SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Tuman!


__ADS_3

"Oya, kamu di sini lagi ngapain?" tanya gadis itu. Bocil menoleh ke arahku, diikuti gadis itu.


"Eh, ya ampun, maaf Tante." Gadis itu langsung menyalami dan mengecup punggung tanganku. Aku terdiam dalam kebingungan. Bocil mengulum bibir menahan tawa saat tatapan kami bertemu.


"Tante pasti mama angkatnya Dafa, ya?" tebak gadis itu. Tawa bocil meledak. Aku bersungut sebal. Memangnya aku setua itu apa?


"Ih, kok kamu malah ketawa sih, Kak? Aku salah nebak, ya?" Gadis itu bingung. Suamiku masih terbahak. Mereka nyebelin  banget. Terutama si Bocil.


Aku berdiri siap untuk pergi karena saking kesalnya. Namun, lengan ini dicekalnya. Dia meminta maaf, kemudian memperkenalkan aku ke gadis itu. Sebagai ibu tiri.


What the?!


Gadis itu terdiam bingung. Mungkin juga gak percaya. Aku semakin manyun. Rasa kesal sudah sampai ke ubun-ubun. Rasanya siap meledak. Namun, aku tahan karena di tempat umum. Rasanya gak etis kan, kalau aku teriak-teriak kayak di hutan. Nanti yang ada malah dikira sahabatnya si Otan lagi.


"Serius napa, Kak!" ujar gadis itu pada Dafa.


Aku mengulurkan tangan, dan disambut hangat oleh gadis berambut sebahu di hadapanku. "Aku tetangganya Dafa! Kita tadi kebetulan ketemu di sini!"


Seketika tawa lelakiku terhenti. Wajah tengilnya berubah masam. Mungkin dia merasa ngeri membayangkan menghadapi kemarahanku nanti. Usai salaman dan menyebutkan nama, aku pergi tanpa menunggu jawaban dari gadis iu.


"Jangan marah dong, aku cuma bercanda," ucap si Bocil sambil mengimbangi langkahku.


"Bercandamu gak lucu! Udah sana, lanjutin aja pelukannya dan nostalgianya sama gadis tadi. Aku bisa pulang sendiri!"


Dia mengacak rambutnya. Mencekal lengan ini. Kalimat bujuk rayu terus ia lontarkan. Gadis tadi sepertinya masih penasaran, dia menyusul kemari. Ke tempat parkiran.


"Maaf ...." Gadis itu terlihat kikuk. Kalimatnya menggantung. Matanya menatap suamiku dan aku secara bergantian.


"Oya, Mia, jadi ini sebenernya istriku," jelas Dafa sambil menyelipkan jemarinya di sela jariku. Seolah takut aku kabur.


Gadis itu tampak syok. Dari raut wajahnya ada gurat kecewa. Mungkinkah dia berharap suamiku masih jomlo tadinya?


"Dan, Mia ini ... dia itu dulunya sama-sama tinggal di Panti. Aku udah menganggapnya seperti adik kandungku sendiri," jelas si Bocil padaku. Aku ber-oh. Gadis itu masih terpaku, seolah tak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya.


Suamiku melambaikan tangan ke depan wajah gadis itu. Mia pun tersentak. Suaranya terdengar sedikit serak dan matanya berkaca-kaca.


"Kamu kenapa?"


Mia menjawab pertanyaan dari suamiku dengan gelengan. Dia menghela napas panjang. Satu tetes air matanya lolos.


"Kok nangis? Kenapa?" Lelakiku tampak sangat khawatir.


"Enggak. Aku nangis bahagia. Gak nyangka aja ternyata Kakak udah nikah." Mia lanjut mendoakan pernikahanku, juga mendoakan agar segera diberi momongan dengan suara bergetar serak. Kemudian dia pamit pulang.


"Kita gimana? Mau lanjut makan atau pulang juga?"

__ADS_1


Baru saja aku mau jawab 'pulang' salah satu pelayan memanggil agar kembali membayar makanan yang kami makan tadi. Bocil pun menarik lenganku kembali ke dalam. Menghabiskan sisa makanan dan minuman. Biar gak mubazir katanya. Bener juga, sih. Aku paling gak suka juga kalau menyisakan makanan. Meski udah gak mood, tapi aku paksakan habis.


*****


Pagi ini dia begitu semangat dan antusias banget mau melamar kerja di kantor. Katanya udah gak sabar pengen kerja sekantor.


"Oya, aku kemarin beli parfum baru. Coba cek wanginya. Nyengat gak?" Dia menyodorkan bahunya. Aku pun mendekatkan wajahku ke bahunya dan mengendus.


Aku menghela napas panjang saat sadar masuk ke jebakan betmen lagi. Timbang mau ngecup kening aja pake segala alasan parfum baru. Aku menggeleng kesal. Dia terkekeh kemudian memakaikan helm. Menyuruhku naik, dan seperti biasa bawelnya minta ampun. Motor belum dijalankan kalau aku belum meluk dia.


