
Dia mengedikkan alisnya. Aku melengos berpaling ke sisi lain.
"Kenapa, Mbak? Terpana ya, sama kegantenganku? Hmmm?"
Aku bergeming. Mengamati kendaraan lalu-lalang yang diguyur hujan deras.
"Mbak!" Dia menyikut lenganku pelan. Bodok amatlah, ya!
"Mbak!"
Akhirnya aku menoleh juga ke arahnya. "Apa sih, Cil?!"
Lagi, mata kami bertemu. Dia melihat menyelam ke dalam mataku, mencari sesuatu. Entah apa? Detik kemudian menaik-turunkan alisnya lagi. Aku memutar bola mata.
"Deg-degan ya, Mbak?"
"Enggak! B aja!"
"Masaaaa?"
Aku mendengus kesal. Mengalihkan pandangan ke arah lain. Udara terasa semakin dingin, tanganku gemetar, bibir juga. Jantung juga. Ups!
"Duh, ini hujannya kenapa gak reda-reda, sih?"
"Hujan itu anugerah, Mbak. Harusnya kita tuh, bersyukur, bukannya malah mengeluh."
"Aku malah berharap hujannya lama, Mbak. Biar ...." Dia menghentikan ucapannya saat aku mendelik ke arahnya. Kemudian dia nyengir. Eh, kok dia imut sih, kalau nyengir gitu. Jadi pengeeen ... eh, ya ampun! Apa yang terjadi denganku? Menggeleng menepis pikiran yang mulai ngawur. Menoleh ke sisi lain lagi.
Aku tersentak saat si bocil menyelipkan jari-jemarinya ke sela jariku. Kutatap tangan kami yang kini tertaut. Kemudian mendelik kearahnya.
"Lepasin, nggak?!"
Dia menggeleng. "Gak mau."
"Lepas!"
"Enggak!"
"Bociiiil!"
"Mbaaak!"
Saat kucoba lepaskan, dia malah semakin mengeratkan genggaman. Argh! Enggak! Jangan baper! Jangan baper! Jangan baper!
"Selow aja napa sih, Mbak? Biar anget! Aku tau, Mbak kedinginan, saling genggam gini biar anget."
Bener sih, emang berasa jauh lebih hangat sekarang. Jantungku juga semakin deg-degan. Asem!
"Apa lagi kalau ... berpelukan, Mbak." Dia lanjut nyengir saat aku mendelik ke arahnya.
Dalam sekali sentak aku berdiri, tangan kami pun terlepas. Entahlah, mendadak merasa geli. Berdiri bersedekap dan bersandar pada tiang penyangga halte. Bocil mendekat, kembali menyelimutkan jaketnya ke tubuh ini. Tanpa kata, dia kembali duduk di kursi halte, melipat tangan ke dada. Lama-lama gak tega juga melihatnya terus mendesis kedinginan. Aku kembali duduk di sebelahnya. Dia langsung berdiri. Kesal! Kulempar saja jaketnya dan mengenai kepalanya. Bocil terbahak. Aku bersungut sebal.
"Hujannya udah reda, Mbak. Mau pulang apa masih mau di sini?"
Aku bergeming. Bocil memakaikan helmnya ke kepalaku secara paksa tanpa aba-aba. Juga jaketnya. Seolah terhipnotis, aku hanya diam nurut.
"Udah, Mbak, manyunnya! Ntar aku makin cinta, loh, Mbak." Ditariknya lengan ini, "Yuk, pulang!"
Lagi-lagi, aku nurut saat dia melingkarkan tangan ini ke pinggangnya. Entahlah, malam ini rasanya aneh. Gak seperti biasanya.
"Kenapa berhenti, Cil?"
Dia menoleh ke arahku. "Ciyeee, betah ya, Mbak, naik motor sama aku?" Gaya tengilnya kumat. Kugetok kepalanya yang masih terbungkus helm. Dia mengaduh kesakitan.
