SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Layangan Putus


__ADS_3

Kedatangan kami di Panti Asuhan disambut dengan pelukan hangat oleh Ibu dan beberapa pengasuh lainnya. Tak berselang lama anak Panti berdatangan. Ada yang baru pulang sekolah, main, menyelesaikan tugas rumah dan lain-lain. Sebagian yang memang sudah kenal dengan suamiku, para adik kecil yang sekarang sudah makin besar itu langsung menghambur ke pelukan lelakiku. Kangen katanya. Ada juga yang merajuk karena merasa telah dilupakan dan dinomor duakan.


"Sekarang Bang Dafa gak asyik lagi sejak menikah. Jadi jarang main ke sini. Sibuk sendiri." Begitu protes salah satu anak lelaki yang bertubuh gempal. Suamiku terkekeh, meminta maaf, lalu mengacak gemas rambut bocah itu. Kemudian, suamiku membuat janji, selama di sini, dia bakal menghabiskan banyak waktu bersama. Bocah itu pun bersorak gembira. Aku tersenyum, sedang Ibu, dia geleng-geleng.


"Kalau gitu, selama di sini, Bang Dafa tidurnya harus sama aku," pinta bocah yang memiliki nama Alvin itu. Tangan gemuknya menggenggam erat lengan lelakiku. Suamiku tergagap, kemudian menoleh ke arahku, tatapannya penuh harap meminta bantuanku agar memberikan pengertian pada Alvin. Aku tahu, maksudnya, tetapi ini kesempatanku untuk mengerjainya. Jadi, bagaimana mungkin aku sia-siakan begitu saja.


"Eh, Alvin. Kalau mau tidur bareng Abang, harus izin dulu sama istrinya," ujar Ibu.


"Oh, tenang saja, Vin. Pokoknya selama di sini, Bang Dafa milikmu seutuhnya," kataku bersemangat. Suamiku terlihat sangat keberatan. Aku tahu, dia mulai tak bisa jauh dariku barang sebentar.


"Jadi, artinya Alvin boleh tidur sama Abang?" tanya bocah itu sekali lagi.


Aku mengangguk semangat. Bocah itu bersorak girang dan jingkrak-jingkrak. Suamiku pasang muka lesu. Aku mengulum bibir menahan tawa. Pun dengan Ibu.


"Nanti malam, Alvin boleh tidur sama Abang. Sekarang, biar Bang Dafa nemenin istrinya naruh barangnya di kamar, ya." Alvin mengangguki ucapan Ibu. Lantas mempersilakan aku dan lelakiku ke kamar terlebih dahulu guna menaruh baju ganti dan merapikannya jika perlu.


Alvin mengabarkan ke semua temannya kalau malam ini dia bakal tidur bareng Bang Jago. Begitu panggilan mereka ke suamiku. Tentu saja hal itu membuat dahi ini mengernyit.


"Kenapa mereka memanggilmu 'Bang Jago' begitu?" tanyaku penasaran saat kami sudah sampai di dalam kamar.


"Ah, namanya saja anak-anak. Kadang memang begitu. Suka seenaknya kalau memanggil orang."


Aku tahu pasti ada sebabnya, tetapi dia tidak mau cerita. Oke, aku bakal cari tahu sendiri nanti.


"Nanti malam, kan, aku mesti nepatin janji buat tidur sama Alvin," katanya dengan nada malas.


"Iya. Terus?"


"Jadi, siang ini ... aku mau minta ... jatah ...."


"Bang! Bang Dafa!" Itu suara anak-anak yang berteriak di depan pintu kamar sambil mengetuk-ngetuk. Suamiku mengacak rambutnya frustrasi. Aku tertawa, tapi tertahan.


"Argh!" Lelakiku berjalan menuju pintu saat anak-anak itu terus memanggil sambil menggedor pintu.


"Ada apaan, sik?" balas lelakiku ketus setelah pintu terbuka. Aku berjalan mendekati mereka, lalu nyender pada kusen pintu.


"Kita main layang-layang, yuk! Di lapangan belakang," ajak salah seorang anak lelaki berbadan kerempeng.


"Heh, badan lu kerempeng gini mau main layangan segede itu. Ntar yang ada lu kebawa terbang, Ipul!" celetuk lelakiku. Aku terkekeh.


"Makanya temenin, biar gak kebawa terbang," pintanya, lalu nyengir memamerkan deretan giginya yang tak teratur.


