SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Penguntit


__ADS_3

                                         


Selesai mandi, aku langsung menuju kamar dengan perasaan tidak keruan. Yang jelas jantung ini tidak baik-baik saja. Sampai di depan pintu, hati ini mendadak meragu saat akan masuk. Tangan maju mundur urung meraih hendel pintu. Kuhela napas panjang, lantas beranikan diri membuka pintunya. Aku menghela napas lega saat mendapati suamiku tengah terlelap duduk di atas kasur dengan posisi punggung dan kepalanya bersandar pada kepala ranjang.


"Aman," lirihku. Lantas ganti baju dan tak lupa bersolek tipis-tipis. Kemudian meraih sisir siap menyisir rambut. Mata ini membelalak saat tiba-tiba sebuah tangan mencekal lenganku. Aku pun urung menyisir rambut.


"Biar aku yang sisirin," pintanya. Aku tersenyum. Tatapan mata kami bertemu dalam pantulan cermin. Dia lantas menyisir rambut ini dengan penuh kasih dan kelembutan.


Selesai menyisir rambut ini, diletakkannya sisir di meja rias. Kedua tangannya bertumpu pada kedua pundakku. Wajahnya di sebelah kiri pipiku, matanya menatapku dari pantulan cermin. "Cantiknya," pujinya.


"Istrinya siapa dulu, dong?" sahutku. Kami pun saling lirik sambil tersenyum.


"Istrinya Dafa cowok ganteng maksimal sejagat raya valid no debate!"


Aku memutar bola mata. "Penyakit narsisnya kumat lagi," lirihku. Dia terkekeh, kemudian mengecup pipi ini.


"Kan, Mimu udah cantik. Sekarang waktunya ...." Ucapannya terjeda oleh suara perutku yang keroncongan. Aku nyengir, sekaligus mengucap syukur dalam hati. Sepertinya siang ini aku bakal terselamatkan dari serangan brutal dan benar saja dia mengajakku ke ruang makan guna makan romantis bersama. Ya, walaupun hanya makan di rumah, tetapi suasananya dibikin seromantis mungkin oleh suamiku. Aku diperlakukan selayaknya ratu, bukan babu. Dan itu sukses membuat mataku berkaca-kaca terharu.              


"Terima kasih, ya," ucapku selesai makan sambil memeluknya dari belakang saat dia hendak mencuci piring di wastafel. Lelakiku melepaskan tanganku yang masih melingkar di pinggangnya, lepas itu dia berbalik dan kini kami berdiri berhadapan.


"Terima kasih, untuk apa?"


"Untuk semuanya. Terima kasih sudah mencintaiku sepenuh hati, memperlakukan aku dengan penuh kasih."


"Tapi, ingat! Itu semua tidaklah gratis, Nona. Ada harga yang harus kamu bayar," katanya dan lanjut mengedipkan mata genit.


"Ah, mulai lagi," gumamku bersungut.


"Bercanda, Ayang." Dia sambil mencolek ujung hidung ini. Tentu saja busa yang menempel di tangannya berpindah ke ujung hidung ini.


"Aku udah make up, loh, Ay," sungutku.


"Maaf," ucapnya sambil mengusap busa di ujung hidung dengan lengannya, "Kalau Mimu capek, istirahat aja."


Aku menggeleng. "Aku mau bantu suamiku cuci piring dulu."


"Nggak perlu. Cuma sedikit ini. Udah sana istirahat. Terserah mau rebahan apa mau nyantai di ruang tengah. Sana!"


"Ya udah kalau gitu ... aku mau tidur, ya. Ngantuk," pamitku. Setelah lelakiku mengangguk, aku berjalan meninggalkan dapur, tetapi kembali lagi.


"Kenapa?" tanyanya saat aku berdiri di sebelahnya yang tengah mengelap tangan.


"Ada yang ketinggalan," kataku. Dia pun celingukan memastikan barang apa yang tertinggal. Dia menoleh ke meja makan, lalu ke sebelah wastafel.


"Apa yang ketinggalan?"

__ADS_1


"Suamiku!" seruku. Lantas menarik lengannya berlari masuk ke kamar, dan sesampainya di kamar kudorong tubuhnya hingga dia terbaring di atas kasur.


