
Sepulang dari pasar malam, Bapak masih stay di ruang tengah. Masih menonton televisi. Sedangkan Ibu, dia tertidur di atas sofa sebelah Bapak. Saat aku dan bocil sampai di samping sofa, Bapak menengadahkan tangannya. Sontak aku dan bocil saling lirik, bingung.
"Apa sih, Pak?" tanyaku.
"Suamimu pasti inget," tebak Bapak. Bocil menatapku bingung, aku mengedikkan bahu.
"Inget apa ya, Pak?" tanya Miku.
"Loh, gimana to? Tadi kamu yang nawarin, masa udah lupa?" balas Bapak sewot.
"Nawarin?" lirih Miku. Dia tampak sedang berpikir keras, sejurus kemudian ber-oh sambil tepuk jidat.
"Apa, sih?" tanyaku.
"Martabak," jawab Miku tanpa suara. Hanya mangap-mangap saja, tetapi aku langsung paham dan ingat.
"O, iya. Tadi kan, bocil bilang mau beliin cilok, ya, Pak?"
Bapak menatapku. "Kok cilok, sih? Martabak telur!" ralat Bapak penuh penegasan. Aku meringis dan terkikik.
"Tadi kamu udah janji lo, ya. Ini Bapak belain belum tidur karena nungguin martabak, eh, gak tahunya malah gak dapet. Kalau gak punya uang itu, gak usah sok-sokan nawarin!" lanjut Bapak.
"Menantu gak ada akhlak emang. Udah, pecat aja dia, Pak! Lengserkan aja jabatan dia sebagai menantu, Pak!" Aku seperti orang yang sedang berdemo. Sampai Ibu terbangun.
"Ini ada apa, sih? Berisik banget," omel Ibu. Sepertinya kesadaran Ibu belum terkumpul sepenuhnya.
"Maaf, Pak. Aku bener-bener lupa," ucap Miku. Seketika raut wajah Bapak berubah masam. Ngambek.
"Mbok udah to, Paaak. Kayak anak kecil aja. Cuma perkara gak dibeliin martabak telur aja, ngambek," omel Ibu.
"Ini bukan perkara martabaknya, Bu," balas Bapak.
"Terus apa?" tanya Ibu. Aku dan Miku diam menyimak mereka berdua.
__ADS_1
"Masalah janji yang harus ditepati. Menantu kesayanganmu itu, tadi udah janji mau beliin martabak. Janji itu laksana hutang yang harus ditunaikan atau bayar. Lagian, lelaki itu yang dipegang omongannya," cibir Bapak. Bocil langsung menarikku ke teras. Aku bingung saat dia menengadahkan tangan ke hadapanku.
"Apa?" tanyaku tak paham.
"Minta duit," lirihnya.
"Buat apa lagiii?"
"Buat beliin Bapak martabak."
"Gak usahlah, udah malem juga," larangku.
"Aku gak enak sama Bapak," rengeknya masih sambil menengadah. Aku berdecak kesal.
"Berapa?" ketusku.
"Seratus ribu."
Dahiku mengernyit. "Banyak bener? Lima puluh ribu juga cukup kali buat beli martabak mah. Sisa malah."
"Takut banget ya, kehilangan aku?" godaku sambil bersedekap dan bersandar pada tiang teras.
"Woiya, jelas! Aku gak akan pernah rela dan gak akan pernah mau kehilanganmu," jawabnya dengan gaya super tengil. Tangannya sibuk memakai helm. Dia lantas bergegas keluar lagi mencari martabak.
Aku masuk dan duduk di sofa sebelah Bapak. Bapak menanyakan keberadaan si Bocil. Saat aku bilang kalau dia pergi cari martabak, Bapak mangut-mangut.
*****
Suamiku akhirnya datang juga setelah lebih dari setengah jam dia pergi. Bocil menaruh satu kotak martabak di meja depan Bapak dengan ekspresi bangga.
"Selamat menikmati, Pak," ucap Miku.
"Terima kasih, tapi maaf, sudah telat!" balas Bapak dengan ekspresi datar. Matanya tetap fokus ke layar televisi yang menampilkan film laga. Bocil terlihat tak enak hati.
__ADS_1
"Bapak ini, udah dibeliin bukannya 'terima kasih' malah begitu. Ya udah, buat Ibu aja kalau gitu." Ibu langsung meraih bungkusan martabak itu dan membawanya ke ruang makan.
Aku menarik lengan Miku ke dalam kamar, lalu mengintip Bapak dari celah pintu yang aku buka sedikit. Kami berdua terkikik saat Bapak akhirnya pergi ke ruang makan. Setelah Ibu juga masuk kamar. Aku yakin, Bapak pasti memeriksa martabaknya masih sisa atau tidak.
Mataku membulat saat Miku menarikku menjauh dari pintu, lalu menutupnya rapat-rapat. Aku terpaku di sebelah pintu. Dia langsung duduk di atas kasur dan menepuk ruang kosong di sebelah. Aku pun akhirnya duduk saat dia bilang mau bicara serius.
"Mau bicara soal apa?" tanyaku.
"Soal ... omongan Bapak tadi."
Dahiku mengernyit mencoba mengingat. "Omongan Bapak yang mana?"
"Eum, yang soal anak."
"Anak? Anak siapa?" Dia menunjuk dirinya sendiri, lalu menunjuk diriku.
"O-oh." Aku mendadak gugup.
"Jadi, gimana?" tanyanya. Aku memalingkan wajah. Salah tingkah.
"Ya, gak gimana-gimana."
Dia merangsek. Kini posisi kami berdempetan. "Gimana kalau ... kita mulai prosesnya," bisiknya. Aku mengulum bibir. Jantung berdebar tak menentu.
"Proses apa?" godaku.
"Proses ... bikin anak."
Aku menempelkan telunjuk di bibirnya saat dia mendekatkan wajah. Melihat aku pasang ekspresi serius, dia juga ikutan serius. Duduk diam, sepertinya menunggu aku bicara.
"Kenapa?" tanyanya sambil menggenggam tangan ini. Sepertinya dia menyadari kegelisahanku.
"Eum, kalau misal ternyata aku gak bisa ngasih kamu keturunan, gimana?"
__ADS_1
"Ya, aku bakal nikah lagi." Jawabannya sukses membuat aku terdiam menatapnya. Perlahan kaca-kaca mulai menggenangi pelupuk mata ini.