
Kujelaskan kepada polisi tentang alasan terjadinya penganiayaan terhadap Eza. Polisi menyarankan agar aku mencari barang bukti untuk menguatkan pernyataanku. Juga disarankan agar melaporkan balik si Eza atas tuduhan pelecehan, tapi kalau saling lapor, lantas kapan masalah ini selesai?
Aku inginnya kebenaran terungkap. Suamiku terbukti tidak bersalah, bebas. Sedangkan Eza mendapat hukuman sesuai perbuatannya. Mendadak teringat rekaman CCTV di kantor. Gegas aku pamit, dan kembali ke kantor.
Ternyata Eza tidak sebodoh yang aku kira. Dia sudah membersihkan semua barang bukti berupa rekaman CCTV dan lain-lain. Kalau sudah begini, harus bagaimana lagi?
Aku melangkah lesu kembali ke bilik kerja. Saat siap duduk, kudengar ada yang menyerukan nama Eza. Gegas aku berdiri dan berjalan tergesa menghampiri Eza yang siap memasuki ruangannya.
"Pak, saya mau bicara!" Dia menoleh bibirnya miring sinis.
"Bicara di dalam saja!"
Sebenarnya agak ngeri. Terlebih kalau ingat kejadian malam itu. Betapa beringasnya dia. Tapi, demi si Bocil, aku harus berani dan tetap waspada.
Setelah masuk dan menutup pintu. Kudapati Eza berdiri di depan meja kerjanya. Melipat tangan di dada dengan gaya angkuhnya. Dia menatapku yang melangkah mendekatinya.
"Mau bicara soal apa?"
"Soal suamiku!"
Dia bibirnya tersenyum miring lagi. "Kenapa dia?" tanyanya belagak bodoh.
"Jangan belagak pilon, kamu!"
Dia terbahak, merubah posisi menjadi berdiri tegap dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana. "Kamu mau apa?"
"Tolong, cabut laporanmu! Kamu tahu betul semua masalah ini terjadi karena siapa? Jangan jadi pecundang kamu! Bisanya memutar-balikkan fakta!"
Dia berhenti cengengesan, menatapku tajam. "Dia pantas mendapatkan hukuman itu!"
"Yang seharusnya dihukum itu kamu, Za! Suamiku tidak bersalah, dia hanya membela harga dirinya dan juga kehormatan istrinya. Kamu tahu itu!"
Dia terkekeh meremehkan. "Aku tidak akan pernah mencabut laporanku! Sudahlah, biarkan saja dia membusuk di penjara, dan kamu menikahlah denganku!"
Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya. Tidak seharusnya aku memohon padanya. Ini salahku. Aku mengibaskan tangan masa bodoh lantas berjalan keluar.
"Sa, kalau kamu mau menikah denganku, aku janji bakal lepasin bocah itu!"
Aku berbalik padanya dan menatapnya perihatin. "Kalau pun suamiku mendekam di penjara dalam jangka waktu yang lama, aku gak akan pernah menikah sama kamu, Za! Aku bakal setia menunggu dia pulang! Jadi, please, move on, Za!" Detik kemudian aku keluar dan menutup pintu ruangannya.
Tak lama Eza keluar dari ruangannya dan berjalan menuju pintu keluar dengan langkah tergesa serta raut wajah cukup serius. Saat lewat di depan bilik kerjaku dia menoleh. Tatapannya penuh amarah. Semoga saja dia tidak berbuat aneh-aneh lagi terhadap si Bocil.
*****
Terhitung sudah seminggu suamiku tinggal di dalam jeruji besi. Rindu kian menggebu. Sepi kian menghimpit. Sesak.
Aku nyaris putus asa. Tidak tahu lagi harus bagaimana? Mencari pengacara yang harganya miring dan kualitasnya bagus, ternyata tidak mudah. Berulang kali memohon pada Eza, tetap saja dia tidak merubah keputusannya. Belum lagi ibu mertua yang kini sudah tahu tentang kondisi putranya, dan terus menyalahkan aku atas apa yang menimpa si Bocil.