"Nah, bener tuh, Yang. Temenin, gih! Pasti seru main layang-layang. Pas banget anginnya lagi bagus ini." Aku mendorong sisi bahunya. Dia berdecak kesal, tetapi akhirnya mengangguk setuju juga. Anak-anak itu pun bersorak gembira.


"Yodah, aku temenin anak-anak dulu main layang-layang. Jangan kangen, ya," bisiknya sebelum berlalu. Aku cuma bisa geleng-geleng kepala.

__ADS_1


***


Sementara suamiku menemani anak laki-laki main layang-layang di lapangan belakang panti ini. Aku membantu Ibu menyiapkan menu untuk makan siang kami nanti. Di tengah kesibukan memotong sayuran, terdengar keributan di ruang tengah. Tak berselang lama salah seorang anak perempuan berlari ke dapur, ke tempat kami berada. Gadis kecil bernama Naura itu mengadu, kalau Karin dan Amel sedang berantem di ruang tengah, berebut mainan. Tentu saja, kami tinggalkan sejenak kesibukan di dapur, pergi ke ruang tengah, memisah dan mendamaikan kedua anak yang berseteru itu dulu.


"Oke, baikan, ya! Janji gak boleh bertengkar lagi. Main bareng-bareng." Aku berjongkok di tengah kedua bocah itu, "Janji kelingking dulu, dong." Karin dan Amel pun menautkan kelingkingnya dan saling meminta maaf serta memaafkan. Mereka damai, bermain bersama lagi. Aku dan Ibu kembali ke dapur melanjutkan masak. Beberapa anak yang sudah gadis remaja membantu di dapur.


"Kakak sudah hamil?" Tiba-tiba gadis imut yang bernama Lisa nyeletuk. Aku terdiam beberapa saat, kemudian menggeleng lemah.


"Sabar, ya," ucap Ibu sambil mengusap pundak ini lembut. Mungkin dia menyadari perubahan ekspresi wajahku yang mendadak murung. Aku memaksa bibir ini tersenyum, meski aslinya enggan. Entahlah, belakangan ini aku menjadi sangat sensitif saat disinggung soal anak. Aku takut nggak bisa punya anak, dan juga takut punya anak. Intinya masih dilema. Kalau nggak punya anak takut, tapi juga takut kalau segera punya anak dan aku gak bisa jadi orang tua yang baik. Entahlah. Serumit itu pikiranku.


*****


Di sini, nyaris tak ada waktu buat bengong. Selesai masak, langsung mengkoordinasi anak-anak supaya makan siang. Setelah itu membantu beres-beres, lalu tak berapa lama kembali ke dapur guna menyiapkan menu makan malam. Usai makan malam, membantu memantau anak-anak yang belajar sampai menyiapkan tempat tidur mereka. Sangat sibuk, seru dan aku sudah mulai lupa dengan rasa takut yang selama ini menghantuiku.


"Anak-anak sudah tidur. Sekarang, giliran kita juga tidur," ujar Ibu. Aku mengangguk setuju. Usai mengucapkan 'selamat malam' kami menuju kamar masing-masing. Lelah ini butuh rebah.


Baru saja mata ini mau merem. Aku dikejutkan dengan derit pintu yang dibuka oleh seseorang dari luar. Aku yang kaget campur panik langsung dalam posisi duduk bersandar pada kepala ranjang. Ternyata rasa traumaku belum sepenuhnya hilang. Masih kambuhan.


"Maaf, Sayang. Kamu kaget, ya." Wajah suamiku menunjukkan penyesalan. Aku diam menstabilkan jantung yang berdebar-debar. Dia mendekat dan langsung menenggelamkan kepala ini dalam dekapannya. Kata 'maaf' terus ia lontarkan. Kurasakan sebuah kecupan di puncak kepala ini.


"Kamu ngapain ke sini?" tanyaku sambil melepaskan diri dari dekapannya setelah jantung ini stabil.


"Aku kangen lah, sama kamu. Seharian ini kan, kita jarang sama-sama. Selalu sibuk sendiri-sendiri," rengeknya.


"Kamu kan, udah janji mau tidur sama Alvin."


"Apanya yang berat?" Dahi ini mengernyit dibuatnya.


"Rinduku. Aku udah gak kuat bawa sendirian." Dia merentangkan tangan, aku refleks menghambur ke pelukannya.


"Tapi, cuma peluk sama cium aja, ya. Jangan minta lebih. Capek banget soalnya," kataku mewanti-wanti. Dia mengangguk setuju. Setelah puas memeluk dan menciumi pipi, rambut dan bibir ini, dia kembali ke kamar Alvin dengan berat hati.


