SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Tersesat


__ADS_3

"Mikuuu! Ulfaaa! Saliiim!" Hanya desau angin dan kicau burung yang menyahuti. Mataku memonitor sekeliling. Sepi. Hanya kupu-kupu, capung dan burung serta kumbang yang beterbangan. Juga dedaunan yang menari-nari akibat digerakkan oleh sang bayu.


"Ciiil! Bociiil, kamu di mana? Jangan bercandaaa! Nggak lucuuu!"  Kali ini nyamuk berdenging di dekat telinga yang menyahut. 


Aku mencoba berjalan dan melihat di balik setiap pohon. Kukira mereka pada ngumpet di baliknya, tetapi ternyata tidak ada. Apa aku ditinggalin? Atau aku yang tanpa sadar memisahkan diri dari rombongan pencari kayu bakar? Tetapi, masa si Bocil nggak nyadar sih, kalau istrinya ilang?


Aku berusaha mengingat ke mana arah kembali ke perkemahan. Namun, tidak ingat harus melangkah ke arah mana. Kucoba saja melangkah asal sesuai kata hati, berharap menemukan salah satu rombongan, tetapi tidak juga. Semakin aku berjalan, kurasa semakin sepi dan suasana hutan makin rimbun. Kayunya juga makin besar-besar serta semaknya semakin subur.


Ada suara 'grusak-grusak' di dalam semak. Semaknya pun bergoyang-goyang tak beraturan. Sepertinya di dalam sana ada hewan liar yang sedang bergulat atau berebut makanan mungkin. Aku menjatuhkan kayu yang sedari tadi kupanggul secara perlahan. Kemudian berjalan mundur pelan-pelan. Jantung ini berdegup bak genderang perang. Menelan ludah terasa payah. Kerongkongan seolah tercekat. Mendadak kering kerontang. Keringat dingin sudah mulai menyembul dari pori-pori, mengalir membasahi kening.


Bagaimana kalau itu harimau atau hewan buas lainnya? Apa aku bakal tamat di sini? Tidak! Aku belum siap jika harus mati sekarang. Aku masih mau merasakan bagaimana ngidam, melahirkan dan menyusui. Aku masih mau merasakan menjadi ibu dari bocil junior.


Kaca-kaca yang menggenang di pelupuk mata mengaburkan pandanganku. Kuseka dengan harapan penglihatan lebih jelas. Namun, air mata lainnya malah berebut keluar dan menetes tanpa ampun. Aku terus berjalan mundur dan sesekali menoleh ke belakang guna memastikan kondisi di belakang. Dalam hati terus merapal doa memohon keselamatan.


Kaki ini makin gemetar saat semak yang sudah aku jauhi itu makin bergerak brutal. Mataku melotot saat hewan di dalamnya berlari mengarah kemari. Detik kemudian menyembul dan tampaklah itu hewan apa. Ternyata dua ekor biawak sedang berkelahi dan saling kejar.


Aku nyaris saja tertabrak biawak yang lari tak tentu arah itu. Untungnya ada sepasang tangan yang melingkar di pinggangku dan menarikku ke balik pohon. Aku menjerit histeris antara merasa ngeri dengan kedua biawak itu, juga kaget dengan tarikan yang secara mendadak ini.


Cepat-cepat aku menoleh guna memastikan siapa gerangan yang menarikku. "Bociiil!" teriakku girang bukan kepalang. Aku langsung menghambur ke pelukannya dan menangis di sana.


"Hei, udah jangan nangis." Dia mengusap air mataku dan membingkai wajah ini.


"Ak-aku pikir aku bakal tersesat dan nggak bisa ketemu kamu lagi. Aku takuuut," rengekku.


Dia mengusap air mataku yang tidak mau berhenti mengalir. Mengecup kening ini kemudian menenggelamkan kepalaku dalam dekapannya. "Udah tenang, ya. Sekarang kan, udah ada aku. Tenang, oke!" ucapnya sambil mengusap pucuk kepala ini lembut.


"Lagian kenapa kamu ninggalin aku tadi?" sungutku sambil menarik diri dari rengkuhannya.


"Yeee, bukan aku yang ninggalin Mimu, tapi Mimunya yang tiba-tiba ngilang." Aku manyun kesal. Dia terus berusaha menenangkan aku.


"Udah. Biawaknya udah pergi dan kamunya juga udah tenang. Jadi, sekarang kita balik ke perkemahan," ajaknya. Aku mengangguk setuju. Sekali lagi, dia mengusap sisa air mata di pipiku, merapikan rambutku. Kemudian menggandeng tanganku, lalu berjalan beberapa langkah dan berhenti lagi.


"Kenapa?" tanyaku saat dia bergeming seperti sedang berpikir.

__ADS_1


Dia nyengir ke arahku. Perasaanku mulai nggak enak. "Hehe, aku lupa jalan pulang ke tenda ke arah mana." Tuh, kaaan, bener.


