
Hari yang membosankan dan melelahkan telah terlewati. Kenapa kubilang membosankan, karena hari-hariku di luar kota ini tanpa suamiku. Ya, meski di saat luang kami menyempatkan video call, tetapi tetap saja tidak puas. Sebelumnya, belum pernah kami terpisah oleh jarak dalam waktu yang terbilang lama begini. Jadi kangen dengan aroma tubuhnya dan hangatnya pelukannya. Aku tak sabar untuk sampai di rumah. Apa kamu juga sama kangennya sepertiku, Cil?
Jadi gemes dan nggak sabar pengen peluk dan cium dia.
Aku melirik Pak Jaka yang ada di sebelah kiriku, lalu melirik Bu Mona yang ada di sebelah kananku. Mereka berdua menatapku seolah untuk pertama kalinya melihat alien turun ke bumi. Pun dengan calon penumpang pesawat lainnya yang ada di ruang tunggu ini. Semua mata tertuju padaku. Apa yang terjadi?
"A--ada apa, ya, Pak, Bu?" tanyaku pada Pak Jaka dan Bu Mona.
"Harusnya kami yang bertanya seperti itu," sahut Bu Mona.
"Eum--maksudnya?" Aku bingung tak paham dengan apa yang terjadi.
"Bu Safa kenapa mendadak teriak histeris seperti tadi?" tanya Pak Jaka. Seketika mata ini membulat. Oh, astaga! Yang benar saja? Jadi, tadi itu bukan teriak di dalam hati, tetapi keceplosan? Duh, malunya. Aku menunduk malu bukan main. Saat sebagian calon penumpang ada yang tersenyum, dan ada pula yang geleng-geleng kepala.
"Bu Safa kenapa? Gugup ya, karena kita mau terbang pulang? Tapi, perasaan pas berangkat ke sini biasa saja." Bu Mona menimbrung. Bagaimana ini? Tidak mungkin kan, aku cerita kalau histeris tadi itu karena membayangkan bertemu dengan si Bocil.
Aku menghela napas lega. Akhirnya aku tak perlu menjelaskan kepada mereka berdua perihal kelakuan absurd-ku tadi. Calon penumpang pesawat Naga Air sudah dipanggil dan dipersilakan masuk ke pesawat. Boarding. Kami pun bergegas menuju pesawat.
***
"Kamu kenapa gelisah sekali?" tanya Bu Mona saat pesawat sudah mengudara, "Nervous?"
Aku mengangguk saja. Meski sebenarnya bukan nervous karena pesawat yang semakin membumbung tinggi, tetapi karena nanti akan berjumpa dengan suamiku. Rasanya seperti orang yang sedang dimabuk rindu. Padahal baru seminggu tidak bertemu. Ya, jadwal awal hanya kisaran lima hari, tetapi ternyata ada kendala sehingga jadwalku di luar kota molor sampai genap seminggu.
Jantung ini kian gemuruh saat detik-detik pesawat akan landing. Wajah si Bocil makin jelas terbayang. Senyumnya, ekspresi jahilnya. Ah, aku jadi merasa gemas. Mata ini terpejam agar bayangan wajah si Bocil makin jelas.
"Heh, ayo turun!" ujar Bu Mona sambil menepuk bahu ini. Sontak aku membuka mata dan ternyata pesawat sudah mendarat di bandara. Bahkan sebagian penumpang sudah sibuk bersiap turun.
"Ya, tentu saja. Mari, Bu," sahutku kikuk. Sedang Pak Jaka sudah tidak terlihat.
Jantung ini semakin berdebar-debar saat aku berjalan keluar bandara. Aku menghidupkan ponsel dan memeriksa barangkali ada pesan masuk dari suamiku. Ternyata benar. Dia mengirim pesan melalui aplikasi hijau. Memberitahukan jika dia sudah menunggu di parkiran. Pesannya bertabur stiker love dan cium. Aku menyimpan ponselku kembali ke dalam tas. Lantas melangkah tergesa ke parkiran. Langkahku melambat dan benar-benar terhenti saat sampai di dekat parkiran dan mendapati si Bocil bersama geng motornya menyambutku dengan membentangkan spanduk bertuliskan.
