SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Lega


__ADS_3

Aku terkesiap saat Eza menarik bahu ini agar menghadapnya. Kudorong dia yang semakin mendekatkan wajahnya. Aku berlari ke dalam toilet dan mengunci pintu.


Dia akhirnya berhasil mendobrak pintunya, lantas menarikku keluar. Aku berusaha berontak, tapi kalah kuat. Dia membopong tubuhku, aku terus berontak sambil terus berteriak meminta tolong. Berharap ada yang mendengar teriakku.


"Berteriaklah, Sa. Tapi, kayaknya percuma deh, gak bakal ada yang denger! Percaya, deh! Jadi, mending hemat itu tenagamu buat melayaniku."


"Cih! Najis!"


Dia menidurkan aku di sofa ruang tamu kantor. Gegas aku bangkit, dan mendorongnya lalu berlari keluar membawa kunci yang berhasil aku sahut dari dalam kantong celana Eza. Eza langsung mengejar menarik bajuku hingga robek di bagian lengan sebelah kiri.


Kutendang di bagian vitalnya. Dia terhuyung ke belakang. Gegas aku berlari keluar setelah pintu berhasil terbuka. Langkahku melambat, lalu mematung memandangi seorang pria yang berdiri di depan gerbang. Benarkah itu dia?  Dia baik-baik saja? Dia masih hidup.


Gegas aku berlari mendekati gerbang. Sial! Ternyata gerbangnya juga dikunci.


"Hei, Mbak kenapa nangis?" tanyanya dari depan gerbang. Aku mendadak gagap. Eza keluar memanggilku.


Eza terbahak. "Kamu gak akan bisa lari, Sa, dan dia!" Telunjuknya mengarah ke Bocil, "Gak akan bisa berbuat apa-apa." Tawanya pecah lagi. Kemudian menarik lenganku dengan paksa kembali memasuki kantor.


"Bociiil! Tolongin aku!"


"Woi! Jangan kurang-ajar sama istri orang, ya!" teriak si Bocil. Dia tampak kebingungan mencari jalan masuk.


Kini aku tak lagi dapat melihat si Bocil. Eza kembali membawaku ke ruang tamu kantor. Dia mengunci ruangan ini, dan membuatku terpojok. Aku menangis mengiba dan memohon, tapi tak didengarnya. Dia tetap dengan beringas menarik bajuku hingga robek lagi di bagian lengan sebelah kanan. Dia seperti orang kesetanan.


Aku terus mengeles saat dia mencoba mencumbu. Aksinya terhenti oleh suara dobrakan pintu. Tak lama pintu benar-benar terbuka. Bocil berdiri di ambang pintu sana.  Sorot matanya penuh keberanian dan amarah.


Tanpa ba-bi-bu dia langsung menyerang Eza tanpa ampun. Keduanya terlibat duel sengit. Bocil terlihat sudah lemas nyaris kalah. Aku gak boleh diem. Harus melakukan sesuatu. Tapi, apa? Kulihat di sudut ruangan ada guci yang lumayan besar. Kupukulkan guci itu ke tengkuk Eza hingga dia terkapar tak berdaya.


Bocil menarik lenganku lari keluar kantor. Kupeluk dia setelah berada di luar gerbang. Aku terisak dalam dekapannya. Napasnya terengah, tangannya mengusap kepala ini lembut. Kemudian dia melepaskan pelukannya.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyanya, sambil memeriksa tubuh ini, membingkai wajah ini dan mengusap air mata yang mengalir di pipi. Aku menggeleng.


"Kamu sendiri? Gak apa-apa?"


"Aman. Ya udah, kita pergi dari sini, ya?" Aku mengangguk.


"Tapi, bagaimana kalau Eza lewat?"


"Enggak. Dia masih hidup, kok."


"Kamu, yakin, Cil?" Dia mengangguk.


Saat aku sudah naik ke atas motor, dan menoleh ke teras kantor, kulihat Eza berdiri terhuyung di sana. Aku bernapas lega dia benar masih hidup ternyata, tapi juga takut. Takut kalau Eza bakal memperpanjang masalah ini. Karena yang aku tahu, dia orang yang keras kepala dan tidak mau kalah.


