
"Kamu nemu orang ini di mana?" tanyaku saat suamiku dan teman barunya itu sudah sampai di sebelahku.
"Hei, yei kalo ngomong sekate-kate. Emang eik ini barang jatuh apa ditemuin." Gaya khas wanita setengah pria mengiringi ucapannya. Gayanya gemulai, suaranya terdengar seperti mendesah manja gitu. Aku sampek reflek nyengir-nyengir.
"Siapa sik, dia?" tanya waria itu sambil mencolek bahu si Bocil manja.
"Udahlah, gak penting. Udah, yuk, lanjut aja!" balas si Bocil.
Aku terbengong di tempat. Apa katanya? Gak penting? Wah, ngajak perang ini si Bocil. Dia lanjut jalan bersama waria itu. Aku berharap dia menoleh atau berhenti menungguku, tetapi nyatanya itu tidak terjadi.
Cepat-cepat aku berlari menyusul dan mencekal lengannya. Tetapi, dia tetap melanjutkan langkah. Aku diabaikan.
"Kamu kenapa, sih?" tanyaku. Dia tidak menjawab, tetap jalan mendorong motornya dibantu wanita setengah pria itu.
"Kamu marah sama aku?" tanyaku lagi.
"Hei, yei bisa diem kagak? Berisik!" sahut waria itu sambil berkacak pinggang ke arahku, lalu berbalik dan membantu mendorong motor si Bocil lagi.
"Situ yang diem! Aku lagi ngomong sama suamiku!" teriakku kesal.
Waria itu berhenti lagi dan menatapku lekat. Kemudian terbahak suara aslinya keluar. "Ups! Kelepasan," katanya sambil membungkam mulutnya dengan gaya manja. Dia lanjut tertawa, tetapi kali ini tertawanya dilembut-lembutin. Sukses membuat aku terbengong.
__ADS_1
"Yei halu, ya? Ngaku-ngaku jadi istrinya berondong manis ini, dih!" Dia melengos nggak percaya, habis itu mencebik ke arahku. Matanya menguliti setiap inci tubuh ini.
"Kalau yei ngaku sebagai tantenya atau neneknya berondong manis ini, beru eik percaya. Kalau halu jangan kebangetan, dong!" Dia lanjut menabok bahuku. Aku mengaduh kesakitan, bocil tidak peduli. Suamiku tetap lanjut jalan mendorong motornya.
"Hei, berondong manisku, tungguin eik, dooong. Ihhh, kok ditinggalin, siiih? Zebelll," pekik waria itu. Kalimat terakhir lidahnya menjulur digoyang ke kiri dan kanan. Mataku membulat. Gelay! Waria itu lantas berlari menyusul si Bocil, lalu mencubit manja pinggang suamiku.
Ouh, ternoda sudah suamiku. Cepat aku ikut berlari menyusul dan melarang waria itu supaya berhenti pegang-pegang tubuh suamiku. Geli lihatnya.
"Hei, emang yei siapa larang-larang eik?" sahut waria itu manja.
"Aku istrinya!" tegasku. Dia terkikik sok imut.
"Dih, ngaku-ngaku. Orang dianya aja dari tadi diem aja, tuh. Gak ngakuin situ sebagai istrinya." Waria itu lanjut menjulurkan lidahnya ke arahku.
"Kamu kenapa, sih? Marah sama aku karena tadi milih nebeng sama Reno? Iya? Kan, kamu sudah mengizinkan. Lagian aku akhirnya gak jadi nebeng sama dia, kan? Sekarang pilih bareng kamu," cerocosku sambil menyeimbangkan langkah dengannya.
"Ssssth! Diem!" bentakku mengacungkan telunjuk ke depan wajah waria itu. Saat dia mangap dan aku yakini akan bicara lagi.
"Apa sih, orang mau bersin kok dilarang-larang," sungutnya. Aku ber-oh lirih. Waria itu lantas bersin dengan suara menggelegar. Si Bocil sampai berjingkat kaget. Mataku membulat, lalu mengatupkan bibir menahan tawa yang siap meledak.
"Ups! Kelepasan lagi," ucap waria itu sambil memukuli mulutnya sendiri berkali-kali. Aku terkikik juga akhirnya. Kulirik suamiku juga menahan tawa.
__ADS_1
Waria itu menabok punggungku. Tidak terima aku tertawakan. Dia lanjut bersungut sebal dengan gaya gemulai mendorong motor suamiku lagi. Sampai akhirnya ketemu bengkel juga. Kami semua berhenti menunggu motornya diservis.
Aku berusaha mengajak si Bocil bicara, tetapi dia malah berbicara dengan waria itu. Aku dicueki. Saat ada tukang cendol lewat, bocil menawari waria itu. Sedang aku tidak ditawari juga tidak dibelikan. Nyebelin banget, sih!
"Sudah selesai, Mas, motornya," ujar montir.
"Oh, udah ya, Mas?" balas si Bocil. Montir itu mengangguk, senyum ramah mengiringi.
"Jadi habis berapa, Mas?" tanya si Bocil.
"Itu tadi ganti busi sama oli, plus biaya jasanya jadi 200 ribu aja, Mas," jawab montir itu.
"Mahal amat, Mas," komplain si Bocil. Dia lantas pura-pura membuka dompetnya, padahal aku tahu dia tidak punya uang sebanyak itu.
"Udah, nih, Mas, biar saya aja yang bayar," kataku sambil mengulurkan uang dua ratus ribu ke montir itu.
"Terima kasih, Mbak," pungkas montir itu. Aku membalas dengan anggukan dan senyum.
Saat aku berbalik, bocil sudah di atas motor dan waria itu duduk menyamping di belakangnya. Aku terbengong tak percaya. Sungguh pemandangan yang sangat menggelikan.
"Sudah siap?" tanya si Bocil. Waria itu mengangguk centil, lalu melingkarkan tangannya di pinggang suamiku. Sukses membuat mataku melotot.
__ADS_1
"Cil ...." Belum selesai aku bicara, suamiku sudah melajukan motornya. Seriusan, aku ditinggalin? Dia beneran memilih membonceng waria itu dan meninggalkan istrinya di sini?
OKE, FINE!