SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Bebas


__ADS_3

"SERAAANG!!!" teriak beberapa dari orang bermotor itu. Mereka pun lantas turun dan berlarian memasuki rumah ini dari jendela juga dari pintu.


Ani, Lita, Nita dan Fifi ikut melihat dari kaca jendela. Aku merasa ngeri dengan keributan yang terjadi di bawah sana. Terdengar sangat gaduh sekali. Mulai dari suara barang pecah, dan juga teriakan dari orang-orang yang adu jotos.


"Mereka siapa lagi?" lirih Ani. Aku mengedikkan bahu tanda tak tahu. Keempat gadis kembali duduk bersisian di tepi kasur. Raut wajah mereka diselimuti ketakutan dan kecemasan. Aku mendekat dan turut duduk di antara mereka berempat. Menenangkan dan menguatkan, meski sebenarnya aku sendiri juga sama merasa khawatir dan takut.


Cukup lama kegaduhan di bawah sana. Perlahan mulai sepi. Entah pihak mana yang kalah atau menang. Anggota geng motor tadi atau para komplotan sindikat penculikan. Aku tak tahu. Hanya suaranya saja yang terdengar.


"Buka pintunya!" teriak seseorang dari arah luar kamar ini. Mataku seketika membulat. Keempat gadis pun merangsek, bergelayut di lengan kiri dan lengan kananku. Mereka merengek ketakutan. Dipikir aku tidak takut? Aku pun juga takut.


"Cepat buka!" Lagi pria di luar sana berteriak. Entah berteriak kepada kami atau mereka sedang menggertak seseorang di luar sana. Aku memilih diam, sambil menahan jantung yang berdebar-debar tak keruan.


Tak lama knop pintu bergerak-gerak. Aku memejamkan mata merasa ngeri. Mundur perlahan diikuti keempat gadis. Sampai akhirnya kami berlima terpojok di sudut kamar. Aku tersentak saat pintu akhirnya terbuka. Mataku memonitor daun pintu yang semakin lebar terbuka, menunggu siapa yang ada di baliknya.


Ternyata seorang pria berkepala plontos tengah ditahan oleh beberapa geng motor tadi. Wajahnya babak belur dan kondisinya sangat mengenaskan. Keempat gadis yang mengapitku semakin ketakutan. Mereka kian merangsek menghimpit badanku.


"Kasih tahu Boss, kalau target sudah ditemukan!" titah salah satu dari cowok yang berjaket senada. Cowok yang diperintah mengangguk patuh lalu menelepon seseorang. Memberitahukan letak keberadaan kami. Tak lama datanglah seorang pria dengan langkah tergesa.


Aku masih berdiri di sini, membatu. Menatap pria itu dari kejauhan tak percaya. Pun dengan pria tersebut. Dia juga tertegun beberapa saat. Sebelum akhirnya mendekat dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mimu! Mimu gak apa-apa, kan? Gak ada yang luka, kan? Gak ada yang nyakitin kamu kan, selama di sini?" cerocosnya. Aku masih tertegun tak percaya. Antara percaya dan tidak dengan apa yang aku lihat sekarang. Masih takut. Takut kalau ini hanya mimpi lagi atau hanya sebatas haluku semata.


"Kakak kenal sama cowok ini?" tanya Nita. Aku terkesiap. Menatap lekat pria yang kini sudah membingkai wajahku dan menatapku penuh kecemasan.


"I-ini beneran kamu?" tanyaku masih tak percaya. Dia mengangguk mengiyakan. Aku coba cubit dia sekuat tenaga di bagian perutnya. Dia berteriak sekuat tenaga juga. Kini aku yakin, bahwa ini bukan mimpi atau hayalanku semata. Dia beneran datang menyelamatkan aku.


"Kok malah dicubit, sih?" protesnya tak terima, "Udah ditolongin, bukannya kasih sambutan hangat, kasih kecupan atau ...." Cepat aku menghambur ke pelukannya. Tangisku pecah. Dia mengusap puncak kepala ini lembut.


