SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Gengsi


__ADS_3

"Eits! Sabar Mbak!" teriak si bocil sepulang cari kerja. Dia langsung pasang gaya siap menangkis serangan.


"Mbak, tenang ya, jangan ngamuk dulu! Aku ada kabar gembira untukmu, Mbak," lanjutnya. Dahiku mengernyit tak paham dibuatnya.


"Kamu kenapa sih, kesambet?"


Cepat dia menggeleng.


"Terus itu ngapain pasang kuda-kuda gitu? Mau ngajak perang, iya?" Lagi, dia menggeleng dengan cepat.


"La tu, Mbak ngapain ngangkat sapu gitu? Mau balas dendam? Soal tadi pagi?"


"Dih! Geer! Siapa juga yang mau gebukin situ? Noh!" Kutunjuk kelelawar yang menggelantung di plafon.


"Oh, mau ngusir kelelawar?"


"Hmmm."


"Bukan ngusir aku?"


"Bukan, tapi kalo emang kamu pergi ya, pergi aja. Aku sih, malah yes banget kalo kamu pergi."


"Ah, yang beneeer? Entar kangen lagi kalo aku pergi beneran, Mbak?"


"Bocil, udah deh, gak usah bikin mood aku ancur. Katanya ada kabar gembira, apaan?" todongku.


"Aku ... di ...."


"Bisa gak, ngomongnya tap tap gitu? Atau perlu aku tabok dulu nih, biar lancar ngomongnya?" Kuacungkan sapu ke arahnya. Kesal.


"E-eh, iya iya. Gak sabaran banget, sih,” dumelnya.


"Jadi, aku sekarang udah diterima kerja, Mbak."


"Oya?"

__ADS_1


"Kok 'oya' doang sih, Mbak?"


"Teruuuus? Aku harus bilang 'wow' gitu?"


"Yaa, peluk terus cium gitu loh, biar kayak di tipi tipi itu, Mbak."


"Udah deh, daripada ngelantur gak jelas, nih, sapu! Usir tuh kelelawar sampek jauh. Kalau gak mau kamu yang aku usir dari rumah ini!" Dia menggaruk kepalanya. Dengan wajah lesu sambil terus mengomel diusir juga itu kelelawar.


"Suami baru pulang muter-muter nyari kerja, capek, bukannya disambut dengan penuh cinta, ini malah dikacangin, udah gitu disuruh ngusir kelelawar lagi. Buatin kopi, kek!" cerocosnya sambil menghempaskan bokong ke sofa ruang tengah. Ampun, bawelnya!


"Ini masih diaduk kopinyaaaaa! Baweeeel!"


Kutaruh di atas meja hadapannya setelah kopi jadi. Tak lupa teman kopinya berupa pisang goreng.


"Nah, gini dong, kan enak jadinya. Gini-gini aku ini suamimu loh, hargain kek dikit."


"Maunya dihargai berapa duit?" godaku. Dia langsung cemberut. Ya bodo amatlah, ya. Lagian gak ada yang maksa dia buat jadi suamiku. Dia sendiri yang memaksakan diri.


*****


Dia kalau lagi tidur begitu imut juga. Kupandangi wajahnya dari ambang pintu penghubung antara ruang tengah dan ruang makan. Si bocil yang dulu selalu menghadangku di dekat pos ronda setiap kali aku pulang kerja. Tak bosan-bosannya dia berkata, "Mbak, nanti kalau aku udah lulus SMA, kita nikah, ya!" Aku sampai muak dan sangat kesal mendengarnya. Kadang kulempar pakai sepatu atau apa saja yang terlihat oleh mata ini. Lalu dia akan berlari sambil berteriak, "Aku sungguh mecintaimu, Mbaaak!"


Sial! Kupikir hanya lelucon anak ingusan yang tengil. Sama sekali gak terlintas di benakku, kalau ucapannya itu laksana doa yang kini terwujud. Tepat dua bulan pasca kelulusannya, dia menikahiku. Konyol! Aku tidak mengerti kenapa takdirku sekonyol ini.


