SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Dingin


__ADS_3

Sampai aku selesai masak, dan semua menu telah tersaji rapi di meja makan. Bocil belum juga keluar lagi dari kamar. Ini benar-benar aneh. Tidak seperti biasanya.


Penasaran sekaligus khawatir dia kenapa-kenapa. Kupanggil-panggil dia dari depan pintu kamarnya. Tidak ada sahutan. Kucoba ketuk-ketuk pintunya. Tetap senyap.


"Ciiil! Kamu kenapa? Aku boleh masuk, gak? Jangan bikin aku khawatir, dong!" Dia tetap bungkam.


"Cil, kamu marah sama aku? Aku ada salah, ya?"


Sepi.


"Cil, aku masuk, ya?" Tak ada jawaban juga. Aku coba buka, ternyata pintunya dikunci dari dalam. Ck! Dia kenapa, sih?


Sudah tiga bulan kami menjalani hari bersama-sama. Selama itu pula nyaris tak pernah ada masalah yang berarti. Canda tawa selalu mewarnai. Nyaris setiap saat, setiap hari dia tak pernah absen mengerjaiku, menggoda, memberiku perhatian dan juga kejutan. Tapi, hari ini ... entah apa yang terjadi sehingga dia berubah jadi sedingin ini.


Sikap tengil dan jahilnya seringkali membuatku kesal memang, tapi saat dia berubah jadi pendiam begini ... aku merasa kehilangannya. Padahal baru sehari ini dia diam. Tapi, aku sudah merasa kehilangan dan kesepian. Bagaimana kalau sikapnya berubah dingin begini seterusnya? Tidak! Aku tidak akan sanggup lagi menjalani hari. Rasanya seperti malam panjang, pagi tak kunjung menjelang.


Ini gak bisa dibiarin. Aku gak suka situasi ini. Gimana pun, caranya, aku harus bisa masuk ke dalam sana demi mastiin, bocil kenapa. Aku menjentikkan jari, saat tau harus lewat mana supaya bisa masuk. Jendela!


Gegas aku berlari keluar. Memeriksa apakah jendela kamarnya dibuka atau ditutup. Ternyata ditutup juga. Masa iya, harus bobol atap?


Aku memilih mandi, lalu nonton televisi. Membiarkannya, barangkali dia lagi butuh ruang untuk menyendiri. Sampai ketika sudah setengah enam sore, hendel pintunya bergerak. Gegas aku berdiri dan menghadangnya. Kutekan kedua sisi bahunya.


"Kamu kenapa? Sakit?" Kuperiksa suhu tubuhnya. Normal.


Dia tersenyum sekilas. "Kenapa?" Menaik-turunkan alisnya, "Khawatir, ya, Mbak?"


Aku melipat tangan di dada. Menatapnya kesal. "Kamu pikir lucu? Ngapain coba, ngurung diri di kamar kek gitu? Dipanggilin gak nyaut lagi? Kira-kira dong kalau mau ngerjain! Bikin orang cemas aja!" Aku kembali duduk ke sofa. Dia berdiri di belakang punggungku. Menekan kedua sisi bahu ini.


"Maaf, kalau udah buat Mbak cemas, tapi aku gak ada maksud begitu. Aku emang lagi capek lahir batin, Mbak. Butuh ruang untuk sendiri," jelasnya, dan langsung pergi mandi. Dari nada suaranya sepertinya bocil menyimpan kesedihan. Apa dia ada masalah di tempat kerjanya? Tapi, biasanya sebesar apa pun masalahnya di tempat kerja, gak pernah sampek di bawa pulang begini.


Usai mandi dia langsung pamit masuk ke kamar lagi. Saat kutawari makan, dia malah menyuruhku makan duluan. Asli, sih, semenyebalkannya sikap tengilnya, lebih menyebalkan saat cuek begini.


Sampai bakda Isya, dia tak keluar kamar lagi. Akhirnya aku makan malam duluan. Lanjut nonton televisi sambil ngopi. Sesekali menoleh ke arah pintu kamar si Bocil. Berharap dia keluar dan turut duduk di sini, tapi sampai jarum jam menunjuk angka 9, dia tak kunjung keluar kamar.


Rasa kesal dan cemas serta penasaran berpadu jadi satu dalam hati ini. Kuketuk kamarnya, dia menyahuti dengan gumaman.


"Kamu gak makan? Itu aku masakin makanan kesukaanmu, loh?"

__ADS_1


"Belum lapar, Mbak. Nanti kalau lapar aku bakal makan, kok. Mbak kalau ngantuk mau tidur, tidur aja!"


