
Kawanan orca atau paus pembunuh datang. Konon, orca adalah penguasa lautan. Hiu usil dan gabut itu menjauh. Entah apa yang tadi mereka lakukan di bawah kapal sana sehingga menimbulkan kekacauan dan kepanikan. Mungkin di bawah sana ada banyak makanan dan sedang melakukan perburuan, atau mereka berdua sedang berkelahi. Entahlah.
Kekuatan gigitan orca atau paus pembunuh sangat mematikan bagi hiu dan hewan lainnya. Kekuatan gigitan orca mencapai angka 19 ribu PSI, sedang kekuatan gigitan hiu hanya mencapai empat ribu PSI. Maka tak heran jika kedua hiu tadi langsung menjauh.
Seekor paus pembunuh sanggup tumbuh hingga 8 meter dan bobot sekitar 5 ton. Ukuran dan bobot ini jelas jauh di atas ukuran dari tubuh hiu putih besar. Secara teori tak ada satu pun hiu yang berani mendekati kawanan paus pembunuh karena itu sama saja menyerahkan nyawa.
Meski dikenal sebagai hewan pembunuh, tapi sebenarnya orca tidak menyerang manusia. Paus pembunuh atau orca (Orcinus orca) adalah paus bergigi dari keluarga lumba-lumba dan merupakan anggota terbesar dalam kelompok lumba-lumba. Beberapa memakan ikan secara eksklusif, sementara yang lain berburu mamalia laut seperti anjing laut dan spesies lumba-lumba lainnya.
Aku menghela napas panjang, lega. Ombak yang disebabkan oleh gerakan absurd hiu tadi sudah tenang. Kawanan orca berlalu melewati sisi kapal. Tak kusia-siakan momen ini. Gegas kukeluarkan ponsel dari dalam saku celana dan mendokumentasikannya. Ali turut merekam, pun dengan kru kapal. Kami mengucapkan 'terima kasih' pada kawanan orca itu sambil melambaikan tangan ke arah mereka pergi.
Rombongan orca sudah jauh. Ali meminta tolong pada kru kapal untuk memeriksa kembali mesin kapalnya. Sedang aku, Ali dan lelakiku merapikan barang-barang yang tadi berantakan akibat kapal yang oleng.
Tanpa sengaja aku menginjak entah tumpahan apa sehingga menjadikan geladak kapal licin. Aku terpeleset nyaris jatuh. Kebetulan Ali berada tepat di belakangku. Untungnya dia sigap menangkap tubuhku.
Beberapa saat aku terpaku dalam dekapannya, syok. Mata kami bertemu beberapa detik. Sebelum akhirnya bocil berdehem dan mengambil alih tubuhku dari dalam rengkuhan sahabatnya.
"Sorry, gua cuma reflek aja, kok," ujar Ali. Dia mendadak kikuk kemudian pamit hendak merapikan geladak atas. Meniggalkan aku dan suamiku berdua saja di geladak dasar.
"Kenapa?" tanyanya panik saat aku meringis memegangi pinggang.
"Kayaknya pinggang aku kecetit, deh."
"Pasti gara-gara hampir jatuh tadi, ya?" Dia terlihat sangat cemas, padahal hanya kecetit saja.
"Mungkin." Aku lanjut mencoba mengurut sendiri pinggangku yang terasa agak nyeri sedikit.
"Ya udah, sebentar. Tunggu di sini! Aku mau coba nanya ke Ali ada obat gosok gak di kapal ini." Aku menyahuti dengan gumaman. Anggukan setuju mengiringi. Dia lantas pergi meninggalkan aku sendiri.
Tak berselang lama bocil kembali, Ali mengekori. Wajah keduanya terlihat cemas. Keduanya kompak menanyakan kondisi pinggangku saat sudah dekat.
"Aduh, kalian ini lebay banget, sih? Orang cuma kecetit doang. Nanti juga baikan," ketusku.
"Kalau emang pinggang Kakak sakit, mending kita pulang saja. Biar nanti sampek vila diurut sama Bu Rus," saran Ali. Suamiku setuju.
"Gimana mau pulang? Hah?! Mesin kapalnya aja belum nyala. Lagian udah jauh-jauh sampek sini masa mau pulang lagi. Belum juga mancing," sungutku.
