SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Ambyar


__ADS_3

Mendadak gemeteran, gugup campur takut, dan juga kepalang malu mau bergerak balik ke posisi semula. Eh, bukan kepalang malu sih, tapi terlanjur nyaman dalam dekapannya. Hangat.


Tapi, lama-lama capek juga miring begini terus. Aku mencoba bergerak hendak kembali ke posisi awal. Dia malah mengeratkan pelukan.


"Ih, lepasin Cil!"


"Nggak mau, Mbaaak. Enak gini tauk. Anget."


"Engap, kali Cil. Kamu enak!" sungutku dia akhirnya sedikit mengendurkan pelukannya. Aku beringsut ke atas, dan tanpa sengaja kepalaku membentur dagunya.


"Aaaak!" jerit kami bersamaan. Dia lanjut mengaduh. Aku beringsut duduk meraba wajahnya.


"Ya ampun, sakit ya? Ada yang berdarah gak?" Kuraba-raba wajahnya dalam gelap.


"Sakiiit," rengeknya manja.


"Yang mana, yang sakit?" Dia meraih tanganku dan menempelkan telunjukku pada bibirnya. Kuusap lembut sambil menahan getaran dan debaran dalam dada. Dia pun melakukan hal yang sama. Membelai lembut pipi ini, lalu jemarinya berhenti di bibir ini.


Dia menarik kepalaku lembut, didekat ke depan wajahnya. Semakin dekat, dan untuk yang kedua kalinya bibir kami menyatu. Aku hanya bisa diam terpaku menikmati indahnya malam ini.


Kami tersentak, penyatuan bibir kami pun terlepas saat lampu tiba-tiba menyala. Kami membenarkan posisi, merapikan penampilan masing-masing. Suasananya mendadak kikuk lagi. Aku beringsut duduk bersandar kepala ranjang, dia juga melakukan hal yang sama. Aku tak berani menatapnya. Malu.


Kulirik dia malah main hp. Ih, gimana sih, si Bocil. Aku melipat tangan di dada, menghela napas lirih. Apa perlu aku yang unboxing dia! Rasanya gemes banget.


Dahiku mengernyit saat ponselku berdenting tanda ada pesan masuk. Gegas aku raih hp yang sedari tadi kuletakkan di atas meja kecil sisi ranjang. Pesan dari si Bocil. Kulirik dia yang pura-pura sibuk mengetik. Ngapain coba pake acara kirim chat segala? Padahal kan, kita duduk bersisian. Aneh!


[Mbak udah siap belum buat jadi istriku seutuhnya?]


Deg! Sumpah, mendadak badan terasa kaku tak bisa digerakkan. Huf, balas apa, nih? Jujur aja kali, ya? Oke, jujur aja Safa! Entah sudah berapa kali aku menghapus pesan yang sudah susah payah aku ketik. Mengulum bibir, malu banget.


[Ngetik apaan sih, Mbak, lama banget?] Lagi dia mengirim pesan susulan.


[Jadi gimana nih, udah siap belum?] Pesan susulan lagi darinya. Membuatku laksana diinterogasi penyidik tahu gak, sih?


[Udah.] Setelah menghela napas panjang akhirnya itu pesan berhasil aku kirim. Menggigit bibir bawah, asli, malu parah.


[Yakin, udah siap jadi milikku seutuhnya?] tanyanya memastikan.


[Iya.]


[Iya apa?]


[Yakin, buat jadi milikmu seutuhnya.]


Dia kudengar menghela napas panjang dan bergegas menaruh hpnya ke tempat semula. Aku juga melakukan hal yang sama. Memejamkan mata menunggunya beraksi.


Dia menyugar rambutnya, merangsek mendekat, tangannya mengulur perlahan meraih tanganku lalu digenggamnya. Tangannya dingin banget. Pasti gugup.


"Gemeteran ya, Mbak?" tanyanya lirih. Aku mengangguk samar.


"Hufh! Sama," jawabnya. Detik kemudian genggaman tangannya kian erat. Ini mau unboxing apa mau nyebrang di lampu merah, sih? Aku mengulum bibir menahan tawa geli.


Lagi, dia bergeser mendekat sampai akhirnya tanpa sekat. Gila, jantungku serasa mau lompat dari peraduannya. Huf! Diraihnya dagu ini agar menghadap ke arahnya. Matanya yang sayu menatapku dalam. Mata ini terpejam menikmati belaiannya di pipi dan bibir ini.


Kurasakan dia lantas mengecup kening, kedua mata, kedua pipi, lalu ... bibir ini. Jangan pingsan, Safa! Jangan pingsan! Rasanya kayak sedang melayang-layang di angkasa.


Aku menarik diri saat dia akan mencumbu leher ini. Tatapannya seolah menyiratkan tanya 'kenapa?' Aku mengulum bibir memegangi perut yang mendadak terasa nyeri dan melilit.


"Awww!" rintihku saat sakitnya semakin menjadi.


