SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Dia Telah Kembali


__ADS_3

"Pak, lewat jalur timur, ya!" titahku kepada sopir taksi. Aku ingin melihat si Bocil ada di tempat kerjanya atau tidak.


"Wah, kalau lewat jalur timur muter jauh banget, dong, Mbak. Mbak yakin, mau lewat sana?"


"Iya, Pak. Lewat sana aja. Gak apa-apa muter."


"Baik, Mbak."


Aku coba stalking akun media sosial si Bocil. Juga WhatsApp-nya. Tak ada postingan terbaru di semua medsosnya. Kupandangi foto profil WhatsApp-nya yang sedang tersenyum manis. Aku kangen dengan senyummu ini, Cil.


Kuamati jalanan, rupanya sudah hampir dekat dengan bengkel tempat kerja si Bocil. Kuminta sopir untuk memelankan laju mobilnya. Saat sampai tepat di depan bengkel Podo Moro, aku meminta berhenti sejenak.


Mataku memonitor seluruh penjuru bengkel. Tak kutemukan bocil di sana. Apa dia sedang di toilet? Atau sedang pergi menemui wanita itu? Tak kuasa menahan rasa penasaran, aku pamit turun sebentar pada sopir taksi guna mencari informasi ke mana perginya si Bocil.  Aku langsung menghampiri pegawai yang sedang stay di bengkel. Bertanya padanya akan di mana keberadaan si Bocil.


"Maaf, Bocil, siapa, ya, Kak?" Pegawai itu tanya balik.


Ah, iya, kebiasaan memanggilnya bocil jadi terbawa sampai sini. Ck! "Eum, maksudku Dafa."


"Oh, Dafa!" serunya, "Dia tadi pamit keluar sebentar, Kak."


"Ke mana, ya?"


"Katanya sih, ada urusan keluarga gitu."


"Oh, gitu. Terima kasih, ya, infonya."


"Ya, sama-sama, Kak. Oya, btw, Kakak ini siapanya Dafa? Barangkali mau nitip pesan, nanti biar saya sampaikan ke Dafa."


"Gak usah disampaikan ke Dafa. Gak penting, kok. Nanti kalau saya ketemu dengannya biar saya sampaikan sendiri."


"Oh, oke, Kak, kalau gitu."


"Ya udah, saya permisi, ya. Sekali lagi, terima kasih. Maaf, sudah mengganggu waktunya."


"Oh, iya, Kak. Gak ganggu, kok. Sama-sama. Silakan!"


Aku kembali ke dalam taksi, dan lanjut ke kantor. Aku tak bisa berhenti memikirkan si Bocil. Ruang otakku penuh dengan dia seorang. Pertanyaan demi pertanyaan merangsek berdesakan di dalam kepala. Sampai pening rasanya.


Acara keluarga? Keluarga yang mana? Orang-orang Panti Asuhan Tirta Amarta?


Sampai di kantor terlambat. Mendapat omelan dari Bos. Aku disuruh milih sangsi potong gaji atau lembur. Aku pilih dihukum lembur kali ini. Ini kali kedua aku terlambat ke kantor karena si Bocil.

__ADS_1


Dulu sebelum menikah dengannya, saat dia masih sekolah SMA, aku juga pernah terlambat ke kantor begini karenanya. Dulu ketika aku sedang menunggu angkutan umum di tepi jalan.  Bocil menawarkan tumpangan. Saat itu sudah kesiangan dan di kantor akan diadakan rapat. Sedangkan cari kendaraan umum susah banget.


Aku pun menerima tawaran si Bocil. Dia mengaku tahu jalan tikus. Tapi nyatanya malah nyasar gak tentu arah. Aku terlambat ke kantor, dan dia terlambat ke sekolahnya.


Kala itu Bos memotong gajiku. Sedang si Bocil dapat hukuman mencatat materi pelajaran sebanyak 10 lembar. Dia menuding aku telah memaksanya memberiku tumpangan, dan memaksaku membantunya mencatat. Padahal yang maksa nganterin aku ke kantor dia.


"Fa, kamu kenapa? Abis diomelin Bos, kok malah cengar-cengir gitu?"


Aku tersentak dari lamunan. Kemudian nyengir ke arah Ulfa, teman sekantorku. Ulfa menggeleng, lalu kembali ke bilik kerjanya. Malah jadi flash back gini, sih?


*****


Hari sudah malam. Kantor perlahan mulai sepi. Tinggal beberapa karyawan yang tinggal lembur, dan juga beberapa petugas kebersihan. Aku kembali dilanda rasa penasaran, akan ke mana perginya si Bocil tadi pagi.


Aku coba cari akun media sosialnya Panti Asuhan Tirta Amarta. Dari sana aku mendapatkan nomor WhatsApp pengurus Panti tempat si Bocil bernaung selama 19 tahun. Meski sudah pernah diajak bertandang ke sana dan dikenalkan dengan semua penghuni Panti, tapi aku lupa tukeran nomor dengan pengurusnya kala itu.


[Selamat malam, Ibu.]


