
"Aku ke toilet dulu, ya," pamitnya, "Jangan kangen!" tambahnya.
"Lebay!" sungutku.
"Bukan lebay, tapi bucin akut."
"Udah, sana! Ntar brojol di situ lagi." Lelakiku pun pergi ke toilet. Aku duduk di bangku. Menunggu kedua sahabatku, Arum dan Nia. Ya, kami sepakat untuk bertemu lagi. Sudah sebulan tak bertemu, sejak pertemuan kala itu. Kali ini, Arum memintaku membawa si Bocil. Ingin kenal dengan suamiku katanya.
"Hai!" sapa Nia dan Arum dari arah pintu masuk sambil melambai kemari. Aku balas lambaiannya. Mereka pun memangkas jarak. Aku berdiri menyambut kedatangan mereka dengan pelukan dan cium pipi kiri kanan. Kemudian mempersilakan kedua sahabatku itu duduk.
"Mana suamimu?" todong Arum. Dia sangat penasaran dengan suamiku. Semetara Nia, dia sudah pernah bertemu meski hanya sekilas saat pulang dari kamping kala itu.
"Dia masih ke toilet," jawabku.
"Suaminya Safa itu kiyut banget. Awas lo, ya, harus kuatkan iman. Jangan mengiri!" goda Nia pada Arum. Aku hanya tersenyum.
"Emmmh, jadi makin nggak sabar pengen liat suamimu." Arum terlihat sangat penasaran.
Tak berselang lama, Arum mulutnya mangap lebar dan dia sangat histeris. Seperti orang yang sedang bertemu dengan idolanya. Arum nunjuk-nunjuk ke arah belakangku duduk.
"Astaga! Itu cowok imut yang waktu itu aku ceritain. Yang nolongin pas mobilku mogok!" serunya. Sontak aku menoleh ke arah yang ditunjuk, pun dengan Nia. Kemudian aku menatap Nia, lalu kami terbahak.
Arum mengernyitkan dahi. "Kok, kalian malah ngakak, sih?"
"Maaf, aku kelamaan, ya?" celetuk si Bocil sambil memegangi kedua sisi bahuku dan berdiri di belakang kursiku. Arum terdiam, matanya melirik Nia kemudian menatapku.
"Eum, dia ...?" Arum menunjuk si Bocil. Mereka pun saling pandang.
"Loh, Mbak ini kan, yang waktu itu mobilnya mogok, kan, ya?" tebak suamiku. Arum mengangguk pelan. Ekspresi wajahnya berubah agak kecut.
"Wait! Jadi, dia suamimu, Fa?" tanya Arum akhirnya. Aku mengangguk. Bocil langsung mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pada Arum.
"Argh! Sial! Aku pikir kamu itu masih bujang. Aku udah penuh harap tauk," umpat Arum. Ekspresi kesal sangat kentara di wajahnya. Aku dan Nia mengulum bibir menahan tawa, tetapi akhirnya meledak juga. Sementara suamiku hanya mesem, lalu menarik kursi dan duduk di sebelahku.
"Sudah berpawang, Mbak," papar si Bocil sambil menggeser kursinya menjadi mepet dengan kursiku, lalu merangkul bahu ini. Nia dan Arum saling lirik.
"Kalau kalian mau pamer kemesraan, aku balik, nih!" ancam Arum, Nia mengangguk setuju.
"Lagian kenapa sih, kamu mepet-mepet?" lirihku sambil menatap lelakiku.
"Biar semua tahu kalau aku itu nggak bisa jauh-jauh dari kamu," jawabnya dengan santai. Arum dan Nia kipas-kipas menggunakan tangan dan mengeluh kepanasan. Padahal ruangan ini menggunakan AC.
"Geser dikit ngapa," rengekku sambil mendorongnya pelan. Dia menggeleng.
"Maafin, ya, Gais. Suamiku emang agak alay bin lebay." Arum dan Nia kompak menjawab dengan gumaman.
"Eum, ya udah, gini aja. Kalian ngobrol aja dulu. Aku pergi dulu, ya. Nanti kalau udah mau pulang kabarin. Aku jemput."
"Mau ke mana?" tanyaku sambil mencekal lengannya.
__ADS_1
"Ciyeee, kenapa? Takut dilanda rindu, ya?" godanya. Nia dan Arum berdehem-dehem.
"Ihhh, serius napa?" sungutku.
"Aku ada urusan bentar."
"Urusan apa?" cecarku.
"Nanti aja ceritanya. Yang jelas aku nggak aneh-aneh, kok. Tenang aja. Oke!" Lelakiku mengecup pucuk kepalaku, lalu beranjak pergi setelah pamitan dengan kedua sahabatku.
"So sweet banget sih, suamimu, Fa. Jadi mengiri aku," ucap Nia.
"Hooh, aku juga jadi pengen punya bocil juga," timpal Arum.
"Makanya buruan cari jodoh. Jangan sibuk kerja muluk!"
Kedua sahabatku pun penasaran bagaimana pertemuanku dengan si Bocil. Aku menceritakan semuanya sampai akhirnya pernikahan dengan suami bocahku itu terjadi.
"Ya ampun, dramatis banget ternyata hidupmu, Fa. Udah kayak sinteron aja," celetuk Nia.
"Ya, beginilah jalan hidupku, Gais. Oya, kalau kalian gimana cerita cinta kalian?" Kini gantian Nia dan Arum yang bercerita tentang jalan cinta mereka. Nia ternyata pernah dibohongi oleh seorang pria. Dia hampir menikah dengan pria beristri. Makanya sampai sekarang agak trauma dengan lelaki.
Sedang Arum, dia juga berulang kali gagal menjalin percintaan. Pacarnya selalu saja berpaling ke perempuan lain. Makanya, sekarang memilih sendiri dulu katanya.