"Kenapa?" tanyanya panik, mungkin dia bingung belum diapa-apain udah merintih kesakitan. Yaelah, ini perut kenapa lagi mesti sakit di saat kayak gini, sih? Gak bisa diajak kompromi banget!


"Perutku sakit. Yuk, anterin ke toilet!" Kutarik lengannya. Dia nurut saja.

__ADS_1


Sampai di dalam toilet aku tepuk jidat. Membuka pintu dan menyilangkan jari telunjuk ke hadapannya yang masih stay melipat tangan di dada di depan pintu toilet. Dia meneleng, tak paham mungkin. Kemudian aku menggeleng.


"Apa?" Raut wajahnya tampak sangat penasaran.


"Eum, kayaknya malam ini bukan waktu yang tepat buat ...."


"Kenapa? Bukannya tadi Mbak uda siap? Terus kenapa sekarang mendadak berubah pikiran begini?" Kini raut wajahnya menyiratkan kecewa. Aku berjalan kembali ke kamar. Dia mengekor.


"Ak-aku kedatangan tamu tak diundang."


"Tamu? Tamu apaan, sih, Mbak?"


"Tamu bulanan."


"Datang bulan?"


Aku mengangguk-angguk.


"Haid?" Sekali lagi dia bertanya. Mungkin memastikan.


"Iyaaa."


Dia tepuk jidat, dan langsung menjatuhkan diri ke atas kasur dalam posisi tengkurap. Kudengar dia menghela napas kasar. Pasti kecewa berat. Aku juga sebenernya kecewa, Cil. Kenapa mesti datang di saat kayak gini, sih? Ya, memang ini tanggal-tanggal rawan, sih.


Usai berganti dalaman dan memakai pembalut. Aku kembali membaringkan badan di atas kasur. Dia masih sibuk dengan ponselnya. Apa dia marah? Tapi, ini kan, bukan salahku? Aku miring membelakanginya. Tak lama kurasakan dia merangsek mendekat, dan mendekap tubuhku dari belakang.


"Cil, aku ...."


"Iya, aku tahu. Gak usah dijelasin lagi. Aku cuma mau tidur sambil memelukmu begini, boleh, kan?" Aku diam tanda setuju.


"Boleh minta satu hal lagi, gak?" tanyanya.


"Lama-lama ngelunjak, ya?" Dia terkekeh, "Ya udah, apa?"


"Berbalik ke sini dong! Aku mau menatap wajah cantikmu itu." Ditariknya bahuku perlahan. Aku pun akhirnya menuruti kemauannya. Berbalik dan kini posisi wajah kami sejajar saling berhadapan. Saling tatap dalam jarak yang sangat dekat.


"I love you, Mbak."


Pengen banget bales, tapi bibir ini seolah lengket ada lemnya. Lidah juga serasa kelu. Kenapa susah banget sih, buat bilang, "I love you to."


"Jadi, fiks ya, sekarang kita jadian."


"Hah?! Maksudnya?"


"Itu barusan Mbak udah bales tembakanku."


Hah?! Aku pikir kalimat balasan tadi hanya terucap dalam hati? Ternyata beneran terucap.


"Mulai sekarang, Mbak adalah pacar halalku, pun sebaliknya." Dia mengedikkan alisnya. Mencubit gemas pipi ini, lalu dikecupnya kening ini.


"Selamat malam. Selamat tidur, semoga mimpi indah."


"Kamu juga." Dia mengangguk, merangsek mendekat memelukku dengan posisi bibirnya menempel di kening ini.


*****


Aku terbangun, posisi badanku sudah malang melintang memenuhi atas kasur. Loh, Bocil ke mana? Aku duduk melihat jam. Masih jam 2 dini hari. Celingukan mencari keberadaan si Bocil. Ternyata dia tidur di bawah beralaskan kasur lantai. Lah, kenapa?


Kugoncang perlahan bahunya. "Cil!"


"Hmmm." Dia mengerjap dan membuka matanya.


"Kamu ngapain tidur di bawah?"

__ADS_1


"Mbak tidurnya kayak kuda lumping lagi kesurupan tahu gak?" jawabnya sambil merem melek nahan kantuk.


"Tidur gelisah banget, mukul muka, nindih perut, nendang sampek aku terguling jatuh ke lantai. Daripada babak-belur, ya, mending pindah aja ke bawah. Lagian biar Mbaknya juga lega," lanjutnya.


Emang sih, kata Ibu kalau aku lagi sakit atau nyeri haid begini tidurnya gelisah gak tentu arah. Gak nyangka sih, kalau se-bar-bar itu. Kasihan dia.


"Maaf ya, Cil. Aku gak sadar. Kalau lagi ada yang sakit emang suka gini. Tidurku gelisah gak tentu arah."


"Iya, gak apa-apa. Udah tidur lagi masih malem loh, ini." Aku mengangguk. Dia malah bangkit.


"Kamu mau ke mana?"


Dia mengambil minyak angin ternyata. "Sini, aku balur perutnya pake ini biar anget. Kali aja kan, sedikit reda nanti nyerinya."


