
Aku sempat suuzan pada wanita anggun tadi. Ternyata dugaanku salah. Wanita itu mengaku bernama Tania, dan hanya menanyakan alamat rumah Pak RT. Bukan fans-nya si Bocil seperti dugaanku. Aku bernafas lega, dia menatapku dengan dahi berkerut.
"Kenapa?" tanyanya. Mungkin dia menyadari ekspresi wajahku yang aneh.
"Kepo!" sentakku.
"Kepo sama dengan perhatian. Perhatian sama dengan cinta, dan cinta sama dengan sayang. Jadi, kepo itu bukti bahwa aku sayang kamu," cerocosnya sambil mengekori diri ini.
"Udah, gak usah banyak cincong! Mending kamu duduk!" Kutekan kedua sisi pundaknya agar dia duduk di sofa ruang tengah. Lantas aku raih remote televisi dan menyalakan chanel favoritnya. Upin dan Ipin.
"Tonton, tuh, adekmu!" kataku sambil menaruh remote ke atas meja, dan berlalu dari hadapannya.
"Mimu!" panggilnya.
Aku berbalik, urung masuk kamar. "Apa?"
Dia membentuk jarinya menjadi love ala Korea lagi. "Sarang beo!" ucapnya kemudian.
Aku menghela napas panjang. Tak ada niat untuk meralat ucapannya. Lantas lanjut ke kamar, menaruh tak mini. Lanjut menaruh pakaian kotor ke dalam mesin cuci.
"Mau ngapain?" tanyaku saat melihatnya membawa ember berisi cairan pembersih lantai beserta alat pel-nya.
"Mau ngepel lah, masa mau futsal!" jawabnya lanjut tergelak.
"Gak usah! Udah aku bilang kamu itu istirahat aja. Baru juga pulang dari rumah sakit. Dibilangin susah banget, sih?!"
"Bosen tauk, duduk diam aja. Selama di rumah sakit juga udah istirahat. Lagian aku udah sembuh, kok."
"Ya, tapi kan, kamu masih luka-luka itu."
Dia menaruh alat pel-nya ke sembarang tempat, sejurus kemudian membingkai wajah ini, dan tatapan kami bertemu. "Aku udah sehat. Lagian yang luka itu kepalanya dan cuma tinggal nunggu pulih aja. Kaki dan tanganku juga badanku udah bisa diajak kerja."
"Bahkan udah bisa kalau cuma menyelesaikan 2 atau 3 ronde malam nanti," lanjutnya berbisik. Aku berdecak kesal, dia terkekeh. Kami pun mulai sibuk dengan tugas masing-masing. Dia mengepel, dan aku masak.
"Masih banyak gak, kerjaannya?" tanyanya sambil memangkas jarak.
"Tinggal goreng tempe sama tahu aja, sih. Mau goreng telur, kan, lukamu belum benar-benar kering, takutnya nanti malah gatal. Jadi, gak apa-apa, kan, kalau kita lauk tempe sama tahu aja hari ini?" Dia mengacungkan kedua jempolnya.
"Aku bantu potong-potong tempenya, ya," pintanya.
"Emangnya udah selesai ngepelnya?"
"Udah, dong." Dia langsung meraih tempe dan memotongnya jadi bagian kecil-kecil di atas talenan. Aku baru saja selesai menumis buncis dan wortel.
"Aaah! Auw! Aaaak! Argh!" teriaknya. Aku menghentikan aktivitasku memindahkan sayur dari wajan ke mangkok. Lantas mendekatinya yang sedang memegangi jarinya sambil terbungkuk-bungkuk. Terlihat sangat kesakitan. Aku sampai panik dibuatnya.
"Kenapa? Apanya yang sakit? Hah?! Kenapa?" Aku menarik lengannya, dan memeriksa semua jarinya. Tak ada yang berdarah. Kutatap dia tajam saat sadar diri ini cuma dikerjai. Dia nyengir menampakkan deretan gigi sambil membentuk jarinya menjadi huruf V. Sejurus kemudian membentuk jarinya jadi love lagi.
Kutepis tangannya. "Gak lucu!" sewotku kesal. Lantas berlalu.
"Akh!" Aku terpekik kaget saat dia menarik lengan ini kuat-kuat. Tubuhku terpental ke dalam rengkuhannya.
"Lepasin, Ciiil! Ini kapan selesainya masaknya kalau gini?"
"Aku masih pengen begini." Dia malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku udah laper, Cil. Capek juga. Mau cepet selesaiin kerjaannya biar bisa cepet makan terus istirahat."
