
Bocil terbangun dan langsung dalam posisi duduk berhadapan denganku.
"Hadeeewh, ada apa sih, Mbaaak?" tanyanya masih sambil merem melek, ngantuk. Detik kemudian dia menyugar rambutnya, "Orang masih ngantuk juga. Ganggu orang lagi enak tidur aja! Teriak-teriak gak jelas! Mbak pikir ini hutan?" sungutnya.
Gegas kuraih bantal dan memukulnya tanpa ampun. Dia pun urung merebahkan badannya lagi. "Kamu cari kesempatan dalam kesempitan ya, Cil?!"
Matanya yang semula enggan melek, kini melotot. Kaget mungkin mendapat serangan mendadak dariku. Dicekalnya bantal yang kupukulkan ke tubuhnya. "Hei, Mbak Sayaaaang, coba diinget-inget lagi, deh! Semalem gimana kesepakatannya?"
Aku bergeming menatapnya penuh selidik.
"Mbak tidur di atas, dan aku di sini!" tandasnya sambil nunjuk-nunjuk.
"Iya, 'kan?"
Aku mengangguk membenarkan.
"Nah, berarti siapa yang cari kesempatan dalam kesempitan? Hayo, siapa?!" Kini telunjuknya mengarah ke wajahku.
Duh, iya juga ya, kenapa aku bisa tiba-tiba tidur di bawah begini? Gimana ceritanya coba? Kenapa aku gak inget apapun?
"Kamu gak lagi bohong, kan, Cil?!" selidikku.
"Jangan-jangan kamu ya, yang mindahin aku dari atas ke bawah? Ngaku!" tudingku.
"Ngapain? Buat apa, Mbaaaak?"
"Ya, gak tau kali aja kamu macem-macem tadi malem."
"Ya, gak tau ya, Mbak. Aku gak inget apa-apa. Gak tau kalau pas lagi tidur tanpa sadar kita ...." Dia lanjut mengadu kedua tangannya menjadi seperti moncong orang yang tengah berciuman. Kemudian mengedikkan bahunya.
"Jangan ngadi-ngadi kamu ya, Cil!" Kulempar dia denga bantal.
"Ya, aku gak tau, Mbak. Sama sekali gak inget apa-apa soalnya. Sumpah!" Dia membentuk jarinya jadi seperti huruf V. Tapi, bibirnya mesam-mesem mencurigakan.
Kujinjing kerah piyamanya. "Cil, kamu gak macem-macem, kan, semalem?!"
"Dikiiit," bisiknya jahil. Kujewer telinganya, kuacak-acak rambutnya, dan jinjing lagi kerah bajunya. Dia berteriak meminta ampun.
"Selaw napa sih, Mbak!" teriaknya kemudian. Perlahan kulepaskan jinjingan.
"Lagian kalau pun kikuk-kikuk, kan, kita udah sah. Gak ada masalah dong, harusnya," katanya dengan santai. Alisnya dinaik-turunkan.
"Ya, emang gak masalah ...."
"Aseeeh, ya udah, ayoook!" serunya antusias sambil mencondongkan badan ke depanku. Kudorong badannya menjauh.
"Cuma kan, kamu tau, aku belum siap untuk melakukan itu!" ketusku. Kemudian bergidik geli.
"Coba rasain, ada rasa yang aneh atau beda, gak, Mbak?"
Aku bergeming. Gak ada rasa yang gimana-gimana, sih, sama tubuhku. Semua masih sama seperti biasanya. Gak ada yang sakit atau ngilu. Kutatap bocil sedemikian rupa. Dia cengengesan. Kulempar pakai guling kali ini.
"Oya, satu hal, yang harus Mbak tau ...." Aku menyimak antusias, "Aku itu bisa menghipnotis orang jadi mati rasa dan amnesia, loh."
Mataku membulat. Antara percaya dan tidak. "Seriusan?" tanyaku, saat dia pasang ekspresi serius. Aku jadi deg-degan dan berpikir macam-macam.
Dia terkekeh, kemudian terbahak.