Baru saja mau merebahkan badan, dia nongol lagi di celah pintu yang dibuka sedikit. Aku pun urung tidur.


"Ada apa lagi?" sungutku.


"Ada yang ketinggalan," katanya serius.


Aku celingukan memastikan. "Apa?" tanyaku setelah tak menemukan sesuatu yang tertinggal.


"Ini," katanya sambil membentuk jarinya seperti love ala Korea. Ck!


"Udah, deh, sana!" usirku. Aku sudah tak kuasa menahan kantuk.


"Enggak! Aku gak akan pergi sebelum kamu balas," katanya maksa.

__ADS_1


"Nih!" ketusku.


"Senyumnya mana?"


"Argh! Aku ngantuk!" omelku.


"Senyum dulu!"


"Nih."


"Yang ikhlas senyumnya."


Aku menghela napas kasar, lalu berusaha tersenyum semanis mungkin. "Udah, pergi! Atau aku ...." Aku mengangkat guling ke udara. Dia mengacungkan jempolnya, lalu menghilang di balik pintu yang tertutup rapat.


Saat aku sudah mau memejamkan mata, kudengar pintu terbuka lagi. Aku membuka mata sekejap, dia datang lagi. Dikecupnya pipi dan kening ini, lalu dibetulkan selimut dan bantalku. Sekali lagi dikecupnya pucuk kepala ini, aku sudah tak sanggup lagi membuka mata. Kantuk mendera begitu hebatnya. Aku masih bisa merasakan perlakuan hangatnya, tetapi sudah tak sanggup membuka mata.


****


Setiap sore hari, bakda Asar, anak laki-laki ada yang main bola dan layang-layang di lapangan belakang. Seperti biasa, suamiku mengawal anak-anak itu. Sedang aku, sore ini ditugaskan menemani anak-anak perempuan yang sudah remaja membuat kerajinan tangan tugas dari sekolah mereka. Membuat hiasan dinding dengan sedotan menjadi pilihan. Kami melihat tutorialnya di internet. Kami kompak tertawa saat ada yang melakukan kesalahan, lalu bersorak gembira saat akhirnya pekerjaan selesai dan hasilnya lumayan bagus.


"Terima kasih, ya, Kak, sudah dibantuin," ujar Sindi.


"Sama-sama. Itu sisanya beresin, ya. Setelah itu mandi. Sudah sore."


"Siap, Kak." Mereka kompak menjawab.


Tak berapa lama, suamiku dan anak-anak yang tadi main layang-layang pulang membawa wajah lesu.


"Kenapa? Kok, lemes gitu, Besti?" tanyaku.


Anak-anak itu langsung duduk berselonjor kaki di lantai, menghela napas kasar.


"Layangannya pada putus," jelas lelakiku. Aku ber-oh.


"Ya udah, ini kan, udah sore juga. Jadi, mending kalian mandi aja, ya. Besok bikin layang-layang lagi." Beberapa bocah lelaki itu menyahuti perkataanku dengan gumaman lesu. Lantas beranjak dari lantai.


"Ayang!" Suamiku meraih lenganku, sontak aku pun urung ke kamar.


"Apaan?"


Dia menggenggam kedua tanganku, tatapan kami bertemu. Ekspresi wajahnya sangat serius. "Layangan boleh putus, api boleh padam, hujan boleh reda, air laut boleh surut, tetapi ketahuilah, bahwa cinta dan kasihku padamu takkan pernah putus, padam, terjeda atau surut selama nyawa masih terperangkap dalam raga ini."


Gubraaak!


**Pengumuman: Resmi sampai bab ini saja, ya, di sini. Lanjutannya ada di aplikasi sebelah. Sedikit bocoran, di aplikasi sebelah sudah sampai bab 92. 8 bab lagi tamat. Dafa dan Safa sudah dalam fase mau jadi ayah dan ibu, loh.😁😁

__ADS_1


Terima kasih, untuk para pembaca yang masih setia mengawal Dafa dan Safa sampai bab ini. Tanpa kalian, kisah ini bukan apa-apa. Kalian sungguh sangat luar biasa.


Setelah ini, mungkin saya akan posting cerita baru yang bakal saya posting hanya di sini sampai tamat di sini. Dan semoga lebih seru dari kisahnya Dafa dan Safa. Tunggu saya kembali, ya. Sekali lagi, terima kasih banyak.🙏**


__ADS_2