
Ali mengekor, kami terus meneriakkan nama si Bocil. Namun, tetap tak ada jawaban darinya. Apa dia jatuh ke lautan? Aku usap air mata yang mulai menetes. Pikiran buruk terus menghantui sehingga menimbulkan getaran pada tubuh ini.
Mataku menyapu ke bawah tebing, kemudian memonitor ke dalam hutan. Dia tidak terlihat. Rasa khawatir kian membuncah. Lutut terasa lemas seolah hilang tulangnya. Beberapa kali nyaris ambruk, tapi ditopang oleh Ali.
Aku terduduk di antara ilalang yang tengah berbunga. Tak peduli meski terasa ada anak ilalang yang menusuk. Aku sudah tak punya kekuatan untuk berdiri lagi. Air mata mengalir deras. Sedang Ali masih terus berusaha mencari keberadaan suamiku.
Ali berjalan menyusuri semak, masuk ke dalam hutan sambil terus berteriak memanggil sahabatnya. Tapi tak kunjung ada jawaban. Tak lama Ali keluar dari dalam hutan, berjalan ke sana kemari, pandangan matanya menyapu lautan di bawah sana.
"Mungkin sebaiknya kita kembali ke Villa minta bantuan yang lain untuk mencari Dafa, Kak," saran Ali, aku mengangguk setuju. Kemudian dia menuntunku membantu berdiri.
"Kakak bisa jalan tidak?"
"Bisa kok," jawabku lemas.
"Kalau gak bisa, mending aku gendong aja, ya! Soalnya Kakak kelihatan lemes banget." Ali berjongkok di hadapanku siap untuk menggendong.
"E-eh, apa-apaan ini?!" Sontak aku berbalik menghadap ke arah pemilik suara. Ali lantas ikut berdiri.
"Kamu dari mana, sih?!"
"Elo dari mana, sih?!"
Aku dan Ali berbarengan melontarkan pertanyaan yang sama. Bocil menatapku dan Ali secara bergantian.
"Bikin panik aja!" omelku kemudian.
"Siapa yang bikin panik, sih? Orang aku buang hajat di dalam hutan sana," paparnya.
"Kenapa dipanggil-panggil gak menyahut, kampret!" Ali ikut kesal.
"Ya orang lagi buang hajat kan, gak boleh bersuara," dalihnya, tapi bibirnya miring jahil.
"Kamu pasti sengaja kan, mau ngerjain kita?" tudingku. Dia mengulum bibir menahan senyum.
Kupukul bahunya keras, dia mengaduh kesakitan. Aku tak peduli. "Kamu pikir kek gitu itu lucu? Hah?! Gak lucu sama sekali tau gak, sih?!" cerocosku sambil terus mencubit dan memukulinya di sela isak tangisku yang pecah. Dia mengaduh dan menghindar. Aku kesal dan memilih meninggalkannya bersama Ali.
__ADS_1
"Aku ngaku salah, aku minta maaf," ucapnya sambil mengejar. Aku bungkam dan terus berjalan pulang ke Villa. Ali dan bocil mengekor. Akhirnya kami pulang. Rencana mancing pun ambyar. Aku sudah terlanjur kesal karena ulah isengnya. Sampai di Villa langsung masuk kamar dan mengunci pintunya. Kuabaikan teriakannya di depan pintu yang meminta maaf dan minta dibukakan pintu.
Aku memasang earphone menyetel musik dan rebahan di atas kasur. Lebih baik diam di sini dulu agar emosi yang membakar hati ini mereda. Agar masalahnya tidak semakin runyam dan panjang.
Aku terpejam menikmati musik yang mendayu merdu. Kemudian melek dan langsung dalam posisi duduk saat kurasakan ada yang menepuk bahu ini. Lekas aku copot earphone yang terpasang di telinga.
"Kamu kok bisa masuk?" tanyaku tak percaya. Dia menunjuk jendela. Aku mendengus kesal.
"Aku gak mau diganggu! Aku butuh ruang untuk sendiri. Keluar sekarang!" Dia menggeleng.
"Aku gak akan keluar sebelum dapat maaf darimu." Aku diam mematikan musik yang ada di ponsel.
"Aku minta maaf ya, tadi udah buat kamu panik dan khawatir. Aku janji gak bakal ngulangin lagi." Dia mengacungkan kelingkingnya ke hadapan muka.
Kutatap dia nyalang. "Kamu tau gak sih, gimana perasaan aku tadi? Takut banget tau gak?! Apa yang kamu lakuin tadi, itu gak lucu!"