"Iya deh, aku lepasin, tapi nanti lanjut lagi, ya?" pintanya.
"Gak ada lanjut-lanjut! Kamu pikir sinteron ada mode bersambungnya!"
Dia terkekeh dan mencubit gemas pipi ini. Lantas melanjutkan kerjaannya yang sempat terjeda. Pun denganku.
__ADS_1
*****
"Kenapa?" tanyaku kaget saat sendok yang dia pegang terjatuh ketika kami sedang makan siang bersama.
"Gak tahu nih, tiba-tiba tanganku lemes," lirihnya.
"Ya, udah sini aku suapin." Dia langsung berbinar dan bersemangat.
"Hmmh, modus nih, pasti!" tebakku.
"Enggak! Siapa yang modus! Beneran lemes ini," rengeknya.
"Nah, gini kan, enak," celetuknya saat sudah aku suapi.
"Enak apanya?"
"Aku bisa makan sambil mandangin wajahmu sepuasnya," jawabnya sambil ngunyah.
"Nah, berarti bener kan, modus?!" Cepat dia menggeleng mengelak.
"Minum," rengeknya manja. Ah, iya, aku lupa meyiapkan air minum. Cepat aku mengambil air di dispenser, tapi habis.
"Eh, mau ngapain?" tanyanya saat aku siap mengangkat galon ke atas dispenser.
"Mau rebahan. Pake nanya, ya, mau angkat galon lah!" Dia pun cepat-cepat mendekat dan mengambil alih galon di tanganku lantas meletakkannya ke atas dispenser. Aku bersedekap, dan menghela napas kasar. Kemudian kembali duduk ke kursi lanjut makan. Tak lama dia juga kembali ke tempat semula.
"Suapin lagi," rengeknya.
"Makan sendiri!"
"Tangannya lemes."
"Tadi ngangkat galon aja kuat, masa ngangkat sendok doang lemes!" omelku. Dia cengengesan. Kemudian makan sendiri sambil menggumam entah apa. Aku tak peduli.
*****
Aku urung baca lembar berikutnya. Lantas menoleh padanya yang turut duduk di sebelahku. Di kursi teras.
"Baca novel."
"Novel apa?"
"Novel genre roman komedi gitu, karyanya Fahriani Syahputri Abdullah. Judulnya, Nikah Yuk!"
Dia auto melirikku lekat. "Kita kan, udah nikah, Sayaaang."
"Judul novelnya, Bwambwaaang!" Kutunjukkan cover novelnya ke depan wajahnya. Dia tergelak.
"Kamu beli novel baru?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng.
"Terus, itu?" Dia menunjuk novel di tanganku.
"Novel ini dikasih sama ... Ali." Dia tersentak, lantas menghadap dan menatap diri ini tak percaya.
"Apa?! Kok gak bilang Ali ngasih novel ke kamu?"
"Ini bilang." Dia menghela napas kasar.
"Dalam rangka apa dia kasih kamu novel?"
Aku mengedikkan bahu, karena memang tak tahu dia memberi novel ini dalam rangka apa. Yang aku tahu, dia kirim novel dan ditujukan untukku. Hanya itu.
"Dia hutang penjelasan nih, ke aku! Enak aja main kasih hadiah ke istri orang tanpa permisi sama suaminya!"
__ADS_1
"Emang harus banget, ya? Gak usah aneh-aneh! Lagian Ali kan, cuma ngasih novel, doang. Mungkin dia kasih novel karena ...."
"Karena apa?" Dia menyela dengan nada meninggi.
"Mungkin karena dia tahu aku hobi baca. Udah itu aja gak lebih. Gak usah berprasangka buruk. Apa lagi sampek menginterogasi dia segala."
Dia urung lanjut mengomel saat sebuah mobil berhenti di depan pagar sana. Sejurus kemudian pengemudinya turun, membuka pagar dan memangkas jarak. Kudengar bocil menghela napas kasar.
"Ya ampun, itu kepalamu kenapa? Kenapa di perban begitu? Dan itu kenapa wajahmu luka-luka begitu?" Ibu langsung nyerocos tanpa henti.
"Saya rasa, saya gak perlu menjelaskan kepada Anda! Toh, gak penting juga kan, bagi Anda!" sahut si Bocil ketus.
"Ibu beneran khawatir melihat kondisi kamu seperti ini, Dafa."
"Khawatir?" Bocil lanjut terbahak, "Dulu ke mana saja?" Dari sorot matanya ada dendam dan kebencian yang mendalam pada ibunya.
