SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Semanis Es Krim


__ADS_3

Sepulang kerja, aplikasi untuk memesan ojek atau taksi online eror. Angkot juga susah, setiap yang lewat sudah full penumpangnya. Kucoba jalan sambil mencari ojek atau apa pun yang bisa aku tumpangi. Sudah berjalan kisaran seratus meter lebih, tapi belum ketemu kendaraan. Menyeka keringat, duduk di halte menunggu bis barangkali ada yang lewat. Sambil menunggu, kucoba otak-atik aplikasi pemesanan taksi atau ojek online barangkali sudah bisa, tapi ternyata tetap masih eror. Ck! Sebuah motor berhenti di hadapanku. Detik kemudian pengendara motor itu mengeluarkan suara.


"Hai, Mbak cantik!" Sontak aku menatap ke pemilik suara yang terdengar tidak asing itu. Suami!


"Bocil!" Aku berdiri dan mendekatinya.


"Duileeeeh, girang amat ketemu suami. Kangen ya, seharian gak ketemu?" Lagi, gaya tengilnya membuatku mual.


"Ngapain kamu di sini? Ini kan, jauh dari tempat kerjamu?"


"Tadi banyak yang ngeluh aplikasi buat pesen ojek atau taksi online lagi eror, makanya aku ke sini, Mbak. Buat jemput istri tersayang. Pengertian kan, aku, Mbak." Dia lanjut mengedikkan alisnya.


"Ck! Dulu emakmu ngidam apa sih, cil? Kok bisa punya anak ngeselin banget begini?"


"Ya, nggak tau Mbak. Kan, aku besarnya di panti asuhan." Wajahnya langsung berubah murung. Aku merasa bersalah banget. Asli, ini kali pertama aku merasa jahat ke dia. Gak seharusnya aku singgung soal orangtuanya. Secara dia dari kecil gak pernah melihat bagaimana wajah dan di mana orangtuanya.


Kusentuh pundaknya perlahan. "Cil, maaf ya, bukan maksud aku buat ...."


"Udah, nih, pake helmnya!" selanya. Aku nurut saja, dia masih murung. Biasanya bawel nyuruh aku buat meluk dia dengan alasan pegangan yang bener, tapi kali ini dia tidak sebawel itu. Aku merasa bersalah. Kasihan juga dia.


"Cil!"


"Hmmm. Kenapa, Mbak? Ada yang ketinggalan?"


"Enggak. Eum, di taman depan sana kita berhenti, ya!"


"Mau ngapain, Mbak?"


"Udah, nurut aja!" Dia menggumam sambil mengangguk.


"Di sini, Mbak?"


"Iya, di sini. Berhenti, stop!"


"Oke." Dia pasang standart motornya, lalu nyusul turun. Bocil duduk di kursi taman yang terbuat dari besi memanjang. Melipat tangan di dada, bersandar pada sandaran kursi. Masih tersirat kesedihan di wajahnya. Seharusnya aku gak nyinggung soal orangtuanya tadi. Ugh!


Aku melambai pada pedagang es krim yang berjualan menggunakan sepeda kayuh. Setelah mendekat, aku memilih rasa kesukaanku. Es krim rasa vanila mix cokelat. Terus kesukaannya bocil apa, ya? Eum, dia kan, suka kopi. Aku pilihkan yang rasa kopi. Tak lupa kuucapkan 'terima kasih' ke pedagang usai membayar.


Aku duduk di sebelahnya, dia masih mengamati ujung sepatunya. Rasanya aneh melihat bocil jadi pendiam begini. Entah kenapa, aku merasa kehilangan sosoknya yang ngeselin itu. Kusodorkan es krim ke hadapannya.


"Apa nih?"


"Ya, menurut ngana, apa?"


"Es krim."


"Itu tau. Napa nanya?"


"Maksudnya dalam rangka apa nih, nraktir es krim segala, Mbak?"


"Gak dalam rangka apa-apa. Lagi pengen makan es krim aja."


Dia mendelik menatapku. "Mbak ngidam?! Kita kan, belum ngapa-ngapain, Mbak?!"


Tadi aku merasa aneh saat dia mendadak jadi pendiam, tapi sekarang pas sifat tengilnya udah balik, kesel juga. Tapi, aku harus sedikit sabar. Sepertinya si bocil lagi sensitif. Jangan sampai aku salah ngomong lagi dan buat dia muram durja.


"Makan!" titahku.


Dia mengamati bungkus es krim itu. "Rasa apa, nih?"


