
"Kenapa teriak-teriak, Mbak? Terbayang terus ya, sama ciumanku tadi? Mau lagi?"
"Enggak! Apaan, sih?"
Dia terbahak. Sesekali menolehku yang sedang nahan malu. Asli, salting parah. Kutabok punggungnya, lantas menyuruhnya lanjut jalan.
"Gak sabar ya, Mbak, mau cepet sampek rumah biar bisa ...." Dia lanjut memonyongkan bibirnya.
"Jalan, gak!" sentakku.
"Iya. Gak usah galak-galak napa, sih? Ntar aku makin suka, loh.'
"Ck, jalaaaan!" Kudorong punggungnya. Dia pun melajukan motornya. Masih sambil sesekali cengar-cengir ke arahku.
Sampai di rumah, aku langsung turun dan membuka pintu masuk kamar, menaruh tas dan langsung merebus air untuk mandi. Sudah jam 9 malam kalau gak pakai air hangat, gak berani mandi. Ekor mataku menangkap pergerakan. Bocil menyusul ke dapur memeriksaku sedang apa.
"Air buat apa, Mbak?"
"Mandi!"
"Ketus banget? Tadi aja seneng banget. Sampek nyium segala. Kedua pipiku disosor semua lagi. Sekarang berubah ketus lagi. Cepet banget berubahnya."
Aku diam saja. Mau balas dendam. Biar dia tahu bagaimana rasanya dicuekin.
"Mbak?"
"Mbak?"
Setelah air hangat, aku langsung menaruhnya di ember dan menentengnya ke kamar mandi. Kuabaikan bocil yang menawarkan bantuan.
Usai mandi langsung duduk di sofa, kuabaikan bocil yang tengah sibuk di dapur entah masak apa. Kuraih remote televisi dan menyalakannya. Tak berselang lama, bocil datang dari arah dapur. Membawa baki berisi dua cangkir kopi. Satu cangkir disuguhkan di meja di hadapanku.
"Buat Mbak. Pasti Mbak capek, 'kan?"
"Gak perlu! Kamu aja yang minum! Gak usah sok peduli!" sungutku.
"Udah dibuatin kopi, bukannya terima kasih, malah sewot begitu."
Dia duduk di sebelahku. Melipat tangan di dada, bersandar pada sandaran sofa. Dia bergeser semakin dekat, dan akhirnya mepet.
"Kamu apaan sih, Cil? Sana! Jauh-jauh!"
"Gak bisa, Mbaaak. Aku gak bisa jauh darimu."
Ck! Seneng sih, dia udah balik kek semula. Tapi, aku masih gak terima kemarin udah dicuekin. Udah gitu, dia belum cerita soal siapa wanita itu dan juga soal kepergiannya pagi tadi.
Mau nanya, gengsi. Gak nanya penasaran. Nunggu dia cerita? Kira-kira bakal cerita apa enggak, ya, kalau aku gak mancing obrolan?
"Diminum kopinya. Enak loh, spesial, buatnya pake cinta sejati." Dia mendekatkan cangkir kopi ke depan hidung. Sehingga aroma khasnya menyengat hidung ini. Harum sekali. Ah, imanku goyah.
"Gak mau. Kamu minum aja sendiri!"
"Mbak!" Dia menarik kedua sisi bahu ini agar menghadapnya.
"Apaaa?!"
"Biar musim aja yang pancaroba, kamu jangan, Mbak!" Aku berbalik menghadap televisi mengabaikannya yang terus merayu.
"Mbaaak, jangan cuekin aku kek gini dooong. Sumpah, jadi gak enak banget suasananya. Aku gak suka!"
__ADS_1
"Gak enak, kan, dicuekin?! Terus kamu kemarin itu apaaa? Hah?! Gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba kayak ayam meriang. Apa? Kenapa? Karena perempuan lain itu? Terus tadi pagi ada acara sama keluarga yang mana lagi? Bukannya keluargamu cuma aku dan orang-orang panti?" Argh, malah kelepasan. Sial!
Dia senyum-senyum. Meneleng menatap wajah ini. "Khem! Sepertinya ada yang mulai sayang, nih?" ledeknya tengil. Aku memberengut kesal.
"Mbak dapat info dari mana aku nemuin perempuan lain? Hah?"
Aku diam saja. Pasang muka jutek. Emang hati juga rasanya lagi kesel banget.
