SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Cobalah Untuk Setia


__ADS_3

"Sayang, laper ya? Utututu. Yaudah, yuk, kita masuk rumah terus makan," katanya sambil mengusap lembut makhluk imut berbulu belang. Aku masih terpaku di ambang pintu. Mulut ini tak bisa mengatup. Aku pikir dia bicara dengan seseorang, ternyata  sedang berbicara dengan seekor kucing.


"Eh, itu mau dibawa ke mana?" Aku mengacungkan telunjuk ke arahnya. Dia pun menghentikan langkahnya di ujung teras.


"Mau aku bawa masuk lah. Kasih makan. Kasihan loh, dia kelaperan."


"Gak ada ya! Taruh di luar aja! Jangan dibawa masuk!" larangku.


"Kenapa?"


"Aku geli sama kucing."


"Ih, hewan imut gini masa geli, sih? Lucu tauk. Bulunya halus, ganteng ini lakik. Kek aku." Dia lanjut mengedikkan alis.


"Pokoknya sekali enggak tetep enggak! Kasih makan aja di situ." Kutunjuk sudut teras. Dia menghela napas panjang dan akhirnya nurut. Diambilkan nasi sama ikan juga minum dan disuguhkan di  hadapan si kucing. Makhluk berbulu itu begitu lahap makan ikannya.


Cepat aku berlari ke dalam saat kucing itu mengeong dan mendekat. Bergidik geli, padahal hewan itu belum menyentuh kaki ini. Dia malah terbahak.


*****


"Aku izin pelihara si belang, ya," ucapnya saat kami sarapan.


"Yang bener aja dooong? Udah tahu istrinya geli sama kucing. Ini malah mau dipelihara," sungutku.


"Kasihan loh, itu sepertinya kucing ditelantarkan sama pemiliknya. Lagian itu laki, jadi gak bakalan beranak pinak."


"Enggak! Suruh adopsi orang lain aja!" Dia terus merengek minta pelihara itu kucing. Dia memang pecinta kucing, kalau ketemu di jalan aja suka disapa dan dikasih makan.


"Nanti lama-lama kamu terbiasa dan bakal jatuh cinta sama dia," lanjutnya masih ngeyel.


"Ya udah deh, terserah. Tapi, kandangin kalau pas ditinggal biar gak rusuh. Kalau pup sembarangan, kamu yang bersihin! Kalau berantakin barang kamu yang beresin!"


"Siap!" jawabnya, "Tapi kan, kandangnya belum ada. Jadi, untuk hari ini biar dia berkeliaran di dalam rumah, ya," pintanya. Aku menyahuti dengan gumaman. Sejujurnya agak keberatan, cuma melihat dia begitu sayang dengan hewan berbulu itu jadi gak tega mau misahin mereka berdua.


"Nanti sepulang kerja kita belanja keperluan si Belang. Sama beli kandangnya sekalian. Tapi ...."


"Tapi, apa?" tanyaku saat dia tak kunjung melanjutkan kalimatnya.


"Pake uang kamu dulu." Dia lanjut nyengir. Aku memutar bola mata.


"Hehe. Aku kan, belum gajian," imbuhnya. Lagi, aku menyahuti dengan gumaman.


Aku menjerit histeris saat kurasakan hewan itu menggosokkan kepalanya ke kaki ini. Geli. Cepat aku berjongkok di atas kursi.


"Kenapa?" tanyanya.


"Tuh, selingkuhanmu di bawah meja. Singkirin!" teriakku. Sejurus kemudian dia menunduk memeriksa bawah meja, dan menjauhkan hewan itu. Dikurung ke dalam kamar tamu.


"Dia itu mau kenalan sama kamu," katanya usai kembali ke meja makan.


"Aku gak mau kenalan sama dia!" tegasku. Dia terkekeh.


*****


Karena motor masih di kantor, kami pun berangkat kerja naik taksi online. Dia meraih tangan ini, lalu jarinya diselipkan di sela jariku. Sepanjang perjalanan tak dilepaskan barang sejenak. Tangan kami terus bertaut. Mata kami bertemu, saling lirik, mengulas senyum. Berasa masih masa pacaran. Aku tersipu saat dia mengedipkan sebelah matanya. Lantas mengalihkan pandangan lurus ke depan.