"Ini udah sampek di rumah, Mbiiaaak."
"Hah?! Masa, sih?" Aku celingukan mengamati sekitar. Astaga! Ternyata bener udah sampek rumah. Gegas turun, saat akan melepas pengait helm, macet.
"Kenapa, Mbak? Susah dibuka, ya?"
"Hooh."
"Klop ya, sama hatimu, Mbak. Susah dibobol!" cibirnya.
"Udah deh, gosah bawel! Bukain ini!"
"Oke!" Dia bersemangat. Kutepis tangannya yang malah membuka jaket yang kukenakan.
"Katanya tadi minta dibukain?!"
"Helmnyaaaaa, bociiiiiiil!"
"Oh, makanya kalo ngomong jangan ambigu, Mbak."
"Gak usah deket-deket juga kali, cil!" Kudorong tubuhnya agar sedikit menjauh.
__ADS_1
"Buka pengait helm ini tuh, butuh konsentrasi tinggi, Mbak. Kalau jauh-jauh mana kelihatan ... cantikmu."
"Ck! Serius napa, cil?!"
"Dari dulu aku serius mencintaimu, Mbak."
"Ck! BOCIIIIIL!"
Dia terbahak. Sumpah ya, dia itu ngeselin banget!
"Nih, pegang dulu kunci motornya!" Kusahut kunci motor dari tangannya. Jantung ini berdebar tak menentu saat dia berusaha membuka helm. Aku diam-diam curi padang lewat ekor mataku.
"Dah, terbuka nih, helmnya. Sekarang, waktunya buka hatimu, Mbak."
Aku melengos. Bergegas membuka kunci pintu.
"Ck! Ini kenapa kuncinya gak masuk-masuk, sih?!" dumelku emosi.
Bocil terkekeh. Aku mendelik ke arahnya sambil berkacak pinggang.
"Emangnya ada yang lucu?!" sentakku.
"Mbak yang lucu. Grogi ya, Mbak? Hmmm?" Dia menaik-turunkan alisnya. Tengil! Aku kembali berusaha membuka pintu rumah. Bocil semakin terbahak melihatku kesulitan buka pintu.
"Mbak, fokusss!" Dia merebut kunci yang kupegang, dan ditenteng di hadapan wajahku. Astagaaa, ternyata yang sedari tadi aku pake buka pintu rumah ... kunci motor. Pantesan gak masuk-masuk.
Kurogoh kunci rumah yang ternyata masih di dalam tas miniku. Bocil melipat tangan di dada, bersandar di sisi pintu. Menatapku sedemikian rupa sambil cengengesan.
"Gagal fokus sama kegantenganku, ya, Mbak?" Si bocil mengekoriku masuk rumah sambil terus ngoceh persis burung beo abis dikasih makan.
"Mbak, jujur aja napa sih, kalau memang Mbak udah ngerasain getaran cinta! Jangan gengsi!" Kali ini dia menghadang langkahku sambil merentangkan tangan.
"Minggir cil!"
"Enggak!"
"Minggir!"
"Gak mau!"
Kesal, kudorong dia sampai terjengkang ke lantai dan kepalanya membentur kaki meja di ruang tengah. Aku membungkam mulutku yang menganga. Benturan di kepalanya sangat keras, pasti sakit banget.
Dia memegangi kepalanya yang habis terbentur, berdiri sempoyongan. "Mbak, kok gelap banget, ya?" Detik kemudian dia ambruk lagi.
"Cil! Bocil!" Kutepuk-tepuk pipinya perlahan, dia bergeming.
"Cil, bangun!" Aku merasa bersalah. Antara panik dan takut. Takut dia kenapa-kenapa. Air mataku menitik.
"Maafin aku, Ciiil. Banguuun!" Kuraih kepalanya dan menaruhnya di pangkuan. Dia tersenyum.
