
"Kalian mau ke mana? Kenapa bawa-bawa koper segala?" Wanita itu bertanya dengan nada lembut. Ini aneh. Tidak seperti saat hanya di depanku. Ketus dan judes. Apa ini cara baru dia untuk meluluhkan hati si Bocil?
"Eh, itu Ali sudah datang. Yuk!" ajak si Bocil dan langsung menarik lenganku. Mengabaikan ibunya yang masih berdiri mematung di teras. Wajah Ibu menyiratkan kekesalan, tapi ia hanya diam.
"Itu ada tamu di rumah lo, Daf? Apa gak sebaiknya elo ...."
"Ah, udah jalan aja! Gak penting! Cuma orang nawarin asuransi, kok," sela si Bocil. Mataku melotot tak percaya dengan apa yang baru saja suamiku katakan. Gila aja, ibunya dikatain kang asuransi. Parah banget ini anak.
Miku mendorong Ali masuk mobil. Kemudian menyuruhku cepat masuk. Ali duduk di sebelah sopir. Sedang si Bocil duduk di jok belakang, bersisian denganku.
"Udah, jalan, Pak!" titah Miku. Aku menabok bahunya lirih.
"Kok malah jadi elo yang nyuruh-nyuruh sopir gua, sih?" protes Ali.
"Haha, sorry. Kelepasan," kilah suamiku. Aku meliriknya tajam.
"Gak sopan!" sentakku, dia nyengir. Ali geleng-geleng kepala, kemudian menyuruh sopirnya jalan.
Aku nengok ke belakang. Ibu berdiri di sana melihat mobil ini yang semakin menjauh darinya. "Kamu yakin, itu ... Ibu ...."
"Udah. Biarin aja!" selanya.
*****
Perjalanan darat menggunakan mobil memakan waktu hingga dua jam-an. Kini Ali menggiring kami menaiki sebuah kapal pesiar. Mataku memonitor ke segala penjuru kapal yang tampak mewah dan dilengkapi berbagai fasilitas.
"Kalian boleh duduk di sini, atau kalau mau istirahat bisa ke sana!" Ali menunjuk sebuah pintu, "Di balik pintu itu ada kamar," lanjutnya.
Aku tersentak saat Miku langsung menggenggam tangan ini. Kemudian mengangguk-angguk, dan menunjuk arah kamar dengan gerakan wajahnya. Matanya berbinar, antusias banget ngajak ke kamar. Ali mesam-mesem sambil geleng-geleng.
"Dasar, pengantin baru! Gak bisa liat kamar nganggur emang, ya!" cibir Ali.
"Sirik aja lu!" sentak si Bocil. Lanjut menarik lengan ini. Aku menggeleng.
__ADS_1
"Enggak usaaah. Udah, di sini aja. Aku mau duduk di sini aja," tolakku lanjut nyengir. Bocil manyun pasrah. Ali berterima kasih padaku.
"Terima kasih untuk apa?" tanyaku tak mengerti.
"Karena Kakak udah berperikejomloan," sahutnya. Aku mengulum bibir menahan tawa, "Gak kayak dia!" lanjutnya nunjuk si Bocil.
"Dih, nyalahin gua. Makanya nikaaah!" Bocil tak mau disalahkan.
"Eh, lu kata nikah itu semudah ngeludah apa?!" sungut Ali.
"Lah, nyatanya gua mudah-mudah aja! Jomlo, terus tiba-tiba nikah. Weheee, keren kan, gua!" ujar si Bocil dengan bangga.
"Yee, nasib orang beda-beda, congek!" Ali mulai kesal. Detik kemudian pamit ke pantri mau pesen kopi katanya.
"Sekalian ya, buat gua sama bini gua!" teriak Miku gayanya sok nge-bos.
"Vangke lu! Udah nebeng, lagak lu malah lebih dari bos!" dumel Ali. Bocil malah pasang muka ngeselin. Dengan kaki di silangkan ke paha, satu tangannya merangkul bahu ini.
