SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Kesambet


__ADS_3

"Aku Reno, temen SMA-mu, masa lupa. Aku aja masih inget sama kamu, Fa."


Dahiku mengernyit, sudah mulai ingat dengan pria berjas hitam senada di depanku. Aku berdiri dan menyalaminya. Tak kusangka dia menarik tubuhku ke dalam rengkuhannya. Mataku membulat seketika sebab reaksinya. Dia mengaku kangen serta senang bisa bertemu aku di sini.


Cepat aku menarik diri dari rengkuhannya saat si Bocil yang duduk di kursi belakang Reno ekspresinya semakin tidak bersahabat. Sementara teman-temannya banyak yang riuh menggodanya dengan bernyanyi, "Panas, panas, panas, hati ini."


Ada juga yang menyanyi lagu, 'haredang' sambil memukul-mukul meja sebagai instrumen pengiring. Reno sempat menoleh ke arah anggota gengnya si Bocil yang riuh, tapi sepertinya dia tidak memahami kalau dialah penyebab kegaduhan yang tengah terjadi. Reno kembali menatapku dengan binar bahagia.


"Kamu beneran Reno?" Aku sudah mulai ingat. Dia mengangguk, "Ya ampun kamu sekarang beda banget. Aku pangling. Dulu kamu gak brewok begini. Mulus dan ... maaf, terlihat culun. Sekarang kelihatan macho banget," pujiku. Lolos begitu saja. Lupa kalau ada hati yang harus aku jaga.


"Kamu bisa aja, Fa. Sudah lama kali. Bahkan dalam jangka waktu sehari saja orang bisa berubah. Ye gak?" Reno mengedikkan alisnya.


Aku mengangguk-angguk. "Iya, juga, sih." Kemudian melipat tangan di dada.


"Oya, kamu ngapain di sini?" tanyaku kemudian.


"Aku, owner kafe ini. Kebetulan lagi melakukan peninjauan."


"Oh, gitu. Wah, sekarang kamu sudah jadi orang sukses, ya?"


"Ah, biasa aja," jawabnya merendah, "Kamu sendiri, ngapain di sini larut malem begini?"


"Eum, seperti yang kamu liat." Aku nunjuk makanan di mejaku.


"Oh, iya ya, lagi makan ya?" tebaknya, aku menganggu. Reno lantas mempersilakan aku duduk lagi, dan dia meminta izin untuk bergabung. Aku mengangguk mengiyakan. Sengaja, mau bikin bocil panas. Pegen liat dia cemburu apa enggak.


Reno pun menarik kursi kosong ke sebelahku. Saat dia siap duduk, bocil mendahului menduduki kursinya. Aku mengatupkan bibir manahan tawa. Dahi Reno mengernyit menatap si Bocil dengan tatapan kesal.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya si Bocil tengil.


"Ini kursi saya, Mas," terang Reno agak ngegas.


Bocil menggeser kursinya menjadi sangat mepet dengan kursiku. Lalu merangkul bahu ini. "Dan ini istri saya!" jelasnya penuh penegasan.


Reno menelengkan kepalanya, tak percaya mungkin. "Apa yang dia bilang barusan bener, Fa?" tanyanya kemudian.


Aku menghela napas panjang. Melirik bocil yang sudah terlihat sangat kesal. Mengulum bibir manahan tawa. Sebagian anak motor ada yang berdehem menggoda kami. Sementara para gadis, terdiam membatu di tempat masing-masing.


"Sayangnya benar," jawabku kemudian. Reno tersentak, kaget mungkin.


"Kok, sayangnya, sih?" protes si Bocil ketus.


Reno cukup lama dia tertegun. Matanya bergerak menatapku dan menatap bocil. Mungkin dia merasa aneh dengan perbedaan usia kami.


"Okelah, selamat atas pernikahanmu kalau gitu."


"Terima kasih, Ren."

__ADS_1


"Oya, salam kenal aja buat kamu." Reno mengulurkan tangan ke hadapan si Bocil. Aku mengulurkan tangan siap mewakili si Bocil yang tak kunjung menyambut uluran tangan Reno. Barulah suamiku yang gemesin itu cepat-cepat menyalami tangan Reno dan saling tukar nama.