"Bociiiil!" Sadar, aku telah dikerjai, kulempar dia menggunakan barang apa saja yang terlihat oleh mataku. Tentu saja suasana pun jadi sangat gaduh.
"Ada apa dengan kalian?!" teriak Ibu sambil menggedor-gedor pintu kamar. Aku dan bocil mematung sejenak. Gegas berlari membuka pintu, bocil mengekor, kami kompak nyengir ke hadapan Ibu.
"Pagi-pagi ribut banget. Kayak anak kecil aja kalian ini!" omel Ibu. Aku dan bocil cengengesan. Aku juga gak tau kenapa sekarang malah ketularan kekanakan begini? Kacau!
"Udah, sana mandi!" titah Ibu.
Lagi, aku dan bocil kompak mengiyakan ucapan Ibu.
"Aku dulu yang mandi, Mbak!"
"Aku dulu, Cil!"
"Aku!"
"Aku!"
"Mbaaak!"
"Bociiiil, harus ngalah!"
"Mbak, yang ngalah!"
"Heh! Ya ampuuuun, kalian ini!" bentak Ibu, "Gantian kan, bisa! Kalau gak mau gantian, mandi bareng juga gak papa. Suami istri mandi bareng malah bagus, kok."
Aku menggeleng, bergidik geli. Bocil mengangguk, matanya berbinar penuh harap.
"Tuh, Mbak, kata Ibu boleh mandi bareng. Yuk!" ajaknya sambil menarik lengan ini.
Gegas kutepis cengkeramannya. "Enggaaaak! Udah, kamu aja yang mandi duluan!" Aku mengalah. Dia terbahak merasa menang. Aku melengos. Ibu mendengkus, geleng-geleng kepala, kemudian kembali ke dapur. Aku mengekori Ibu, dan membantunya memasak.
*****
Malam kedua Ibu menginap di sini, aku memilih tidur bareng Ibu. Setelah beralasan panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya Ibu mengiyakan. Aku menjulurkan lidah ke arah bocil berada. Dia membalas dengan kedipan sebelah mata.
Akhirnya malam ini aman dari kejadian menggelikan seperti semalam. Aku terus berusaha mengingat kronologi kenapa aku bisa tiba-tiba tidur berpelukan dengan si bocil. Tapi, sama sekali gak ingat bagaimana awal mulanya. Apa iya, dia benar-benar bisa menghipnotis orang jadi amnesia? Ah, tidak mungkin!
Tapi, asyik juga ya, tidur berpelukan sama si Bocil. Hangat tubuhnya, embus napasnya, semua seolah masih nyata terasa.
"E-eh, kamu ngapain ndusel-ndusel meluk Ibu begini?"
Mataku membelalak. Ya salam, apa yang aku pikirkan?
Aku nyengir, sedikit menjauh dari badan Ibu. "Kangen sama Ibu. Pengen tidur dipeluk sama Ibu kayak pas masih kecil," kilahku.
"Kamu ini! Udah, tidur!"
"Iya, Bu."
*****
"Oya, Safa, Dafa, hari ini Ibu pulang loh, ya. Kalian baik-baik di sini. Jangan berantem terus! Kalau bisa cepat buatkan cucu. Ibu sudah kepengen loh, gendong cucu."
Mataku membulat. Asli sih, ucapan Ibu barusan horor banget. Kulirik bocil yang juga sedang melirikku, dia kedip-kedip genit. Makin geli saja aku dibuatnya.
"Soal cucu ...."
"Eum, oya, Bu, kapan-kapan ke sini lagi ya, ajak Bapak juga!" Cepat kusela ucapan bocil yang aku yakin bakal ngelantur ke mana-mana. Kulirik bocil menghela napas kesal karena ucapannya kusela.
"Iya. Kapan-kapan, Ibu ajak bapakmu ke sini."
"Oya, tadi kamu bicara apa, Daf?"
Ah, Ibu, udah dialihkan sedemikian rupa, masih aja minta kejelasan ke bocil. Untung bocil cuma 'am em' gak jelas, dan keburu taksi online yang Ibu pesan datang.
