SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Mantan Berulah


__ADS_3

"Maksudnya, lepaskan bagaimana, ya, Bu?" tanyaku memastikan.


Dia merubah posisi duduknya menjadi bersandar pada sandaran kursi. Melipat tangan di dada, dan di pangkuannya terdapat tas mini branded warna maroon. Dia menolehku sekilas lalu pandangannya kembali lurus ke depan.


"Kamu kan, tahu. Dafa itu masih sangat muda. Dia belum pantas menjadi kepala keluarga atau suami. Langkahnya masih panjang, gak seharusnya kamu kacaukan masa mudanya dengan kamu paksa dia buat jadi penutup aibmu!"


Apa katanya? Paksa? Siapa yang maksa coba? Anaknya sendiri yang datang menumbalkan diri. "Kalau Ibu gak tahu kejadian yang sebenarnya, jangan asal nuduh, Bu!" Aduh, kelepasan. Biar bagaimana pun, dia mertuaku. Tak seharusnya aku bersikap kasar. Ck!


Bibir merahnya miring. "Kamu pikir aku gak tahu? Aku tahu semuanya. Dafa menikahimu hanya demi kemanusiaan aja. Menjadi pengantin pengganti karena calon suamimu yang sesungguhnya kabur, bukan?" katanya sinis.


Apa bener ya, apa yang Ibu bilang? Dafa menikahiku hanya karena kemanusiaan saja. Mungkinkah, saat dia mengambil keputusan itu tergesa tanpa berpikir panjang. Apa sekarang dia juga sebenarnya tengah menyesali keputusannya itu. Lalu tak berani bicara jujur denganku karena takut menyakiti perasaanku?


Mungkinkah, semua kata-kata manisnya yang keluar dari bibirnya selama ini hanya untuk menghiburku saja? Seperti anak seusianya yang bisa dengan mudah bilang 'cinta' tanpa perasaan. Duh, jadi kacau begini pikiranku.


"Aku dengar, Dafa itu termasuk anak yang multi talenta, ya?" Aku mengangguk samar.


"Kalau bakatnya itu diasah, dia bisa jadi orang sukses di kemudian hari. Tapi, kalau bertahan jadi suamimu, dia bakal gitu-gitu aja. Gak maju. Kasihan, masih muda sudah harus dihadapkan dengan tanggung jawab sebesar ini. Jadi kepala rumah tangga," lanjutnya sinis.


"Makanya, udah, lepasin aja dia. Biar ikut sama saya, dan akan saya kuliahkan dia di Universitas ternama. Terus biar nanti dia jadi orang sukses."


Rasanya gak rela lepasin dia. Aku udah mulai sayang, tapi ada benernya juga apa yang Ibu bilang. Mungkin kalau Dafa aku lepasin, dia bisa bebas menikmati masa mudanya dan mengejar kesuksesannya.


"Atau kamu mau uang tebusan? Berapa? Sebutin aja nominalnya!"


Hah?! Dipikir anaknya barang yang digadaikan apa? Aneh banget ini orang! Ngeselin juga lama-lama. Sama kayak anaknya tengilnya. Asli!


"Nggak, sebenernya Ibu itu ngotot banget pengen ambil Dafa ... itu karena Ibu ingin menebus semua kesalahan Ibu di masa lalu atau mau jadikan dia tambang emas baru? Hah?!" Aku tak lagi dapat menahan emosi. Dia terdiam menatapku nyalang.


"Semua yang saya lakukan ini untuk Dafa!" tegasnya.


"Oya?! Kalau semua yang Ibu lakukan untuk Dafa, terus selama 19 tahun ini ke mana aja? Kenapa Ibu gak pernah ada buat dia? Bahkan sekedar menanyakan kabar dia ke pihak Panti pun, tidak, 'kan?"


Dia langsung dalam posisi berdiri. "Kamu!" Telunjuknya mengarah ke wajah ini, "Kurang-ajar sekali sama mertua!" pungkasnya lantas pergi tanpa pamit lagi.


Aku berdiri menghela napas menggeleng lesu. Lalu mendekati taksi yang sudah dengan sabar menungguku. "Maaf ya, Pak, lama nunggunya."


"Oh, gak apa, Mbak. Jadi, ini sekarang meluncur ke tujuan ya, Mbak?"

__ADS_1


"Iya, Pak."


"Oke."


*****


"Fa, kamu disuruh menghadap Pak Eza," ujar Rima. Huh, baru aja mau duduk. Mantan bikin pikiran makin ruwet aja! Argh! Gak tahu apa, masalahku udah banyak. Mau nambahin pusing pasti, nih.


Aku melangkah ogah-ogahan ke ruangan Eza. Benar sesuai dugaanku. Dia manggil aku ke ruangannya hanya mau nanya soal kenapa hari Sabtu kemarin gak ngantor. Ck! Gak penting banget, sih!