"Ini ada tulisannya, cil!" Kutunjuk tulisan rasa es krim di tangannya.


"Ya elah, Mbak. Di rumah udah sering dibikinin kopi, beli es krim rasa kopi. Gak ada rasa lain apa?"


"Bawel! Masih untung dibeliin. Tinggal makan aja rewel! Lagian aku gak tau apa rasa kesukaanmu, cil, yang aku tahu kamu suka kopi. Cuma itu!"


"Hmmh! Gini nih, punya bini gak ada perhatiannya sama sekali ke laki, sih! Makanya Mbak, jangan terlalu cuek ke suami. Kalau gak tau itu nanyak, suami sukanya apa!"


Seneng sih, rencanaku buat melipur dia berhasil, tapi ... ugh! Greget juga kalau kebawelannya juga balik. Sabar Safa! Sabar! Jangan sampek dia bersedih lagi. Eh, kenapa aku jadi ribet banget gini, ya? Biasanya juga masa bodoh!


"Emang sukanya apa?" tanyaku sambil asyik menikmati es krim.


"Suka kamu." Aku otomatis menoleh ke arahnya. Dia mengedipkan sebelah matanya. Pengen colok rasanya.


Kami lantas asyik dengan es krim masing-masing. Sesekali curi pandang meliriknya.


"E-eh, apa ini?!" seruku saat tiba-tiba dia membingkai wajahku, dan dihadapkan ke arahnya.


"Gak usah curi-curi pandang, Mbak. Kalau emang mau mandang wajah suamimu yang ganteng maksimal ini, pandang aja!"


Gigiku gemeletuk gregetan dibuatnya. "Singkirkan tanganmu, cil!"


"Gak mau!"


"Bociiiil!"

__ADS_1


"Mbak sayaaaaang."


Kucolek wajah tengilnya dengan es krim. Dia mengaduh. Tangan nakalnya pun terlepas dari wajah ini. Dia sibuk membersihkan es krim di wajahnya. Aku pura-pura asyik menikmati es krimku.


"Bociiiiil!" pekikku saat dia balas dendam mengusapkan es krim ke wajahku. Banyak banget. Aku nyesel udah berusaha balikin ketengilannya, harusnya aku tak perlu serepot ini.


Saat aku akan membalasnya lagi, dia berlari menjauh sambil menjulurkan lidahnya. Aku berlari mengejarnya yang terus menghindar. Sampai akhirnya tanpa sengaja aku menabrak seseorang. Kami sama-sama terjatuh usai bertabrakan.


Pria itu bangun lebih dulu. Bertanya apa aku baik-baik saja. Aku masih meringis kesakitan. Tulang ekorku membentur jalanan taman yang terbuat dari paving. Sakit. Tunggu dulu, kok suara pria di hadapanku gak asing, ya?


"Panji!" Gegas aku berdiri dan mundur menjauh darinya.


"Safa ... kamu?" Panji terlihat gugup.


"Mbak, Mbak gak apa-apa, 'kan? Ada yang luka gak? Ada yang sakit?" Bocil nyerocos sambil memeriksa kedua lengan, dengkul hingga kakiku. Aku masih bergeming menatap lelaki cemen di hadapan. Bocil lanjut memarahi Panji.


"Maaf, Dek, saya gak sengaja," ucap Panji pada si bocil.


"Maaf-maaf! Kalau jalan itu matanya dipake dong, Bang!" sahut si bocil nyolot.


"Safa, kamu apa kabar? Bisa kita bicara sebentar?" ujar Panji. Tentu saja aku nyengir tak percaya. Masih bisa dia berlagak pilon begitu.


"Gak ada lagi yang perlu dibicarakan!" tegasku tajam.


"Ayo, Cil, kita pulang!" ajakku sambil menarik lengan si bocil. Aku memilih mengabaikan teriakan Panji yang katanya akan menjelaskan sesuatu.


Bocil tampak kebingungan dengan sikapku yang mendadak serius. Tapi dia memilih diam menuruti semua permintaanku.


"Itu tadi siapa, Mbak?" tanyanya saat kami sudah berada di atas motor. Sudah jauh dari taman.


"Panji."


Dia langsung mengerem mendadak, tentu saja aku reflek memeluknya erat. Jantung yang semula berdebar karena amarah, kini debarannya berubah. Entahlah, rasanya aneh.


"Panji yang dulu kabur di hari pernikahanmu itu?" Aku menyahuti dengan gumaman.


"Kenapa Mbak gak bilang dari tadi. Kalau bilang kan, aku bisa kasih dia pelajaran!" Nada suaranya terdengar geram.