"Ibu minta maaf untuk itu. Ibu sungguh-sungguh ingin menebus semua kesalahan di masa lalu. Makanya kamu ikut sama Ibu aja, ya? Sama istrimu juga. Kita tinggal bersama, dan kamu yang mengelola perusahaan peninggalan suami, Ibu. Jadi, kamu gak perlu susah-susah lagi seperti ini."
"Maaf, saya sudah terlanjur terbiasa hidup susah. Jadi gak berminat hidup enak secara instan begitu. Jangan samakan semua orang dengan Anda! Saya lebih bahagia hidup begini bersama istri saya!"
"Ibu janji gak akan macem-macem lagi. Ibu cuma pengen menghabiskan sisa umur Ibu bareng sama kamu dan istrimu. Cuma itu. Kamu juga bisa kuliah seperti apa yang kamu cita-citakan dulu."
"Maaf, saya sudah tidak tertarik lagi. Yang saya inginkan saat ini adalah, menghabiskan waktu, menjalani hari bersama istri saya ini." Dia menggenggam tangan ini, "Cuma itu yang saya mau. Saya gak butuh yang lainnya lagi," lanjutnya dengan mantap.
Aku terpaku, Ibu matanya berkaca-kaca. Kemudian pergi tanpa permisi lagi. Kulihat Ibu mengusap air mata sebelum menghilang di balik pintu mobil yang tertutup.
"Sampai kapan kamu bersikap begini ke Ibu?" Dia menghela napas kasar.
"Sepertinya Ibu itu tulus loh, mau berubah, mau menebus semua kesalahannya. Kamu yakin, gak mau kasih Ibu kesempatan untuk membuktikan ucapannya itu?"
Dia menyugar rambutnya ke belakang, dan berdiri dalam sekali sentak. "Udah ah, males bahas dia. Mending kita jalan-jalan aja, bosen di rumah terus."
"Ya udah, aku simpen novelnya dulu. Sama ambil tas."
*****
Aku dan dia berjalan menyusuri tepi jalanan yang ramai kendaraan lalu-lalang. Tangan kami bertaut. Dia tak mau lepaskan genggamannya barang sejenak. Takut aku ilang katanya. Lebay, memang, tapi aku suka.
"Sekarang kita mau ke mana?"
"Gimana kalau kita ke taman depan sana itu," tunjuknya. Aku mengangguk setuju.
Sampai di taman kondisinya sepi. Tak banyak pengunjung yang datang. Sebagian malah sudah siap untuk pergi meninggalkan taman.
"Kenapa?" tanyanya saat aku berdehem mendadak tenggorokan terasa serik.
"Gak tau nih, mendadak tenggorokan berasa kering."
"Ya udah, aku beli minum dulu ya, ke warung seberang jalan itu." Dia menunjuk warung seberang jalan. Kisaran 30 meteran dari tempat kami berada. Aku mengangguk mengiyakan.
Lagi asyik cek ponsel, tiba-tiba terdengar seperti ada suara seseorang yang tertahan oleh bekapan. Aku menoleh ke sana kemari, ternyata benar ada seorang wanita muda yang sedang dibekap oleh beberapa orang pria dan dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil.
Cepat aku memasukkan ponsel ke dalam tas, dan berlari mendekat menerabas barisan bunga-bunga. Wanita itu masih tampak berontak, tapi tak ada yang peduli.
"Hei, ada apa ini?" tanyaku. Bertepatan saat gadis itu sudah dimasukkan ke dalam mobil.
"Gak usah ikut campur kamu!" bentak salah satu pria.
"Gak bisa gitu dong! Anda siapanya perempuan itu? Kenapa dia dibekap segala? Apa yang terjadi?"
"Sudah, angkut saja sekalian!" titah pria yang lain. Tanpa ba-bi-bu, mulutku langsung dibekap dan dipaksa masuk ke dalam mobil. Aku berusaha berteriak, tapi tertahan oleh bekapan pria asing ini. Aku menoleh ke arah bocil berada, dia masih membayar minuman, sepertinya tak menyadari kejadian ini. Berontak pun, percuma. Tenagaku kalah kuat. Seharusnya aku tak gegabah tadi.
Sekarang bagaimana nasibku?
__ADS_1
Mulut kami berdua disumpal dengan kain, mata juga ditutup dengan kain hitam, sedang tangan kami diikat ke belakang. Tas berisi ponsel milikku dirampas, dan mobil pun melaju. Entah aku akan dibawa ke mana?
Bocil pasti khawatir banget. Kasihan dia. Bagaimana kalau aku gak bisa ketemu dia lagi?