SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Kekasih Terhebat


__ADS_3

Setelah kesadaran terkumpul, aku cepat-cepat turun mencari keberadaannya. Aku cari di dalam kamar mandi, dia tidak ada. Dengan langkah tergesa aku keluar kamar. Di depan juga tak ada.


Aku berlari ke tempat suster, dan bertanya kepada mereka yang berjaga. Namun, para suster juga tidak tahu dan tidak melihat bocil keluar dari kamar. Ke mana dia?


"Memangnya di kamar atau di toilet tidak ada, Bu?"


"Kalau ada masa iya saya bingung nyariin sih, Sus." Aku agak ketus. Lantas berlalu mencari si Bocil ke setiap penjuru rumah sakit. Aku sampai keluar rumah sakit mengelilingi taman. Mulai dari taman depan, samping kiri, ke belakang dan terus muter ke taman samping kanan rumah sakit.


Di kejauhan aku melihat seorang lelaki tengah duduk sendirian di bangku taman. Tidak, dia tidak sendirian, bersama tiang infus.  Rambut dan perawakannya dia banget. Cepat aku mendekat memastikan, dan pencarianku pun membuahkan hasil. Aku langsung duduk di sebelahnya, menghela napas panjang berulangkali. Mengumpulkan energi untuk memarahinya. Dia menatapku lekat.


"Kenapa, sih?" tanyanya tanpa merasa bersalah. Sok polos.


Aku berkacak pinggang, dan menatapnya tajam. "Kenapa? Kamu tahu gak, sih? Kamu itu udah buat aku khawatir! Tiba-tiba ngilang, gak pamit!"


"Gimana mau pamit, orang kamunya tidur pules banget. Gak tega banguninnya."


"Lagian kamu ngapain sih, di sini malem-malem? Nanti malah masuk angin. Ayo, balik ke kamar!"


"Bosen di kamar muluk. Pengap. Masih pengen di sini."


"Sssth!" desisnya sambil menempelkan telunjuk di bibir ini. Aku pun urung lanjut mengomelinya. Sejurus kemudian dia merangsek mendekat. Kini posisi kami mepet tanpa sekat. Ditariknya tiang infus turut mendekat. Lantas menggenggam tangan ini.


"Dah, sekarang jadi anget. Kalau gini kan, jadi gak bakalan masuk angin." Aku melihat tangan kami yang bertaut, kemudian menatap wajahnya yang berada sangat dekat. Dia tersenyum, dan seperti biasa mengedikkan alis sudah menjadi kebiasaannya.


Aku tersentak saat hendak memalingkan wajah, dan dia menarik dagu ini agar tak berpaling. "Jangan pernah berpaling dariku," katanya.


"Lebay!"


"Kok lebay, sih? Melihatmu, itu laksana obat penyembuh segala sakit. Berada di dekatmu, aku merasa tenang dan nyaman. Apa lagi ... kalau dipeluk."


"Tuh, kan, mulai ngelantur lagi!" sewotku. Dia terkekeh, kemudian menghela napas berat.


"Tuh, kan, sesek napas kan? Makanya jangan nyerocos aja! Diem gitu loh!" omelku. Dia mengatupkan bibir. Hening. Dikecupnya punggung tanganku berulangkali.


Ck, mulutnya diam, tapi gantian tangannya yang gak bisa diam. Dia memainkan rambutku, hidung, pipi. Semakin kutepis, semakin jadi.


"Udah deh, mending ngomong aja! Terserah kamu mau ngomong apa!" ketusku, karena udah gak kuat sama kejahilan tangannya yang semakin bar-bar. Dia terkekeh.


"Oke, jadi udah boleh ngomong lagi, nih?"


"Serah!"


"Haha! Ya udah, aku mau nyanyi aja, deh. Boleh?"


"Serah!"


"Ya udah, aku nyanyi. Kamu dengerin. Lagu ini untukmu. Udah boleh mulai nyanyi, nih?"


"Se-rah!"


"Sawer dulu dong, pake senyum termanis. Jangan manyun gitu dong!" Dia lanjut mencolek pinggang ini. Karena geli, aku pun tersenyum, dan akhirnya terbahak. Jari nakalnya terus menggelitik pinggang. Baru berhenti setelah aku tabok, dan dia mengaduh kesakitan.


"Makanya, diem tangannya!" omelku.


Dia pun mulai menyanyikan lagunya Anji yang berjudul Kekasih Terhebat. Seperti biasa, aku yang semula hanya diam mendengarkan. Akhirnya hanyut dan ikut bernyanyi. Meski napasnya agak tersengal-sengal karena sesak, tapi suaranya masih enak didengar.

__ADS_1


Kekasih Terhebat


By: Anji


Biarkan aku jadi yang terhebat


Jadilah kamu kekasih yang kuat


Aku manusia yang paling butuh kamu


Membutuhkanmu


Hatiku memalingkan pandang hanya padamu


Pada hatimu


Jangan lelah menghadapiku


Biarkan aku jadi yang terhebat


Jadilah kamu kekasih yang kuat


Karena kamu kekasih terhebat


Aku manusia yang paling butuh kaku


Membutuhkanmu


Jangan lelah menghadapiku


Biarkan aku jadi yang terhebat


Jadilah kamu kekasih yang kuat


Karena kamu kekasih terhebat.