"Ya, tapi kan, itu pinggang Kakak takutnya kalau gak segera diurut makin parah sakitnya." Ali terlihat sama cemasnya dengan lelakiku.
"Kalian ini apaan, sih? Lebay banget, deh! Orang cuma kecetit dikit." Aku berlalu meninggalkan mereka berdua. Lelakiku langsung menyusul dan memapah. Ali menawarkan bantuan. Aku menghela napas kasar saat kedua bocah sepantaran itu mengapit tubuhku siap memapah.
"Lu gak usah bantuin. Gua bisa urus bini gua sendiri! Udah sono lu mending bantuin cek mesin kapalnya." Suamiku mengusir sahabatnya. Ali pergi menjauh, tapi raut wajahnya terlihat ragu hendak meninggalkan kami.
"Ke sana, yuk!" ajaknya menunjuk bagian haluan kapal, "Bisa jalan ke sana, kan?" lanjutnya.
"Bisalah. Ya elah, timbang pinggang salah urat doang masa gak bisa jalan. Tapi, mau ngapain ke sana?"
"Udah, ikut aja, yuk! Di sana pemandangannya indah." Dia menyelipkan jemarinya di sela jariku. Aku mengekorinya. Sampai di haluan, dia menyuruh aku memejamkan mata dan menikmati desir sang bayu.
__ADS_1
Aku tersentak saat kurasakan dia memeluk dari belakang. Jantung ini berdetak tak beraturan bak karapan. Dagunya disandarkan pada bahu kiriku. Pipi kami saling bersentuhan.
Sebuah kecupan hangat ia daratkan di pipi ini. Sukses membuat aku tersipu. Aku membuang muka menahan senyum. Rasanya seolah kembali ke masa remaja. Masa saat pertama kali mengenal cinta.
Dia melepaskan pelukannya, kemudian berdiri bersisian. Menikmati indahnya maha karya Tuhan. Air laut dan langit warnanya senada. Burung camar beterbangan di dekat pulau depan sana.
Lagi, aku tersentak saat dia tiba-tiba merangsek mendekat dan menarik bahu ini agar menghadapnya. Tangan kirinya mengusap pipi dan bibir ini lembut. Aku terpejam saat dia kian mendekatkan wajahnya.
"Kok malah di sini, sih?" Suara Ali, membuat mataku terbuka. Aku dan lelakiku kompak menoleh ke sumber suara. Detik kemudian kudengar bocil berdecak kesal.
"Ganggu aja lu!" ketus suamiku. Raut wajahnya terlihat sangat kesal. Aku mengulum bibir menahan senyum.
"Ya maap," balas Ali, "Di sini anginnya kenceng banget. Kasian istri lu tuh, ntar tambah masuk angin lagi."
"Mending kita ngopi di dalam," imbuh Ali.
"Nah, cocok tuh." Wajah kesal si Bocil seketika berubah sumringah saat mendengar sahabatnya menyebut minuman berkafein itu. Kami berdua mengekori Ali.
"Gandengan muluk kek mau nyebrang jalan aja!" olok Ali saat menoleh ke belakang dan mendapati tangan kami bertaut.
"Iri bilang, Boss!" balas lelakiku tengil.
Mesin sudah menyala kembali, semua memutuskan untuk istirahat sejenak menikmati kopi seduhanku. Obrolan dan canda tawa mengiringi. Usai menikmati kopi, Ali meminta pada nahkoda agar kembali saja ke vila.
"Lah, kok pulang, sih? Kita kan, belum mancing. Belum dapat ikan,” protes salah satu kru kapal.
"Waktu kita udah banyak yang terbuang sia-sia di sini gara-gara hiu dan mesin kapal yang mati. Mood-ku sudah hilang. Udah pulang aja. Lagian itu pinggang Kakak juga lagi sakit, kan?" Ali kekeh mengajak pulang.
"Iya, pulang ajalah. Aku juga udah hilang semangat," sahut Miku lesu. Nahkoda pun cuma bisa pasrah. Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 2 jam-an akhirnya kami sampai di vila.
"Bu Rus, tolong ini di urut ya, pinggangnya. Tadi kecetit waktu di kapal," ujar Ali saat kami baru saja sampai di vila.
"Kok bisa?" sahut Bu Rus nadanya seperti terkejut.
