
Aku terpaksa naik ojek online, karena si Bocil benar-benar meninggalkan aku. Dia tidak kembali seperti yang aku harapkan. Menyebalkan!
Aku tidak menduga kalau dia bakal semarah ini. Padahal, niatku hanya mau menguji cintanya saja. Aku hanya ingin tahu bagaimana reaksinya saat aku memilih bareng Reno. Hanya itu.
"Kenapa berhenti, Pak?" tanyaku pada pengemudi ojek.
"Sudah sampai, Mbak."
"Hah?!" Aku mengamati sekitar. Ternyata benar, sudah sampai di depan pagar. Cepat aku turun, melepas helm, lalu memberikan ke pengemudi ojek.
"Terima kasih, Pak. Sudah bayar lewat aplikasi, ya."
"Oh, iya, Mbak. Kembali kasih. Jangan lupa bintangnya," balas bapak itu sambil mengaitkan helm. Aku mengangguk, lalu segera memberinya bintang lima. Pengemudi ojek pun mengangguk santun, lantas pergi.
Aku melihat ke halaman depan. Masih sepi. Motor si Bocil juga belum terlihat. Oh, astaga, ke mana dia? Masa iya, dia selingkuh sama waria. Argh! Tidak!
Aku menghela napas panjang. Membuka pagar, lalu melangkah lesu ke teras membuka pintu yang masih tergembok. Perasaanku sangat tidak nyaman. Kepikiran akan apa yang suamiku lakukan dengan waria itu. Ck!
Cepat aku menaruh tas selempang ke kamar. Membersihkan semua ruangan supaya saat dia datang, rumah sudah dalam keadaan bersih dan nyaman. Lantas memeriksa kulkas. Masih ada beberapa bahan makanan yang bisa aku olah. Aku pun mulai masak makanan kesukaan si Bocil dengan harapan dia bakal luluh dan menerima permintaan maafku nanti.
Aku mulai gelisah saat semua masakan sudah terhidang di meja makan, tapi suamiku belum juga pulang. Pikiran buruk mulai menghantui lagi. Aku menggeleng menepisnya dan berusaha berpikir positif.
Aku menunggu kepulangan si Bocil sembari membersihkan halaman depan. Sesekali aku keluar pagar, melihat ke sana dan kemari berharap dia segera datang. Namun, sampai pekerjaanku selesai, suamiku belum juga terlihat batang hidungnya.
__ADS_1
Aku pun memutuskan untuk mandi dan bersolek. Guna menyambut kepulangan suami tercinta. Rumah sudah rapi, pun dengan penampilanku. Tetapi, yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Aku semakin gusar. Entah sudah berapa kali mondar-mandir dari ruang tengah ke ruang tamu menyibak tirai mengintip keluar.
Aku coba telepon, tetapi tidak diangkat padahal nyambung. Kucoba chat dia. Jangankan dibalas, bahkan dibaca pun tidak. Kenapa hari ini dia sangat menyebalkan? Apa dia sudah mulai menampakkan sifat aslinya? Apa dia sudah mulai lelah menghadapi sikapku yang terkadang malah kekanakan.
Seharusnya memang aku membuatnya menjadi lebih dewasa, tetapi kenapa malah aku yang jadi kekanakan sekarang? Sekarang malah sering seperti dunia terbalik. Dia terkadang bersikap jauh lebih dewasa dari usianya. Sedangkan aku ... ah!
Aku tersentak dari lamunan saat mendengar suara motor memasuki halaman depan. Gegas aku matikan televisi. Merapikan rambut dan baju. Lantas berjalan tergesa ke depan guna memastikan siapa yang datang.
Bertepatan saat aku membuka pintu dari dalam, si Bocil mendorong dari luar. Kepalaku kepentok daun pintu. Tentu saja aku mengaduh sambil memegangi kening. Berharap dapat menarik perhatian suamiku. Namun, dia cuek dan langsung nyelonong masuk ke kamar menaruh ransel berisi pakaian kami. Aku menyusulnya, tepat saat aku akan masuk ke kamar, si Bocil keluar dan langsung ke kamar mandi.
Aku menunggunya di depan pintu kamar mandi. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya dia keluar juga. Cepat-cepat aku menghadang langkahnya dengan cara merentangkan tangan. Namun, dia menerobos lewat bawah tangan. Dia meninggalkan aku. Tanpa kata memasuki kamar.