"Udahlah, Cil. Kita pulang aja," sahutku lemas. Mood-ku hancur, sehancur-hancurnya.


"Ya udah, iya. Kita pulang."


Bocil melajukan motornya kembali. Tidak ada obrolan di sepanjang jalan. Kami larut dalam perasaan masing-masing. Sampai akhirnya motor berhenti di depan rumah. Di teras sudah ada Ibu yang sedang duduk menunggu. Gegas aku turun menyalaminya. Disusul si Bocil usai memarkirkan motornya.


"Ibu seneng liatnya. Kalian sudah mesra ternyata." Aku dan si Bocil saling lirik kemudian kompak nyengir.


Setelah pintu terbuka, bocil mempersilakan Ibu masuk. Dia membawakan tas Ibu dan langsung dibawa masuk ke kamar. Aku menyusul sekalian menunjukkan kamar yang bakal ditiduri wanita yang telah melahirkan aku 29 tahun lalu itu.


"Jadi, nanti Ibu tidur di sini. Kalau capek rebahan aja, Bu!" titahku. Ibu melihat-melihat ke segala penjuru kamar. Lalu membuka lemari kecil yang ada di sudut ruang.


"Loh, ini kok bajunya Dafa ada di sini?" tanya Ibu.


"Eum, i-itu Bu, anu ... lemari yang di kamar satunya gak muat," dalihku.


Ibu menatapku dan si Bocil penuh selidik. "Kalian gak tidur terpisah, 'kan?"


Aku menggeleng, bocil mengangguk. Ck! Gak bisa diajak kompromi banget, sih?!


"Eum, Bu, kok Bapak gak ikut?" Aku mencoba mengalihkan perhatian Ibu.


"Kan, tadi udah Ibu bilang, bapakmu lagi ada acara di kampung saudaranya. Makanya Ibu nginep di sini, karena di rumah kesepian."


"Maaf, Bu. Aku lupa."


"Ya udah, sana kalian bersih-bersih. Abis kerja pasti capek, 'kan?"


Bocil langsung pamit mandi.


"Ya udah, kamu siapin baju ganti untuk suamimu sana!" Aku mengangguk samar.


"Biar Ibu yang masak. Di sana kan, dapurnya?"


"I-iya, Bu."


Ibu langsung ke dapur dan sibuk di sana. Aku ke kamar menunggu si bocil selesai mandi. Setelah dia selesai mandi, gantian aku yang mandi.


Usai mandi, kembali ke kamar niat hati mau menyisir rambut dan memakai deodorant. Tapi malah mendapati si Bocil tengah rebahan di atas kasurku. Wah, besar kepala dia!


"Menyingkir dari kasurku!" lirihku penuh penegasan.


"Aku capek, Mbak. Bentaran doang numpang rebahan."


"Menyingkir!" paksaku sambil menarik legannya.


"Kalau Mbak mau rebahan juga, di sebelah masih luas tuh!" Dia gantian menarik lenganku. Aku terjerembab ke atas dadanya. Rambutku yang basah sebagian tergerai ke wajahnya. Tubuhku mendadak kaku, lidah serasa kelu. Wajahku berada sangat dekat dengan wajahnya. Embus napasnya terasa hangat menerpa pipi. Asli sih, bocil emang manis.

__ADS_1


Aku tersentak saat dia berdehem. Langsung menarik diri dari atas dadanya. Aku salah tingkah. Dia pasang wajah tengil.


"Aku ganteng ya, Mbak?"


"B aja!" ketusku. Lantas meninggalkannya di kamar sendirian. Aku ke dapur membawa jantung yang berdebar-debar tak menentu. Membantu Ibu memasak. Sial! Kenapa adegan di kamar tadi terus terbayang?


"Awwww!" rintihku.


"Kenapa, Sa?"


"Kena pisau, Bu, dikit."


"Kok bisa, sih? Makanya fokus!"


Aku nyengir, biar lukanya kecil, tapi perih juga. Bocil langsung melihat ke dapur dan bertanya ada apa. Ibu menjelaskan apa yang terjadi.


"Ya udah, sini diobatin dulu lukanya, Mbak!"


"Gak usah, Ciiil. Cuma luka kecil, kok."


"Biar pun kecil harus tetep diobatin, Mbak. Sini!" Dia menarik lenganku secara paksa menuju ruang tengah.


"Kalian ini, suami istri kok manggilnya begitu." Kudengar Ibu mendumel.