"Itu taksi Ibu udah datang. Ibu pamit, ya. Ini gak apa-apa kan, kalau kalian yang beresin. Ibu gak bisa bantu."
"Iya, Bu. Tenang aja. Biar Safa yang beresin meja makannya nanti."
Aku dan si bocil mengantar Ibu hingga ke depan pagar. Melihatnya pergi menjauh. Setelah tak terlihat lagi, baru aku masuk rumah. Membereskan meja makan. Mencuci peralatan yang tadi digunakan untuk memasak. Setelah beres, bersiap untuk berangkat kerja. Pun dengan si bocil. Dia juga bersiap bekerja.
__ADS_1
"Udah, gak usah mesen ojek online. Biar aku antar saja, Mbak."
"Sayangnya, aku udah terlanjur pesen ojek dan udah deket. Lagian kan, tempat kerja kita beda arah, Cil."
"Ya, gak apa Mbak. Biar aku anter Mbak dulu."
"Gak usah cil, udah mesen ojek. Udah sana, kamu berangkat aja kalau mau berangkat!"
"Ya udah. Aku berangkat dulu, ya, Mbak."
"Hmmm."
Dia melajukan motornya, lalu menghilang di balik pagar. Aku masih duduk di teras menunggu ojek yang aku pesan datang. Seharusnya sudah sampek, tapi kenapa belum kelihatan ojeknya?
Dahiku mengernyit saat yang terlihat malah si Bocil. Dia balik lagi, dan berhenti di depan pagar. Dia buka kaca helmnya, melihat ke arah sini.
"Mbak, ayo aku anter aja. Ojek yang kamu pesen bermasalah motornya!" teriaknya. Aku berjalan mendekat. Menutup pagar dan berdiri di sebelah motornya.
"Kok kamu tau kalau motornya bermasalah?" selidikku.
"Tadi berpapasan di depan sana."
"Berpapasan ... atau sengaja kamu cegat supaya gak jemput aku? Jangan-jangan ini cuma akal-akalan kamu aja, supaya aku bisa berangkat bareng kamu?"
"Mbak pikir aku segabut itu apa?!" ketusnya, tapi bibirnya miring. Tersenyum jahil. Mencurigakan. Tapi daripada kesiangan, aku pilih nurut saja sama si Bocil. Seperti biasa, dia bawel menyuruhku memeluknya dengan alasan pegangan yang bener. Ck! Kalau aku gak nurut, dia bakal ngebut, otomatis aku meluk dia karena takut jatuh. Modusnya kebangetan emang ini bocil.
*****
"Mbak, nanti malem temenku ada yang main ke sini. Tolong siapin cemilan, ya! Sama masak yang agak banyakan!"
"Lagaknya udah kayak bos aja, nyuruh-nyuruh!" dumelku.
"Gini-gini aku ini suamimu, Mbak."
"Iya, Pak Suami, tapi bociiiil!" Dia terkekeh. Aku pergi ke dapur memeriksa bahan makanan di kulkas.
*****
Hari sudah malam, jam 7 lewat beberapa menit. Teman-teman si Bocil pada berdatangan. Mereka menyapaku yang tengah nonton televisi di ruang tengah. Kemudian diajak masuk ke kamar oleh si bocil.
"Kita, permisi dulu ya, Kak. Pinjem Dafanya sebentar," kata salah satu dari mereka sebelum masuk ke kamar bocil.
"Iya, iya. Pinjem aja! Kalau perlu gak usah balikin. Ikhlas kok, aku." Bocah berkulit putih dan berbadan jangkung itu tertawa. Detik kemudian masuk ke kamar menyusul temannya yang lain. Suasana mendadak jadi seperti pasar malam. Mereka main gitar yang tadi dibawa oleh salah satu teman si bocil. Bernyanyi dengan percaya diri, meski suaranya ambyar kuadrat.
"Mbak Sayaaang," bisik bocil yang berdiri di belakang sofa tempatku duduk. Pasti ada maunya nih, bocah.
"Apa, Ciiil?"
"Cemilan sama kopinya mana?"
"Sudah kuduga!" Dia pasang wajah diimut-imutin.
"Iya, sebentar aku siapin dulu."