"Untung lu sohib gua, kalo kagak udah gua ceburin ke laut biar dimakan cumi!" Ali lanjut ngomel sambil berlalu dan menghilang di belokan koridor.
"Wiiih, keren juga ya, dia diangkat anak oleh orang sekaya ini?"
"Iya, dia beruntung," timpalnya lesu.
"Kenapa? Kamu iri sama nasibnya Ali?"
"Iri? Sorry layau! Dia mungkin saja bergelimang harta, tapi jomlo. Mending aku udah punya bini, cantik lagi," jawabnya, balik tengil lagi. Aku mengulum bibir menahan senyum, hati ini jadi kayak pinjaman online, berbunga-bunga. Eh!
"Ya, terus ngapain tadi kayak lesu gitu?"
"Cuma inget aja sama perpisahan kami dulu yang dipenuhi dengan derai air mata. Pas dia mau ikut orang kaya ini."
"Oh."
__ADS_1
Ali datang membawa nampan berisi tiga cangkir kopi. Dihidangkan ke hadapan kami, dan mempersilakan minum dengan nada ketus.
"Etdah, lu sebenernya ikhlas kagak sih, menjamu kita?" protes si Bocil.
"Ikhlaaas," jawab Ali. Kali ini dengan nada lembut diiringi senyum.
"Nah, gitu dong. Kan enak liatnya. Nikmatin kopinya juga jadi enak," sahut Miku. Lanjut meraih cangkir kopi dan menyeruputnya. Lalu merintih kepanasan. Ali nyukurin. Aku nasehatin dia supaya lebih bersabar sedikit. Lagian kopi masih ngebul diseruput.
Usai ngopi dan ngemil, kami diajak oleh Ali untuk jalan-jalan menyusuri setiap penjuru kapalnya. Ada bioskop mininya, kolam renang, tempat olahraga atau gym. Serta beberapa fasilitas lain lagi.
"Orangtuamu, punya jet pribadi juga?" tanyaku penasaran.
"Kalau jet, belum punya. Ini beli kapal karena emang butuh kan, buat kalau pulang pergi ke pulau." Aku mengangguki penjelasan Ali.
"Oya, berapa lama lagi nih, perjalanan via lautnya?" Kali ini bocil yang bertanya.
"Eum ...." Ali mengamati jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "Kisaran 5 atau 6 jam-an lagi lah."
Bocil mengangguk-angguk. Beberapa saat kemudian dia mengeluh pusing dan mual. Lantas mengajakku ke kamar. Aku meliriknya penuh selidik. Pasti cuma modus, nih. Hmmmh, ketebak!
"Seriusan aku pusing dan mual ini. Yuk, aku mau rebahan di kamar!" rengek si Bocil. Dia pasang wajah memprihatinkan.
"Elo mabok laut?" tanya Ali.
Bocil mengangguk. "Keknya gitu," jawabnya kurang meyakinkan.
"Ya udah, kalian istirahat aja di kamar. Toh, masih lama juga perjalanannya!" titah Ali. Aku tersenyum canggung. Bocil langsung menarik lengan ini menuju kamar. Sampai di kamar, dia langsung menutup pintu dan menguncinya.
"E-eh, ngapain pake dikunci segala, sih?" protesku.
"Sssth!" desisnya sambil menempelkan telunjuk di bibirnya. Mataku membelalak saat tiba-tiba dia buka baju. Tampaklah roti sobek pada perutnya. Seksi. Aku terkesiap saat dia menjentikkan jari di depan wajah ini.
"Malah bengong!" sentaknya, "Ayo!" ajaknya kemudian.
__ADS_1
"A-ayo a-apa?" Mataku membulat saat dia mendorongku dan mengunci posisiku di tembok. Jantung ini berdegup tak beraturan saat dia mendekatkan wajahnya perlahan. Mataku terpejam merasa ngeri. Apakah ... dia akan melancarkan serangan?