__ADS_1
Nyesek hati ini, dikatain mertua sebagai pembawa sial bagi si Bocil. Ya, walaupun mungkin tuduhan mertua itu ada benernya juga. Semua terjadi karena aku memang, tapi kan ..., argh!
Mendadak ingin bertemu dengan Pak Broto. Barangkali beliau bisa membantu membebaskan si Bocil. Siapa tahu Eza bakal nurut kalau omnya yang bicara.
Tak peduli meski hari sudah malam. Gegas aku bersiap dan memesan taksi online. Setelah taksi datang langsung meluncur ke rumah Pak Broto. Menurut berita yang aku dapatkan dari Ulfa tadi siang, konon direktur utama perusahaan tempat kerjaku itu sudah pulang dari rumah sakit. Tak lupa aku mampir ke toko buah untuk membeli buah tangan alakadarnya.
Kuhela napas berulangkali saat akan memencet bel rumah Pak Boss. Mendadak diserang rasa gugup. Badan sedikit gemeteran. Bagaimana ya, reaksinya saat aku ceritakan kelakuan keponakannya nanti? Gimana kalau malah marah sama aku, dan aku juga dilaporin atas tuduhan pencemaran nama baik?
Kuhela napas berulangkali. Tangan gemetar mengulur siap menekan tombol bel. Akhirnya, aku berhasil memencet belnya. Mata terpejam merasa ngeri, dan juga berusaha menguatkan diri sendiri.
Aku terkesiap oleh suara pintu yang dibuka dari dalam. Detik kemudian menyembul seorang wanita paruh baya. Sepertinya dia asisten rumah tangga di sini.
"Maaf, ada perlu apa, ya?" tanyanya ramah.
"Saya karyawannya Pak Broto. Mau menjenguk beliau."
"Oh, mari masuk!" Aku mengangguk. Lalu mengekorinya hingga sampai di sebuah kamar yang cukup luas. Di atas ranjang king size, Pak Broto yang semula tengah berbaring beringsut duduk setelah melihat kedatanganku.
"Eh, Safa!" seru Pak Broto. Aku mengangguk kikuk.
"Oya, Pak, ini ada sedikit buah. Maaf, cuma alakadarnya."
"Kalau mau ke sini, ke sini aja! Gak usah repot-repot bawa-bawa segala."
"Enggak repot kok, Pak. Cuma sedikit."
"Mbak Surti, tolong geserkan kursi itu ke sini, ya, biar dipake duduk!" Wanita yang dipanggil 'mbak Surti' itu patuh. Menggeserkan kursi rias ke sisi ranjang Pak Broto, dan menyuruhku duduk.
"Terima kasih, Mbak." Mbak Surti mengangguk. Kemudian dia pergi setelah disuruh menyiapkan minum untukku. Pak Broto kekeh, menyuruh pembantunya membuatkan minum, meski aku sudah menolak dengan halus.
"Jarang-jarang kamu ke sini masa dianggurin," ujar Pak Broto dengan suara baritonnya. Senyum ramah mengiringi.
"Oya, kondisi Bapak, gimana sekarang?"
"Seperti yang kamu lihat. Sudah lebih baik."
Aku mengangguk, tersenyum kikuk. "Bapak sakit apa?"
"Tifus. Makanya agak awet." Aku mengangguk-angguk. Asli kikuk banget.
"Eh, ada tamu rupanya!" seru Ibu Laila--istrinya Pak Broto yang baru saja memasuki kamar. Aku tersenyum dan mengangguk ramah ke arahnya. Berdiri menyambut kedatangannya.
"Udah, duduk aja!"
"Iya, terima kasih, Bu." Suasana semakin kikuk sejak kedatangan Bu Laila. Bingung mau mulai dari mana?
Sudah mangap siap bicara soal Eza. Mbak Surti datang membawa nampan berisi minuman untukku. Aku pun urung bicara.