"Katanya cap ...." Tak kuberi dia kesempatan untuk ngoceh.


*****


"Safa, kamu dipanggil Pak Broto, tuh! Diminta ke ruangannya," ujar Ulfa yang baru saja kembali selepas menyerahkan sejumlah berkas ke direktur utama itu.


"Hah?!" Aku terperangah, "Ada apaan, ya?"


Ulfa mengedikkan bahu. Aku beranjak dari kursi. "Tapi, Bu Mona dan Pak Jaka juga dipanggil. Mungkin ada kaitannya sama pekerjaanmu keluar kota kemarin."


Perasaanku mulai resah. Jangan-jangan ada kesalahan. Aku mengayunkan langkah menuju ruangan Pak Broto dengan jantung yang berdebar-debar tak menentu.


"Kenapa, Yang?"


Aku tersentak oleh suara yang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku pun berbalik dan mendapati lelakiku dengan wajah banjir peluh. Aku mendekat dan mengusap keningnya dengan tangan kosong, nggak bawa tisu.


"Aku bisa lap sendiri, Ayang." Dia meraih tanganku yang basah oleh keringatnya dan diusapkan ke bajunya. "Masa mau ke ruangan bos, tangan Mimu bau keringatku, kan, nggak lucu." Aku hanya menanggapi celotehnya dengan senyum sekilas.


"Kamu kenapa? Kelihatannya gelisah banget?" tanyanya kemudian.


"Aku dipanggil sama Pak Broto ...."


"Ya udah, sana masuk! Ngapain masih di sini?" selanya.


"Takut kenapa?"


"Takut, soalnya kemungkinan ini ada kaitannya sama pekerjaanku di luar kota kemarin. Takutnya aku melakukan kesalahan dan Pak Broto kecewa atau mau mecat aku."


"Jangan over thinking dulu. Udah sana masuk. Aku yakin, kok, pasti pekerjaan Mimu dan yang lainnya itu sukses. Mungkin saja Pak Broto cuma mau menyampaikan sesuatu."


Aku masih bergeming menjatuhkan pandangan pada ubin putih bersih di bawah kaki. Lelakiku maju selangkah lagi. Sehingga kini posisi kami sangat dekat. Aku sontak menatap wajahnya.


"Dengar, apapun yang terjadi, Mimu nggak usah takut. Ada aku, suamimu yang selalu ada di sampingmu. Oke." Dia membingkai wajah ini, "Nggak usah takut dimarahi Pak Broto. Tenang aja, kalau dia berani memarahi istriku terlove, nanti bakal aku marahi balik."


Aku tersenyum geli mendengar tuturnya barusan. "Emang berani?" lirihku. Tangannya yang membingkai wajah ini mengendur, lalu terlepas. Dia mengatupkan bibir, kemudian menggeleng. Sontak aku terbahak, dan kami pun tertawa bersama. Sebelum akhirnya kami berpisah. Aku masuk ke ruangan Pak Broto dan dia lanjut berkutat dengan pekerjaannya. Aku seolah mendapat kekuatan dan keberanian setelah bertemu dengan suamiku. Rasa gelisah yang tadi sempat menjajah hati ini memudar sudah. Ternyata, Pak Broto memanggil aku, Bu Mona dan Pak Jaka mau mengucapkan 'terima kasih' doang.


Pak Broto sangat mengapresiasi kinerja kami bertiga. Katanya, berkat kami bertiga sebuah proyek besar berhasil dimenangkan oleh perusahaan ini. Tidak hanya itu, Pak Broto juga mengundang kami bertiga untuk makan malam di sebuah restoran ternama di kota ini.


"Oya, kalian bertiga boleh bawa pasangan masing-masing," imbuh Pak Broto. Kami bertiga pun saling pandang dan kemudian mengucapkan 'terima kasih' secara bersamaan.


"Bagi yang sudah punya anak, boleh bawa anaknya juga," lanjutnya lagi. Bu Mona dan Pak Jaka pun kembali mengucapkan 'terima kasih.'