__ADS_1


Sampai di kantor dia memeriksa motornya. Aku diminta menemani, tak boleh masuk kantor duluan. Ya, selebay itu dia hari ini. Dia manasin mesin motor.


"Udah belom?" tanyaku.


"Gak ada kata 'udah' dalam mencintaimu," jawabnya. Aku melengos. Tangan ini dicekalnya.


"Tungguin!" pintanya.


"Manja! Lagian tinggal masuk kantor aja minta ditungguin, heran."


"Kan, biar orang-orang pada tahu kalau kamu itu milikku, dan aku itu milikmu."


Aku menggeleng, memutar bola mata. Mendengus kesal. Lagi, dia menyelipkan jarinya di sela jariku, mengantarku sampai ke bilik kerjaku.


"Selamat bekerja istriku terlove."


"Hmmm."


"Kok, 'hmmm' doang?" protesnya.


"Ya terus aku harus apa?"


"Balas kek!"


"Emangnya lagi berkirim chat, minta balasan!" ketusku, "Udah sana kerja!"


"Kasih ucapan dong, biar suamimu ini semangat kerjanya. Atau kasih kecupan gitu."


"Ini di kantor! Jangan minta aneh-aneh, deh! Udah sana kerja. Selamat kerja, Miku!" Kudorong perlahan kedua pundaknya agar menjauh.


"Khem!" Ulfa yang baru datang berdehem menggoda kami, "Ingat tempat, Sis N Bro!" lanjutnya.


"Eh, btw, kok kamu udah kerja aja, sih? Emang udah sembuh?"


"Udah, dong." Bocil menjawab tanya si Ulfa dengan kepercayaan diri full.


"Udah, kerja-kerja!" seruku saat melihat Pak Broto memasuki kantor. Ulfa segera menempati posisinya. Pun dengan karyawan lain yang sudah pada datang. Bocil berlalu ke belakang.


"Loh, kok sudah kerja aja? Memangnya sudah sembuh?" Kudengar si Bocil diinterogasi oleh Pak Broto saat mereka berpapasan di koridor depan bilikku. Mereka berdua pun terlibat obrolan beberapa saat.


"Kamu kerjanya yang ringan-ringan aja dulu. Jangan manjat-manjat lagi!" Pak Broto mewanti-wanti, si Bocil patuh.


*****


Sepulang kerja, kami berdua mampir ke petshop. Membeli kandang, pakan, juga pasir lengkap dengan boksnya. Menghabiskan uang kurang dari satu juta rupiah.


"Nanti aku ganti pake gajiku," katanya, saat aku mendumel karena belanja habis banyak untuk keperluan selingkuhannya itu.


"Bentar ya, aku mau liat kalung itu." Dia menunjuk etalase aksesoris kucing.


"Istrinya aja gak pernah dibeliin kalung. Kucing yang baru dateng langsung dibeliin kalung," dumelku. Dia mencubit gemas pipi ini sebelum berlalu. Aku bersungut sebal.


"Hai," sapa seorang pria yang juga sedang berbelanja untuk keperluan hewannya mungkin.


"Hai," balasku kikuk. Agak merasa tidak nyaman. Masih tersisa trauma di hatiku sejak kejadian penculikan itu. Aku jadi agak takut kalau ada orang asing menyapa atau mendekat.

__ADS_1


"Cari perlengkapan untuk hewannya juga?" tanyanya. Aku hanya mengangguk.


"Kalau boleh tahu apa peliharaannya?" Lagi, pria tinggi di depanku bertanya. Aku celingukan mencari keberadaan si Bocil. Di saat merasa tidak nyaman begini, cuma dia yang mampu menenangkan.


"Oya, boleh minta nomor WhastApp, tidak?" Pertanyaan yang tadi saja belum aku jawab, ini sudah minta nomor segala. Padahal belum saling kenalan juga.


"Adanya nomor togel, mau?" Bocil menyela dengan nada ketus.


"Anda siapa? Bocah ingusan nyela aja lu! Sono pergi ke emakmu!" usir pria berkumis tipis di hadapan. Mataku membulat saat si Bocil tanpa ba-bi-bu langsung menghadiahi pria tersebut dengan bogem mentah. Pria itu terhuyung ke belakang.


