SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Ter-la-lu!


__ADS_3

Waktu seolah berhenti berputar, nafas dan jantung juga serasa berhenti seketika. Air mata mulai menetes lagi bulir demi bulirnya. Aku bangkit, ingin rasanya menguap saja dari permukaan bumi ini.


Tidak! Aku tidak akan sanggup jika sampai bocil amnesia. Aku tak rela kalau sampai dia lupa akan siapa diriku. Tidak! Ini tak boleh terjadi!


"Kamu jangan bercanda dong, Cil! Ini aku, istrimu! Safa, kamu ... kamu udah pernah bikin kesepakatan untuk manggil aku, Mimu. Dan aku manggil kamu Miku. Inget, kan?"


"Kamu suamiku, aku istrimu. Kamu inget kan, sama semua yang udah kita lewatin bareng-bareng selama beberapa bulan ini? Inget, kan?"


Dia bergeming. Tampak seperti sedang mengingat. Kemudian merintih kesakitan sambil memegangi kepala. Aku panik. Cepat aku berlari keluar dan memanggil dokter.


"Dok, lihat dia sudah sadar, tapi dia tidak ingat siapa saya, Dok!" kataku panik sambil berjalan mengekori dokter ke sebelah ranjang si Bocil.


Aku terdiam saat mendapati suamiku masih terbaring dan matanya terpejam. Sebentar, apa tadi itu cuma halusinasiku saja? Tapi, masa sih? Kepalaku mendadak pening.


Dokter berusaha menepuk-nepuk bahu lelakiku itu, dia bergeming tak menyahut. Apa benar tadi itu aku cuma halusinasi saja? Karena saking takutnya dia kenapa-kenapa?


"Sepertinya dia masih belum sadarkan diri, Bu. Mungkin tadi Ibu cuma terlalu kepikiran saja akan kondisi suami, makanya ...."


"Enggak, Dok! Saya yakin betul tadi dia sudah sadar."


"Tapi, buktinya Ibu lihat sendiri, kan? Suami Ibu masih belum merespons panggilan saya." Dokter lanjut memeriksa detak jantungnya, dan yang lainnya.


"Kondisinya sudah membaik. Detak jantungnya juga sudah mulai stabil. Tinggal nafasnya saja yang masih agak berat. Pasti ini efek tulang dadanya yang memar itu," terang dokter. Sejurus kemudian dia dan suster pamit kembali ke ruangannya.


Aku menunduk sedih dan takut banget. Ada banyak ketakutan yang mendadak timbul. Tangisku pecah lagi. Kudengar dia terkekeh. Aku menatapnya tak percaya. Dahi ini mengernyit dibuatnya.


"Utu-utu udah dong nangisnya. Istriku terlove, Mimu cayong. Sebegitu takutnya ya, kehilangan suamimu yang ganteng maksimal ini? Hmmm?" Dia dengan santainya lanjut mengedikkan alis.


"Kamu ... ngerjain aku dan juga dokter? Iya?!" cecarku geram. Dia terkekeh, dan lanjut memegangi dadanya. Sesak mungkin.


"Kamu pikir ini lucu? Iya? Hah?!" Kujewer telinganya, tak peduli meski dia mengaduh dan meminta ampun.


"Kamu tahu gak, sih? Apa yang kamu lakukan barusan itu keterlaluan banget. Gak lucu!" omelku. Dia mengacungkan jarinya membentuk huruf V. Aku menggeleng kecewa.


"Gak ada peace! Aku gak akan maafin kamu atas apa yang udah kamu lakuin ini, Cil!" sewotku lantas meninggalkannya sendirian di dalam kamar. Aku tak peduli meski dia merengek minta maaf dan memintaku untuk tetap tinggal.


"Aaaakh!" jeritnya. Aku pun kembali masuk dan mendekatinya.