Dia langsung duduk di sebelah aku berbaring. Menyibak bajuku dan membalurkan minyak angin ke perut ini dengan lembut. Setelah dirasa cukup, bajuku dirapikan kembali dan menyelimuti diri ini hingga sebatas dada. Dia kembali tidur di sebelah, kali ini bukan saling peluk, tapi tangan kami yang saling genggam.


******


Saat alarm bunyi dan aku terbangun sudah tak kudapati si Bocil di sisi. Aku lantas keluar kamar setelah merapikan selimut dan bantal. Kudapati dia sudah sibuk di dapur menggoreng ikan sambil mengenakan helm. Ya salaaam! Aku terbahak oleh kelakuan absurdnya.


"Lagian kenapa gak bangunin aku sih, Cil?"


"Mbak kan, lagi sakit perutnya. Gak tega aku."


Gak tahu kenapa tiba-tiba gak bisa tahan lagi. Gemes banget sama keunyuan-nya. Kupeluk dia dari belakang dan kusandarkan dagu ini ke sisi bahunya.


"Sambung nanti ya, meluknya. Mau angkat ikan gorengnya dulu, Mbak." Gegas kulepaskan pelukan. Lantas menawarkan bantuan, tapi dia menolak. Menyuruhku duduk saja menikmati teh hangat buatannya. Katanya agar perutku sedikit reda nyerinya.


"Oya, hampir aja kelupaan. Ini tadi aku buatin jamu kunyit asam. Kata mbah google sih, jamu ini bisa meredakan nyeri haid," katanya usai kami menyantap sarapan bersama.


Kuraih jamu yang sudah ditaruh di botol minuman itu. Masih hangat kuku. Rasanya pengen nangis. Terharu banget sama kelakuannya hari ini. Dia udah bangun dari jam 4 pagi lebih dikit, terus ngerjain semua pekerjaan rumah, bahkan masih sempat bikinin aku jamu segala. Cuma nyeri karena haid aja segininya dia memperlakukan aku, sampek gak boleh ngapa-ngapain sama sekali. Se-lebay itu dia.


"Kamu bisa buat jamu? Yakin nih, aman buat diminum? Nanti kalau malah semakin bikin sakit perut gimana?"


"Aman. Orang itu tadi aku searching kok di google. Lagian bahannya cuma kunyit bubuk kemasan, asam sama gula jawa, terus aku rebus. Udah itu doang. Herbal, aman." Dia mengacungkan jempolnya.


"Makasih," balasku parau, mata berkaca-kaca. Di balik sikapnya yang pecicilan dan kadang nyebelin. Aku bisa merasakan cintanya yang begitu luar biasa. Juga hatinya yang lembut penuh kasih.


*******


Sepulang kerja, usai istirahat sejenak. Aku menyapu hingga ke teras. Sebelum suami pulang, rumah harus sudah bersih dan rapi. Kasihan kan, kalau harus dia lagi nanti yang ngerjain semuanya. Aktivitasku terhenti saat ada sebuah mobil berhenti di depan pagar. Tak lama keluar seorang wanita. Ibu, ada apa lagi dia kemari?


Dia langsung nyelonong duduk di kursi teras. Saat kutawari minum, ia menolak seperti biasa. Kemudian menyuruhku duduk katanya ada yang mau dibicarakan.


"Aku tadi bertemu dengan Dafa ...."


"Iya. Dafa kenapa, Bu?" tanyaku ketika dia tak kunjung melanjutkan kalimatnya.


"Dafa itu sebenernya mau ikut aku. Dia juga seneng banget saat aku tawari buat kuliah di universitas ternama, tapi ...."


"Tapi, apa?"


"Tapi, dia bingung ngomongnya sama kamu gimana? Dia takut kamu sedih dengan keputusannya itu. Sebenernya dia bilang sudah sejak awal ingin tinggal denganku. Hanya saja dia merasa tak enak hati denganmu. Makanya dia pura-pura menolak saat di depanmu."


Hah?! Masa sih, si Bocil begitu? Kondisi emosi lagi gak stabil begini, ada aja yang bikin semakin gak stabil. Sabar, Safa! Sabaaar!


"Jadi, tolong dong, pengertiannya. Kalau Dafa bingung buat ngomong sama kamu. Kamunya dong, yang inisiatif ngomong duluan! Jangan egois kamu! Dafa itu mau maju mengejar kesuksesannya, jangan jadi penghalang kamu!" pungkasnya lantas pergi begitu saja. Aku masih duduk lemas di kursi teras. Air mata berlinang. Segudang tanya memenuhi ruang otakku.


Apa iya, yang dikatakan Ibu tadi itu benar?


Apa iya, selama ini kata-kata manisnya si Bocil itu hanya keluar dari bibir semata?


Apa iya, pehatian dan kasih sayangnya yang terlihat begitu nyata hanya topeng?

__ADS_1


Mungkinkah semua itu dia lakukan hanya sebatas menunaikan kewajiban sebagai seorang suami belaka?


Aku tersentak dari lamunan saat kurasakan ada yang mengusap pipi ini.


__ADS_2