"Eh, ini kan, bini gua. Kenapa jadi lu yang ribet, sih?" Bocil terlihat tidak terima. Lebih tepatnya mungkin cemburu.
"Bukan gitu. Gua cuma gak mau aja nanti kecetitnya makin parah itu bini lu," jelas Ali.
Suamiku terdiam sejenak. Kemudian mempersilakan Bu Rus mengurut pinggangku. Bu Rus menggiringku ke kamar dan mengurut bagian yang salah urat.
"Kalau Ibu urut keseluruhan, mau gak?" Bu Rus menawarkan pijitan tambahan.
"Emang gak ngerepotin? Nanti Ibu capek lagi?"
"Enggaklah. Mijit gini memang sudah keahlianku, Neng. Mau, ya? Biar enak enteng badannya. Kayaknya Neng jarang pijit, ya?"
Aku nyengir. Tebakan Bu Rus benar. Aku memang nyaris gak pernah pijit. "Iya Bu, hampir gak pernah pijit malah. Kayaknya terkahir pijit dulu pas masih SMA."
__ADS_1
"Kelihatan, Neng. Ya udah, biar Ibu pijit semuanya. Biar enteng badannya." Aku akhirnya mengangguk setuju. Lagian, pijitan Bu Rus memang enak, sih.
*****
Aku mengerjap dan melek. Pijitan Bu Rus sampek membuat aku ketiduran saking enaknya. Sekarang yang menempati posisi Bu Rus sudah berganti si Bocil. Tangannya melingkar di pinggang ini.
Saat kucoba memindahkan tangannya, dia malah semakin erat memeluk. Bahkan kakinya juga mengunci diri ini. Aku tak bisa berkutik lagi.
"Ciiil!" panggilku. Dia menyahuti dengan gumaman.
"Aku mau mandi."
"Nanti ajalah mandinya setelah menyelesaikan season kedua," bisiknya.
"Season kedua apa?" Aku pura-pura bloon.
"Yang kayak semalem," lirihnya.
"Iiih, baru juga dipijit, masa udah mau dibikin korslet lagi, sih?" sungutku. Dia terkekeh.
"Awas, singkirkan tangannya! Aku mau mandi lengket ini bekas minyak urut semua badanku." Aku mencoba melepaskan diri dari pelukannya, tapi susah.
"Season duanya nanti malem aja," bisikku kemudian.
"Bener, ya?" todongnya.
"Iya." Dia akhirnya mengendurkan pelukannya. Gegas aku kabur turun dari ranjang.
"Sepuluh ronde, ya?" pintanya. Mataku membulat tak percaya. Dia mengedikkan alisnya. Kupukul dia dengan bantal bertubi-tubi. Setelah puas memberinya pelajaran. Aku pergi ke kamar mandi. Meninggalkan dia yang masih terbahak.
*****
Saat malam datang, dia menagih janji. Tak ada pilihan lain selain menepati janjiku sore tadi. Usai menyelesaikan season 2. Tenggorokan terasa kering kerontang. Aku kehausan.
"Aku mau ke dapur dulu, ya, mau ambil minum. Haus."
"Mau aku ambilin aja, gak?" Dia menawarkan jasanya.
"Enggak usah. Aku ambil sendiri aja." Gegas aku turun ranjang mengenakan pakaian, dan keluar kamar menuju dapur.
Usai minum saat akan kembali ke kemar, aku berpapasan dengan Ali. Kakinya tersandung kaki meja makan. Detik kemudian dia ambruk memelukku. Aku yang tidak siap menopangnya, pun akhirnya terjatuh. Tubuh jangkungnya menimpaku. Aku tertindih.
"Heh! Lo apain bini gua?!" Miku yang baru datang dan tidak tahu kejadian yang sebenarnya langsung menarik paksa tubuh Ali agar menjauh dari atas badanku.
"Dia itu bini gua! Lu tau itu!" teriaknya lantang sambil mencengkeram kerah baju Ali dan mengunci posisi sahabatnya di tembok.
Suamiku terlihat berang, siap melayangkan pukulan ke wajah sahabatnya. Sedang aku masih kepayahan bangun. Ada efek sesak di dada pasca tertimpa tubuh Ali tadi.
__ADS_1