Keluar dari ruangan Pak Broto, aku langsung mencari keberadaan suamiku. Rasanya tak sabar ingin segera memberitahukan kabar gembira ini.

__ADS_1


"Tuh, kan, apa aku bilang. Aku tuh, yakin banget kalau pilihan Pak Broto itu tidak salah," katanya setelah aku beritahu semuanya.


"Kenapa seyakin itu?"


"Karena pasti Pak Broto itu tidak asal pilih. Pasti sudah mengamati dan menimbang potensi serta kinerja calon targetnya itu terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan mengirim Mimu bersama Bu Monas dan Pak Perjaka, itu."


Kutepuk bahunya. Habis dia nakal, suka gonta-ganti nama orang seenaknya. Dia mengaduh, lalu meminta pajak.


"Pajak apa?" tanyaku bingung.


"Kan, Mimu sudah dapat pujian tuh, dari Pak Broto." Aku menyahuti dengan gumaman, "Nah, sekarang Mimu harus bayar pajak kesuksesan pada suamimu ini, karena kan, keberhasilanmu itu berkat doa restu dariku juga."


"Oke, deh, mau minta pajak kesuksesan apa, nih?" tantangku. Dia menunjuk pipinya.


Dahiku mengernyit. "Apa? Cium?" Dia mengangguk, "Astaga! Kita masih di kantor. Nanti kalau udah di rumah. Udah, ah, balik kerja!"


"Ya ampun!" serunya sambil menunjuk ke sebelah kiriku, aku pun reflek menoleh ke arah yang ditunjuknya.


"Apaan orang nggak ...." Aku lanjut menganga saat sebuah kecupan hangat mendarat di pipi ini. Selepas mendaratkan kecupan, dia kabur bersama cleaning caddy-nya. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum.


*****


"Loh, kenapa nih, motor?" tanyaku saat laju motor tersendat-sendat.


"Bau-baunya mau ngadat, nih," balasnya, dan benar saja, detik kemudian motor benar-benar berhenti total. Saat lelakiku mencoba menghidupkan kembali motor dengan cara di-starter dan diengkol, motor hanya menggerung sesaat lalu mati lagi.


"Aduh, lupa bawa alat lagi," gumamnya. Dia lanjut garuk-garuk kepala.


"Aku bawa ke bengkel itu dulu, ya, motornya." Dia menunjuk bengkel motor yang ada di seberang jalan, "Soalnya kan, ini motor nanti malam mau kita pake buat memenuhi undangan makan malam Pak Broto."


Aku mengangguk setuju. "Aku pulang duluan, ya," kataku.


"Mimu yakin?"


Aku mengangguk yakin. "Tinggal deket ini," kataku. Kami sudah ada di ujung gang. Kisaran dua ratus meter sampai rumah. Tak ada salahnya jalan kaki sekalian itung-itung olahraga sore.


"Ya udah, ati-ati." Aku mengangguk, kami lantas berpisah. Dia menyeberang jalan dan aku melangkah memasuki gang.


Saat melintasi pos ronda dan ada seorang lelaki sedang duduk di sana, aku mengangguk santun sambil mengulas senyum. Pria itu membalas senyumku.


"Mari!" sapaku, pria itu mengangguk. Aku melanjutkan langkah setelah menyapa.


Aku memelankan langkah saat merasa seperti ada yang mengikuti. Aku menoleh ke belakang dan ternyata lelaki di pos ronda tadi. Saat aku berjalan, lelaki itu ikut jalan. Ketika aku berhenti, dia juga berhenti beberapa meter di belakangku.


Aku merasa ngeri dan memilih mempercepat langkah. Pria itu melakukan hal yang sama. Dia mempercepat langkah juga seolah takut kehilangan jejakku. Sampai di depan rumah, aku buru-buru membuka pagar dan masuk rumah, tak lupa menutup pintu rapat-rapat. Aku mengintip keluar dari celah gorden yang kubuka sedikit. Pria itu berhenti di depan pagar, celingak-celinguk mengamati rumah ini. Cukup lama dia berdiri di depan pagar sana. Entah apa yang ada di pikirannya. Yang jelas gelagatnya sangat mencurigakan.

__ADS_1


                 


__ADS_2