__ADS_1
"Silakan diminum, Mbak!" Aku mengangguki titahnya Mbak Surti. Setelahnya dia pamit ke belakang.
"Ayo, diminum!" titah Bu Laila yang kini duduk di tepi ranjang sebelah suaminya.
"Iya. Minum! Pasti haus kan, habis melakukan perjalanan jauh," timpal Pak Broto. Aku mengangguk lantas menyeruputnya sedikit dan menaruhnya ke atas meja kecil yang tadi sengaja digeser dari sudut kamar ke sebelahku oleh Mbak Surti.
Mau mulai bicara, Pak Broto malah tanya-tanya soal kator. Sedang Bu Laila malah nanya soal statusku sudah menikah atau belum. Keduanya sangat ramah dan baik. Berbeda jauh dengan Eza yang angkuh dan arogan.
"Eum, sebelumnya saya minta maaf, Pak. Pertama, kedatangan saya kemari karena ingin silaturahmi dan menjenguk Bapak. Kedua ... ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Bapak." Huf, akhirnya bisa juga memulai pembicaraan, meski tangan gemeteran parah.
"Mau bicara soal apa?" tanya Pak Broto.
"Keberadaan saya di sini diperlukan atau tidak? Kalau tidak, biar ibu pergi dulu."
"Oh, nggak apa-apa kok, Bu. Ibu tetap di sini saja." Suami istri itu mengangguk. Kemudian saling pandang sejenak.
"Oke, jadi mau bicara soal apa?" cecar Pak Broto. Istrinya diam menyimak. Mata keduanya membidikku menunggu aku bicara.
"Jadi begini, Pak. Seminggu yang lalu suami saya ditangkap polisi." Keduanya tampak terkejut.
"Kena kasus apa?" tanya Bu Laila tak sabar.
"Dia dituduh melakukan penganiayaan dan pencemaran nama baik serta didenda sebesar 2 miliar," lanjutku. Bu Laila membungkam mulutnya yang mangap.
"Kenapa bisa dituduh seperti itu?" tanya Pak Broto.
"Dia berusaha menolong saya yang tengah dilecehkan, Pak." Lagi, Bu Laila membungkam mulutnya.
"Orang yang sudah nyaris melecehkan saya, malah memutarbalikkan fakta dan menjerumuskan suami saya ke penjara."
"Oke, jadi kamu mau saya bantu untuk menyiapkan lawyer terbaik, begitu?" tebak Pak Broto. Aku menggeleng.
"Lantas, apa?" cecarnya.
"Saya mau, Bapak berbicara kepada pelapor untuk mencabut laporan dan tuntutannya itu. Siapa tahu, kalau Bapak dan Ibu yang bicara, dia mau mendengarkan dan mau ngasih keringanan terhadap suami saya."
Pak Broto dan Bu Laila saling pandang. Mungkin mereka dilanda kebingungan. Kemudian menatapku lagi.
"Maksud kamu gimana, ya?" tanya Bu Laila memastikan mungkin.
"Saya mau ... Bapak dan Ibu membujuk pelapor agar mencabut tuntutannya," tegasku sekali lagi.
"Kenapa harus kami?" tanya Pak Broto, raut wajahnya masih tampak bingung.
"Karena ... pelapornya ... a-adalah ... Eza, Pak, Bu."
Lagi, Bu Laila membungkam mulutnya. Pak Broto tertegun beberapa saat. Duh, semoga gak ngaruh ke kesehatannya. Jadi merasa ngeri. Ngeri kalau tiba-tiba Pak Broto jantungan.
__ADS_1
"Eza ... keponakan saya?" Aku mengangguki tanya Pak Broto. Pria itu lantas menggeleng, tak percaya mungkin. Bu Laila juga ekspresinya seperti antara percaya dan tidak. Mereka berdua terdiam dalam waktu yang lumayan lama. Aku bergeming menikmati jantung yang gemuruh, was-was menunggu reaksi berikutnya dari Pak Broto dan Bu Laila.