SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Tertembak


__ADS_3

Aku tersentak oleh hendel pintu yang bergerak. Nita melirikku ketakutan. Detik kemudian pandangan kami sama-sama tertuju ke arah pintu menunggu siapa pembukanya. Nita meraih tanganku, dan menggenggamnya erat.


"Kak, aku takut," lirihnya tertahan.


"Tenang. Oke!" Aku usap punggung tangannya. Jantung ini berdebar tak keruan menunggu siapa yang akan muncul. Genggaman tangan Nita kian erat saat pintu mulai terbuka sedikit dan daun pintunya terbuka perlahan semakin lebar. Sejurus kemudian tampaklah siapa pembukanya. Mataku membulat tak percaya. Mulut menganga lebar.


"Bociiil!" teriakku. Dia mendesis sambil menempelkan telunjuk di bibir memberiku isyarat agar jangan berisik. Cepat aku berlari mendekatinya dan menghambur ke pelukannya. Dia mulai bertanya keadaan dan kabar, juga memeriksa seluruh tubuh ini. Nita tertegun di tempatnya.


"Aman. Gak ada yang luka, kok," terangku.


"Aku gak nyangka kamu bisa nemuin keberadaanku?" imbuhku. Kutumpahkan air mata dalam dekapannya. Dia mengusap lembut puncak kepala ini, dan dikecupnya kening ini berulangkali. Lantas membingkai wajah ini dan diusapnya air mata yang membasahi pipi.


"Aku pasti akan menemukanmu," katanya penuh percaya diri sambil menatap mata ini lekat. Aku tersenyum bangga padanya. Kamu memang lelaki terhebat, Bocil. Aku lanjut memeluknya lagi.


Detik kemudian dia melepaskan pelukan dan pandangannya tertuju ke arah Nita berada. Lantas menatapku, sorot matanya seolah meminta penjelasan padaku akan siapa gadis itu. Aku pun menjelaskan semuanya.


Nita pun mendekat dan berjabat tangan, mereka berdua saling menyebutkan nama.


"Ini, suami Kak Safa?" Aku mengangguki tanya yang Nita lontarkan. Dahi Nita berkerut samar. Mungkin dia merasa aneh dengan perbedaan usia kami yang begitu kentara. Tapi, gadis itu memilih mengangguk samar dan tidak bertanya lagi.


"Kita harus secepatnya keluar dari sini!" lirih suamiku. Aku dan Nita mengangguk setuju.


"Ikuti aku, ya!" ujarnya. Lagi, aku dan Nita mengangguk. Dia mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju ke depan pintu.


"Jangan berisik!" katanya lirih sambil menoleh ke arahku dan Nita. Aku dan Nita mengangguk lagi. Dia menoleh ke sana kemari memastikan keadaan. Aku juga ikut menoleh mengamati situasi. Pun dengan Nita.


"Ayo, lewat sini!" ajaknya sambil melambai agar aku dan Nita mengekori. Kami bertiga berjalan mengendap-endap. Menyelinap ke balik tembok, lemari, meja, atau barang-barang yang kami lewati lainnya. Saat dirasa aman, kami melanjutkan langkah dengan penuh kehati-hatian.


Dengan sigap bocil menarik lenganku juga lengan si Nita untuk bersembunyi di balik rak buku saat ada seorang pria tengah berjalan ke arah kami. Aku membungkam mulutku kuat-kuat, panik. Jantung seolah siap terlontar keluar dari tempatnya.


Aku menghela napas lega saat keberadaan kami tak terdeteksi oleh pria berkepala plontos yang baru saja melintas. Bocil keluar duluan dari persembunyian, mengamati situasi dan kembali melambai memberi isyarat kepada aku dan Nita agar mengikuti langkahnya.


Cepat, kami bertiga bersembunyi di balik tembok saat sampai di sebuah ruangan yang ternyata di tempat itu beberapa pria tengah berkumpul dan sedang bermain kartu. Sialnya, aku terpisah dari suamiku dan Nita. Mereka berdua menyelinap ke sisi lain.


Aku mengintip sedikit. Bocil memberiku isyarat agar bersembunyi di belakang daun pintu. Aku pun nurut.