"Capek, patah hati muluk," lanjut Arum. Aku beranjak dari duduk memeluknya, menyalurkan kekuatan dan ketenangan. Nia juga melakukan hal yang sama. Jadilah, kami bertiga saling peluk.
"Ya, aku juga seneng banget."
"Aku juga nggak nyangka kalau pada akhirnya kita bisa kumpul lagi kayak gini," timbrung Nia. Aku dan Nia pun kembali ke kursi masing-masing.
"Oya, btw, kamu udah ngisi belum, Fa?" tanya Nia kemudian. Aku terdiam beberapa saat. Ah, iya juga ya, kenapa sampai saat ini aku belum hamil juga? Padahal sudah setahun lebih pernikahanku dengan si Bocil dan kami juga tidak pakai alat kontrasepsi. Aku menjawab dengan gelengan lemah.
"Emang udah berapa lama usia pernikahan kamu, Fa?" Kali ini Arum yang bertanya.
"Eum, udah setahun lebih, sih."
"Emang pengen nunda dulu atau gimana?" cecar Nia.
"Enggak sih, kita nggak pake KB. Nggak ada niat nunda juga, tapi nggak tahu kenapa sampai sekarang aku belum hamil juga."
"Sabar. Mungkin belum aja," ujar Nia.
"Iya, mungkin sebentar lagi kamu bakal hamil. Atau coba aja ikut program hamil. Suami kamu itu kan, masih muda ya, takutnya dia berpaling kalau nggak cepet-cepet ada anak. Yang namanya lelaki itu kan, hampir semua sama aja. Sebagian besarnya mudah bosan dan jenuh. Terus biasanya kalau udah berada di fase itu, dia bakal berbelok," cerocos Arum. Aku terdiam.
Nia menyikut lengan Arum. "Kamu ngapain jadi kompor, sih?"
"Eum, sorry! Bukannya maksud aku jadi kompor. Cuma share aja. Sorry, Fa."
"Nggak papa kok, Rum. Santai aja. Aku yakin kok, suamiku nggak gitu orangnya." Tetapi, entah kenapa aku jadi merasa takut juga. Bagaimana kalau apa yang dibilang Arum itu ada benarnya juga? Kalau aku nggak cepat kasih dia keturunan, gimana kalau si Bocil berpaling?
__ADS_1
Aku nggak bisa santai-santai lagi. Aku harus melakukan sesuatu. Mungkin besok aku akan konsultasi dengan dokter kandungan.
*****
"Kamu kenapa, sih? Sejak ketemu sama sahabatmu sore tadi kok, jadi banyak diam dan melamun gitu?"
"Eum, aku cuma lagi mikir aja. Kenapa sampai sekarang aku belum hamil juga. Apa karena aku udah terlalu tua, ya?"
"Ssssth!" Dia menempelkan telunjuk ke bibir ini, lalu menggeleng, "Mimu itu belum tua. Ya, mungkin memang kita belum dikasih rezeki aja."
"Kalau misalnya ... aku nggak bisa kasih kamu keturunan gimana?" lirihku sambil menahan sesak.
"Kan, dulu aku udah pernah bilang. Kalau itu tidak akan menjadi masalah. Aku akan tetap setia di sisimu, dengan atau tanpa anak." Dia menggenggam kedua tanganku. Mata kami bertemu. Aku melihat kesungguhan atas ucapannya itu dari sorot matanya, tetapi entah kenapa aku tetap saja masih merasa takut.
"Nggak usah over thinking. Aku nggak akan ke mana-mana, kok." Dia menarik tubuhku lembut ke dalam rengkuhannya.
"Memangnya ... Mimu sudah sangat ingin kehadiran seorang anak, ya?"
"Kalau Miku sendiri?"
"Kalau aku santai. Sedikasihnya aja, tapi kalau memang Mimu udah pengen banget anak. Mungkin kita harus tingkatkan lagi ikhtiarnya."
Aku mengangguk. "Rencananya besok mau coba konsultasi ke dokter kandungan."
"Oke. Besok kita ke rumah sakit, ya. Kita jenguk rumah sakitnya supaya cepat sembuh."
"Apaan sih, gaje banget."
"Tapi kan, Mimu jadi senyum." Dia mencubit gemas kedua pipiku, lalu mengusap air mataku.
"Udah malem, tidur yuk!" Aku mengangguki ajakannya.
*****
Aku dan suamiku duduk di ruang tunggu rumah sakit seusai melakukan serangkaian pemeriksaan kesuburan. Tangan kami terus bertaut. Jantung ini berdebar-debar tak menentu menunggu hasilnya.
"Nyonya Safa dan Tuan Dafa!" panggil suster. Aku dan suamiku saling pandang. Kemudian beranjak ke ruangan dokter. Menyimak setiap penjelasan dari dokter.
"Jadi, kesimpulannya gimana, Dok?" tanyaku tak sabar.
Dokter menghela napas panjang. Ekspresi wajahnya berubah serius. Seperti ragu akan menyampaikan kesimpulannya. Perasaanku mulai tidak enak.
"Jadi, di sini yang bermasalah ... adalah ... Mbak Safa."
Aku terdiam beberapa saat. Kurasakan suamiku menggenggam tanganku erat. Dadaku rasanya mulai sesak bagai terhimpit barang berat.
"Saya kenapa, Dok?"
"Mbak Safa ... mandul." Keterangan dokter membuat pandangan mataku buram dan dadaku makin sesak. Tangisku pecah di dalam rengkuhan suamiku. Aku menarik diri dari dalam pelukannya. Kulihat ekspresi wajah lelakiku. Ada gurat kekecewaan di sana. Hatiku makin berserak kurasa. Tangisku pun makin jadi.
__ADS_1