SELAMAT DATANG ISTRIKU TERLOVE.
KUSAMBUT HADIRMU DENGAN GEMURUH RINDU.
MESKI JARAK TELAH DENGAN KEJAM MEMISAHKAN KITA.
NAMUN, PADA AKHIRNYA WAKTU KEMBALI MEMPERTEMUKAN KITA.
AKU DI SINI SETIA MENUNGGUMU MASIH DENGAN PERASAAN YANG SAMA.
CINTAKU PADAMU TAK PERNAH LEKANG OLEH WAKTU.
BAHKAN MAKIN BERGELORA DAN MENGGEBU.
I LOVE YOU AND I MISS YOU ISTRIKU.
Aku membungkam mulut yang menganga. Antara terharu dan malu. Terkesan lebay, tetapi jujur, aku suka. Banyak mata yang tertuju kemari. Tidak hanya itu, bahkan banyak kamera yang mengarah kemari. Ada juga yang suit-suit.
Bocil berjalan mendekatiku. Sebuket bunga mawar merah dan putih di pelukannya. Setelah dekat, bunga itu diberikan padaku. Kuterima buket bunga itu dengan berlinang air mata haru. Kami saling pandang beberapa saat, lalu saling peluk. Cukup lama.
"Sudah-sudah! Lanjut di rumah aja kangen-kangenannya!" Salah satu sahabat si Bocil melerai pelukan kami.
__ADS_1
"Apaan, sih, orang masih kangen. Sirik aja lu!" Bocil sewot, lalu kembali memelukku erat.
"Mas, jika sudah tidak ada keperluan lagi di sini, mohon segera meninggalkan area bandara," ujar salah satu petugas Aviation Security (AVSEC).
"Motor kalian menuhin area parkir. Gantian sama yang lain, ya, Mas. Jadi, mohon segera tinggalkan area parkir!" lanjutnya.
"Tuh, dengerin!" Salah satu teman si Bocil melerai pelukan kami lagi.
Bocil akhirnya melepaskan pelukan dan kami pun sepakat untuk meninggalkan bandara. Sepanjang perjalanan tanganku tak boleh lepas dari pinggangnya. Harus selalu melingkar erat.
"Yang!" panggilku setengah teriak. Soalnya kondisi jalan lagi ramai.
"Hmmm," jawabnya.
"Aku lepas dulu ya, pelukannya," pintaku.
"Kenapa?"
"Ujung hidungku gatel," jelasku.
"Iya, deh."
Huf, akhirnya.
"Kalau udah garuk-garuknya cepet peluk lagi!" pintanya.
"Astaga, baru juga satu garukan!" ketusku. Dia tersenyum, terlihat girang sekali di pantulan spion sana.
"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku penasaran.
"Itu aja yang kamu kangenin? Yang lain-lain enggak?"
"Pokoknya semua yang ada pada dirimu aku rindukan!" teriaknya. Sampai pengendara yang melintas di sebelah menoleh. Kutepuk bahunya, dia mengaduh.
"Eh, kita mau berhenti dulu nih, mau makan siang. Elu ngikut kagak?" tanya salah satu teman si Bocil sambil berusaha menyejajarkan laju motornya.
"Eum, enggak, deh. Kalian aja. Have fun, ya!" balas si Bocil.
"Ciyeee, buru-buru amat, Boskuh!" ledek temannya. Disambut tawa oleh yang lainnya yang kebetulan mendengar dan berada di dekat motor kami.
"Ya, kelen pasti pahamlaaah. Rindu ini butuh temu, Besti!" sahut si Bocil dengan gaya tengilnya.
"Aseeeek! Ahaaaiiii!" sorak mereka. Aku tersipu dan jantung ini berdebar tak menentu. Sedang si Bocil senyam-senyum gaje.