"Apa? Kenapa? Apanya yang sakit?" Aku panik lagi, dan merasa bersalah lagi. Seharusnya aku bisa lebih sabar dalam menghadapinya di situasi yang seperti ini.


"Semuanya sakit," rengeknya manja.


"Ya udah, aku panggilin dokter, ya! Awas, kalau ngerjain lagi, aku tinggal beneran!" ancamku. Dia terkekeh lemah.


"Gak usah panggil dokter! Dicium juga pasti langsung baikan." Dia lanjut mengedipkan sebelah matanya.


"Gak usah lebay! Gak usah aneh-aneh!" sentakku. Dia nyengir menampakkan deretan giginya. Air mataku terus mengalir tak mau berhenti. Perasaanku campur aduk. Antara senang dan juga sedih serta kesal.


"Sebentar. Sini dulu mendekat," katanya.


Aku pun berbalik padanya dan mendekat ke sisi ranjangnya. Urung memanggil dokter. "Kenapa lagi?" tanyaku parau.


"Sini lebih dekat lagi wajahnya. Itu ada sesuatu." Dia menunjuk wajahku dengan gerakan wajahnya. Aku pun mendekatkan wajahku ke depan wajahnya. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi, membingkai wajah ini, sejurus kemudian ditariknya lebih mendekat lagi, dan sebuah kecupan hangat mendarat di kening ini.


Aku berdecak kesal, tapi juga senang. Lantas menarik diri dari hadapannya. "Sempat-sempatnya ya, dalam kondisi kek gini masih aja modus!"


"Tapi, suka kaaan?" godanya.


"Enggak! Biasa aja. Mual malah!" sungutku.


"Hilih. Mual apa mau lagiii?"


"Ck! Auk ah!"

__ADS_1


"Tunggu!" Lagi, langkahku terhenti. Aku pun kembali menoleh ke arahnya.


"Apa lagiii?" sahutku lesu.


"Satu hal yang harus kamu tahu, apa pun yang terjadi, bagaimana pun keadaannya, aku tetap ...." Dia lanjut membentuk jarinya menjadi love ala Korea.


Aku melipat tangan di dada. "Udah, ngebacot-nya? Kalau udah, aku mau pulang. Bye!"


"Eh, jangan pulang, dong! Nanti aku kangeeen," rengeknya manja, "Ku tak bisa ... jauh, jauh darimu," lanjutnya pake nada. Aku menghela napas kasar. Lantas berlalu. Kudengar dia tertawa.


"I love you!" teriaknya sebelum aku menutup pintunya.


*****


"Kamu mendingan pulang aja. Sebentar lagi malem."


"Yang bilang sebentar lagi fajar, siapa?" sahutku ketus. Dia mendengkus, kemudian tersenyum.


"Bukan gitu. Lebih baik Mimu pulang aja."


"Mana bisa aku pulang ninggalin kamu dalam kondisi begini? Yang bener aja, dong!"


"Ciyeee, yang gak bisa jauh dari suami," ledeknya, "Wajar sih, secara kan ya, suamimu ini ganteng dan unyu maksimal. Yekan?"


Boleh getok gak, sih, kepalanya ini bocah? Gemes, deh. Pengen tak hih rasanya. Kalau dia diam dan sakit, aku kangen dengan dia yang ngeselin seperti ini, tapi kalau sifat ngeselinnya udah balik, kenapa aku merasa jengkel?


"Aku gak apa-apa. Lagian kan, di sini ada banyak suster yang jagain," lanjutnya.


"Oh, jadi gitu ya? Aku diusir, biar situ bisa bebas modusin suster-suster yang cantik itu. Gitu? Iya?!"


"Bukan gituuu. Maksud aku itu biar Mimu bisa istirahat dengan nyaman gitu loh, di rumah. Di sini mau tidur di mana coba?"


"Kan bisa tidur di sofa itu," kataku sambil menunjuk sofa di sebelah kanan ranjang si Bocil.