"Gak ada perempuan lain, Mbak. Dalam hidupku cuma ada dua perempuan yang paling berarti, yaitu Mbak dan ...."
"Pare, 'kan?!" selaku ketus.
"Kok, jadi pare, sih? Ibu Nurmala, ibu panti!"
"Masaaa? Terus yang kemarin Bu Eni bilang ada perempuan nyariin kamu, itu siapa? Terus tadi pagi kamu nemuin siapa sampai bela-belain pergi dari bengkel beralasan ada acara keluarga. Keluarga yang mana? Hah?!"
"Jangan bilang ada acara di Panti, ya! Aku udah konfirmasi ke Bu Nurmala, dan kamu gak dateng ke sana. Di sana juga gak ada acara," cerocosku tak lagi dapat menahan rasa emosi dan penasaran yang meluap-luap dalam hati. Eh, dia malah mengulum bibir menahan senyum.
"Aku seneng banget, Mbak udah mulai peduli denganku. Sampai bela-belain mampir ke tempat kerjaku demi mastiin aku baik-baik aja atau enggak. Berarti, lembur tadi itu ... hukuman kan, karena Mbak telat ke kantor," tebaknya.
"Gak usah geer, kamu Cil! Aku kayak gini ... cuma karena merasa bertanggung-jawab aja atas dirimu karena kita hidup serumah. Itu aja. Gak lebih!" Duh, naif banget sih, diriku. Kenapa susah banget buat akuin kalau aku emang udah sangat peduli banget sama dia.
"Oke, aku jelasin ...." Ucapannya terjeda oleh suara perutku yang keroncongan. Perih, lapar banget.
"Mbak, laper rupanya? Pantesan bawaannya kayak kau nerkam aja," godanya.
"Ya udah, tunggu bentar, ya." Dia langsung pergi ke dapur. Kurang dari 10 menit dia kembali lagi bawa piring berisi mie goreng dengan toping berupa telur ceplok, irisan tomat, juga selembar sawi.
"Makan, Mbak!"
"Gak mau! Kamu aja yang makan."
"Yakiiin, gak mauuu? Cium deh, aromanya, ugh, wangi bangeeet." Dia mendekatkan piring berisi mie goreng itu di depan hidung. Asli sih, emang wangi banget. Aku auto menelan ludah, dan cacing di perut semakin goyang tik tok aja. Tapi ... gengsi mau makan.
"Hmmmmh, gilaaa enak banget, sumpah!" katanya sambil merem melek. Gak boleh goyah, harus teguh pendirian, Safa! Jangan ngiler! Jangan!
Sesendok mie sebelum dia lahap dilewatkan depan hidung. Kemudian dilahapnya dan merem melek keenakan lagi. Ngunyahnya juga dibuat-buat. Dahlah, buat mie sendiri aja.
"Eh, mau ke mana?" tanyanya saat aku beranjak. Dia turut berdiri di hadapan.
"Bikin mie sendiri!"
"Ini udah dibuatin juga. Malah mau bikin sendiri, gimana sih, Mbak?"
"Aku gak nyuruh buatin. Makan aja sendiri! Ak ... ap!" Dia menyumpal mulutku dengan sesendok mie goreng. Asli sih, mie buatan dia memang selalu terasa lebih nikmat daripada buatanku sendiri. Oke, sikat!
Kurebut sepiring mie dari tangannya, kembali duduk dan melahapnya hingga tandas. Masa bodoh dengan ekspresi si Bocil yang cengar-cengir memandangiku. Dia ke dapur mengambilkan segelas air putih.
"Nih, minumnya," katanya sambil meletakkan segelas air putih di hadapan.
Usai makan dan minum, aku berdiri mau ke dapur cuci piring dan gelas. Dia mencekal lenganku, menyuruhku duduk saja. Dia mengambil secara paksa piring kotor di tangan dan membawanya ke belakang. Kudengar dia mencucinya. Hati dan pipiku menghangat oleh perlakuan manisnya.
Hari yang panjang. Habis makan malah ngantuk parah. Jangan-jangan tadi bocil mencampurkan obat tidur lagi, ke makanan atau minumanku? Meski ngantuk parah, aku berusaha menahan kantuk. Demi bisa mendengarkan penjelasan si Bocil tentang siapa wanita yang ditemuinya itu.