Terhitung sudah lima belas hari, aku bersuamikan bocah kecil tengil itu. Semua bermula ketika calon suamiku, Panji, dia melarikan diri tepat saat hari di mana seharusnya kami ijab kabul. Keluarganya juga tak ada yang datang satu pun. Padahal semua tamu undangan, penghulu sudah datang, jamuan juga sudah terhidang. Ibuku sampai pingsan karena kejadian itu. Malu luar biasa pastinya. Pun denganku.


Lima belas hari lalu, setelah berjam-jam menunggu Panji datang, tapi yang datang malah saudara jauhnya. Seorang diri. Mengabarkan kalau malam sebelum hari pernikahan kami, Panji digrebek dengan seorang wanita. Bahkan wanita tersebut telah mengaku sudah hamil. Keluargaku syok berat, beberapa pingsan berjamaah.


Lalu jam berganti, bocil tengil itu datang menawarkan diri sebagai pengantin pengganti dengan suara lantang penuh keyakinan. Aku tidak serta merta menerimanya. Dia diinterogasi oleh keluargaku, dia mengaku serius dengan pernyataannya.


Setelah mempertimbangkan banyak hal, demi menutupi rasa malu orangtuaku juga. Akhirnya, aku menumbalkan diri, menerimanya sebagai pengantin pengganti. Pernikahan pun berlanjut dengan mempelai pria yang berbeda dari yang terpampang di undangan. Masih dengan perasaan yang kacau karena penghianatan yang Panji lakukan. Tahu-tahu hari itu semua saksi sudah berseru 'sah' saja.


Ya, hari itu aku sah menjadi istrinya si bocil tengil yatim piatu itu. Tidak ada malam pertama, pernikahan kami rasanya cuma seperti sebuah sandiwara saja sampai saat ini. Kami sepakat menjalani biduk rumah tangga ini dengan ikatan persahabatan. Gak tahu jika nanti pada akhirnya dia berhasil meluluhkan hati ini. Biarlah semua mengalir seperti air. Akan aku nikmati perjalanan ini, walaupun terkadang terasa memuakkan.


"Kheeem!"

__ADS_1


Mataku membelalak mendengarnya berdehem. Astaga, dia sudah bangun rupanya.


"Ciyeee, jadi gitu yaa, kalau aku lagi tidur rupanya ada yang suka diem-diem merhatiin. Gimana, Mbak? Aku ganteng, 'kan?" Alisnya dinaik-turunkan. Aku memutar bola mata, menggeleng masa bodoh. Kembali ke kamar.


*****


"Mbak, kapan kita malam pertamanya?" celetuknya, auto membuatku terbatuk. Dia langsung menuangkan air minum untukku. Setelah minum, aku lanjut makan malam, pura-pura amnesia adalah jalan ninjaku.


"Mbak!"


"Ssssth!" Kuacungkan telunjuk ke arahnya, "Kalau lagi makan gak boleh sambil ngomong!" lanjutku.


"Katanya menikah itu enak, ada yang namanya malam pertama. Tapi mana? Gini-gini aja, gak ada enaknya, diomelin bini muluk tiap hari, iya." Dia mengomel sambil mengaduk-aduk menu makan malamnya.


"Katanya mau bersabar nunggu sampai aku bisa buka hatiiii," cibirku mencoba mengingatkan akan ucapannya tempo hari.


"Ya, tapi ini udah hampir sebulan loh, Mbak. Masak belum ada getaran cinta yang tumbuh di hati, Mbak? Oke, aku harus gimana, Mbak, biar Mbak cinta ke aku?"


"Auk ah!" sungutku. ***** makanku seketika hilang.


"Loh, Mbak, mau ke mana?"


"Tidur!"


"Terus ini gimana?"


"Ya, kamu beresin lah, bociiiiil!" Kututup pintu kamar. Kubiarkan dia mengomel sepuas hatinya.


*****


Sepulang kerja si bocil langsung mandi. Setelahnya, rebahan di sofa ruang tengah. Dia terlihat sangat kecapaian.


"Capek?" tanyaku sambil menyuguhkan kopi untuknya.


"Banget, Mbak. Hari ini bengkel sangat ramai," jelasnya lesu.

__ADS_1


Melihatnya terus mengibaskan tangan dan meregangkan badan, kasihan juga. Mau menawarkan pijitan, tapi ... nanti dia besar kepala lagi.


__ADS_2