"Nyaman, kan ada di deket kamu." Sekali-sekali aku yang gombalin dia. Kemudian lanjut mengedipkan sebelah mata.


"Jangan mancing! Masih banyak alat medis yang menghalangi nih," protesnya.


"Menghalangi apa?" Dia memonyongkan bibir. Ck!


Tak lama suster datang membawa makanan untuk si Bocil. Dia merengek minta disuapin. "Elah, tanpa diminta juga bakal aku suapin. Drama banget!"


"Uluh-uluh, idaman banget sih, istriku," pujinya.


"Lebay!"


"Fakta. Nyatanya, kamu udah bikin aku gak bisa berpaling ke lain hati."


Kamu juga, Cil. Kamu telah berhasil menyembuhkan luka di hati ini. Luka yang digoreskan oleh orang terdahulu. Kamu juga telah berhasil membuatku move-on dari barisan para mantan.


Aku tersentak saat kurasakan dia memegang pergelangan tangan ini. "Kenapa?"


"Kenapa? Lihat nih, kamu malah nyuapin mataku!" omelnya. Aku menganga, sejurus kemudian mengatupkan bibir manahan tawa. Karena melamun sampai gagal fokus.


"Maaf," ucapku, dan buru-buru mengelap makanan yang menempel di bawah matanya dengan tisu.


"Lagi mikirin apa, sih?" tanyanya, "Jangan bilang mikirin cowok lain!" bentaknya.


"Dih, gak ada waktu buat mikirin yang lain!"


"Pasti karena selalu kepikiran aku terus, ya? Pastinya lah, secara kan, aku ini ganteng maksimal dunia akhirat, sampai penghuni alam gaib pun mengakui itu." Dia lanjut pasang ekspresi sok iya.


"Bukan karena itu, tapi karena mikirin kamu aja itu udah cukup bikin kepala ngebul!" ketusku. Dia terbahak, kemudian menarik napas berat.

__ADS_1


"Sesak, kan? Makanya jangan banyak gaya! Udah tahu kondisi masih lemah, mulutnya gak bisa diem!"


"Oke. Aku ganteng, aku unyu, aku diem!" Aku menghela napas panjang dan mengurut kening. Terdiam beberapa saat, sebelum lanjut menyuapinya.


"Ini makanan rumah sakit yang sejatinya hambar, jadi enak banget karena udah lewat tanganmu. Apalagi nyuapinnya penuh cinta," cerocosnya. Aku menghela napas panjang, memutar bola mata. Muak.


"Apa lagi ... kalau ... ditambah dengan ... ciuman."


Astaga! Padahal mulutnya sambil ngunyah, tapi masih bisa ya, nyerocos gak berhenti. Tombol berhentinya di mana, sih? Heran!


"Nanti kalau udah sembuh baru dicium. Makanya diem biar cepet sembuh!"


"Kalau sekarang sering-sering dicium, pasti bakal cepet sembuh."


"Ini lagi di rumah saki, Bociiil!" Aku mulai geram.


"Yang bilang di taman siapa?" sahutnya, "Lagian ini kan, di ruang VVIP, cuma ada kita berdua, gak ada yang liat juga. Nyium suami sendiri, udah sah, udah halal aja keknya berat banget!" sewotnya.


Karena kesal, kuletakkan mangkok di meja kecil samping ranjang. Kubingkai wajahnya, dan kuciumi wajahnya dengan brutal. Bocil nyengir, matanya tertuju pada pintu. Aku pun ikut menoleh. Di sana ada suster yang terbengong. Ekspresi suster itu seperti sedang melihat sesuatu yang mengerikan plus menjijikkan.


"Maaf, saya tadinya mau ambil piring kosong, tapi sepertinya belum selesai ya, makannya? Ya sudah, saya ...." Suster itu lanjut nunjuk arah keluar. Aku bergeming menahan malu luar biasa. Kulirik bocil mengatupkan bibir manahan tawa.