*****


Sampai di kantor, setelah memarkirkan motor. Dia langsung aku arahkan agar ke bagian HRD guna interview. Aku langsung ke bilik kerja dan mulai berkutat dengan setumpuk berkas.


"Eh, Fa ...." Aku menyela ucapan Ulfa dengan menempelkan telunjuk ke bibir. Memberinya isyarat agar diam. Aku sedang butuh konsentrasi tingkat tinggi dalam mengoreksi berkas laporan keuangan.


"Oya, tadi kamu mau ngomong apa, Ul?" Kini gantian dia yang menyuruhku diam menggunakan bahasa isyarat. Balas dendam nih, ceritanya? Oke, fine!


"Terima kasih, ganteng," ucap Mila, di bilik seberang. Aku tak bisa melihat aktivitasnya, hanya dengar suaranya saja.


"Sama-sama," balas seorang lelaki. Sebentar, kok suaranya gak asing, ya? Gegas aku berdiri dan melihat ke arah bilik kerja Mila. Ternyata benar, tadi itu suara suamiku yang sedang mengantar kopi pesanan para pegawai.


"Canda, Nyaaa." Mila mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Aku mencebik lantas kembali duduk. Kini gantian Ulfa yang berdiri memastikan.


"Wah, ternyata bener tebakanku."


"Tuh, suamiku kerja di sini juga."


"Eh, hehe, suamimu." Ulfa segera meralat ucapannya saat aku meliriknya tajam. Dia lantas kembali duduk.


"Hai, istriku terlove," lirih bocil yang kini sudah berdiri di sebelahku.


"Jangan berisik! Ini kantor, bukan pasar!" sentakku lirih.


"Yang bilang ini kamar siapa?" bisiknya, "Pikirannya seputar kamar melulu!"


Dih!


"Ini aku buatin kopi spesial. Pake resep cinta dan sayang," lirihnya sambil menaruh secangkir kopi di sebelah tumpukan berkas. Saat aku lengah, dia mengecup pipi ini lalu kabur. Aku tak sempat memberinya pelajaran. Cuma bisa mengerang lirih, geram sama kelakuannya. Untung saja gak ada yang lihat.


***


[Aku tunggu di pantri. Aku udah beli makanan buat kita berdua.] Aku tersenyum usai membaca pesan dari suamiku. Saat yang lain pada makan ke restoran sebelah kantor. Aku dan bocil makan berdua di pantri.


"Hai, Fa!" safa Fahri.

__ADS_1


"Hai, juga. Udah makan belum?"


"Udah, Fa. Ini mau ambil minum, abis makan gorengan bawaannya haus muluk," ujar Fahri mengeluh. Suamiku diam, mulutnya sibuk mengunyah, matanya memindai Fahri.


"Selamat makan, Fa. Gua duluan, ya," pamit Fahri. Aku mengangguk.


"Itu tadi siapa?" tanya suamiku, setelah Fahri pergi.


"Namanya Fahri, dia pegawai juga, tapi beda lantai. Dia di lantai atas."


"Kurang ajar banget dia!"


Dahiku mengernyit tak mengerti. "Kurang ajar gimana? Orang dia cuma ngambil minum sambil nyapa basa-basi doang. Di mana kurang ajarnya?"


"Itu tadi dia kedip-kedip genit ke kamu."


Aku tepuk jidat. "Itu bukan genit, tapi kebiasaan. Dia punya kebiasaan kedip-kedip begitu."


"Ah, masaaa?"


"Ya, kalau gak percaya tanya aja sama pegawai yang lain."


Selesai makan, aku pamit ke bilik kerja lagi. Sebentar lagi mau ada meeting. Ada beberapa berkas termasuk file presentasi harus segera aku siapkan.


"Eits, sebentar dulu!" Dia mencekal lenganku.


"Apa lagi?"


Dia membentuk jarinya menjadi love ala korea. "I love you."


Aku menghela napas kasar. Memutar bola mata. Lantas berbalik siap kembali ke bilik kerja. Lagi-lagi lenganku dicekalnya.


"Gak boleh pergi sebelum jawab!"


"I lov ... akh!" Tiba-tiba perutku melilit.


"Kenapa?" Suamiku terlihat panik melihatku memegangi perut dan merintih kesakita.


"Perutku sakit. Kayaknya mau ... datang bulan, deh," lirihku. Dia terpekik kaget. Aku panik karena gak bawa pembalut, sedangkan aku harus sesegera mungkin menyiapkan file-file untuk keperluan rapat yang akan dilaksanakan sekitar 15 menitan lagi.


"Udah, biar aku aja yang beliin pembalutnya," katanya. Aku pun urung mengirim chat pada Ulfa untuk minta tolong belikan pembalut.


Aku menatapnya tak percaya. "Kamu yakin?"


Dia mengangguk mantap. "Udah, sana kamu siapin aja berkasnya. Biar aku pergi beli roti tawarnya."

__ADS_1


Lagi, dia mengecup pipi ini saat berlalu melewatiku yang masih terpaku. Tuman!


__ADS_2