"Oke, Mbak. Aku tunggu di kamar, ya. Terima kasih sebelumnya." Aku meringis menampakkan deretan gigi, kemudian ke dapur menyiapkan permintaanya.
Bocil ke dapur menanyakan pesanannya. Melihatku sibuk menggoreng kentang sambil bikin kopi, dia turun tangan membantu.
"Biar aku yang selesaiin goreng kentangnya, Mbak. Tinggal satu celupan ini, kan?"
"Iya, Cil. Tapi, kasian dong, temenmu. Masa tuan rumahnya malah di dapur sibuk sendiri."
"Udah pada gede ini, Mbak." Dia fokus menggoreng. Aku mencebik.
Lima cangkir kopi dan dua piring kentang goreng siap disajikan. Bocil memilih membawa baki berisi kopinya. Aku disuruh bawa dua piring kentang goreng. Sampai di kamar, semua temannya meledek kami yang tampak kompak dan mesra.
"Iya. Gak repot kok." Aku kembali ke sofa ruang tengah.
Mereka semakin berisik saja. Usai main gitar. Kini ganti main game. Nonton televisi pun, suaranya tenggelam oleh kebisingan para bocil. Aku memilih ke kamar memakai earphone dan menyalakan musik. Damai.
*****
Aku terbangun seperti orang kaget. Melihat jam di dinding. Sudah jam 10 malam rupanya. Kulepas earphone, sudah sepi. Aku beringsut turun dari ranjang dan keluar kamar. Aku meneleng, menajamkan pendengaran. Dari arah dapur terdengar seperti ada yang sedang cuci piring. Aku berjalan ke dapur memastikan. Ternyata bocil yang sedang mencuci cangkir dan piring bekas temannya makan.
"Sudah pada pulang temanmu, Cil?"
"Eh, Mbak." Dia menghentikan aktivitasnya, lalu berbalik ke arahku, "Terbangun gara-gara aku berisik, ya?"
"Enggak, kok."
"Iya, Mbak, temenku udah pada pulang."
"Kok kamu gak bangunin aku sih, Cil?"
"Buat apa, Mbak? Gak tega banguninnya, Mbak."
"Ya, biar aku yang beresin itu semua."
"Udah, biar aku aja, Mbak. Lagian tinggal bilas juga. Udah, sana, Mbak tidur lagi aja!"
"Yakin nih, gak mau dibantuin?"
"Yakin banget, Mbak. Udah sana tidur lagi aja!"
"Ya udah." Aku balik ke kamar. Lanjut tidur.
*****
Aku bangun dan langsung dalam posisi duduk. Melotot ke arah jam dinding. Astaga, kenapa alaramku gak fungsi. Pasti semalem lupa setting. Sudah jam setengah tujuh pagi. Gila aja, kenapa bisa kesiangan begini, sih?
Gegas aku berlari keluar kamar. Menoleh ke ruang tengah, si Bocil sudah bangun dan lagi santai di sana. Menikmati kopi sambil nonton televisi.
"Bociiiil, kenapa kamu gak bangunin akuuuu?" Dia menoleh ke sini.
"Tadi udah ketuk-ketuk pintu, tapi Mbak gak nyaut."
"Kamu kok bisa-bisanya sih, santai begitu, Cil? Kita harus beres-beres rumah, masak buat sarapan, terus siap-siap buat kerja!"
Dia tersenyum. Berjalan mendekat. "Ini hari minggu, Mbak Sayaaaang," katanya setelah kami berdiri berhadapan.
Dahiku mengernyit mencoba mengingat. Ah, iya bener ini hari minggu ternyata. Aku menghela napas lega. Melipat tangan di dada, dan bersandar di daun pintu. Niat hati pengen menstabilkan jantung yang deg-degan karena takut telat ke kantor. Eh, malah makin deg-degan karena ternyata pintunya gak tertutup rapat tadi. Aku nyaris terjengkang, bocil sigap meraih tanganku, ditariknya sekuat tenaganya sehingga aku mendarat dalam dekapannya.