Tak berselang lama, pria yang berkepala plontos datang. "Tawanan kabur!" teriaknya memberitahukan kepada yang lain.


"Apa?!" sahut pria lain yang berambut gondrong. Aku bisa melihat mereka dari celah pintu. Sejurus kemudian keenam pria itu pun berpencar mencariku dan Nita pastinya.


Setelah para pria berbadan besar-besar tadi menjauh. Bocil mendekat dan menarik lenganku juga lengan Nita setengah berlari menuju jalan keluar. Karena saking gugupnya, kakiku terantuk kaki meja.

__ADS_1


"Akh!" pekikku tertahan oleh bekapanku sendiri. Bocil dan Nita pun menghentikan langkahnya. Cepat, suamiku mendekat dan memeriksa kaki. Jempolnya berdarah. Aku merintih kesakitan.


Nita malah melarikan diri terlebih dahulu. Mencari aman sendiri. Meninggalkan aku dan si Bocil. Gak ada akhlak itu bocah, sudah ditolong sekarang malah berkhianat.


"Udah biarin aja dia pergi duluan. Syukur-syukur kalau dia kepikiran buat lapor polisi," kata si Bocil.


"Kalau dia cari aman sendiri gimana?" lirihku parau antara nahan sakit di jempol kaki dan di hati.


"Ya udah, biarin aja. Tenang aja, ada aku di sini," katanya menenangkan. Dia lantas memapah diri ini dan lanjut jalan perlahan sambil terus waspada.


Sampai di ujung tangga, kami memantau situasi dulu sebelum menuruni anak-anak tangga. Jantung ini berdebar parah. Takut ketahuan oleh para algojo tadi.


Mataku membulat saat mendengar ada yang berdehem. Kami berdua saling pandang dan terpaku sejenak. Sejurus kemudian tanpa ba-bi-bu dia membopong tubuhku dalam sekali sentak dan dibawa lari bersembunyi ke sebuah ruangan.


Sampai di sebuah ruangan yang lebih mirip seperti gudang, aku diturunkan. Dia terengah-engah. Kuusap keringat yang membanjiri keningnya.


"Ternyata kamu kuat juga," pujiku.


"Dikuat-kuatin," sahutnya di sela napasnya yang terengah.


"Emang aku seberat itu apa?"


"Berat sih, enggak," jawabnya, "Cuma agak berbobot," lanjutnya lirih.


Dia menggaruk tengkuk. Mungkin merasa bagai makan buah simalakama. Jawab jujur hancur, bohong lebur.


"Aku tetep sayang dan cinta, kok."


"Pertanyaannya apa, jawabnya apa?!" ketusku.


"Udah gak usah bahas berat badan dulu bisa, kan? Ini lagi situasi kayak gini juga," sentaknya.


Dia membekap mulutku saat terdengar langkah sepatu di luar. Aku pun urung lanjut mengomel. Kami lantas bersembunyi berjongkok di belakang lemari rusak. Kudengar pintunya dibuka dari luar.


Mataku membulat saat di dinding samping kami ada cicak. Cepat bocil membekap mulutku sebelum aku berteriak histeris. Detik kemudian wajah ini dibenamkan ke dalam dekapannya. Mataku terpejam di sana sambil menahan rasa ngeri.


Aku mendengar langkah kaki semakin mendekati lemari ini. Semakin erat aku memeluk si Bocil. Entah apa yang akan terjadi pada kami berdua jika sampai tertangkap.


"Gimana, ada enggak di situ?" Terdengar pria lain bertanya dari arah luar pintu.


"Kagak." Langkah kaki mereka terdengar menjauh meninggalkan ruangan ini. Cepat aku keluar dari persembunyian sambil menebah seluruh tubuh ini. Geli sama cicak tadi. Bocil turut keluar dari persembunyian.

__ADS_1


"Aman, gak ada cicak yang nempel, kok."


"Iya, tapi geliii," kataku sambil bergidik.


Dia menarik tubuh ini kembali ke dalam dekapannya. Tatapan kami bertemu dalam jarak yang sangat dekat. Aku bisa merasakan embus napasnya yang hangat menerpa area wajah ini. Kutempelkan telunjuk pada bibirnya saat dia semakin mendekatkan wajahnya.