"Tak pikir kamu gak bakalan nemuin aku?" lirihku parau. Lantas menarik diri dari rengkuhannya. Dia menyelipkan rambutku yang berantakan ke belakang telinga. Mengusap air mata yang membasahi pipi. Lalu tersenyum. Wajahnya bonyok lagi.


"Aku pasti akan selalu menemukanmu. Tenang aja!" balasnya penuh percaya diri.


"Iya. Asal hp Kakak selalu aktif," sahut salah satu cowok yang sedang memegangi pria plontos supaya gak kabur.


Aku pun menatap cowok itu lalu beralih menatap si Bocil yang nyengir. Aku mengedikkan alis meminta kejelasan darinya. Dia mengalihkan pembicaraan ke topik lain.


"Jelasin dulu apa maksud temen kamu itu? Mereka semua temen kamu?" cecarku.

__ADS_1


Dia mengangguk. "Iya. Mereka semua temenku."


"Terus apa maksudnya tadi? Gimana caranya kamu bisa nemuin aku di sini secepat ini?" selidikku. Dia nyengir lagi. Menggaruk tengkuknya yang aku yakini sebenarnya tidak gatal. Dia tampak ragu hendak menjelaskan.


"Eum, sebenarnya ...."


"Sebenarnya apa?!" selaku tak sabar saat dia berhenti bicara.


"Aku ... pasang GPS di hp kamu," jelasnya, lanjut mengacungkan jari membentuk huruf V.


"Oh, pantesan selama ini kamu terkesan selalu tahu aku berada di mana. Jadi gitu, ya?" Aku berkacak pinggang.


"Semua aku lakukan demi kebaikan, Sayang."


"Kebaikan apaaa?!"


"Contohnya seperti yang terjadi sekarang ...."


Aku urung mengomel panjang lebar. Tak lama datang lagi satu cowok yang membawa tasku, juga tasnya keempat gadis korban penculikan tadi.


Aku menggeleng. "Aku gak kenal sama mereka semua. Aku cuma kenal sama yang satu ini." Kurangkul bahu si Bocil. Lantas mengenalkannya kepada keempat gadis di hadapanku.


"Seriusan, ini ... suami ... Kakak?" tanya Lita tak percaya. Aku dan si Bocil saling lirik. Kemudian mengangguk, tapi Bocil malah menggeleng. Baru akhirnya mengangguk dan mengakui identitasnya setelah aku menjewer telinganya.


"Kita langsung ke kantor polisi saja, ya! Kandangin para penculik ini. Sebagian bonceng penculik, sebagian bonceng korban supaya nanti sekalian buat laporan dan kasih keterangan. Gua bonceng bini gua!" tegas si Bocil. Semua anak motor itu patuh.


Lebih dari 50 motor sebagian knalpotnya yang bising disetting terlebih dahulu. Supaya gak bising banget, pasalnya mau ke kantor polisi. Ada yang protes karena gak bawa perlengkapan surat-surat motor.


"Udah, tenang aja. Polisi nanti bakal fokus menangani kasus penculikan ini. Mereka gak bakal sempat ngurusin motor kita. Percaya sama gua!" kata bocil dengan keyakinan penuh.


"Gua pake motor lo! Elo boncengan sama si Eko!" titah si Bocil, nge-begal motor temennya. Temennya nurut aja gak protes sama sekali.


Saat kami semua memasuki area kantor polisi, para polisi itu kalang kabut, mengambil persenjataan mereka. Lalu bersiaga seolah siap menerima serangan. Mungkin mereka pikir kami datang mau menyerang. Bocil menghentikan motornya, lalu dia mendekati salah satu polisi dan mengatakan tujuan kedatangan kami. Barulah para polisi itu menurunkan senjatanya yang semula diacungkan kemari.


******


Semua proses yang harus kami jalani di kantor polisi telah usai. Para sindikat penculikan itu telah ditahan, dan masih terus didalami kasusnya. Sementara keempat gadis memilih tidak memberitahu orangtuanya dulu, takut menimbulkan kepanikan katanya. Tapi nanti mereka bakal kasih tahu kejadian ini perlahan. Untungnya polisi mau menghargai keputusan para gadis itu.

