SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Temu Kangen


__ADS_3

"Jangan bercanda, dong. Please! Nggak lucu!" teriakku di sela tangis. Namun, tetap tak ada yang menyahuti. Sedang suara auman itu masih terdengar nyaring di dalam hutan sana. Bahkan beberapa semak dan pohon-pohon kecil bergerak-gerak  terguncang hebat.  Sepertinya hewan itu sedang berkelahi. Entah memperebutkan daerah kekuasaan, entah berebut makanan. Suaranya seperti beberapa hewan yang saling serang. Mengerikan sekali.


Aku hanya bisa berteriak sekuat tenaga saat kedua hewan yang ternyata harimau sedang saling kejar berlari ke arahku. Kedua tangan merengkuh tubuhku erat dari arah belakang, tepat saat harimau itu nyaris menabrak tubuhku.


"Hei, Mimu nggak apa-apa, kan? Kenapa nangis sesenggukan gini?"


Aku lekas berbalik dan membalas pelukannya. "Kamu ke mana aja? Aku takut. Kenapa aku ditinggalin sendirian?"


Lelakiku membingkai wajah ini dan mengusap air mata yang berderai di kedua pipi. "Hei, siapa yang ninggalin Mimu. Nggak ada. Dari tadi aku di sini bareng Mimu. Tenang, ya. Mimu cuma mimpi buruk." Ditariknya kepala ini lembut dan dibenamkan ke dalam dadanya.


Aku menarik kepalaku dari dekapannya. Melihat ke sekeliling. Ternyata kami masih ada dalam tenda. Berarti tadi hanya mimpi buruk. Aku menghela napas lega, lalu kembali memeluknya erat. Kurasakan dia menghadiahi kecupan lembut di kening ini.


*****


Pagi harinya setelah sarapan, kami semua diajak menjelajahi hutan. Menikmati panorama hutan yang sejuk dengan aneka pepohonan serta hewan liar. Ada banyak kupu-kupu dan aneka burung yang beterbangan serta berkicau merdu.


Setelah melewati medan yang agak landai, kini kami melewati jalanan yang agak menanjak guna sampai di air terjun. Didampingi oleh pemandu tentunya. Suamiku tangannya tak sedetik pun genggamannya terlepas. Katanya takut aku kenapa-kenapa. Dia bahkan tak peduli meski banyak yang berdehem mengejek.


Keringatku yang membanjiri kening diusapnya menggunakan lengan bajunya. Aku juga melakukan hal yang sama. Keringatnya yang membasahi kening dan pipinya aku lap.


"Maklumlah, ya, kan, masih terhitung pengantin baru," sindir Pak Broto, "Ma, Papa juga mu dong dilap begitu," imbuhnya.


"Ya udah, sini Mama lap," balas Bu Broto, "Kalian ada yang bawa kanebo, gak?" lanjutnya. Sontak semua pun tertawa. Sedang Pak Broto cemberut sebentar sebelum akhirnya merangkul bahu istrinya dan lanjut berjalan.


*****


Sampai di air terjun, semua pun bersorak gembira. Takjub akan keindahan panorama air terjun yang menjuntai indah. Udaranya sangat sejuk. Gemericik air sangat menenangkan. Sebagian langsung menceburkan diri ke bawah aliran air terjun. Sebagian lagi memilih berfoto-foto saja.


Sedang aku dan Miku memilih membasuh muka, tangan dan kaki saja. Selanjutnya hanya duduk bersisian di atas batu yang ada di pinggir kali, menikmati gemericik air yang mengalir. Kusandarkan kepalaku di sisi bahunya.


"Indah, ya, tempatnya."


"Bagiku, tempat ini indah karena ada kamu di sisiku. Tanpa kamu di sini, semua keindahan ini tiada berarti bagiku," balasnya. Sukses membuat aku mengulum bibir merasa tersanjung.