*****
Loh, kok aku udah ada di kamar? Aku liat jam dan ternyata sudah pagi. Dahiku mengernyit bingung. Bukannya semalam terakhir aku duduk di sofa ruang tengah, ya?
Apa semalam aku ketiduran di sofa, terus dipindahin ke kamar sama si Bocil? Jangan-jangan dia udah macem-macem lagi? Gegas aku keluar kamar mencari keberadaan si Bocil. Ternyata dia ada di halaman depan sedang mencuci motornya.
__ADS_1
"Loh, kok dimatiin sih, Mbak, krannya?" protesnya. Gegas kutarik lengannya, masuk ke dalam rumah.
"Kalem dong, Mbak! Segitu kangennya, sampek narik-narik begini. Kenapa, mau morning kiss, iya?"
"Sssth! Diem!" Kuacungkan telunjuk ke hadapan wajahnya.
"Semalem terakhir yang aku inget, aku lagi duduk di sofa itu." Kutunjuk sofa ruang tengah yang kelihatan dari ruang tamu sini.
"Iya, bener." Dia mengangguk, sambil melipat tangan di dada.
"Terus kenapa pagi ini aku bisa sudah ada di kamar?"
"Aku yang bopong mindahin Mbak ke kamar," jawabnya santai.
"Ka-kamu gak aneh-aneh kan, Cil?"
"Ya, masa ada kesempatan emas disia-siain, Mbak." Dia mengulum bibir. Melirik nakal dari atas kepala hingga kaki.
"Kamu ngapain aku?! Ngaku!" Kuraih bantal yang ada di sofa ruang tamu dan melemparkan ke dadanya.
"Sentuh dikiiit ...."
"Sentuh apanya?!" selaku ketus. Berkacak pinggang di hadapannya. Dia mundur perlahan menjauh. Aku terus merangsek pepet dia.
"Ya, i-itu ...."
"Itu apaaa?!"
"Badan Mbak, lah! Ya kali, bopong tanpa nyentuh, Mbak pikir aku ini punya kekuatan sihir gitu, bisa mindahin Mbak dari ruang tengah ke kamar tanpa nyentuh? Hah?! Mikiiiir!" Dia nunjuk keningnya sendiri.
"Gak nyentuh yang lain, 'kan?" cecarku.
"Aku ini lelaki normal, Mbak. Keinginan untuk nyentuh yang lain itu ada, tapi ... aku tahan, karena aku lelaki sejati yang selalu berpegang teguh sama kata-katanya. Aku pernah bilang kan, ke Mbak, bakal sabar nunggu Mbak menyerahkan diri dengan ikhlas."
Aku bergeming. Menatapnya antara percaya dan tidak, tapi kalau dilihat dari ekspresi wajahnya sih, menyakinkan.
"Udah ah, aku mau lanjut nyuci motor dulu, ya, Mbak."
Kucekal lengannya. "Eh, tunggu dulu!"
Dia pun urung keluar dan berbalik menghadapku lagi. "Apa lagi?"
"Kamu masih punya hutang penjelasan ke aku, Cil."
"Penjelasan soal apa?"
"Gak usah belagak amnesia, deh!"
Dia terkekeh. "Oh, soal si Tere, ya?"
"Oooh, jadi bener perempuan yang ngejar-ngejar kamu itu, si Pare itu?"
Dia terbahak. Sambil nunjuk-nunjuk muka. Ngeselin!
"Cemburu, nih, yeee?" godanya sambil menaik-turunkan alisnya. Aku diam melipat tangan di dada.
"Terserah deh, Cil. Aku udah gak peduli. Mau siapa pun, perempuan itu ... aku gak peduli. Bukan urusanku juga!" sungutku.
Dia berlari mendahuluiku dan menghadang langkahku. "Aku bakal jelasin semuanya. Jadi ... wanita itu ...."
__ADS_1
Lagi-lagi ucapan si Bocil terjeda saat akan menjelaskan. Jika semalam oleh suara perutku yang keroncongan. Kali ini oleh suara perempuan yang mengucap salam.
"Itu, perempuannya dateng," katanya, dan seketika raut wajahnya berubah kesal. Aku pun langsung berbalik menghadap ke arah pintu yang memang sedari tadi terbuka. Di depan sana ada seorang wanita yang mungkin usianya sedikit lebih muda dari umur Ibu. Penampilannya sosialita banget. Stylish dan elegan. Siapa wanita itu?