[Selamat malam. Maaf, dengan siapa ya, ini?] Akhirnya dibalas juga setelah beberapa menit berlalu.


[Saya Safa, Bu. Istrinya Dafa.]


[Oh, Mbak Safa. Apa kabar, Mbak?]


[Saya juga baik. Oya, ada apa nih, tumben malam-malam chat?]


[Cuma mau nanya, apa hari ini Panti Asuhan Tirta Amarta ada acara?] Sempat ragu mau bertanya, tapi akhirnya terkirim juga.


[Maksudnya gimana ya, Mbak?]


[Apa hari ini di Panti mengadakan acara seperti halnya tasyakuran, pesta atau semacamnya?]


[Oh, tidak Mbak. Tidak ada acara apa-apa hari ini di Panti. Kenapa tanya begitu, Mbak? Apa ada yang nyebar hoax, Mbak?]


Berarti ke mana tadi pagi si Bocil? Keluarga yang mana, yang dia maksud? Selama ini orang yang dianggap keluarga kan, cuma aku dan orang-orang Panti. Argh!


Sampai lupa balas chat ke Bu Nurmala. [Tidak kok, Bu. Cuma nanya aja. Lagi kangen aja sama suasana hangat Panti Tirta Amarta.]


[Oh, main atuh ke sini kalau kangen. Ibu juga kangen. Dafa juga sekarang jarang ke sini sejak menikah. Anak-anak Panti juga pada kangen, loh.]


[Kapan-kapan, diusahakan main ke sana, Bu.]

__ADS_1


[Oke, ditunggu, ya.]


[Baik, Bu. Terima kasih atas responsnya. Maaf, sudah mengganggu waktunya.]


[Sama-sama. Gak ganggu, kok.]


Usai chatan sama Ibu Panti, justru perasaanku semakin tak keruan. Rasa penasaran kian menjadi. Penasaran akan ke mana perginya bocil pagi tadi. Apa dia pergi bersama wanita yang diceritakan Bu Eni itu? Siapa sih, wanita itu sebenarnya?


Aku mengacak rambut frustrasi. Menyelesaikan pekerjaan, menghabiskan sisa kopi. Mencuci gelas dan mengembalikannya ke pantri. Kembali ke bilik kerja mengambil tas. Keluar kantor, waktunya pulang. Sampai di depan gerbang kantor, aku ternganga tak percaya. Bocil sudah menungguku di sana rupanya.


"Lain kali kalau mau lembur itu kabarin suami! Hp jangan disilent!" Aku langsung meriksa hp. Ternyata tadi dia nelpon puluhan kali. Juga kirim chat banyak banget.


Dia ... beneran sudah kembali seperti sedia kala? Seriusan? Aku terbengong tak percaya. Dia memakaikan jaket dan juga helm. Menjentikkan jari ke hadapan muka. Aku pun tersadar dari lamunan.


"Ayo, pulang! Malah bengong! Minta dicium dulu?"


Aku gak lagi halu, kan? Ini asli kan, sifat tengilnya telah kembali. Padahal tadinya pengen ngamuk ke dia karena udah nyuekin dan juga udah diem-diem nemuin perempuan lain. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Aku merasa bahagia banget.


Aku tersentak dari lamunan oleh dua kecupan hangat di pipi ini. Mangap tak percaya. Juga kesel karena dia udah dengan lancang nyium tanpa permisi.


"Kamu apa-apaan sih, Cil? Main nyosor aja!" ketusku sambil menabok punggungnya.


"Aku cuma ngembaliin kecupan yang Mbak layangkan ke kedua pipiku."


"Hah?!" Aku terperanjat kaget, "Jangan ngadi-ngadi kamu ya, Cil! Mana ada aku nyium kamu?"


Dia terkekeh. "Udah nyosor, gak mau ngakuin!"


"E-emang beb-beneran tadi aku nyium kamu?"


Dia mengangguk, dan menunjukkan bekas lipstikku yang menempel di kedua pipinya. Gak percaya dengan apa yang bocil katakan. Aku bertanya kepada satpam kantor yang kebetulan sedang membetulkan kunci gerbang, di belakang kami berdua. Satpam pun membenarkan. Asli, malu kuadrat. Bisa-bisanya aku nyium si Bocil tanpa sadar, di tempat umum begini lagi. Mana disaksikan oleh kedua satpam lagi.


Sebelum bocil melajukan motornya. Aku menoleh kikuk ke arah satpam. Mereka berdua sedang tersenyum ke arahku. Satpam yang bernama Sapto itu terkenal ember. Fiks, ini sih, besok orang kantor bakal heboh, dan tahu kalau suamiku itu bocil.


"Tidaaaak!"


Motor berdecit, bocil mengerem mendadak. Aku otomatis memeluknya erat. Helm kami pun berbenturan.


"Kamu ngapain ngerem mendadak, sih, Cil?!"


"Mbak ngapain teriak-teriak?!"

__ADS_1


"Hah?!"


Lagi, aku melakukan sesuatu hal tanpa sadar. Kupikir tadi aku hanya berteriak dalam hati? Ternyata beneran teriak?


__ADS_2