
Reno melirik si Bocil, kemudian geleng-geleng kepala. Dia lantas berdiri secepat kilat pindah duduk di sebelah kananku. Bocil langsung menyuruhku berdiri.
"Kalian ini apa-apaan, sih? Kayak anak kecil aja!" ketusku sambil berdiri. Bocil menarik lenganku sehingga aku terduduk di pangkuannya. Saat aku akan bangkit berdiri, dia tak mengizinkannya. Tangannya melingkar di pinggang ini. Erat.
Aku menoleh, dia mengedipkan matanya. Memberiku kode agar tetap duduk di pangkuannya. Sedang Reno, dia menoleh kemari, lalu geleng-geleng. Entah sudah berapa kali dia melakukan adegan seperti itu.
"Dasar childish!" ejek Reno.
"Sirik aja lu!" balas Miku.
"Kalian berdua apaan, sih? Udah dong, ih, gak jelas banget, deh!"
"Itu, suamimu tuh, kek bocah tau gak, sih!"
"Eh, mending gua, kek bocah emang masih imut, masih pantes, lah elu? Jambangan, udah kelihatan bangkotan, gak pantes berlagak kek bocah lu!" Bocil tak mau kalah.
"Wah, nantangin lu yak!" Reno berdiri sambil nunjuk-nunjuk. Miku akhirnya melepaskan aku, dia langsung berdiri setelah aku bangkit dari pangkuannya.
"Ayok! Lu pikir gua takut ama elu! Elu tuh ngapain sih, tiba-tiba nongol di sini! Ganggu orang mau pacaran aja lu! Balik sono ke alam lu!" Bocil nyolot.
"Suka-suka gua lah, ini tempat umum. Lu pikir ini halte punya nenek moyang lu?! Elu aja sono balik ke rahim emak lu!" balas Reno tak kalah nyolot. Bocil berang saat disinggung soal emaknya. Dia langsung mencengkeram kerah baju Reno.
"Jangan bawa-bawa emak!" tegasnya. Mata keduanya bertemu, nyalang. Aku berusaha menengahi. Sangat sulit saat aku coba melepaskan cengkeraman tangan si Bocil.
"Hei, udah dong!" bentakku. Gantian menoleh ke arah bocil dan Reno.
"Suamimu duluan yang mulai," ujar Reno.
"Elo!" tuding si Bocil tak mau kalah.
"Elo!" Reno membalikkan tudingan. Keduanya saling tunjuk. Aku tepuk jidat. Pusing sama kelakuan dua bocah bangkotan di hadapan.
"Dahlah, terserah kalian kalau mau gebuk-gebukan, sok! Lanjutkan! Kalian pikir aku peduli? Tidaaak!" Aku kesal, dan berbalik ke arah lain. Membelakangi mereka berdua yang masih terus saling adu argumen.
Kilatan cahaya disusul gelegar petir membuat kami bertiga berteriak secara bersamaan karena kaget. Reflek kami bertiga saling peluk. Setelah kesadaran si Bocil kembali, dia mulai lagi marah-marah dan nuduh Reno ambil kesempatan dalam kesempitan.
"Namanya juga reflek!" dalih Reno.
"Halah, reflek-reflek! Reflek kok meluk istri orang!" sungut si Bocil.
"Eh, Bocil, gua juga kan meluk elu paok!"
__ADS_1
"Astagaaa kalian bisa udah gak, sih?!" teriakku sekuat tenaga. Sampek terasa agak sakit tenggorokan. Namun, sukses membuat mereka berdua terdiam beberapa saat.
Tak lama ponsel Reno berdering. Tampaknya ada panggilan masuk. Dia mengiyakan perintah lawan bicaranya di ujung telepon. Sejurus setelah telepon terputus, Reno pamit pulang. Bocil mengucap syukur.
"Bagus, pulang sono ke habitat elu!" Bocil mulai lagi. Reno hanya menatap bocil lekat sambil geleng-geleng. Lantas berjalan ke sisi motornya dan mengenakan helmnya. Hujan memang sudah agak reda. Menyisakan hawa dingin dan gerimis kecil-kecil.
"Udah Fa, laki kek gitu museumin aja!" seru Reno. Detik kemudian dia terbahak sambil starter motornya.
"Kampret lu! Elu aja sono Renosaurus!" Reno terbahak sambil tancap gas, pergi. Bocil masih misuh-misuh tak terima. Aku duduk di kursi halte, melipat tangan di dada, menghela napas menstabilkan emosi yang siap meledak.
Karena geram dia terus mengoceh, aku berdiri mendekatinya, dan menarik kepalanya kudekatkan ke depan wajah ini. Kubingkai wajahnya, dan kusergap bibirnya. Dia terpaku. Mungkin syok melihat istrinya mengganas.
"Ya udah, yuk, pulang yuk! Kita lanjutin di rumah!" ajaknya sehabis aku cium.