"Kan, waktu itu sudah saya jelaskan via chat, Pak, kalau saya sedang sakit," ketusku.


"Itu pasti cuma alasan kamu aja, 'kan? Segitu gak maunya kamu pergi sama aku? Hah?!"


"Terserah Bapak mau percaya apa tidak. Terpenting saya sudah menjelaskan sesuai fakta. Permisi, saya masih banyak pekerjaan."


Dia berlari mendahului langkahku. Mencekal lengan ini. Menatapku tajam. Ditariknya tubuhku ke dalam dekapannya.


"Bapak jangan macam-macam, ya! Lepaskan atau saya teriak!"


Dia tidak menggubris ancamanku dan malah mengeratkan pelukan. Tenagaku kalah kuat, meski berusaha berontak tetap tak bisa lepas dari dekapannya. Saat aku mau teriak, mulutku dibungkam.


Rasanya aku tidak nyaman sekarang bekerja di sini. Kalau Eza masih terus hendel perusahaan ini, aku bakal keluar. Gak sanggup kalau harus sekantor dengan mantan arogan seperti dia.


*****


Melihat Rima mau ke ruangan Eza. Aku segera menyelesaikan pekerjaanku, dan menitipkan berkas yang tadi kurevisi padanya. Males kalau antar sendiri ke ruangan Eza.


Tak lama Rima kembali. "Fa, kamu dipanggil Pak Eza."


Aku mendengus kesal. Memukul meja lirih. Geram. Pasti cuma akal-akalannya saja.


"Eh, cepetan temui Pak Eza, kok malah bengong. Nanti aku juga dimarahin kalau kamu gak cepetan, Fa," cerocos Rima.


"Iyaaa," jawabku lesu. Lantas ke ruangan Eza.


"Duduk!" titah Eza datar setelah aku memasuki ruangannya.

__ADS_1


"Iya, ada apa Bapak memanggil saya ke sini?" Aku terkesiap saat dia melempar berkas ke hadapan dengan kasar. Detik kemudian dia membuka map biru itu dan menunjukkan hasil revisianku.


"Aku suruh kamu revisi itu supaya semakin rapi dan detil, tapi kenapa malah kacau begini? Hah?!"


Aku gelagapan. Ternyata memang benar, banyak sekali kesalahan yang aku lakukan. Duh, pasti karena terus kepikiran soal ucapan Ibu mertua yang nyuruh aku lepasin Dafa.


"Eum, nanti saya perbaiki lagi, Pak."


"Memang seharusnya begitu! Tapi, tetap ya, kamu saya hukum!"


"Hukum? Hukum apa, Pak?"


"Siang ini kamu ikut saya! Soal pekerjaanmu, kamu kerjakan di jam lembur saja!"


"Ikut ... ke mana ya, Pak?"


"Sudah, ikut saja!"


"Gak bisa gitu dong, Pak. Harus jelas, saya mesti ikut ke mana? Masih ada kaitannya sama kantor dan pekerjaan atau tidak? Kalau gak ada kaitannya, maaf, saya tidak bisa ikut, Pak!"


Dia mendengus, bibirnya miring sinis. "Masih ada kaitannya sama kantor. Sudah jelas sekarang?"


"Baik Pak. Kalau memang masih ada kaitannya sama pekerjaan, saya siap-siap dulu."


"Iya, buruan!"


*****


"Gak usah! Aku bisa sendiri!" tegasku saat di dalam mobilnya dan dia akan membantu mengaitkan sabuk pengaman. Dia angkat tangan layaknya sedang diperiksa polisi.


Mobil melaju meninggalkan area kantor. Terus melaju membelah jalanan yang tengah ramai kendaraan lalu-lalang. Semakin jauh, dan keluar dari kota.


"Ini ... sebenernya kita mau ke mana, sih? Ini udah jauh banget, loh, dari area kantor!" Aku mendelik ke arahnya. Perasaanku mulai tidak enak.


"Udah, kamu tenang aja! Aku bakal ajak kamu ke suatu tempat. Dijamin tempatnya indah dan kamu bakal suka."


Dahiku mengernyit tak percaya. "Apa kamu bilang? Ke tempat yang indah? Bukannya tadi kamu bilang kita pergi untuk pekerjaan, ya? Kamu jangan macem-macem ya, Za! Aku gak mau ikut kalau ini bukan urusan pekerjaan. Aku mau turun di sini! Turunkan aku di sini! Berhenti, nggak?!"

__ADS_1


Dia malah tersenyum miring. Kemudian fokus menyetir tidak menggubris ancamanku yang mau teriak dan melompat turun. Argh! Seharusnya aku tidak percaya begitu saja padanya. Sial!


__ADS_2