SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Rumah Papan


__ADS_3

"Ayang! Kenapa pintunya dikunci!"


Ah, iya. Aku melupakan soal pintu yang tadi sengaja kukunci, karena saking takutnya dengan pria asing tadi.


"Buka!" teriaknya lagi. Sukses membuatku tersentak dari lamunan. Lantas bergegas membuka pintu.


"Kenapa dikunci segala, sih?" tanyanya.


"Eum, tadi ...." Ucapanku terpotong oleh dering teleponnya. Dia lantas sibuk menerima telepon, yang aku duga dari Ibu Panti. Sepertinya di Panti bakal ada acara kalau dari pembicaraan suamiku yang menyanggupi datang esok.


"Ada apa?" tanyaku seusai dia memasukkan ponsel kembali ke dalam saku celananya.


"Besok kita diundang ke Panti. Di sana mau ada acara tasyakuran gitu. Ada yang dikhitan sekaligus akikahan," paparnya. Aku mengangguk-angguk.


"Ya udah, aku mandi dulu, ya. Badan rasanya lengket banget. Bau oli juga," lanjutnya.


"Iya. Ya udah, sana mandi. Kalau mau pake air hangat, sudah aku siapkan."


"Terima kasih, istriku terlove." Tangannya menjawil dagu ini, kemudian berlalu. Aku berbalik dan mendapati pintu masih terbuka. Buru-buru aku tutup dan kunci. Merasa ngeri kalau-kalau pria tadi datang lagi. Takutnya punya niat jahat. Memang nggak boleh suuzan, tetapi nggak ada salahnya, kan, waspada. Cepat-cepat aku berlari ke ruang tengah dan duduk manis sambil menikmati sinetron yang sedang berlangsung. Sesekali aku menoleh ke ruang tamu untuk memastikan semua aman.


Usai mandi, suamiku pamit tidur. Capek katanya. Kelihatan sih, dari matanya yang sipit menahan kantuk dan lelah. Sebenarnya aku merasa takut, tetapi nggak tega juga mau melarangnya tidur.


"Nanti makan malamnya jam berapa?" tanyanya sebelum masuk kamar.


"Jam delapan malam."


"Ya udah, ntar bangunin jam tujuh lebih dikit, ya!" Aku mengangguki pintanya. Detik kemudian dia menghilang di balik pintu yang tertutup. Aku merasa ngeri di ruang tengah sendirian. Kumatikan televisi dan berlari menyusulnya ke kamar. Mau ikut tidur, tetapi nggak bisa. Aku memutuskan memeriksa file yang seharusnya menjadi pekerjaanku esok hari di dalam laptop. Supaya besok lebih ringan pekerjaannya. Bosan memeriksa file, aku bermain ponsel. Melihat konten lucu-lucu di sebuah aplikasi kumpulan video.


Baru saja merasa sedikit terhibur dan sejenak lupa dengan rasa takut yang sedari sore tadi menghantui. Kini, ketakutanku kembali lagi saat ada yang mengetuk pintu. Mau bangunin suami, nggak tega. Soalnya dia baru saja tidur dan lagi pules-pulesnya. Mau periksa ke depan siapa yang bertamu bakda Magrib begini, takut. Abaikan aja kali, ya?


Sudah coba kuabaikan, tetapi pengetuk pintu itu tak menyerah juga. Masih terus mengetuk tanpa salam mengiringi. Makin membuatku parno saja.


Tak berselang lama sebuah pesan masuk. Aku membuka aplikasi hijau dan ternyata chat dari Reno.


[Ini kalian pada ke mana, sih? Kenapa aku ketuk-ketuk pintunya nggak ada yang nyahut?]


Ah, sialan! Reno ternyata. Pantas saja tak mengucap salam. Aku melangkah keluar kamar, melewati ruang tengah, lalu ruang tamu. Saat akan membuka pintu mendadak rasa ragu dan takut menyergap. Aku pastikan dulu dengan menyingkap gorden sedikit guna memastikan tamunya benar Reno atau bukan. Aku menghela napas lega, ternyata benar itu Reno.


"Ngapain kamu ke sini jam segini?" todongku setelah pintu terbuka.