"Napas buatan," lirihnya.
"BOCIIIIIL!" Kujewer telinganya, dia mengaduh. Aku mengusap air mata dengan kasar. Latas pergi ganti baju ke dalam kamar, mengabaikan si bocil yang tertawa terbahak-bahak.
Keluar dari kamar, berniat buat kopi ke dapur. Kulihat si bocil sedang duduk di sofa ruang tengah. Dia sudah ganti baju juga, di kamarnya. Ya, kamar kami terpisah. Kebetulan rumah yang kami tempati ini memilki dua kamar.
Kamar yang ditiduri si bocil berukuran lebih kecil dari yang aku tempati. Di kamarnya ada lemari kecil berisi sebagian pakaiannya. Sebagian pakaiannya lagi ada di dalam lemari yang ada di kamarku.
"Cil!"
"Hmmm. Kenapa, Mbak?"
"Aku mau buat kopi, kamu mau, nggak?"
"Enggak ah, Mbak. Ini perutku berasa kembung."
"Masuk angin?"
"Kayaknya sih, gitu."
Aku ke dapur, membuat kopi untukku dan wedang jahe untuk si bocil.
"Nih." Kusuguhkan wedang jahe di hadapannya. Aku ikut duduk di sebelahnya.
"Apa nih, Mbak?"
"Wedang jahe."
"Widiiih, makasih loh, atas perhatiannya." Aku memutar bola mata, muak dengan gayanya yang tengil bin ngeselin. Cengegesan, menatapku sambil menaik-turunkan alisnya. Aku masa bodoh meniup uap panas pada kopiku, lalu menyeruputnya sedikit dan menaruhnya ke atas meja.
Bocil terus bersendawa. Dipukulnya perlahan perutnya, bunyinya penuh dengan angin. Pasti gara-gara tadi berkendara gak pake jaket. Kasihan juga.
"Eum, mau aku kerokin, gak, Cil?"
Dia langsung merubah posisinya jadi menghadapku. "Apa, Mbak? Kelonin?!"
__ADS_1
"KEROKIN CIIIL! KEROKIIIIN!" Aku berteriak di dekat telinganya. Dia terbahak.
"Ya udah, boleh deh, Mbak."
"Ya udah, ambil minyak anginnya sama koinnya!"
Dia nurut mau mengambil minyak angin dan koinnya.
"Terus kerokannya di mana, Mbak?"
"Ya, di sini, cil!" Aku nunjuk sofa.
"Gimana kalau di kamar aja, Mbak?"
Aku berkacak pinggang. "Gak usah modus, cil!" Dia terkekeh lagi, lalu buka baju dan tengkurap di sofa. Gak nyangka si bocil badannya bagus juga. Eh!
"Awww!" rintihnya.
"Kenapa, cil?"
"Pake nanya lagi. Mbak ngeroknya kekencengan. Sakit! Pake perasaan dong, Mbak, ngerokinnya!"
"Ngerok itu pake koin, cil! Bukan pake perasaan!"
"Serah Mbak, deh. Terpenting jangan kenceng-kenceng. Sakit."
"Iyaaa."
*****
Hari minggu, aku dan si bocil gak kerja. Kami bagi tugas, selama aku masak buat sarapan, dia membersihkan halaman depan. Meski sambil mengomel sepanjang jalan kenangan akhirnya pekerjaannya selesai juga. Kami lanjut sarapan bersama. Setelahnya kami membereskan rumah secara gotong royong lagi.
Suaraku hampir habis dibuatnya. Setiap saat teriak-teriak karena ulah isengnya. Dasar bocil! Pekerjaan yang seharusnya sudah selesai terbengkalai karena pada akhirnya aku malah kejar-kejaran sama dia. Asli sih, bener-bener berasa momong anak yang lagi aktif-aktifnya. Capek. Emosi juga. Energiku serasa terkuras habis.