"Ya udah. Have fun buat kalian," pungkas Reno lantas berlalu karena ekspresi si Bocil semakin menunjukkan ketidaksukaannya.


"Thanks, Ren." Tanganku dicekal si Bocil saat akan melambaikan tangan ke Reno. Segitunya.


"Gak usah dada-dada!" larangnya. Aku menghela napas kasar.


Reno menghentikan langkahnya, lalu menoleh kemari. "Sering-sering mampir ke sini."


"Enggak! Cukup ini yang pertama dan terakhir!" jawab si Bocil ketus. Aku meliriknya sambil menahan tawa gemas sama ekspresi kesalnya.


"Padahal aku berharap kamu masih singel, loh, Safa!" imbuh Reno lantang. Sontak membuat mataku membulat. Keempat gadis pun menutup mulutnya yang menganga.


Bocil langsung berdiri sambil menggebrak meja. "Maksud Anda apaaa?!" teriaknya sambil menunjuk Reno. Beberapa anggota gengnya ada yang ikut berdiri. Lita dan ketiga gadis lain juga ikut berdiri. Reno mengangkat kedua tangannya ke udara layaknya seseorang yang ditodong dengan senjata. Kemudian berlalu memasuki sebuah ruangan.


Kubalik badan si Bocil agar menghadapku, berusaha menenangkan. "Udah, dong. Reno emang suka gitu orangnya. Dia cuma bercanda." Aku yakin, Reno menyadari kecemburuan si Bocil, makanya sifat isengnya kambuh. Dia sebelas dua belas dengan si Bocil. Suka iseng.


Kedua tangan Miku terkepal sempurna. "Ngeselin banget sih, itu temenmu," dumelnya.


"Lah, kayak kamu enggak aja. Kamu juga ngeselin sama kek dia," balasku.


"Bedalah. Jangan samakan aku dengan dia!" ketusnya. Aku terpekik kaget saat si Bocil tiba-tiba menarik tubuhku ke dalam rengkuhannya.


"Apaan sih, Cil? Lepasin, gak? Malu tau dilihatin orang-orang," bisikku kesal. Aku melirik keempat gadis, mereka kompak menutup matanya.


"Aku gak liat kok, Kak," ujar Lita.


*****


Usai makan, bocil menugaskan anggota gengnya untuk mengantar keempat gadis sampai ke rumah masing-masing. Sementara dia mengajakku pulang, menaiki motor temannya. Temannya di suruh ambil motornya besok ke rumah.


Keempat gadis bergantian memelukku, mereka juga mengucapkan terima kasih. Serta berjanji bakal berkunjung ke rumah suatu hari nanti. Tak lupa kami bertukar kontak supaya setelah ini tetap bisa berkomunikasi sebagai sahabat via udara.


"Ingat ya, anterin keempat gadis itu sampek rumah masing-masing dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun! Jangan dimodusin!" ujarnya mewanti-wanti teman-temannya.


"Iye. Tenang aja! Paling cuma diajak tukeran kontak WhatsApp," jawab salah satu dari mereka. Disambut tawa juga teriakan riuh. Satu per satu, motor pun mulai meninggalkan parkiran kafe. Kami konvoi lagi sampai di sebuah pertigaan bocil berteriak  pamit pada anggota gengnya, dan kami pun berpisah.


****


Sampai rumah, usai bersih-bersih diri, dia langsung ngeloyor masuk kamar. Capek katanya. Aku melarangnya tidur. Dia langsung duduk, matanya berbinar.


"Kenapa liatnya gitu banget?" Aku meliriknya dengan perasaan ngeri. Ngeri kalau dia kesambet.


"Mimu ngelarang aku tidur pasti mau itu, kaaan?" Dia lanjut mengedikkan alisnya.


Aku pukul dia menggunakan bantal. "Dasar otak mesum!" Dia tergelak.

__ADS_1


"Terus apa dong?"


"Nih, aku mau obatin lukamu!" Kutunjukkan kotak P3K yang baru saja aku keluarkan dari laci, "Sekalian itu ganti perban di kepalamu."


