
Dadaku seperti terhantam barang super berat. Sakit dan sesak sekali. Semua saling pandang satu sama lain. Sedang si Bocil dia masih terdiam. Ekspresi suamiku tampak kebingungan. Entah bingung beneran atau hanya pura-pura saja.
"Bentar, bentar. Ini maksudnya tanggung jawab apa ya, Mbak? Mbak jangan ngadi-ngadi!" Bocil melepaskan pelukan wanita itu. Namun, wanita itu terus memeluk lagi dan lagi.
"Ini anak kamu. Kamu harus tanggung jawab, Ayang," rengek wanita itu sambil menunjukkan perut buncitnya.
"Apaan, sih? Enggak. Ini bukan anak saya, Mbak. Lagian saya nggak kenal sama Mbaknya. Mbak jangan nuduh sembarangan, dong. Saya sudah punya istri, loh. Ini istri saya." Bocil meraih lenganku. Aku berusaha menariknya. Namun, genggaman si Bocil sangat erat. Sehingga sulit lepas.
Wanita itu berkacak pinggang dan menatapku tajam. "Oooh, jadi kamu ya, yang ngerebut pacarku. Dasar pelakor!" tudingnya kasar. Dadaku makin sesak rasanya.
"Mbak jangan nuduh sembarangan, ya! Dia ini istri saya. Dia bukan pelakor!" teriak si Bocil nyalang.
Wanita itu tidak menggubris ucapan si Bocil. Aku dijambak dan didorong dengan kasar. Untungnya Reno sigap menangkap tubuhku. Sehingga aman tidak sampai jatuh terjengkang. Sedang Pak Broto dan istrinya tampak kikuk. Pun dengan Ulfa dan teman kantor lainnya, mereka terlihat bingung. Mungkin sama seperti aku, yang tidak tahu harus berbuat apa dan percaya sama siapa.
Bocil terus menjelaskan kalau dia tidak mengenal wanita itu. "Sumpah, aku nggak kenal sama dia," katanya meyakinkan aku.
"Kamu jahat banget, bilang nggak kenal sama aku setelah kamu menanam benih di dalam rahimku. Kamu lupa sama malam itu pas hujan gledek dan kita berdua di dalam satu ruangan yang sama saling memberikan kehangatan. Hah?!" Wanita itu menatap suamiku lekat. Dari nada suaranya terdengar sangat meyakinkan. Pun dengan pembelaan diri si Bocil juga meyakinkan. Entah siapa yang harus aku percaya.
"Jadi elu sudah selingkuh dari Safa?" tanya Reno mengintimidasi.
"Eng-enggak. Sumpah! Gua kagak selingkuh. Demi apa pun gua nggak selingkuh. Please, kalian percaya sama gua. Gua beneran nggak kenal sama perempuan ini."
"Bacot lu!" Reno emosi dan memukul sudut bibir si Bocil sampai berdarah. Sementara yang lain melerai Reno dan lelakiku, aku bergeming. Aku baru saja berjanji pada diriku sendiri akan menjadi istri yang lebih baik dan lembut untuknya, tapi malah dapat fase seperti ini.
"Sumpah, gua nggak selingkuh." Sekali lagi suamiku menjelaskan penuh penegasan.
"Halah, maling mana ada yang mau ngaku!" Reno masih dikuasai emosi.
"Sudah-sudah, jangan bikin keributan di sini. Sebaiknya masalah ini diselesaikan secara baik-baik dengan kepala dingin. Tak perlu menggunakan kekerasan." Pak Broto menengahi dan yang lain sepakat. Namun, Reno masih kesal. Sedang si Bocil terus mengelak dan membela diri.
Keributan yang terjadi di sini memantik penasaran tetangga. Banyak yang berdatangan dan makin banyak orang di teras, pelataran bahkan sampai di luar pagar. Sampai-sampai Pak RT juga datang kemari dan bertanya ada apa.