Saat aku akan ikut masuk ke kamar, dia menutup pintunya. Untuk yang kedua kalinya, keningku nyaris kepentok. Aku mencoba memutar hendel guna membuka pintu, tetapi sepertinya dikunci dari dalam. Keterlaluan!
"Aku minta maaf. Udah dong, ngambeknya. Please! Gak asyik banget tauk kalau kamu kek gini. Maafin, ya. Please!" Dia tetap tidak menyahut. Hening. Entah apa yang dia lakukan di dalam sana.
Aku bersandar pada daun pintu dan melipat tangan di dada. Sebal. Rasanya pengen teriak, tetapi takut malah membuatnya semakin kesal. Jadi cuma bisa menghela napas panjang berulang kali guna meredam emosi yang menguasai hati.
"Aaak!" jeritku, saat dia tiba-tiba membuka pintu. Aku pun nyaris terjengkang. Dia menangkap tubuhku ke dalam rengkuhannya. Mata kami bertemu. Dia membenarkan posisiku menjadi berdiri tegak lagi. Lantas berlalu ke ruang tengah.
Aku menyusulnya duduk di sebelahnya. Saat aku bergeser semakin mendekat, dia bergeser menjauh. Sampai akhirnya dia tidak mentok di sudut sofa.
"Maafin aku," pintaku sambil menggenggam tangannya. Dia melepaskan genggamanku. Pandangan matanya fokus ke layar televisi. Kuraih dagunya dan kuhadapkan kemari, dia berusaha mengalihkan pandangan, tetapi kutahan.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Maafin, ya. Aku udah masakin makanan kesukaanmu. Makan, yuk!" Aku mencoba merayu, tak lupa kukedipkan sebelah mata. Pasang ekspresi sensual. Dia tetap bungkam.
Dilepaskannya tanganku yang ada pada dagunya, lalu dia berdiri dan pergi ke teras. Rasanya hati ini nyesek luar biasa. Tetapi, aku tidak boleh menyerah. Aku harus bisa meraih maaf darinya. Bagaimana pun caranya.
Usai membuat kopi kesukaan si Bocil. Aku menyusulnya ke teras dan menyuguhkan secangkir kopi ke meja di sebelahnya. Tak lupa kupersilakan dia minum.
Aku memilih meninggalkan dia masuk. Membiarkannya sendiri dulu. Pasalnya percuma saja, kuajak bicara juga tidak menimpali. Aku menyibak tirai sedikit, memastikan apa dia meminum kopi buatanku atau tidak. Ternyata masih utuh belum disesap barang sedikit. Rasanya semakin sesak dada ini.
Aku urung menutup kembali gordennya saat ponsel si Bocil berdenting. Sebuah chat masuk. Cepat-cepat dia memeriksa dan membacanya. Dia tersenyum usai membaca pesan itu. Sedangkan chat dariku masih diabaikan olehnya.
Aku menutup rapat gordennya. Lantas pergi ke kamar merebahkan badan. Air mataku luruh juga pada akhirnya. Kesedihan dan penyesalan berdesakan di dalam dada ini. Andai bisa, ingin kuputar waktu dan aku akan menghapus scene saat aku memilih nebeng mobil Reno tadi.
Argh! Aku benci situasi ini. Aku ingin segera melewati fase menyebalkan ini.
*****
Aku terbangun oleh suara bising di luar. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku duduk, lalu merapikan rambut dan membersihkan sudut mata. Kemudian turun dari ranjang dan keluar guna memastikan itu suara siapa. Terdengar suara si Bocil dan seorang wanita sedang berbincang diselingi tawa renyah dari arah teras. Aku melangkah ke depan sambil menahan sesak di dada.
Baru saja aku sampai di ambang pintu dan mau bertanya siapa dia. Bocil sudah beranjak, lalu mengajak wanita muda nan cantik itu pergi. Tidak hanya itu, suamiku juga memakaikan helm ke kepala wanita tersebut. Aku bergeming menyaksikan pemandangan menyesakkan dada itu. Detik kemudian dia benar-benar pergi meninggalkan aku tanpa sepatah kata.
Apakah ini akan menjadi awal kehancuran rumah tangga kami?
Apa cuma sampai di sini kisahku dan suami bocilku?
__ADS_1