"Gua suami dari perempuan yang elu godain! Paham lu!" Bocil mencengkeram kerah baju pria tersebut.


"Maaf, Bang! Saya tidak tahu kalau Abang suaminya," ujar pria itu meminta ampun. Tak lama datang penjaga toko membantuku melerai. Kemudian datang lagi seorang wanita yang mengaku sebagai istri pria genit itu.


"Ternyata elu sudah punya istri juga! Keterlaluan elu, ya! Masih aja genit sama wanita lain!" Bocil kian geram, tak dilepaskan cengkeraman pada kerah baju pria itu, "Kalau Anda merasa sebagai pria sejati, jangan pernah nyakitin hati wanita! Jangan genit! Jangan selingkuh! Cobalah untuk setia, bisa kagak lu?!"


"Sudah, Pak. Mohon jangan bikin keributan di sini!" tegas pegawai toko.


"Udah, Cil. Udah! Malu dilihatin orang-orang," bisikku. Akhirnya bocil melepaskan cengkeramannya. Pria itu kini menerima hadiah berupa jeweran dari istrinya.


"Kalau perlu sampek putus, Bu, daun telinganya!" Bocil malah mengompori.


"Udah," sentakku. Dia masih saja mengaku kesal dengan pria tadi.


*****


Sampai rumah langsung disambut dengan aroma asem yang menguar di ruang tamu. Makhluk berbulu itu buang hajat di sudut ruang tamu. Tidak hanya itu, taplak meja ruang tamu berserta vas kecil hiasan di atasnya jatuh berserakan di lantai. Sofa ruang tamu bekasnya habis digaruk menyisakan bekas kuku-kukunya yang tajam.


"Lihat kelakuan selingkuhanmu!" Aku menunjuk bunga pasir yang semerbak di sudut ruang tamu. Juga taplak meja, dan vas yang jatuh serta sofa yang mengenaskan.


"Iya, nanti aku bersihin, aku beresin semuanya."


"Jangan nanti-nanti. Sekarang!"


"Iya. Narok helm dulu sama tas." Tak lama tersangkanya keluar dari arah dapur. Cepat aku memeriksa dapur. Aku menghela napas kasar. Kondisi dapur pun sama berantakannya.


"Udah, Mimu tenang aja. Biar aku yang beresin semuanya. Mimu langsung mandi aja dan dandan yang cantik. Nanti malem kita jalan-jalan," katanya merayu. Aku ke kamar ambil handuk siap untuk mandi.


Sudah masuk kamar mandi, keluar lagi. Melihatnya bekerja sendiri aku tak tega. Akhirnya aku turun tangan juga membantunya. Tak peduli meski dia melarangku membantu.


Aku ambil beberapa lembar tisu dan mengelap keringat di wajahnya. Dia juga melakukan hal yang sama. Reflek aku minta gendong saat hewan berbulu itu datang dan mengusapkan tubuhnya ke kaki ini.


"Singkirkan diaaa!" teriakku.


"Ya, kamunya turun dulu. Gimana aku nyingkirinnya kalau kamu gendong begini?" ujarnya dengan nada seperti orang keberatan.


Aku turun dari gendongannya. Dia lantas memungut kucing itu, dan menakutiku dengan cara mendekatkan hewan menggelikan itu.


"Jauh-jauh!" teriakku. Dia malah semakin mendekat.


"Bociiiiil. Gak aku kasih jatah kamu nanti malem!" ancamku.


"Eits, jangan dong. Sesungguhnya malam itu dingin, Mimu." Dia pun lantas memasukkan selingkuhannya itu ke dalam kandang baru.


*****

__ADS_1


Sepulang jalan-jalan, kami kehujanan. Bocil pun menepikan motornya, dan kami berteduh di sebuah halte. Seperti biasa, lupa bawa jas hujan. Lagi duduk bersisian, tak lama sebuah motor sport warna merah menepi juga. Pengendaranya turun, membuka helm dan meneduh.


"Hai!" sapa pengendara motor sport itu saat tatapan kami bertemu. Mataku membulat tak percaya bisa bertemu dengannya lagi. Bocil yang semula duduk di sebelah kananku, cepat-cepat pindah duduk ke sebelah kiriku. Menjadi sekat antara aku dengan lelaki itu.


__ADS_2