"Ini Pak RT, Mas Dafa selingkuh. Tuh, selingkuhannya sampai hamil gede begitu," celetuk Bu Yuli tetangga yang mulutnya suka ceplas-ceplos. Kudengar warga ada yang mengucap istighfar. Ada juga yang prihatin denganku dan menyudutkan serta mengucapkan sumpah serapah ke suamiku.
"Enggak! Saya nggak selingkuh! Saya tidak menghamili wanita ini! Saya tidak kenal dengan dia!" pekik si Bocil lantang. Semua terdiam. Sedang wanita itu menangis tersedu dan terduduk di lantai teras.
"Kamu jahat banget. Kamu udah ngehamilin aku, tapi nggak mau ngakuin. Kenapa kamu jahat banget? Kenapa kamu pura-pura amnesia?" Wanita itu makin tersedu. Ada warga yang mencoba menenangkan. Ada juga yang meminta agar suamiku disidang dan bertanggung jawab. Air mataku menetes juga. Pertahananku jebol. Hatiku masih nggak yakin kalau suamiku melakukan itu, tapi aku juga nggak tahu harus bagaimana dan percaya sama siapa dalam situasi seperti ini.
__ADS_1
"Sidang apaan? Nggak! Nggak mau! Apaan? Orang saya nggak ngelakuin apa-apa. Bukan saya! Saya nggak selingkuh dan nggak kenal sama wanita ini! SUMPAH!" Bocil berteriak lantang dan dia kepayahan berdiri dibantu Pak Broto.
"Saya berani disumpah apa pun, sumpah pocong atau sumpah apa, karena saya memang nggak selingkuh!" lanjutnya. Aku melihat kejujuran dari sorot matanya, tapi pengakuan wanita hamil ini juga tak kalah meyakinkan.
Pak RT menginterogasi suamiku. Dia diminta menceritakan kronologisnya. Suamiku menolak cerita karena menurutnya memang tak ada yang perlu diceritakan. Bocil tetap kekeh mengaku tidak mengenal wanita itu.
"Nama kamu siapa?" Kali ini Pak RT menanyai wanita itu.
"Danira, Pak," jawabnya.
"Danira beneran kenal dengan Mas Dafa ini?" Pak RT melontarkan tanya lagi, dan wanita itu mengangguk.
"Kenal, kan, dia pacar aku. Dia juga ayah dari anak yang aku kandung ini," jawabnya meyakinkan. Bocil menolak saat wanita itu meraih tangannya dan menyuruhnya mengusap-usap perut buncitnya.
"Ini anak kamu. Coba deh, pegang perutku. Bayinya gerak-gerak. Kayaknya dia seneng deh, ketemu sama bapaknya," katanya lagi. Badanku limbung, nyaris ambruk. Ulfa sigap menopang.
"Bapak-bapak! Nggak ada! Saya bukan bapaknya!" teriak si Bocil.
"Mimu, percaya kan, sama aku. Aku beneran nggak kenal sama perempuan ini. Aku nggak selingkuh, Mimu. Sumpah!" Aku menjauhkan tanganku saat dia akan meraihnya.
"Mbak Danira kenal Mas Dafa di mana, kalau boleh tahu?" cecar Pak RT.
"Danira!" panggil seorang wanita paruh baya dari arah pagar. Wanita itu berjalan tergesa kemari. Orang-orang yang berkerumun memberi jalan pada wanita itu.
"Kamu di sini rupanya. Ibu nyariin kamu ke mana-mana." Wanita itu sampai juga di sebelah Danira. Napasnya naik turun sepertinya habis berlarian atau berjalan tergesa. Entahlah.
"Bu, masa pacarku nggak mau ngakuin perbuatannya. Dia nggak mau ngakuin bayinya ini." Danira mengadu pada ibunya dan detik kemudian menangis terisak. Sedang wanita paruh baya itu malah ikut menangis.
"Pengecut banget sih, kamu Daf!"