"Ya elah, tamu itu suruh masuk terus duduk dulu, kek. Ini langsung interogasi aja," dumelnya.


"Kagak ada masuk-masuk! Suamiku lagi tidur. Udah, duduk aja di situ." Aku menunjuk kursi teras. Reno nurut dan langsung duduk. Aku turut duduk di kursi satunya yang tersekat meja bundar kecil.


"Ngapain kamu ke sini?"


"Pertanyaanmu nggak enak banget. Kesannya aku ke sini cuma kalau ada maunya aja," balasnya melow.

__ADS_1


"Baperan amat sik, ditanya gitu doang. Kenapa lu? Lagi PMS?"


Kudengar dia menghela napas panjang. "Aku lagi kesel, nih."


"Ya, kesel kenapa?"


"Suntuk di rumah. Sama ortu ditanya 'kapan kawin' muluk."


"Ya udah, sih, tinggal cari cewek terus nikahin. Beres."


"Masalahnya nggak segampang itu, Beb."


Aku nyengir merasa jijik mendengarnya memanggilku seperti itu.


"Aslinya gampang. Cuma kamunya aja yang ribet. Memangnya perempuan tipemu itu yang kek mana, sih? Siapa tahu aku bisa bantu nyariin jodoh buat kamu."


"Tipeku itu yang kayak kamu."


Aku memutar bola mata. "Ya, udah, nanti aku keluarin jurus seribu duplikat dulu."


"Aku maunya nunggu jandamu aja."


Aku mendelik ke arahnya. "Tarik ucapanmu barusan!" Aku sungguh tidak suka dengan ucapannya tadi.


"Iya, deh, maaf. Bercanda," ralatnya.


"Maaf, Fa. Aku doain deh, moga hubunganmu sama bocah ingusan itu langgeng."


"Udah deh, mending kamu pulang! Aku juga mau pergi."


"Pergi ke mana?"


"Nggak usah kepo, deh. Udah sana pu ...." Ucapanku terjeda saat mata ini membentur sosok lelaki yang aku takuti tadi sedang melintas di jalan depan rumah. Aku menggenggam tangan Reno erat-erat saat pria itu memelankan langkahnya dan menoleh kemari. Tatapannya sangat tidak bersahabat. Jauh berbeda dari siang tadi yang terlihat ramah. Aku menghela napas setelah pria aneh itu akhirnya pergi juga.


"Kamu kenapa, sih?"


Aku tersentak dan bergegas melepaskan cengkeramanku. Kemudian menggeleng. "Enggak papa. Udah sana pulang!"


Dahi Reno mengernyit. Tatapan matanya penuh selidik. "Kamu yakin nggak papa?"


"Iya. Aman."


"Tapi, kamu kayak ketakutan gitu. Ada apa sih, sebenarnya?"


"Eum ...." Enggak! Aku nggak boleh cerita ke Reno. Orang pertama yang seharusnya tahu tentang masalahku ini cuma suamiku. Biarlah nanti aku ceritakan ke dia dulu. "Nggak usah kepo dan sok tahu. Udah sana pulang!"


Aku beranjak dan meninggalkannya di teras seorang diri. Reno juga lekas beranjak. Tepat saat aku akan menutup pintu, dia pamit, lalu melangkah meninggalkan teras. Menuju mobilnya yang terparkir di depan pagar. Pulang.

__ADS_1


Cepat-cepat aku menutup pintu dan menguncinya, lalu kembali ke kamar. Sebentar lagi masuk waktu Isya. Aku pun membangunkan suamiku perlahan agar dia tak terkejut guna bersiap untuk memenuhi undangan makan malam.


"Hmmmh." Dia menggumam, mengerjap, lalu membuka mata, "Udah malem, ya?"


"Iya, bangun! Siap-siap!" Dia menyahuti dengan gumaman, tetapi malah merem lagi.


"Ngantuk banget, ya?" Lagi, dia menyahuti dengan gumaman.


"Ya udah, sana mandi atau setidaknya cuci muka biar melek!" Dia menyahuti dengan gumaman lagi, kemudian beranjak menuju kamar mandi dengan mata yang masih merem melek menahan kantuk luar biasa sepertinya.