"Kheeem!" Ulfa dan Salim tiba-tiba berdehem di belakang kami berdua. Mereka terbahak penuh kemenangan setelah sukses membuat kami terkejut. Kemudian berlari menjauh dan menjulurkan lidah kemari.


"Sirik aja kelen!" teriak si Bocil.


Ulfa dan Salim terpeleset saat menapaki batu yang berlumut, lalu keduanya tercebur. Kini giliran aku dan si Bocil yang tertawa terbahak. Ulfa cemberut karena bajunya jadi basah kuyup.


"Tiati besti, karma itu terkadang instan!" teriakku, lalu tos dengan si Bocil. Ulfa makin cemberut dan ngomel-ngomel. Pada akhirnya aku dan suamiku juga mandi karena didorong oleh yang lain.


Setelah puas bermain air dan berfoto ria, semua pun kembali ke perkemahan. Gotong royong memasak dan membuat kopi lagi. Kemudian istirahat. Malamnya kami menikmati api unggun lagi sambil bermain tebak-tebakan, yang kalah mendapat hukuman harus bernyanyi, dance, berpantun atau berpuisi.


Aku dibuat ternganga saat si Bocil salah menjawab dan dia dihukum dance oleh Pak Broto. Tak ada pilihan lain, suamiku pun berhasil menjalani hukumannya dengan sempurna. Aku sungguh tidak menyangka kalau dia tidak hanya pandai bermain alat musik dan bernyanyi. Ternyata gerakan dance-nya sangat memukau juga. Bahkan dia mendapat standing applaus dari semua orang. Namun, tidak denganku. Aku bergeming dan makin terpesona padanya.


*****


"Aku masih nggak nyangka ternyata kamu bisa dance juga?" ucapku saat kami dalam perjalanan pulang dari perkemahan. Ketika di dalam bus.


"Sudah aku bilang bukan? Aku itu serba bisa. Cuma satu yang aku nggak bisa," katanya. Tatapan kami bertemu. Dia lantas mendekatkan wajahnya ke sisi telinga ini, "Satu hal yang aku nggak bisa adalah ... jauh dari kamu," bisiknya, dan lanjut mengecup pipi ini.

__ADS_1


"Khem! Khem!" Mail dan Imam yang duduk di bangku sebelah berdehem. Kami berdua spontan menoleh ke arah mereka.


"Sirik aja lu!" sahut suamiku dan malah makin jadi. Dia menarik lembut kepalaku ke dalam dekapannya. Mail dan Imam pun membuang muka keluar jendela. Kami terbahak penuh kemenangan.


"Paan sik?" Ulfa yang duduk di bangku depanku dan si Bocil melongok kepalanya menyembul melewati sandaran kursi.


"Argh! Kampret lu berdua!" umpat Ulfa kemudian saat mendapati aku dan suamiku dalam posisi saling peluk, "Dasar bucin!" lanjutnya sambil kembali ke posisi semula.


"Biarin. Bucin sama pasangan halal mah, sah-sah saja. Wleeew!"  sahutku.


*****


Ini hari Minggu. Hari di mana aku sepakat untuk reuni dengan kedua sahabatku semasa SMA dulu. Setelah bertahun-tahun kami tak bersua. Kini, kami mendapat kesempatan untuk bertemu kembali. Baru beberapa hari lalu kami bertemu secara singkat. Tepatnya saat aku pulang dari kamping kemarin. Tanpa sengaja bertemu dengan Nia di sebuah rumah makan, lalu kami berbincang sebentar. Kemudian merencanakan pertemuan ini. Kami pun bertukar nomor kontak, dan Nia juga sepakat untuk mengajak sahabatku satu lagi, Arum.


"Sudah siap?" tanya Miku saat aku beru saja keluar dari kamar. Kujawab dengan anggukan.


"Rapi dan wangi bener. Beneran temenmu cewek semua? Nggak ada cowoknya, 'kan?" cecarnya kemudian. Membuatku mengulum bibir merasa gemas dengan ekspresinya.


