
Aku terdiam menatap dua orang yang berdiri bersisian di hadapan. Dada ini rasanya panas dan nyesek. Aku tak punya energi lagi untuk mengomel.
"Ini ...." Aku berbalik dan langsung pergi ke kamar tak mau mendengarkan penjelasan darinya.
Di dalam kamar, aku duduk di tepi kasur, kuhela napas panjang berulang kali. Mecoba meredam amarah yang membuncah. Aku gak mau sampai terjadi keributan di tengah malam begini.
Tak berselang lama lelakiku itu datang dan ikut duduk bersisian. Melihatku hanya diam membisu, dia sepertinya ragu akan memulai obrolan. Kudengar beberapa kali dia menghela napas panjang.
"Aku ... minta maaf ya, kalau udah ...."
"Maaf kamu bilang?!" Aku mendelik ke arahnya, amarah yang kucoba tahan akhirnya meledak juga.
"Kamu sadar gak, sih? Malam ini kamu udah melakukan banyak banget kesalahan! Pertama, kamu udah pulang telat. Terus udah gitu dengan santainya bawa cewek ke rumah. Siapa lagi dia?!"
"Aku minta maaf untuk itu. Dia ...."
"Ada hubungan apa kamu sama dia?"
"Dia ...."
"Mantan? Atau ... gebetan yang kisahnya belum usai kayak si Pare atau siapa lagi itu. Hah?!"
"Eum, dia ...."
"Dia siapa? Ayo jelaskan!"
"Ya, makanya diem dulu biar aku jelasin. Gimana mau aku jelasin kalau kamunya nyela terus," ujarnya lembut.
Aku berdiri dan melipat tangan di dada di hadapannya. "Oh, jadi maksud kamu, aku itu cerewet, gitu? Iya?!"
"Gak gitu. Gak ada yang bilang kamu cerewet ...."
"Argh! Udah deh, aku gak mau denger penjelasan apa pun dari kamu." Cepat aku berbaring dan meringkuk di balik selimut.
"Terserah, kamu mau dengerin apa enggak, tapi yang jelas aku mau cerita. Cewek tadi itu, dia anaknya donatur tetap di Panti. Dulu dia sering ikut orang tuanya ke Panti. Dari sanalah kita kenal. Tadi pas aku pulang dari pesta, kebetulan ketemu dia di jalan."
Dia berhenti bicara sejenak. Aku masih diam-diam menyimak.
"Dia lagi ada masalah sama orang tuanya ...."
"Kalau dia ada masalah sama orang tuanya, kenapa gak disuruh pulang buat nyelesaiin masalahnya? Kenapa malah dibawa ke sini? Memangnya kamu pikir rumah kita ini dinas sosial?!"
"Udah aku suruh pulang, tapi dianya gak mau. Katanya dia butuh waktu untuk nenangin diri."
__ADS_1
"Ya, tapi kan, gak harus di sini! Bisa kan, cari penginapan di luaran sana! Di hotel kek, atau di apartemen. Dia pastinya anak orang kaya, kan? Harusnya mampu kalau nginep di tempat seperti itu!"
"Masalahnya dia gak bawa uang sepeser pun. Aku juga gak ada uang buat bayarin sewa penginapan untuk dia."
"Emangnya dia gak punya temen, saudara atau kenalan lain selain kamu? Hah?!"
"Ada, tapi tadi dia udah nyoba hubungi, cuma temen deketnya lagi di luar kota."
"Aduh, udah deh, aku gak mau denger lagi. Pusing, capek, mau tidur!"
"Jadi, gimana? Dia boleh kan, nginep di sini? Cuma untuk malam ini aja, kok. Besok pagi dia bakal cabut."
"Terserah!"
Dia tidak lagi berbicara. Juga tak keluar kamar, langsung tiduran di sebelah. Kutepis tangannya saat menyentuh kepala ini.
"Selamat bobok. Semoga mimpi indah," ucapnya. Aku masa bodoh.
****
Pagi hari begitu cerah, tapi tidak dengan suasana hatiku. Gadis itu masih stay. Saat aku keluar dari kamar, langsung mendapati pemandangan suamiku tengah berbincang dari hati ke hati dengan gadis itu.
Kudengar lelakiku sedang membujuk gadis berambut sebahu itu agar pulang. Aku masa bodoh, langsung pergi ke kamar mandi. Mau memasak, ternyata sudah ada masakan. Pekerjaan rumah lainnya juga sudah beres.
"Mau ngapain?" tanya si Bocil yang tiba-tiba sudah berdiri di belakangku.
"Apaan, sih?" sungutku.
"Mau buat kopi, kan? Gak perlu, tuh, udah aku bikinin," katanya sambil membalik badan ini agar menghadap meja makan. Di samping tudung saji sudah ada secangkir kopi susu kesukaanku.
Pasti dia melakukan itu semua supaya aku berhenti merajuk. Oh, tidak semudah itu. Kamu harus berjuang lebih keras lagi untuk meredakan amarahku. Tidak cukup hanya dengan sogokan secangkir kopi.
"Aku juga sudah masak buat kita semua. Udah nyapu sama ngepel juga. Jadi, istriku sayang tinggal duduk manis, ngopi terus sarapan. Abis itu mandi, dan bersiap ke kantor," jelasnya. Aku bergeming.