"Saya gak lihat, kok," lanjut suster itu kikuk. Lantas bergegas berlari keluar dan menutup pintunya rapat-rapat. Astaga! Malu kuadrat, mana tadi aku brutal banget lagi nyiumnya. Duh, entah apa yang dipikirkan oleh suster itu. Argh, pasti dikiranya aku hiper. Ck! Bocil malah terbahak melihatku yang kini tengah membatu.


****


"Oya, kamu udah makan belum?" tanyanya seusai aku mengembalikan mangkok kosong ke tempat suster. Aku menggeleng, karena memang belum makan sedari tadi siang.


"Ya udah, sana ke kantin cari makan. Makan dulu!" titahnya penuh penegasan.


"Iya. Ya udah, aku tinggal ke kantin dulu, ya."


"Hmmm, tapi ingat kalau ada cowok yang ganteng dikit jangan dilirik. Aku gak rela kalau sampek kamu ngelirik cowok lain. Ingat, di dunia ini cuma aku yang paling ganteng. Ngerti!"


Aku menggeleng. Sejurus kemudian memutar bola mata lantas keluar. Kubiarkan dia yang terus nyerocos minta dicium lagi seperti tadi. Argh! Nyebelin!


****


Aku membuka pintu perlahan usai dari kantin. Takutnya dia lagi tidur dan menggaggu. Ternyata benar, dia sedang tidur. Mungkin efek obat yang dia minum tadi.


Perlahan aku betulkan posisi kepalanya, juga selimutnya. Kasihan, di wajah gantengnya terdapat beberapa luka memar dan lecet. Napasnya juga terdengar berat dan agak sesak. Pasti dia sebenarnya merasakan sakit pada badannya, hanya saja bersikap sok kuat dan tegar supaya aku gak khawatir.


Aku pernah beberapa kali menjatuhkan hati pada beberapa lelaki, tapi hanya kamu lelaki yang berhasil membuatku jatuh hati berkali-kali. Ya, setiap harinya aku selalu jatuh cinta lagi, dan lagi padamu. Semakin hari, selalu saja ada momen di mana aku merasa bersyukur telah memilikimu. Cepatlah pulih seperti sedia kala. Aku sudah rindu iseng dan ke-absurdanmu.


Cepat aku duduk di sofa dan memeriksa ponsel saat kudengar berdering lirih. Ada pesan masuk di aplikasi hijau rupanya. Dari beberapa orang kantor yang menanyakan kondisi si Bocil. Juga si Ulfa yang bertanya soal motor.


[Biarin aja di kantor motornya, Fa. Gak usah diantar ke rumah.]


[Kamu yakin?]


[Iya. Udah gak apa-apa. Biar di situ aja, toh bakal aman, kan, di situ selalu dijaga sama scurity siang malem.]


Aku tak mau merepotkan mereka. Toh, itu motor kalau pun dianter ke rumah malah gak ada yang jaga, dan gak bisa masukin ke garasi juga karena kuncinya aku bawa.


[Ya udah, kalau gitu nanti aku titipin ke pak satpam, deh.]


[Oke, terima kasih ya, Fa.] Ulfa membalas dengan stiker jempol pertanda oke. Percakapan via chat pun berakhir. Aku letakkan ponsel ke atas meja kecil depan sofa, kemudian mendekati ranjang si Bocil. Memastikan dia dalam posisi yang aman. Setelahnya aku kembali duduk di sofa.


*****


Aku terbangun dan langsung dalam posisi duduk. Seperti orang kaget. Melihat jam di layar ponsel. Sudah jam 21:25. Rupanya cukup lama aku tertidur. Aku terperangah kaget saat menoleh ke atas ranjang dan tak kudapati si Bocil di sana. Tiang infusnya juga tidak ada.


Ke mana dia?

__ADS_1


Apa terjadi sesuatu padanya?


__ADS_2