"Kenapa? Cemburu?" todongku.


Dia mengangguk jujur. "Iyalah, masa enggak?"


Kubingkai wajah unyunya. "Kedua sahabatku cewek semua. Namanya aja Nia sama Arum. Mereka berdua itu dulunya besti aku semasa SMA. Setelah lulus kami lost contacts, dan baru mau ketemu lagi sekarang ini," jelasku untuk yang ke sekian kalinya. Dia mengangguk sambil menggumam tanda mengerti.


"Aku anterin, ya," pintanya sambil pasang wajah penuh harap.


"Loh, katanya Miku juga mau hangout sama anak motor? Emang nggak jadi?"


"Jadi sih, tapi nggak papa kali nganterin istri terlove dulu. Daripada Mimu naik ojek, 'kan, takutnya kang ojeknya ganteng terus Mimu terpesona. Aku nggak rela!"


"Bukan lebay, tapi sayang dan takut kehilangan," jawabnya.


"Iya deh, Miku boleh anterin aku." Dia sumringah dan langsung bersiap serta memakaikan helm ke kepalaku. Tak lupa dia melingkarkan tanganku ke pinggangnya.


*****


Sampai di kafe, Nia sudah menunggu. Aku langsung mendekat dan menyapanya. Lelakiku ikut sampai ke dalam guna memastikan aku sampai dengan selamat. Usai bertegur sapa dengan Nia, Miku langsung pamit.


"Nanti kalau sudah pulang chat atau telepon saja. Aku jemput," ujarnya sembari cium pipi kiri dan kananku. Aku cuma bisa mengangguk patuh. Terakhir dia mengecup keningku, kemudian benar-benar pergi.


"Oya, Arum mana?" tanyaku sepeninggalan Miku.


"Belum datang. Tadi sih, katanya dia masih otw. Kita tunggu saja." Aku mengangguk.


"Btw, kamu sejak kita terpisah masih komunikasi terus sama Arum?" cecarku penasaran, "Cuma aku ya, yang lost contacts sama kalian berdua?"


"Enggak kok, aku juga baru beberapa bulan terakhir ini ketemu lagi sama Arum. Sebelumnya putus kontak juga sama dia. Jadi, kemarin itu nggak sengaja ketemu dia pas ada event gitu," terang Nia. Aku mengangguk-angguk.


"Eh, sumpah, aku nggak nyangka banget kalau kita akhirnya bisa ketemu lagi kek gini. Aku harap setelah ini kita bisa terus sama-sama. Sahabatan lagi kayak zaman SMA."


Aku mengangguk setuju. "Ya, aku harap juga begitu."

__ADS_1


"Hai, Gais!" sapa seseorang yang baru saja datang. Suaranya terdengar tidak asing. Aku menoleh ke belakang, dan benar itu Arum. Aku lekas berdiri dan berpelukan dengan Arum. Saling tanya kabar, kemudian duduk lanjut bercerita tentang banyak hal ditemani kopi dan cemilan.


"Oya, btw, pas berangkat ke sini tadi, aku ketemu cowok. Dia kelihatannya umurnya masih muda, tapi perilakunya dewasa banget. Dia nolongin benerin mobilku yang mogok. Ganteng dan unyu banget deh, pokoknya. Gemesin gituuu," cerita Arum. Mendadak ingat dan kangen sama si Bocil. Sebentar, kok, cowok yang diceritain Arum kriterianya mirip banget ya, sama si Bocil? Baru saja mau bertanya lebih lanjut soal cowok yang diceritakan itu, Arum mendapat telepon dari pegawainya. Kemudian kami berganti topik pembicaraan.


*****


Waktu tiga jam terasa masih kurang untuk kami bertiga berbincang dan menumpahkan rindu. Mulai bahas mantan, pekerjaan dan kehidupan sekarang, bahkan bahas soal harga sembako segala. Juga bahas soal minyak goreng yang harganya meroket. Terasa sangat seru.