"Terus gimana, dooong?" Aku merangsek mendekat ke sisi badannya. Mendadak merasa ngeri kalau harus bermalam dan tersesat di dalam hutan belantara begini. Ini suasana masih sore saja gelap begini. Bagaimana jika malam sudah mulai merayap menyelimuti bumi. Belum lagi banyak nyamuk dan banyak hewan buas juga pastinya. Aku bergidik merasa ngeri. Kemudian memeluknya erat.


"Takuuut," rengekku sambil melirik kanan kiri.


"Tenang. Jangan panik! Biar kita bisa ingat jalan kembali ke tenda. Aku juga nyoba inget-inget tadi lewat mana. Sambil lihat sekeliling."


Sesuai arahannya, aku mencoba tenang dan berusaha mengingat pohon apa saja yang tadi sudah aku lewati. Aku menjentikkan jari, dia terkejut. Aku lantas tertawa. Semula dia bersungut sebal, tetapi akhirnya ikut tertawa juga.


"Ada apa?" tanyanya kemudian.


"Aku ingat sesuatu."


"Apa?" Dia antusias menunggu kalimatku.


"Aku ingat tadi lewatin pohon besar banget dan daunnya itu kecil-kecil gitu terus di atasnya ada banyak tumbuh benalu."


"Oke, kita coba cari pohon itu." Aku mengangguk setuju. Kami pun berjalan sambil melihat ke segala arah guna mencari pohon tersebut. Setelah berjalan ke sana kemari akhirnya pohon itu ketemu juga.


"Bilang aja mau modus," sungutku.


"Enggak. Masa sama istri sendiri modus."


"Awas ya, kalau macem-macem. Ingat, ini di hutan!"


"Iya. Nggak akan. Udah sini duduk!" titahnya. Aku nurut duduk di sela pahanya.


"Udah inget belum, tadi kita lewatin apa lagi?" tanya setelah agak lama kami hanya duduk diam menikmati desau angin dan kicau burung-burung.


"Aku tadi liat anggrek liar warna ungu gitu, tapi lupa tepatnya di sebelah mananya pohon ini."


"Ya udah, kita jalan lagi, ya. Kita cari letak anggrek itu. Mimu masih kuat kan, jalan?" Aku mengangguk.

__ADS_1


"Kuat, kan, ada kamu. Bersamamu aku kuat," kataku sambil menyender pada dadanya.


"Hmmm, hmmm, jangan mancing. Tadi Mimu sendiri kan, yang bilang jangan macem-macem ini di hutan."


"Cuma nyender dikit doang masa kepancing. Lemah banget," sungutku.


"Aku memang selalu lemah kalau di hadapkan dengan pesonamu, Mimu Sayang."


Aku berdecak kesal, lalu berdiri. Namun, mendadak aku kehilangan keseimbangan sehingga jatuh menimpa tubuh suamiku. Dia pun ambruk karena tak siaga dengan serangan mendadak dariku. Kami kini dalam posisi saling tindih. Aku berada di atas dadanya. Mata kami saling bertemu.


Sebelum suasana makin memanas. Aku bergegas bangkit, berdehem dan merapikan penampilan. Dia menyusul berdiri, mengembuskan napas kasar, menyugar rambutnya.


"Huh!" teriaknya. Mungkin itu cara dia menepis perasaan aneh yang menjalari tubuhnya.


"Jadi nggak sabar buat sampek di tenda," lanjutnya lirih, tapi terdengar jelas di telingaku. Aku menoleh dan mendelik ke arahnya.


"Kenapa?" tanyanya sok polos.


"Itu otaknya dikondisikan!" sentakku.


"Dih, apaan, sih? Orang pengen cepet sampek di tenda biar bisa lekas istirahat dan berkumpul dengan yang lain. Yeee, emang dikira mau ngapain?" Dia lanjut terkekeh. Aku tersipu.


"Kayaknya pikiran Mimu deh, yang harus dikondisikan," bisiknya meledek. Aku tersipu. Malu luar biasa, menghambur ke pelukannya dan membenamkan wajahku di dadanya. Kuhirup aroma tubuhnya yang laksana obat penenang bagiku.


Dia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Aku menarik diri dari pelukannya. "Kenapa?" tanyaku.


"Sudah sore ternyata. Sebentar lagi Magrib. Kita harus cepet-cepet menemukan jalan kembali ke tenda supaya nggak kemaleman. Mimu nggak mau kan, kalau kita gelap-gelapan di sini?" Cepat aku menggeleng.


Baru saja kami hendak melanjutkan langkah, tiba-tiba terdengar suara mengaum. Refleks, aku kembali memeluk suamiku. Erat. Kubenamkan wajah ke dadanya lagi dan kupejamkan mata.


"Takuuut," rengekku lirih, "Itu macan, kan?"


"Nggak mungkin. Soalnya kata penjaga hutannya di sini nggak ada macan. Kalau ada macannya nggak mungkin dong, di dekat sini dijadikan tempat perkemahan. Iya, kan?"

__ADS_1


"Tapi, itu nyatanya ada suara macan," lirihku. Aku makin panik saat suara mengaum itu terdengar makin dekat.


"Tapi, nggak tahu juga kalau itu macan yang baru aja migrasi ke sini," lirihnya. Membuat aku makin ketakutan dan mengeratkan pelukan. 


__ADS_2