*****


Sampai di rumah, gegas kututup pintu dan aku peluk si Bocil erat. Rasanya bahagia banget ternyata dia baik-baik saja. Tadi ketika Eza bilang sudah menyingkirkannya, aku pikir sudah benar-benar kehilangannya.


"Eh, ada apa nih, Mbak? Tumben meluk-meluk?"


"Kamu gak apa-apa kan, Cil? Gak ada yang luka, atau tulang yang patah, kan?" Kuputar-putra badannya untuk memastikan.


"Pusing, Mbak. Etdah, main puter-puter aja. Dipikir gangsing apa?"


"Ya, habis tadi Eza bilang udah nyingkirin kamu. Aku kan, jadi khawatir."


"Takut kehilangan, ya?" godanya. Padahal mukanya babak belur, tapi masih saja tengilnya gak luntur.

__ADS_1


"Oh, jadi tadi itu yang nyerempet aku sampek terpental ke pinggir jalan itu boss kamu?" lanjutnya.


"Mungkin. Soalnya dia bilang udah nyingkirin kamu. Tapi beneran kamu gak apa-apa?"


"Aman, Mbak. Tadi aku terpental ke rerumputan pinggir jalan," jelasnya, "Dia ada masalah apa, sih? Kenapa dia bersikap tak senonoh begitu?"


"Eum, nanti aku ceritakan, tapi sekarang sebaiknya aku obatin dulu lula kamu, ya?" Dia mengangguk setuju. Menunggu di sofa ruang tengah. Aku ke kamar mengambil kotak P3K. Lantas mengobati lukanya sambil beruraian air mata.


"Hei, yang sakit siapa? Yang nangis siapa? Aku gak apa-apa, kok. Udah ya, jangan nangis!"


Aku malah semakin terisak. Rasanya takut banget. Takut kehilangannya. Aku gak akan sanggup hidup tanpa dirinya. Tapi, bagaimana dengan rencana Ibu? Bagaimana kalau nanti Ibu  berhasil membujuk bocil untuk ikut dengannya? Dan ... bagaimana kalau Eza semakin nekat menyakiti si Bocil? Apa yang harus aku lakukan?


"Hei, udah dong nangisnya. Aku beneran gak apa-apa, kok, Mbak." Dia menarik kepala ini lembut dan dibenamkan ke dalam dekapannya. Hangat dan nyaman. Kulingkarkan tangan ke pinggangnya.


"Kamu gak akan ninggalin aku, kan, Cil?" Entahlah, tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja.


"Kok nanyanya begitu? Kenapa?"


"Eum, gak apa-apa. Gak penting udah lupain aja!" Gegas aku menarik diri dari dalam dekapannya. Dia menarikku kembali ke dalam pelukannya.


"Apapun yang terjadi, aku akan tetap di sisimu, Mbak. Mendampingimu dalam melewati hari, mencintaimu setulus hati, menyanyangimu sepenuh hatiku, dan menjagamu  segenap jiwa ragaku hingga akhir hayatku."


Ucapanmu memang meyakinkan, Cil, tapi jujur aku masih ragu. Ucapanmu barusan benar-benar keluar dari dalam lubuk hati, atau hanya dari bibir si raja gombal semata demi menyenangkan dan menenangkan hati ini?


Apapun itu aku tak peduli. Mulai sekarang, aku hanya akan menikmati setiap detik waktu bersamamu, Cil. Biar semua berjalan sesuai takdir, dan mengalir seperti air. Perkara hasil akhirnya bagaimana? Biar waktu yang menjawab.


"Oya, tadi katanya mau cerita soal bosmu yang gak ada akhlak itu? Ayo, cerita!"


"Eum, gimana kalau kita mandi dulu. Lengket banget badanku."


Dia matanya langsung berbinar dan mengangguk antusias banget. "Hayuk! Mandi bareng gitu maksudnya, Mbak?"