"Duduk!" Bocil menekan kedua pundakku agar duduk. Aku nurut duduk di sofa ruang tengah. Dia mengambil kotak P3K di kamar. Sekembalinya dari kamar, dia duduk di sebelah. Diambilnya obat merah dan kain kasa dari kotak itu. Kemudian dioleskan ke luka kecilku. Aku mengamatinya yang tengah serius mengobati lukaku.


Sweet juga dia.


"Nah, dah!" ujarnya usai membalut lukaku dengan hansaplast.


"Makanya Mbak, kalau lagi kerja itu yang fokus! Jangan mikirin aku muluk. Tenang aja, aku gak akan ke mana-mana, kok!"


"Dih! Siapa juga yang mikirin situ?! Geer!" Aku melengos. Dia terkekeh. Lantas mengembalikan kotak P3K pada tempat semula. Aku kembali berkutat di dapur membantu Ibu memasak.


*****


Usai makan malam bersama. Kami bertiga berbincang di ruang tegah sembari ngopi dan nonton televisi.


"Bu, maaf ya, aku pamit tidur duluan. Capek." Bocil pamit duluan. Padahal aku berharap dia tetap di sini sampai Ibu masuk ke kamarnya. Biar dia tidur di sofa sini. Malah modus!


"Iya, udah sana tidur duluan." Bocil langsung masuk ke kamarku. Sebelum menutup pintu dia menjulurkan lidah ke arahku, tanpa sepengetahuan Ibu. Aku mengepalkan tangan ke arahnya. Geram. Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu menghilang di balik pintu yang tertutup.


"Kamu juga Sa, tidur sana! Ibu masih mau nunggu sinetronnya sampek bersambung."


"Aku tidur sama Ibu aja, ya?"


"Kamu itu sekarang udah punya suami. Suamimu lebih berhak atas dirimu, Sa. Sana susul suamimu. Barangkali dia butuh dipijit atau lainnya."


"Tapi, Bu ...."


"Udah, sana!" Aku terpaksa patuh dengan titah Ibu. Masuk ke kamar, kutarik lengan si Bocil dan menyuruhnya agar tidur di bawah beralaskan kasur lantai.


"Gak mau, Mbaaak. Ini kan, kasurnya lebar. Bisa disekat pakai guling begini kalau Mbak takut aku apa-apain."


Aku bersungut sebal. Akhirnya mengalah tidur di bawah. Setelah capek berdebat dengannya.


"Yakiiiin, mau tidur di bawah situ? Kasurnya keras loh, dingin pula." Bener sih, apa yang dia bilang. Tapi ... geli kalau harus tidur sekasur dengannya.


Saat aku siap untuk tidur. Si Bocil turun dari ranjang. Dia duduk di sebelahku berbaring. Gegas aku duduk beringsut menjauh.


"Mau ngapain?!" sentakku.


"Ya, menurut Mbak, aku tega gitu biarin Mbak tidur di lantai sementara aku di kasur empuk itu?" Dia menunjuk spring bed dengan gerakan wajahnya.


"Udah, Mbak tidur di atas aja sana! Biar aku yang tidur di sini. Tapi, kalau Mbak mau tidur bareng aku di sini, ya, gak papa. Dengan senang hati aku persilakan."


Gegas aku naik ke atas ranjang dan berbaring. Menghela napas lega. Detik kemudian merasa kasihan juga sama si bocil, tapi memilih berusaha masa bodoh. Beberapa saat kemudian kudengar dengkur halus, perlahan aku bangun, memastikan si bocil sudah tidur apa belum. Ternyata sudah tidur. Sepertinya dia kecapaian dan ngantuk berat. Kuselimuti dia, dan kupandangi wajahnya yang sedang terlelap dari atas ranjang. Manis.


*****


Alarm berdering tandanya sudah pagi dan aku harus bangun. Kok rasanya aneh, ya? Kayak ada yang melingkar di pinggang ini. Rasanya sangat hangat berbeda dari hari biasanya. Kubuka mata perlahan. Seketika mataku membelalak saat mendapati wajah si Bocil di hadapan. Ujung hidungku nyaris bersentuhan dengan hidungnya. Tanganku melingkar memeluknya, pun sebaliknya.


"Aaaaaaaak! Tidaaaaak!"


💐💐💐💐💐


Terima kasih banyak, buat yang masih mengawal kisahnya Bocil Dafa dan Mbak Safa ini.


Semoga hari Anda menyenangkan.


Semoga masih setia dan gak bosan mnunggu next partnya.


Sekali lagi, terima kasih.


💐💐💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2