Tanganku melingkar di lehernya, posisi wajah kami sangat dekat. Aku bisa merasakan embus napasnya yang hangat menerpa wajah. Mata kami saling bertemu. Aku hanyut dalam suasana hangat ini. Ada gelenyar hangat menjalari tubuh.
"Mbak!" panggil si bocil dengan nada suara berat seperti nahan sesuatu.
"Ap-apa?"
"Sakit," rintihnya.
"Apanya?"
"Kakikuuuu," rengeknya.
Kepalaku meneleng ke bawah. Astaga, ternyata aku menginjak kakinya. Gegas aku menarik diri dari rengkuhannya. Dia terpincang-pincang. Aku mengusap dada yang gemuruh. Sambil mengulum bibir menahan senyum.
"Sorry," lirihku. Lanjut nyengir, membentuk jari jadi huruf V.
"Aku rapopo, kok, Mbak. Mbak boleh menyakiti ragaku, asal jangan hatiku."
__ADS_1
Ck!
"Eh, mau ke mana, Mbak?" tanya si bocil kemudian saat aku berbalik akan ke belakang.
"Buat kopi, terus nyuci, masak nasi, banyak kerjaanku, Cil."
"Tenang, udah aku hendel semua, Mbak." Dia bersedekap sok iya.
"Hah?! Serius?" Dia mengangguk. Aku gak percaya, kuperiksa cucian kotor, ternyata sudah nangkring di jemuran semua. Kamar mandi sudah kinclong. Nasi sudah hampir mateng di magicom. Wow! Sumpah, merasa wow banget hari ini.
"Nyapu sama ngepel? Udah juga?"
"Nyapu udah tadi, Mbak. Tinggal ngepel, udah nanti aja. Sekarang, Mbak duduk aja di ruang tengah. Biar aku yang buatin kopi."
"Kamu kesambet penunggu pohon mana sih, Cil?" Aku memicingkan mata.
"Pohon bucin. Udah sana, tunggu, ya! Hari ini aku akan perlakukan Mbak layaknya seorang ratu di rumah ini." Entah kenapa, hatiku berbunga-bunga mendengar ucapannya barusan. Aku merasa jadi wanita paling berharga hari ini. Merasa diistimewakan.
Setelah kopi ditaruh di meja di hadapanku. Dia mematikan televisi. Memintaku menunggu sebentar. Dahiku mengernyit tak mengerti. Entah apa lagi yang akan dia lakukan. Dia masuk ke kamarnya, beberapa saat keluar lagi menenteng gitar. Lantas duduk di sebelahku.
"Kupersembahkan lagu ini untukmu, Mbak."
Aku terdiam menatapnya tak percaya. Gak yakin dia bisa nyanyi. Merasa ngeri kalau-kalau gendang telingaku bakal memuntahkan lahar dingin akibat suara sembernya. Ternyata dugaanku salah, dia pandai main gitar, dan suaranya juga bagus.
Hatiku menghangat, pipiku juga, jantungku apa lagi. Berdebar parah saat dia menyanyikan lagunya Andmesh yang berjudul Cinta Luar Biasa, dengan suara merdu sambil sesekali menatapku dan melempar senyum.
Ibuuuu, anakmu bapeeer! Aaa, meleleh!
Apa lagi pas dia nyanyi di bagian, 'rasa ini tak tertahan, hati ini selalu untukmu' dan seterusnya. Lalu di bagian ini, 'melihatmu, memandangmu bagai bidadari' dan seterusnya. Aku tersipu.
"Aku tak punya bunga, aku tak punya harta, yang kupunya hanyalah hati yang setia." Di bagian ini, aku hanyut dan ikut bernyanyi. Rasanya aku sedang melayang ke langit ketujuh. Jadi gemes, pengen peluk dia, tapi gengsi dan malu. Juga geliiii.
Yuk, nyanyi bareng bocil Dafa dan Mbak Safa. Bareng othornya juga.
Cinta Luar Biasa
By: Andmesh
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Oh-ho huu
Terimalah lagu ini
Hm-mm
Dari orang biasa
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Terimalah cintaku yang luar biasa
Hm-mm
Tulus padamu
__ADS_1