Bertepatan waktu tidur siang, beberes rumah hampir selesai. Kini tinggal nyapu sama ngepel saja. Seharusnya, aku yang nyapu dan dia yang ngepel. Tapi, dia malah ngeluh capek dan pamit tidur siang. Bangun jam 5 sore. Bener-bener kebo, tidur siang hampir 6 jam-an.
"Mbak, buatin kopi, dong!" pintanya pas baru banget bangun tidur, dan langsung duduk di sebelahku yang lagi asyik nonton drama India di televisi.
"Cuci muka dulu, atau mandi sekalian sana! Udah sore loh, ini!"
"Iyaaa. Gampang, nanti. Udah sana buatin kopi dulu, Mbaaaak," rengeknya sambil dorong bahuku pelan. Aku berjalan ke dapur dengan langkah malas sambil menggumam. Sebel.
"Kalau disuruh sama suami itu yang ikhlas, sambil senyum gitu loh, Mbak! Jangan ngedumel!"
Aku menghentikan langkah di ambang pintu penghubung, menghela napas panjang, embuskan perlahan. Kemudian berbalik ke arahnya, dan tersenyum selebar-lebarnya.
"Utu-utu cantiknyaaa. Istri siapa sih, ituuuu?" Dia lanjut mengedipkan sebelah matanya. Aku berpaling dan lanjut ke dapur.
Usai membuat kopi, kami terlibat adegan rebutan remote televisi. Drama India favoritku belum kelar. Si bocil main pindah chanel aja. Chanel Upin dan Ipin. Ck!
"Dasar bocil!" pekikku saat aku tak berhasil merebut remote. Melipat tangan di dada, bersandar pada sandaran sofa. Sebel! Dia gak merasa berdosa sama sekali.
"Nih!" Dia menyodorkan remote kenhadapanku. Saat sudah tersenyum senang dan siap meraih itu remote, dia tarik menjauh lagi dari hadapanku. Diselipkannya remote ke sela pahanya.
"BOCIIIIL!" Dia terbahak, dooong. Terus dengan santai nyeruput kopi. Matanya masih serius nonton Upin dan Ipin. Sesekali dia tertawa, padahal menurutku gak ada yang lucu sama sekali.
"Mbak, kok kopinya rasanya aneh, sih?" katanya sambil mengecap.
"Masa, sih?" Dahiku mengernyit, mencoba mengingat apa tadi aku salah memasukkan sesuatu ke dalam kopi itu. Tapi, sepertinya gak salah, kok.
"Cobain aja kalau gak percaya!"
Aku meraih cangkir kopi itu lalu menyeruputnya. Dia tersenyum jahil.
"Gak ada yang aneh, cil!" Dia terbahak.
"Emang gak ada." Dia menaik-turunkan alisnya. Lalu meraih kembali cangkir itu dan menyeruputnya.
"Hmmm, tambah nikmat, Mbak. Bekas bibirmu."
Semprul!
*****
Lagi sarapan, tiba-tiba teleponku berdering. Ibu yang telepon. Dia bilang bakal berkunjung dan menginap di sini.
"Ada apa?" tanya si bocil.
"Ibu bakal nginep di sini malam ini."
"Asyiiik. Kalau Ibu nginep di sini itu artinya ... Ibu bakal tidur di kamar itu." Dia nunjuk kamar yang selama ini ditiduri.
"Terus aku bisa tidur di ... situ," lanjutnya, nunjuk kamarku.
"Enggak! Kan masih ada sofa ruang tengah atau ruang tamu," sahutku. Dia manyun. Tapi, besar kemungkinan tidur sekamar dengannya nanti malam. Karena pasti Ibu bakal ceramah panjang lebar kalau aku tidur terpisah dengan suamiku. Ibu pasti bakal nyuruh aku tidur sekamar dengannya. Kulirik si bocil, kemudian bergidik. Geliiii.
__ADS_1