"Oooh. Kirain."


"Kirain-kirain! Gak ada anu-anuan! Badan masih babak belur gitu gak nyebut!"


"Kan, yang luka wajah sama kepala, onderdilnya mah, aman." Dia akhirnya diam setelah aku tatap tajam sambil berkacak pinggang. Nurut saat aku olesi lukanya dengan obat merah dan alkohol.


"Awwww!" rintihnya saat aku membersihkan luka di kepalanya.


"Sakit, ya?"


"Nikmat. Pake nanya lagi. Sakitlah! Pelan-pelan!" sungutnya.


"Iya. Maaf. Abis ini pelan-pelan." Aku lebih hati-hati lagi saat mengolesi obat merah ke lukanya. Dia mendesis perih mungkin. Sesekali menghindar menjauh.


"Dah, diemin dulu beberapa menit. Abis itu baru deh, bersihin pake alkohol. Duduk dulu, jangan tidur!"


"Iyaaa," jawabnya. Lantas duduk bersandar pada kepala ranjang memeluk guling. Setelah beberapa menit berlalu baru lanjut bersihkan lukanya dengan alkohol. Dia mengerang kesakitan, pasti pedih banget. Aku tiup supaya agak mendingan.


Mataku berkaca-kaca melihatnya kesakitan begini. Dada nyesek tak tega. Luka akibat jatuh dari tangga saja belum begitu sembuh, sekarang sudah harus tambah lagi dengan luka bonyok akibat melawan para penjahat tadi.


"Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi seperti ini." Aku merasa bersalah. Air mataku akhirnya jatuh juga. Pertahananku runtuh.


"Eh, yang sakit siapa? Yang nangis siapa? Udah, aku gak apa-apa, kok. Lagian ini memang sudah menjadi tanggung jawabku." Dia mengusap air mata di pipi ini. Lalu menarik lembut dan dibenamkan ke dalam dekapannya.


"Udah dong nangisnya. Aku gak apa-apa, kok. Laki kek gini ini hal yang biasa. Apalagi kek gini demi orang tercinta, gak berasa. Liat kamu selamat, itu laksana obat tau gak." Dia membingkai wajah ini dan diusapnya air mata yang berderai. Aku mendekat dan mendekapnya erat. Dia menghadiahi kecupan hangat di kening.


"Mimu tahu gak bedanya Mimu dengan tempat tinggalnya para bidadari?" Aku menarik diri dari pelukannya.


"Gak tahu," jawabku singkat sambil membereskan obat dan kain kasa ke dalam kotak P3K.


"Kalau tempat tinggalnya para bidadari itu kahyangan. Kalau Mimu kesayangan." Aku meliriknya, dia mengedipkan sebelah matanya lalu membentuk jarinya menjadi love. Aku mengulum bibir manahan senyum.


"I love you."


"Udah, tidur!" sentakku sambil mengembalikan kotak P3K ke dalam laci.


"Jawab dulu!" paksanya.


"I love you toooo, Bociiiil!" jawabku geram sambil melipat tangan di dada. Dia terbahak. Lantas bersiap tidur.


******


Pagi buta saat aku dan si Bocil baru bangun. Eko, temannya yang motornya kemarin dibegal si Bocil datang mau mengambil kuda besinya itu. Mereka sempat ngopi bareng dulu, tapi saat ditawari nunggu sarapan, Eko menolak. Buru-buru katanya.

__ADS_1


Sementara aku masak, sambil nyuci dan lain-lain di belakang. Bocil nyapu dan ngepel di bagian depan. Sekaligus menyapu halaman depan yang memang sudah berhari-hari tidak sempat dibersihkan. Dia bosan kalau hanya duduk diam katanya. Tak menghiraukan meski sudah aku larang bekerja dulu. Bahkan, hari ini dia sudah ngeyel mau masuk kerja.


Dahiku mengernyit, meneleng ke arah luar, tapi tidak terlihat siapa yang datang lagi. Aku dengar bocil tengah berbincang dengan seseorang. Karena penasaran aku pun memastikan ke depan. Aku ternganga di ambang pintu menyaksikan pemandangan di dekat pagar depan.


__ADS_2