🎧🎶🎧


"Udah, yuk, balik ke kamar. Sudah larut, udaranya makin dingin. Nanti masuk angin kalau lama-lama di sini. Yuk!" Kutarik lengannya lembut. Dia akhirnya nurut juga. Mau kembali ke kamar.


"Kamu tidur di sini aja. Sebelahan. Toh ranjangnya lebar. Cukup ini untuk berdua," ujarnya.


"Gak mau ah. Nanti malah nindih selang infus kamu," tolakku.


"Kan, bisa di sebelah kiri sini." Dia menepuk ruang kosong sebelah kirinya, "Tangan yang diinfus kan sebelah kanan," lanjutnya.


Aku menggeleng. "Gak mau. Nanti malah nyenggol luka kamu. Malah gak sembuh-sembuh."


"Yakin mau tidur di situ?"


"Yakinlah!" ketusku dan bersiap tidur di sofa.


"Kamu gak inget tadi pas di koridor lampunya kedip-kedip?" Mendadak ingat tadi pas jalan balik dari taman, di koridor memang lampunya kedip-kedip gitu. Mungkin karena korslet.


"Mimu tahu gak, konon nih, ya, kalau lampu berkedip begitu ... itu tandanya ...." Dia berkata dengan nada yang menakuti, "Tandanya ada makhluk ...." Cepat aku berlari dan naik ke atas ranjang. Dia tersenyum penuh kemenangan. Kupret! Untung sayang.

__ADS_1


*****


Saat hari sudah pagi, dia tak membiarkanku beranjak dari atas ranjang. Posisiku terkunci di dalam pelukannya. Aku tak bisa berkutik.


"Aku mau bangun. Awas, singkirin kaki dan tanganmu!" pintaku. Dia hanya menyahuti dengan gumaman.


Kudengar ada yang membuka pintu. Aku sedikit mengangkat kepalaku sehingga mataku bisa melihat kalau itu suster yang tengah termangu di ambang pintu. Suster itu seperti maju malu, dan mundur malu.


"Ada suster," lirihku.


"Ya, emangnya kenapa?" sahutnya santai.


"Malu. Lepasin, gak?!"


"Hmmmh."


"Khem! Selamat pagi! Maaf, saya ... cuma mau ...." Suster menghentikan ucapannya. Mungkin merasa kikuk.


"Iya, Sus. Kenapa?" Akhirya si Bocil melepaskan pelukannya juga. Aku cepat-cepat turun dari ranjang, merapikan rambut dan baju. Suster itu baru berani melangkah memangkas jarak. Mendekat.


"Maaf, ya, Sus. Istri saya ini memang suka gitu. Dia itu paling gak bisa jauh dari saya. Maunya nempeeeel terus. Maklum lah ya, secara kan, dia itu bucin banget sama saya," cerocosnya. Aku ternganga. Dia pinter banget memutar balikkan fakta. Awas aja kamu, ya, Cil! Suster tersenyum.


"Saya bisa mengerti. Pasti pengantin baru, ya?" tebak suster.


"Ya, memang masih terbilang baru, Sus," jelasnya.


"Oya, ada perlu apa ya, Sus?" selaku sebelum si Bocil semakin ngelantur.


"Saya cuma mau periksa infusnya sama mau menginfokan aja, kalau sebentar lagi akan datang petugas kebersihan yang akan membersihkan ruangan ini. Jadi, selain pasien dimohon keluar sebentar selama proses pembersihan ruangan."


"Oh, siap, Sus."


"Eh, main siap-siap aja lagi. Saya juga mau ikut keluar kamar. Males di sini sendirian," protesnya.


"Kok sendirian? Kan, nanti bakal ada petugas kebersihan datang," sahutku. Suster terkekeh.


"Gak mau. Maunya sama kamu," balas si Bocil.


"Tuh, kan, Sus, sekarang Suster tahu kan, siapa yang gak bisa jauh dan maunya nempel terus?" ujarku. Bocil nyengir. Suster tersenyum.


"Aduh, saya gak ikutan deh! Saya permisi, gak mau jadi obat nyamuk," pungkas suster lantas pergi.


*****


Setelah dua hari dua malam di rumah sakit. Akhirnya bocil sudah  masanya diperbolehkan pulang. Bocil sudah tak lagi sesak napasnya. Tinggal pemulihan lukanya saja.


"Kamu duduk dulu di situ," kataku menyuruhnya duduk di kursi teras. Aku hendak membuka kunci pintu.


"Aku udah kuat berdiri. Bahkan udah kuat eng ...." Dia menghentikan kalimatnya saat aku mendelik tajam ke arahnya.


"Orang mau ngomong kuat angkat galon, yeee!" lanjutnya, "Dikira apa hayooo?" godanya sambil nunjuk wajah ini. Aku mengulum bibir menahan senyum. Ck!


"Auk ah!"


"Apa? Uh ah?" sahutnya.  Aku mendengkus kesal. Dia terbahak, dan lanjut menjawil dagu ini.

__ADS_1


Aku dan bocil urung masuk ke dalam rumah saat ada suara mobil berhenti di depan pagar sana. Sebuah mobil pajero warna silver parkir di depan sana. Tak lama keluar pengendaranya. Seorang wanita muda super modis dan cantik.


"Maaf, permisi!" ujar wanita itu lembut sambil mengangguk ramah. Senyum manis mengiringi. Siapa lagi itu? Fans-nya si Bocil lagi? Ck!


__ADS_2