"Eh, Mbak, aku kan, masih bocil, Mbak?"


"Bodok!" Dia terbahak lalu mengaduh. Pasti sudut bibirnya yang bonyok ngilu, tuh.


"Mbak kan, masih rebus air, jadi aku mandi duluan, ya!"  katanya berlalu di belakangku dengan handuk tersampir di pundaknya.


"Hmmm."


*****


Setelah dia selesai mandi, aku langsung masuk ke kamar mandi. Keburu airnya dingin lagi. Usai mandi baru sadar, teryata lupa bawa handuk. Mana baju kotornya sudah terlanjur basah tadi jatuh ke lantai dan tersiram. Ck!


"Ciiil!" panggilku kikuk.


"Iyaaa!" Dia menyahut dari ruang tengah suaranya.


"Siniii!"


Kudengar dia berlari antusias. Ck! Tuman! "Iya, gimana, Mbak?" tanyanya dari balik pintu kamar mandi.


"Eum, eng-nganu ...."


"Nganu? Nganu apa?"


"Mau minta tolong."

__ADS_1


"Tolong apa? Mau minta tolong digosokin dakinya? Hayuk! Cepetan buka pintunya!"


Kugebrak daun pintu. "Otakmu perlu dipel keknya, Cil!" Dia terbahak.


"Ya, terus minta tolong apa? Oh, Mbak kedinginan, mau dipeluk? Iya?"


"Dengerin dulu! Nyerocos muluk!"


"Hehe, iya.  Ya udah, aku dengerin. Cepetan mau apa?"


"Tolong ambilin handuk. Aku lupa bawa handuk."


"Asyiap!" Kudengar dia berlari mengambil handuk. Tak lama kembali lagi, dan mengetuk pintu.


"Aku buka sedikit pintunya, kamu jangan ngintip ya, Cil!"


"Iyaaa."


"Awas! Kalau ngintip!"


"Iya, iya! Gak ngintip."


Kubuka pintunya sedikit agar dia bisa memberikan handuknya lewat celah. "Dah, mana handuknya?" Dia bergeming.


"Cil! Gak lucu, ya! Dingin, nih!" Dia terbahak.


"Tenang nanti aku angetin, Mbak."


"Ck! Cil, serius napa?! Argh! Buruan handuknyaaa!" Akhirnya dia memberikan handuknya juga lewat celah pintu yang aku buka sedikit. Tapi, tidak segera dilepaskan. Malah ngajak main tarik handuk.


"Bociiiil! Gak lucu bercandanya!" Dia terbahak lalu akhirnya melepaskan handuknya juga.


*****


Usai berganti pakaian, aku ke ruang tengah. Di meja sudah tersuguh dua cangkir kopi dan cemilan. Dia menepuk ruang kosong agar aku duduk di sebelahnya.


"Nih, minum kopinya biar anget!"


"Makasih."


"Sama-sama. Kalau mau lebih anget lagi, di sini." Dia menepuk dadanya. Peluk maksudnya.


"Enggak! Makasih! Udah cukup dengan kopi."


"Hmmh, tadi aja meluk-meluk," sindirnya. Aku masa bodoh, menyeruput kopi dan makan cemilan yang tersedia.


"Ayo, cerita!" todongnya.


Ah, iya, aku harus jelasin siapa Eza sebenarnya. Jangan sampai dia tahu dari orang lain.  Bisa panjang urusannya.


"Oke, jadi Eza itu ...."


"Oh, jadi namanya Eza?" selanya. Aku mengangguk membenarkan. Dia meraih cangkir kopinya dan menyeruputnya.


"Dia mantanku."


Bocil terbatuk. Kopinya nyaris menyembur. "APA?! MANTAN?!" pekiknya. Aku mengangguk lagi, setelah sempat terpaku karena syok dengan reaksinya.

__ADS_1


"Kalau begitu, mulai besok kamu gak usah kerja di sana lagi!" lanjutnya tegas. Asli, ini kali pertama aku melihat dia seserius ini.


__ADS_2