Aku kangen kamu yang kemarin, Cil. Kuusap air mataku yang menitik begitu saja. Menghela napas panjang, dan mengembuskannya perlahan.


"Kalau kamu ada masalah cerita, Cil! Jagan kek gini! Aku gak suka!" Hening, tak ada sahutan.


"Oke, kalau sekarang kamu masih butuh waktu buat sendiri, aku hargai, tapi kalau sudah siap untuk cerita, jangan ragu buat cerita, ya!"


"Iya, Mbak. Udah sana tidur aja! Dah malem," balasnya. Suaranya terdengar agak parau. Apa dia di dalam sana sedang menangis? Tapi kenapa?


Kepala serasa mau meledak memikirkan keanehan sikap bocil hari ini. Aku matikan televisi, lantas ke kamar dan berbaring. Berusaha tidur, tapi terus kepikiran si Bocil. Dia apa kabar ya, di kamarnya sana? Ck!


*****


Aku terbangun seperti orang kaget. Langsung dalam posisi duduk. Kepala terasa pening, jantung berdebar-debar. Kunyalakan lampu kamar, melihat jam di dinding. Sudah jam 1 dini hari rupanya. Tiba-tiba kepikiran si Bocil sudah makan apa belum.


Gegas turun ranjang dan keluar kamar. Berdiri di depan pintu kamar, menoleh ke ruang tengah. Bocil sedang duduk di sofa nonton televisi rupanya. Ada kopi juga di meja depannya. Aku melangkah mendekat.


"Kenapa gak bangunin aku kalau mau buat kopi?"


"Udah makan?"


"Udah Mbak. Barusan."


"Gimana, masakanku?"


"Enak."


Asli, sikap dinginnya lebih nyebelin dari sikap tengilnya. Hatiku rasanya nyesek banget hadapi kenyataan ini. Aku coba duduk di sebelahnya. Dia tetap dingin. Tak ada lagi obrolan di antara kami.


Apa iya, dia sudah mulai bosan denganku?


Dia menyeruput sisa kopinya. Lalu pamit kembali ke kamar. Aku gak bisa terus-terusan diginiin.


"Tunggu!" Bocil urung masuk ke kamarnya. Aku berdiri dan mendekatinya.


"Ada apa, Mbak?"

__ADS_1


"Kamu sebenernya kenapa sih, Cil?"


"Aku gak kenapa-kenapa, Mbak."


"Oke, kalau gak kenapa-kenapa, terus kenapa kayak ayam meriang begini? Hah?!"


"Masih malem. Sebaiknya Mbak tidur lagi! Aku juga masih ngantuk. Oke!" Dia mengusap sebelah pipi ini, dan langsung masuk ke kamarnya mengunci pintu. Teriakanku diabaikannya.


Oke, kalau mau main cuek-cuekan. Aku juga bisa!


*****


Sarapan kali ini rasanya dingin dan hampa. Bocil tak banyak bicara dan tingkah seperti biasanya. Aku juga memilih diam. Dia langsung pamit berangkat kerja duluan setelah sarapan. Kusahuti dengan gumaman. Dia pun langsung tancap gas pergi.


Aku membereskan meja makan sambil beruraian air mata. Bersiap berangkat kerja. Menunggu taksi online di depan pagar.


"Eh, Mbak Safa. Mau berangkat kerja, ya?" tanya tetangga. Bu Eni namanya. Aku mengangguk, sambil mengulas senyum.


"Bu Eni dari mana?"


"Nih, abis belanja sayur." Dia menunjukkan plastik berisi sayuran yang ditentengnya. Aku ber-oh.


"Oya, kemarin ada seorang wanita nyariin Mas Dafa, loh, Mbak. Gimana, udah ketemu sama Mas Dafa, belum?"


Deg!


"Wanita? Siapa?"


"Waduh, saya kurang tahu, Mbak. Wanita itu cuma nanyain Mas Dafa. Saya bilang saja kalau Mas Dafa kerja di bengkel Podo Moro. Soalnya kebetulan saya pernah servis motor di sana." Bu Eni lantas pamit pulang mau masak katanya. Aku mengangguk mengiyakan. Kebetulan taksi online yang aku pesan juga sudah datang.


Apa perubahan sikap si Bocil ada hubungannya sama wanita yang Bu Eni ceritakan?


Siapa wanita itu?


Apa Bocil punya wanita lain sekarang, karena bosan menunggu kepastian dariku?


__ADS_1


__ADS_2