"Lanjut apa? Gak ada lanjutannya!"
"Harus ada. Titik!" Dia memakaikan helm, menarik lenganku mendekati motor dan menyuruhku naik. Setelah naik, dia tancap gas.
Bocil mengurangi kecepatan saat melihat ada orang mendorong motor. Ternyata Reno tadi. Tampaknya motornya bermasalah.
"Hahaha, emang enak mogok! Motor bodi doang bagus, jiaaah, tapi lemah! Mogokan! Haaaa." Reno tak menyahuti ledekan si Bocil, dia tetap fokus mendorong motornya. Sesekali berhenti untuk mengatur napas.
"Ih, gak boleh gitu. Kasian tauk!" omelku sambil menepuk punggungnya.
Reno geram juga, dia memasang standar motornya dan berlari hendak meraih lengan si Bocil. "Turun lu kalo berani! Sini kita baku hantam!" Bocil mempercepat laju motornya, menjulurkan lidah ke arah Reno yang berkacak pinggang dan terengah.
"Gue sumpahin motor lu mogok juga!" teriak Reno. Suasan jalanan yang tak begitu ramai, sehingga terdengar jelas suaranya. Mungkin karena masih agak gerimis jadi pengendara masih pada berteduh.
"Sumpah elo gak akan mempaaan!" sahut Bocil lantang. Lanjut menjulurkan lidah meledek Reno lagi. Aku menengok ke belakang, kulihat Reno menendang motornya. Kesal mungkin.
Reno memang agak absurd dan resek orangnya. Saat ketemu dengan si Bocil yang juga tengil, mereka jadi klop. Seperti Tom and Gery jadinya.
"Loh, kenapa?" tanyaku saat laju motornya mulai tersendat-sendat, dan akhirnya motor benar-benar berhenti. Kudengar Reno tertawa puas di belakang sana.
"Mampus lu!" umpat Reno lantang. Nadanya terdengar sangat puas.
"Argh! Masa sih, sumpah serapah Renosaurus manjur?" dumel si Bocil.
"Ada juga dinosaurus," sahutku kesal sambil turun dari motor.
"Renosaurus kan varian milenial," jawabnya sambil turun juga dari motor.
__ADS_1
"Cieee mogok motornya," ledek Reno saat sudah berhasil menyusul kami berdua.
"Penyakit motor lu nih, nular keknya," sahut si Bocil.
"Dasarnya motor elu aja yang ringkih!"
"Motor elu tuh, bodi gede, tenaga lemah!"
"Astagaaa! Bisa udah gak, sih? Fokus aja dorong motor bisa, gak?" Aku melipat tangan di hadapan mereka berdua.
"Cantiknyaaa istriku," puji si Bocil.
"Cantiknyaaa ... istri orang." Reno ikutan.
"Apa?!" ketus Reno saat bocil menatapnya nyalang.
"Yang boleh muji bini gua, cuma gua!"
"Eh, gua muji bini orang. Emangnya orang cuma elu doang di muka bumi ini?" balas Reno. Aku tak peduli, memilih melanjutkan langkah. Memberi ruang untuk mereka berdua gelut dengan leluasa.
Aku mengibaskan tangan masa bodoh saat Reno mengadu bahwa bocil menendang motornya.
"Eh, motor mahal nih! Main tendang-tendang aja, lu!"
"Hilih, palingan juga belum lunas cicilannya," ejek si Bocil.
"Wah, ngawur! Gua kalo beli sesuatu kes! Emangnya elu!"
"Sombong amat! Gua beli jet pribadi aja kagak sombong!"
"Mana jet lu?" tanya Reno.
"Nanti belinya kalo gua udah jadi sultan!" ketus bocil. Aku mengulum bibir menahan tawa dengan celoteh mereka berdua yang semakin absurd.
"Masih sebatas halu aja sombong!" sahut Reno.
Saat Reno mempercepat langkahnya menyejajarkan dengan langkahku, bocil juga melakukan hal yang sama. Kini aku berada di tengah-tengah mereka berdua. Bocil dan motornya ada di sebelah kananku. Sementara Reno di sebelah kiriku.
"Safa, daripada kamu capek jalan, mending kamu duduk di atas motor sini," ujar Reno.
"Udah, Mimu duduk aja di atas sini, biar Miku yang dorong."
__ADS_1
"Jiaaaah! Mimu miku. Apa itu? Gelay!" ledek Reno. Beberapa meter di depan aku melihat mobil berhenti di tepi jalan. Warna dan platnya seperti tidak asing di ingatanku. Pengemudinya tampak sedang menelepon di sebelah mobil. Postur tubuhnya juga terlihat tidak asing. Aku mempercepat langkah menghampiri pengendara mobil itu.
"Ck! Argh! Nambah lagi." Kudengar bocil mendumel.