"Mau apa?!" bentakku, "Lagi situasi kayak gini juga?"


"Dikit ajaa," rengeknya. Aku menggeleng menolak. Berusaha melepaskan diri dari dalam dekapannya, tapi dia malah semakin mengeratkan pelukan. Sampai aku merasa sesak karena ulahnya.


"Gak usah aneh-aneh, deh! Lepasin! Kita harus secepatnya pergi dari sini!" Dia baru melepaskan pelukannya setelah aku tatap tajam.


"Iya, deh, aku lepasin," ujarnya lesu.


Dia membungkam mulutnya yang menganga, sedang telunjuknya menunjuk ke arah pundakku. Matanya melotot seolah merasa ngeri.


"A-ada apa?" Aku tergagap.


"Ya ampun, cic ...." Sebelum dia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah kembali ke dalam pelukannya.


"Singkiriiin," rengekku parau. Dia terkekeh. Sadar aku telah dikerjai, cepat aku menjauhkan diri dan mencubit pinggangnya. Dia merintih kesakitan dan minta ampun.


"Makanya kalau iseng itu tahu tempat, dong!" Aku memberengut sebal. Dia membingkai wajah ini dengan ekspresi gemas, dan menariknya mendekat. Beberapa kecupan hangat mendarat dengan sukses di kening, kedua pipi, dan bibir ini.


"Dah, sekarang energiku seolah ter-charger," katanya, "Yuk, lanjut jalan!" Dia menyelipkan jemarinya di sela jariku. Dikecupnya punggung tanganku sebanyak dua kali. Aku mendengkus kesal. Gak ngerti lagi sama jalan pikirannya.


Di ambang pintu. Kami menoleh ke kanan dan kiri memastikan situasi. Lantas kembali ke arah tangga.


"Woi!" teriak seseorang di belakang kami. Aku dan si Bocil terdiam di tempat, urung menuruni anak tangga. Kemudian berbalik perlahan.


Seorang pria berkulit gelap berambut keriting agak kribo berdiri beberapa meter di hadapan kami berdua. Di tangannya memegang senapan laras panjang. Bocil kembali menyelipkan jarinya di sela jariku. Kurasakan genggamannya sangat erat. Aku jadi takut.


Pria di depan mengacungkan senjatanya ke arah dadaku. Kemudian beralih ke dada si Bocil. Aku menggeleng perlahan mengiba. Kaca-kaca mulai menggenangi pelupuk mata ini. Dafa terasa sesak, jantung berdebar. Sedang darah seolah berhenti mengalir.


Pria itu melangkah mendekat dan pucuk senapannya kembali diarahkan ke arahku. Keringat dingin mulai mengucur membasahi kening. Tulang kaki ini seolah menghilang. Lemas. Tenggorokan terasa kering, tapi saat akan menelan ludah terasa payah. Bagai menelan kerikil.


"Jangan sakiti istri saya. Tembak saya saja! Bebaskan istri saya!" ujar si Bocil. Aku menatapnya tak percaya. Lantas menggeleng memberinya isyarat agar jangan berbicara lagi. Namun, dia tetap nyerocos.


Pria kribo itu mengalihkan pucuk senapannya ke dada si Bocil lagi. Suara letusan terdengar memekakkan telinga. Sejurus kemudian tubuh bocil seperti tersentak, kemudian dia ambruk. Genggaman tangan kami pun terlepas. Darah segar merembes keluar dari dadanya. Aku tertegun, syok. Detik kemudian turut ambruk dan bersimpuh di sebelahnya. Tangisku pecah. Dia seperti akan bicara sesuatu, tapi tak keluar suara.


"Bociiiiil!" teriakku saat matanya tiba-tiba terpejam. Aku goyangkan kepalanya dan panggil-panggil namanya tak merespon, tak lama keluar darah segar dari mulut dan hidungnya.

__ADS_1


Aku letakkan kepalanya di pangkuan. Aku tempelkan telunjuk pada lubang hidungnya. Aku menggeleng tak percaya saat tak kurasakan lagi embus napasnya.


"BOCIIIIL, TIDAAAK!!!"


__ADS_2