Sedang aku memilih langsung ganti baju dan bersolek tipis-tipis. Tak berselang lama, dia kembali dari kamar mandi. Kepalanya basah sepertinya habis diguyur air. Mungkin itu cara dia mengusir kantuk yang mendera.


"Gimana?"


"Gimana apanya?" tanyanya balik sambil menyaut handuk yang tersampir di balik daun pintu, lalu dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya.


"Kantuknya, udah ilang belom?"


"Mayanlah. Ready untuk makan enak," sahutnya sambil sibuk mengeringkan rambut dengan handuk tadi.


*****


Makan malam berjalan khidmat. Obrolan hangat mengiringi. Saat aku, Bu Mona dan Pak Jaka membicarakan soal pekerjaan, suamiku asyik bermain dengan putrinya Bu Mona yang masih berusia empat tahun. Dia begitu mudah akrab dengan anak kecil. Dan itu membuatku merasa nelangsa. Aku nelangsa karena sampai detik ini belum juga melahirkan buah cinta kami. Mungkin, ada baiknya aku segera menguatkan mental untuk mengikuti program kehamilan.


Aku tersentak dari lamunan saat sebuah tangan menyentuh lengan ini lembut. "Kok ngelamun? Kenapa?" tanya lelakiku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Rupanya semua mata orang semeja sedang tertuju padaku. Aku menggeleng kikuk.


"Sepertinya Bu Safa sedang banyak pikiran," tebak Pak Jaka.


Cepat aku menggeleng menepis. "Enggak kok, Pak. Saya cuma merasa agak lelah saja hari ini," kilahku.


"Oh, ya sudah, kalau gitu mari kita bubarkan acara makan malam ini. Toh, sudah selesai juga dan tidak ada lagi yang perlu diobrolkan," papar Pak Broto.


Sejujurnya, aku merasa tak enak hati. Gara-gara ucapan aku, acara makan malam ini jadi berakhir lebih cepat. Setelah mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan, semua membubarkan diri. Kini, tinggallah aku dan suamiku yang masih di parkiran.


"Sebenarnya kamu kenapa?" tanya lelakiku sambil memegangi kedua sisi bahu ini, "Aku yakin pasti ada hal lain yang sedang Mimu pikirin, kan? Nggak mungkin karena capek aja," tebaknya.


"Aku beneran cuma capek aja. Udah ah, kita pulang, yuk!" Dia mengangguk, tak memaksaku untuk cerita. Lantas memakaikan helm di kepala ini dan kami pun pulang.


****


Genap seminggu, lelaki asing itu memantau rumah ini. Aku sudah mulai terbiasa, tidak takut lagi. Aku juga sudah menceritakan hal itu pada suamiku. Bahkan, si Bocil sudah pernah menegurnya, tetapi lelaki yang mengaku bernama Toni itu berdalih katanya rumah ini mengingatkannya pada seseorang yang sangat dia cintai. Hanya itu. Dan Toni tinggal di rumah yang ada di ujung gang, perbatasan antara perumahan padat ini dengan perumahan elit tempat tinggal Reno.


Kata suamiku, selama Toni tidak bersikap kurang ajar atau membahayakan keselamatanku, maka biarkan saja dia begitu. Aku setuju, toh, selama ini Toni hanya sekedar melihatku dari kejauhan atau melirikku saja dengan kepala sedikit tertunduk saat berpapasan atau sekedar mengamati rumah ini secara saksama dari depan pagar. Dan ketika aku sapa, dia juga membalas, meski terkesan dingin dan datar.


*****


Aku melenguh, mengerjap, lalu membuka mata. Perlahan pandangan mataku yang semula buram, makin lama kian jelas. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dinding papan kusam dan sebagian bolong dimakan kumbang mengitari ruangan ini. Aku berusaha bangun dari dipan yang juga terbuat dari papan, tetapi tertahan, karena ternyata tangan dan kakiku diikat ke tiang-tiang kayu yang ada di sudut ranjang. Aku mulai panik. Di mana aku?

__ADS_1


__ADS_2