__ADS_1


Keluar dari kantor polisi, bocil mengajak semuanya mencari kafe atau restoran yang masih buka guna mencari makan dan minum. Lagi, semua nurut. Kami pun berhenti di depan sebuah kafe yang lumayan besar dan luas. Cukup buat menampung kita semua tentunya.


Lita, Ani, Nita dan Fifi diajak makan dulu sebelum mereka diantarkan pulang ke rumah masing-masing. Saat semua memarkirkan motornya, para pegawai kafe kalang-kabut lagi. Mereka buru-buru menutup kafenya. Mungkin dikira mau diserang.


Lagi, lelakiku cepat-cepat berlari dan menahan pintu kafe yang siap ditutup oleh salah satu pegawainya. Bocil pun menjelaskan tujuan kedatangan kami semua. Aku menyusulnya dan turut menjelaskan. Tak lama keempat gadis mendekat juga dan turut menjelaskan. Barulah para pegawai itu menghela napas lega. Ada juga yang mengucap syukur.


"Kita ke sini mau makan, bukan mau ngerusuh, kok. Kita memang geng motor, tapi kita bukan berandalan." Sekali lagi si Bocil menjelaskan. Semua temannya mengiyakan. Aku mengulum bibir manahan tawa.


"Iya, baiklah, Mas. Selamat datang di kafe kami. Silakan masuk dan pesan makanannya," ujar pegawai yang tadi hendak menutup pintu ramah. Semua pun masuk, nyaris memenuhi setiap ruangan kafe.


Aku duduk bersama keempat gadis, yang kini menjadi teman. Eum, lebih tepatnya aku merasa memiliki adik sekarang. Mereka juga seolah tak mau jauh dariku. Sedang si Bocil kubiarkan dia bercengkerama dengan teman-temannya. Aku rasa sudah lumayan lama juga mungkin dia tidak kumpul begini dengan anggota gengnya ini.


"Ingat ya, bayar sendiri-sendiri!" teriak si Bocil.


"Yaelah, Boss. Biasanya juga selalu bayar sendiri. Emang situ pernah bayarin kita?" sahut salah satu dari mereka.


"Kagak pernah, sih," jawab si Bocil lanjut cengengesan. Semua pun riuh ngecengin si Bocil.


"Kakak keren," celetuk Nita sambil menepuk bahuku.


"Keren apanya?" tanyaku tak paham.


"Keren, bisa menikah dengan cowok ganteng, muda, ketua geng motor, tapi baik seperti dia."


"Bener, tuh, aku aja yang ngehalu pengen dapet suami seperti dia gak dapet-dapet." Ani menimbrung. Lita dan Fifi juga mengangguk.


"Siapa tahu nanti kalian berjodoh sama salah satu dari mereka," lirihku. Mereka auto menunduk tersipu.


"Mau dong, Kak, dicomblangin dengan salah satu di antara mereka," lirih Lita.


"Tenang, kalau jodoh tak kan ke mana," sahutku.


Di tengah khidmatnya menikmati makanan. Aku menoleh ke arah bocil berada. Tanpa dinyana dia pun tengah menoleh kemari. Dia mengedipkan sebelah matanya. Aku mengulum bibir menahan senyum. Lantas lanjut fokus pada makanan masing-masing.


"Hai, kamu Safa, kan?" Mulanya aku tak begitu menghiraukan saat ada suara sepatu melangkah mendekat kemari. Tapi, ketika pemilik kaki itu menyebut namaku, aku pun menghentikan aktivitasku lantas menoleh ke arah pria yang kini sudah berdiri di sebelah tempat dudukku. Aku mengamatinya dan berpikir keras berusaha mengingatnya.


"Kamu lupa ya, sama aku?" tebaknya. Aku masih berusaha mengingatnya. Kulirik ke arah bocil berada, mukanya terlihat masam.

__ADS_1


__ADS_2