"Berani berbuat harus berani bertanggung jawab, dong!"
"Iya. Kalau memang kamu bapaknya, akui saja! Kasihan tauk, si Mbaknya."
Warga mulai riuh. Pak RT berusaha menenangkan warganya. Sedang Pak Broto diam memapah suamiku. Reno terus tersulut emosi, beberapa kali hampir melayangkan pukulan ke wajah si Bocil.
"Aku bukan pelakunya!" Suamiku masih membela diri. Aku masih tidak tahu harus bagaimana. Warga mulai ribut lagi menyudutkan suamiku. Pak RT dan Pak Broto kewalahan. Sedang Ulfa memegang kedua sisi bahuku dan terus berbisik menguatkan.
__ADS_1
"Semuanya harap tenang!" teriak wanita paruh baya yang mengaku sebagi ibunya Danira itu. Seketika warga pun terdiam. Suasana hening beberapa saat. Kemudian mulai terdengar bisik-bisik lagi.
"Pria ini memang bukan ayah dari cucuku ini!" teriak ibunya Danira. Ada perasaan lega di hatiku. Warga saling pandang dan ada yang bertanya-tanya.
"Maksudnya gimana, Bu?" tanya Reno.
"Iya, dia ini bukan pacar Danira," terang ibu itu. Danira merajuk, wanita itu mencekal lengan Danira yang siap berlari.
"Putri saya ini depresi setelah ditinggal meninggal pacarnya dalam keadaan hamil," terang ibu itu. Mataku terpejam, hatiku rasanya plong. Air mataku mengalir deras. Air mata kelegaan.
Warga ada yang ber-oh. Ada pula yang meminta maaf kepada si Bocil. Ibunya Danira juga meminta maaf kepadaku dan suamiku juga pada semuanya. Kemudian pamit membawa Danira pulang. Pak RT membubarkan warga. Aku masih bergeming.
"Semua masalah sudah clear. Jadi, saya juga pamit, ya." Pak RT undur diri. Pak Broto beserta istrinya juga ikut pamitan, pun dengan teman-teman kantor. Kini tinggal aku, suamiku dan Reno.
"Sorry ya, Bray. Tadi ... gua kelepasan mukul elu. Gua kira elu khianatin Safa," ucap Reno, "Gua beneran minta maaf."
"Satu hal yang harus elo tahu, gua ini orangnya setia dan selalu berusaha pegang kata-kata gua!" tegas si Bocil. Aku masih terdiam menahan senyum.
"Kalau elo mau gua maafin. Sini lu, mendekat!" kata suamiku.
"Ngapain?"
"Udah, sini deketan!" paksa si Bocil. Reno mendekat dengan langkah ragu.
"Jangan bilang elu mau nyipok gua?" tebak Reno.
"Isss! Najeeesss!" pekik bocil.
Aku membungkam mulutku tak percaya. Ternyata suamiku membalas pukulan Reno tadi.
"Sialan lu!" umpat Reno sambil mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan jempolnya.
"Dah, sekarang impas. Balik sono, lu!" usir suamiku.
"Oke, gua balik. Awas lu, ya! Gua aduin ke bokap gua, lu!" Reno berlagak seperti anak kecil. Aku mengulum bibir menahan tawa.
"Eum, aku minta maaf ya, kalau tadi sempat mikir macem-macem," kataku setelah Reno pergi.
__ADS_1
Kudengar dia menghela napas panjang. Kemudian menggenggam jemariku. Mata kami bertemu. Dia meyakinkan bahwa apa pun yang terjadi tidak akan pernah selingkuh.
"Itu janjiku. Mimu bisa pegang kataku ini. Hanya maut yang bakal memisahkan kita," katanya dengan ekspresi serius. Dadaku mulai sesak. Tenggorokan terasa seperti tercekat. Aku menghambur ke pelukannya dan menumpahkan air mata di sana. Air mata haru.