"Itu kopinya kamu minum aja! Aku bisa buat sendiri!"
"Eh, jangan dong. Aku udah buat juga tadi. Kalau itu gak Mimu minum nanti mubasir. Sayang, loh." Dia menarik kursi, menggeser tubuh ini lalu menekan kedua sisi bahu ini agar duduk.
Gadis itu mendekat, memperkenalkan diri sebagai Alya. Kemudian meminta maaf, dan mengucapkan 'terima kasih' karena sudah diizinkan menginap. Lalu pamit hendak pergi.
"Tunggu!" teriakku saat gadis itu nyelonong mau pergi. Sedang bocil hanya diam melipat tangan di belakang kursiku.
"I-iya, kenapa lagi, Kak?" Alya tergagap.
__ADS_1
"Sebelum pergi sebaiknya sarapan dulu. Doyan kan, sama masakan rumahan alakadarnya begini?" tanyaku sambil membuka tudung saji. Rupanya bocil masak tumis kacang panjang dan telur dadar.
"Eum ...." Alya tampak kikuk.
"Udah, duduk dulu sarapan!" Dafa menarik kursi dan mempersilakan Alya duduk.
"Terima kasih," balas Alya.
Bocil masih saja berusaha merayuku dengan cara mengambilkan nasi lengkap dengan lauk dan sayurnya. Tidak hanya itu dia juga hendak menyuapiku. Alya hanya diam menikmati sarapannya.
"Aku bisa sendiri!" tegasku saat bocil terus memaksa menyuapi.
Ternyata masakan bocil enak juga. Meski hanya tumis kacang panjang dan telur dadar, tapi rasanya klop di lidah. Alya juga mengakui kelezatan masakannya.
"Itu tadi liat tutorialnya di internet," lirih suamiku. Aku terus mengunyah dengan malas.
"Udah, biar aku aja yang cuci piringnya. Mimu siap-siap aja, ya! Sebentar lagi kita berangkat ke kantor." Dia mengambil alih piring kotor di tanganku, dan membawanya ke wastafel lalu mencucinya. Aku pergi ke kamar bersiap. Tak lama dia juga menyusul ke kamar bersiap.
"Yuk, berangkat!" ajaknya.
"Kamu anter aja Alya-mu itu. Aku sudah pesan ojek online!" ketusku.
"Dia sudah pulang. Tadi aku pesankan ojek online," jelasnya. Aku tak peduli, dan tetap naik ojek online. Dia membuntuti di belakang untuk memastikan aku baik-baik saja katanya. Saat aku menoleh ke belakang, dia mengedikkan alis dan tersenyum. Cepat, kualihkan pandangan ke arah lain.
****
Di kantor, saat aku sedang mengurut kening yang terasa pening. Tiba-tiba ada sepasang tangan yang tanpa permisi memijat kening ini. Otomatis aku menoleh ke belakang memastikan itu tangan siapa. Siapa lagi kalau bukan si Office Boy ganteng, suamiku. Dia masih saja berusaha membujuk, mengedikkan alis, mengulas senyum.
"Udah deh, sana urus saja pekerjaanmu! Gak usah rusuh!" sentakku.
"Udah dong, marahnya. Duniaku rasanya runtuh kalau kamu jutek dan cuek begini," rengeknya. Lebay! Masih sambil memijat pundak ini.
"Ck! Udah sana balik kerja! Aku juga mau kerja. Masih banyak kerjaanku!" Kudorong tubuhnya agar menjauh. Rasanya masih kesal, tapi gak tega juga melihat ekspresi sedihnya saat aku usir.
****
Menjelang siang, fokusku terpecah saat para staf mulai kasak-kusuk. Aku berdiri memastikan situasi sekeliling. Sebagian orang berlarian sambil menyebut area tangga darurat. Tak lama Ulfa datang dari arah pantri membawa secangkir kopi.
"Fa, ada apaan, sih?" tanyaku tak kuasa menahan rasa penasaran.
"Katanya ada office boy jatuh pas bersihin area tangga darurat," jelas Ulfa sambil menaruh cangkir kopinya ke atas meja kerjanya. Dia lanjut membungkam mulutnya yang menganga, mungkin dia mendadak ingat kalau Dafa juga kerja di sini sebagai office boy. Lututku mulai lemas mendengar kabar itu. Semoga bukan bocil.
Cepat aku berlari menuju tangga darurat. Kutengok Ulfa mengekor. Sampai sana orang yang jatuh sudah digotong ke ambulans menurut keterangan salah satu staf. Tersisa ceceran darah yang lumayan banyak. Tampaknya lumayan serius cidera yang dialami.
__ADS_1
Kurasakan Ulfa memegangi kedua sisi bahu ini. Mungkin dia menyadari kepanikan yang aku rasakan. Tak lama datang seorang office boy lain hendak membersihkan ceceran darah itu, dan dia mengucapkan 'turut prihatin' padaku.
"Jadi, itu artinya yang jatuh tadi, Dafa?!" seruku tak percaya. Office boy itu mengangguk membenarkan. Cepat aku berlari ke tempat ambulans terparkir sambil terus mengomel karena kesal kenapa tak ada yang memberitahuku. Air mata terus mengalir mengiringi rasa khawatir.