalan pake heels begini?! Mana tadi sedikit keseleo lagi pas jatuh!" dumelku. Kemudian duduk di pinggir jalan. Persetan dengan tatapan pengendara yang lalu-lalang. Rasanya kaki ini sudah gak sanggup lagi dibawa jalan.


Aku mendengkus kesal. Memeluk lutut. Manyun. Lelah hayati. Dia memasang standar motornya. Lalu balik ke sini dan ikut duduk di sebelah.


"Ya udah, makanya Mimu duduk aja di atas jok motor biar gak capek."


"Gak mau! Malu dilihat orang-orang. Masa kayak anak kecil aja. Lagian kamu dorongnya makin berat dong, kalau aku duduk di atasnya."


"Ya gak apa-apa. Aku kuat kok. Yuk, duduk di jok aja ya!"


"Enggak mau!" tolakku. Dia celingukan. Kemudian memintaku untuk menunggu sebentar di sini. Aku nurut saja. Dia kembali mendorong motornya beberapa meter ke depan. Rupanya di sana ada bengkel. Setelah menaruh motornya di bengkel. Miku kembali ke sini.


"Eh, mau ngapain?" sentakku saat dia meraba kaki ini.


"Terus ... kamu gimana?"


"Gampang. Bisa nyeker," jawabnya.


"Yakin?" tanyaku tak percaya.


"Yakin lah. Nanti kaki Mimu bisa makin sakit kalau dipaksain pake ini heels. Udah ayok jalan! Kita berhenti di depan sana. Di samping bengkel itu ada kafe. Kita tunggu motornya diservis di sana. Yuk!" Dia berdiri duluan mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri. Miku rela nyeker sambil nenteng heels-ku.


"Udah sini biar aku aja yang bawa heelsnya," pintaku. Dia menolak, dan tetap membawakan heelsnya. Sementara sebelah tangannya menggandeng tanganku. Aku mengulum bibir manahan senyum.


"Kamu yakin mau masuk kafe nyeker begitu?" tanyaku saat sudah sampai di depan kafe.


"Yakinlah. Kenapa emangnya? Toh, gak ada peraturannya kan, masuk kafe harus pake alas kaki?" jawabnya tengil.


"Bukan gituuuu. Emang gak malu?"


"Kenapa harus malu? Cuma gak pake sendal doang. Masih pake celana ama baju ini."  Dia menarikku memasuki kafe.


"Eh, Mas!" Salah satu pegawai kafe yang Miku panggil pun menyahuti dengan anggukan ramah. Lalu mendekat.


"Iya, kenapa, Kak?"


"Ngafe di sini boleh kan, meski gak pake sendal?" tanya Miku sambil nunjuk kakinya. Sontak pegawai itu pun, menunduk melihat kaki telanj*ng suamiku.


"Oh, beb-boleh saja kok, Kak." Pegawai itu tampak kikuk. Nyengir nahan tawa sepertinya. Kemudian mempersilakan aku dan Miku duduk.


"Kamu yakin mau duduk di sini?" tanyaku saat Miku memilih tempat duduk di sofa VIP.


"Ck, dari tadi nanyanya 'yakin' muluk. Gak ada kalimat lain apa?" sungutnya.


"Bukan gituuu. Nanti kalau mahal gimana duduk di sofa VIP gini?"


"Kan kita bisa patungan bayarnya," jawabnya santai. Aku mencebik, dia terkekeh.


"Udah sih, tenang aja. Ini yang punya kafe temen aku. Nanti kalau gak kuat bayar ... bisa nyicil bayarnya," kelakarnya, tapi gak lucu sama sekali.

__ADS_1


"Ya kali, timbang ngafe doang mesti nyicil? Udah kayak nyicil rumah aja!" sungutku. Dia terbahak.


"Mimu tunggu sini, ya! Duduk manis di sini sambil nikmatin makanannya, oke!" titahnya saat makanan yang kami pesan sudah tersaji di meja.


"Terus Miku mau ke mana?"


"Mau ke sana sebentar."


"Ke mana? Ini pake sendalnya kalau gitu."


"Udah gini aja." Dia langsung nyelonong pergi. Tak menghiraukan panggilanku agar memakai sendalnya. Aku tepuk jidat saat tahu ternyata dia naik ke atas panggung tanpa memakai sandal. Dia terlihat cuek dan percaya diri sekali. Aku di sini menunduk menahan malu luar biasa atas kelakuan absurdnya. Ugh! Punya suami gitu amat, yak?


Lagian dia mau ngapain sih, naik ke atas panggung segala? Bikin malu aja! Dia meminta izin meminjam gitar milik anak band yang bekerja menghibur pengunjung kafe ini. Kebetulan memang kafe ini ada live musiknya.


"Sebelumnya, saya minta maaf ya, teman-teman semuanya. Kalau saya terkesan kurang sopan karena naik ke panggung ini tanpa alas kaki." Elah, malah diumumin pake mikrofon lagi. Dasar bocil! Pengen tak hih rasanya.


"Abis diputusin di tengah jalan ya, sama sendalnya?" seru salah satu pengunjung. Bocil terbahak. Pun dengan pengunjung lain termasuk anak band juga ikut tertawa.


"Enggak. Sendalnya dipake istri saya itu yang duduk di sana." Miku menunjukku. Semua mata pengunjung pun langsung tertuju kemari. Aku nyengir menampakkan deretan gigi. Berusaha tersenyum dan bersikap biasa aja. Padahal dalam hati malu luar biasa. Bocil malah menjelaskan tentang kakiku yang tadi sempat keseleo ke pengunjung. Padahal itu sama sekali gak penting buat orang lain, dan gak perlu dijelaskan juga seharusnya.


"Jadi begitu ceritanya. Itulah alasannya saya gak pake sendal," lanjut Miku. Pengunjung malah bertepuk tangan.


"Keren bro! Jadi laki emang harus begitu!" seru salah satu pengunjung sambil mengacungkan jempolnya.


"Yoi!" sahut Miku dengan nada bangga. Fiks, besar kepala, tuh.


"Oke, langsung saja ya, aku mau persembahkan lagu ini untuk istriku tersayang."


"Kita boleh ikut denger gak, bro?" sahut salah satu pengunjung. Kayaknya itu pengunjung satu server deh kelakuannya sama si bocil. Sama-sama ngeselin dan tengil. Tapi, gantengan Miku, sih. Eh!


"Boleh dong. Buat semuanya yang ada di sini. Terkhusus untuk istri tercinta," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya ke arahku. Lantas mulai memetik senar gitar. Pemusik lain turut mengiringi.


Tak Seindah Cinta Yang Semestinya


By: Naff


Aku mencintaimu setulus hatiku


Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku


Aku mengasihimu sepanjang usiaku


Aku menginginkanmu lebih dari apapun


Meski 'tak seindah yang kau mau


'Tak sesempurna cinta yang semestinya


Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu


Aku mencintaimu setulus hatiku


Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku


Begitu erat (begitu erat), begitu lekat (begitu lekat)


(Perasaanku kepadamu) Oh...


'Tak bisa 'ku hentikan


'Tak mampu 'ku tepiskan ('tak mampu 'ku hentikan)


Meski 'tak seindah yang kau mau


'Tak sesempurna cinta yang semestinya


Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu


Meski 'tak seindah yang kau mau


'Tak sesempurna cinta yang semestinya


Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu


Meski 'tak seindah yang kau mau


'Tak sesempurna cinta yang semestinya

__ADS_1


Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu


Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu


__ADS_2