Dia langsung naik ke atas kasur dan memelukku erat. Aku tak bisa berkutik. Air mataku tumpah dalam dekapannya. Entahlah, mendadak sangat takut. Takut kehilangannya. Kata 'maaf' terus ia ucapkan lirih sambil mengusap dan mengecup puncak kepala ini berulangkali. Dia juga berjanji gak akan bikin aku panik kayak tadi lagi.
*****
Seharian tadi kami menghabiskan waktu di Villa. Aku masih bete dengan si Bocil memilih menghabiskan waktu dengan membaca novel. Kebetulan ada perpustakaan mininya. Bosan membaca, aku berbincang dengan Bu Rus dan membantu pekerjaannya membersihkan halaman Villa.
Malam ini, semua bersiap untuk acara barbeque di halaman depan Villa. Selain diterangi lampu taman, ada api unggun kecil-kecilan yang tadi dibuat oleh Ali dibantu Pak Rusman.
Sementara aku membakar daging, sosis dan jagung, dibantu si Bocil. Eum, lebih tepatnya ngerecokin sih, ya. Dia jahil banget. Selalu punya cara untuk membuatku tertawa atau bersungut sebal. Suasana yang tadi seharian membeku, kini kembali menghangat dan mencair.
"Woi! Bisa gak, masak yang bener? Ribut muluk!" bentak Ali.
"Sirik aja lu!" sahut si Bocil.
"Maklum pengantin baru," goda Pak Rusman. Sementara yang lain cekikikan.
"Perasaan pengantin baru itu romantis, mesra gitu deh, Pak. Bukan kayak Tom and Gerry begitu," timbrung Ali.
"Heh, ntar kalo gua mesra-mesraan sama bini gua di depan lu, lu kebakar lagi," ledek suamiku. Ali mengumpat kesal. Bocil terbahak puas.
__ADS_1
Tak lama Bu Rus keluar membawa minumannya dan peralatan yang diperlukan. Seperti halnya piring, garpu dan pisau daging. Setelah semua siap santap, kami pun makan bersama-sama diselingi obrolan dan canda tawa.
"Nih, aaak!" Bocil menyodorkan daging ke depan mulutku. Aku menggeleng menolak. Karena tak enak hati dengan yang lain. Malu. Ali berdehem.
"Udah abaikan aja mereka. Anggap mereka gak kelihatan. Aaak!" Bocil memaksa.
"Wei! Gua bukan makhluk halus, ya!" bantah Ali tak terima. Bu Rus dan Pak Rusman terkekeh. Pun dengan yang lain.
"Ayolah, satu suapan aja. Nih!" Dia terus memaksa saat aku bersikukuh menolak. Akhirnya terpaksa mangap juga. Ali dan yang lain mendesah kesal.
"Aduh, jadi kangen sama istri," celetuk salah satu kru kapal. Pria yang berusia kisaran di bawah 40 tahun itu lantas pamit mau menelepon istrinya. Pak Rusman melirik mesra istrinya. Ali dan yang masih jomlo lainnya mengerang kesal.
"Kamvret emang semuanya! Gak berperikejomloan kelen!" sungut Ali. Lantas pamit masuk ke dalam Villa. Aku dan si Bocil usai makan langsung membantu Bu Rus beberes. Setelahnya pergi ke kamar duluan. Kutinggalkan bocil yang masih berbincang dengan Ali di ruang depan.
Aku melongo tak percaya saat membuka koper berniat mau ganti baju tidur, dan baju tidurku yang sudah aku tata rapi diganti semua oleh si Bocil dengan lingerie super seksi. Entah kapan dia mengganti semua baju tidurku, dan entah kapan dia membeli baju mengerikan ini?
Sebuah notif pesan masuk. Lekas aku raih ponsel yang semula aku letakkan di atas nakas. Chat dari bocil rupanya. Segera aku buka dan baca.
[Dipake ya, baju dinasnya!] Terselip stiker dengan lidah melet ke sebelah.
[Awas kalau gak dipake!] Pesan susulan masuk. Kali ini dibubuhi stiker marah. Aku mematung usai membaca pesan horornya.
Gimana ini?
Aku gak mungkin terus-menerus menolaknya, mengabaikan perintahnya. Biar bagaimana pun, dia suamiku. Imamku. Perintahnya harus aku patuhi, bukan? Tapi, geli kalau harus pake lingerie. Gimana dong?
Pake?
Enggak!
Pake?
Enggak!
Eum ....
__ADS_1
Lagi, hp berdenting tanda sebuah pesan masuk.
[PAKE!] Pesan dari bocil lagi. Pemaksaan ini namanya, bukan perintah lagi. Ck!