"Okelah, kita paham, kok. Yodah, kalo gitu kita misah di perempatan depan, ya!"
"Oke!" sahut suamiku sambil mengacungkan jempolnya ke udara sesaat.
*****
"Huf, akhirnya sampai juga di rumah. I miss you my home!" teriakku lega. Lega karena bisa kembali dengan selamat dan bertemu lagi dengan suami tercinta.
"Eh, bentar dulu! Jangan masuk dulu!" teriak si Bocil.
__ADS_1
"Kenapa?" Aku pun urung membuka pintu dan menunggunya menyelesaikan memarkir motornya.
"Tutup dulu matanya sebelum masuk," katanya setelah dekat sambil mengeluarkan sehelai kain hitam dari saku celananya.
"Kenapa harus ditutup segala?" protesku.
"Udah, nurut aja sama suamimu yang ganteng maksimal ini. Oke!" Dia lanjut mengedipkan sebelah matanya dan menutup mata ini dengan kain hitam tadi.
"Oke. Sebentar, tunggu di sini dulu! Aku masukin kopermu dulu," katanya. Aku nurut saja. Setelah koper ditaruh dalam rumah, dia kembali menuntunku masuk.
"Sudah sampai," ujarnya, lalu membuka penutup mata ini, tetapi mataku masih terpejam.
"Sudah boleh buka mata belom?" tanyaku memastikan.
"Dalam hitungan ketiga, ya! Satu ... dua ... tiga! Buka matanya!" Aku pun membuka mataku perlahan, lalu memonitor ke sekeliling. Kemudian membungkam mulutku yang menganga. Ternyata dia mendekorasi kamar layaknya kamar pengantin baru.
"Ini kamu yang dekor?" Dia mengangguk, "Sendirian?" Dia mengangguk lagi.
"Niat banget dan lebay!" kataku tak percaya.
"Tapi, suka, nggak?" Aku diam sambil jalan-jalan mengitari ranjang yang bertabur kelopak mawar merah dan pink.
"Suka, nggak?" todongnya tak sabaran.
"Suka," jawabku setelah puas membuatnya menunggu. Dia mengucap syukur.
"Tapi, ini tuh, terlalu lebay, tahu nggak, sih?"
"Nggak ada kata lebay dalam mengekspresikan cinta, Ayang," jawabnya sambil merentangkan tangan.
"Sengaja siapin ini semua biar nanti malam kalau kita anu ...."
"Anu apa?!" selaku.
"Anu ... ituuuu ...."
"No! Nggak ada anu-anuan! Aku lagi palang merah!"
"Hah?!" Dia ternganga dan membatu. Aku mengulum bibir menahan tawa melihat ekspresinya yang menggemaskan.
"Seriusan? Mimu lagi itu?" cecarnya. Aku mengangguk, dia langsung terduduk lemas ke lantai. Aku berjalan mendekat pintu.
"Tapi boong!" teriakku setelah sampai di balik pintu, lalu menutupnya.
"Wah, awas kamu, ya! Tunggu pembalasanku!" teriaknya dari dalam kamar. Aku berlari menuju kamar mandi. Saat melewati ruang makan, langkahku terhenti. Pandangan mataku tertuju ke meja makan. Di sana sudah tersaji rapi makanan yang sederhana, tapi cukup menggugah selera.
"Kenapa?" tanyanya saat dia sampai di sebelahku dan mendapati aku tertegun.
"Itu, kamu semua yang masak?"
"Iyalah. Siapa lagi memangnya?" jawabnya penuh percaya diri.
"Tidak hanya itu. Semua pekerjaan rumah sudah beres. Jadi, kita tinggal kangen-kangenan aja," imbuhnya. Dia lanjut mengerling genit.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu!" teriakku sambil berlari masuk ke kamar mandi.
"Jangan lama-lama mandinya. Aku tunggu di kamar!" teriaknya membuat jantungku deg-degan parah.