Arum menawarkan tumpangan. Katanya sekalian mau tahu di mana gubuk tempat tinggalku. Aku menerima tawarannya dan mengabarkan soal ini ke suamiku.


[Ya, udah kalau memang Mimu mau dianterin sama temennya. Nanti kabarin ya, kalau sudah sampai rumah duluan.]


[Oke. Sampai ketemu di rumah suamiku terlove.] Tak lupa kububuhkan beberapa stiker hati. Dia membalas mengirim stiker cium jauh.


"Tapi, kita harus menyebrang dulu. Soalnya tadi nggak kebagian tempat parkir. Jadi, aku parkirnya di seberang jalan sana," tunjuk Arum.


"Ya udah, nggak papa. Kita nyebrang aja," balasku. Nia juga setuju. Kami bertiga pun menyeberang jalan.


Tepat saat kami bertiga akan sampai di seberang, ada segerombolan pemuda bermotor yang menggoda kami dengan pura-pura hendak menabrak. Karena panik aku terjatuh dan kening serta sudut bibirku lecet menubruk trotoar. Bukannya menolong, rombongan pemuda yang aku duga geng motor itu malah tertawa. Namun, aku yakin itu bukan geng motornya si Bocil. Nia dan Arum memaki-maki, tetapi remaja itu tetap berlalu.


"Woi, minta maaf lu!" teriak Nia sekali lagi. Pemuda itu malah memacu motornya lebih kencang lagi, lalu menghilang di tikungan.


"Udahlah, percuma. Lagian aku nggak papa kok. Cuma luka kecil ini," kataku sambil mengusap sudut bibir yang mengeluarkan darah sedikit.


"Ya udah, kita ke mobilku. Di sana ada kotak P3K. Kita obatin lukamu di sana," ajak Arum.


"Kamu yakin nggak mau aku anter ke dokter?" tanya Arum sekali lagi usai mengobati lukaku di dalam mobilnya.


"Astaga, Rum. Enggak perlu. Cuma lecet doang ini. Udah, mending sekarang kita pulang aja."


Arum dan Nia saling pandang sejenak. "Kamu yakin?" cecar Nia.


Aku menghela napas panjang. "Yakin. I'm fine!"


"Oke deh, kalau gitu." Akhirnya Arum melajukan mobilnya juga.


Sampai rumah, Arum cuma berhenti di depan pagar. Dia tidak sempat mampir. Karena mau ada urusan pekerjaan. Maklum, sekarang dia orang sibuk. Sedangkan Nia juga ikut pamit, lumayan mumpung ada tebengan gratis katanya.


"Lain kali kita ke sini lagi. Terpenting kan, sekarang udah tahu rumahmu. Gampang lah," ujar Nia.


"Oke, deh. Titi DJ, ya."


"Pastinya," balas Arum. Lambaian tangan menjadi pamungkas pertemuan kami. Setelah mobil Arum menghilang di ujung gang, aku baru masuk rumah. Tak lama terdengar suara motor suamiku parkir di teras. Detik kemudian dia mengucap salam.


"Awww!" rintihku saat dia mengecup keningku tepat di bagian yang lecet.


"Eh, kenapa ini?" tanyanya panik. Terpaksa kujelaskan semuanya secara detil.


"Wah, nggak bisa dibiarin ini. Itu anak motor harus dikasih pelajaran," katanya penuh emosi.


"Nggak usah aneh-aneh deh, lagian ini cuma luka kecil. Cuma lecet doang. Lagian tadi juga udah diobatin sama Arum."

__ADS_1


"Nggak bisa. Aku nggak terima kamu diginiin," katanya ngotot.


Dia lantas mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Menelepon geng motornya. "Kumpulin anak-anak di tempat biasa. Kita ada misi!"


__ADS_2