SUAMIKU BOCAH

SUAMIKU BOCAH
Yang Dirindukan


__ADS_3

Setelah mendapat informasi di Kantor Polisi mana suamiku ditahan dari owner Bengkel Podo Moro. Aku bergegas ke Kantor Polisi Sido Mukti 5. Taksi parkir, aku gegas turun dan berlari memasuki Kantor Polisi.


"Selamat malam. Maaf, dengan Ibu siapa, ya?" sapa salah satu Polwan.


"Selamat malam. Saya Safa."


"Ada yang bisa kami bantu, Ibu Safa?" tanyanya.


"Eum, ses-saya mau besuk suami saya yang ditahan di sini, Bu Polwan."


"Tapi, ini bukan jam besuk, Ibu. Jadi, tidak boleh besuk tahanan di luar jam besuk," terangnya lemah lembut.


"Tolong lah, Bu, izinkan saya menemui suami saya, sebentaaar saja!"


"Maaf, Ibu Safa, tetap tidak bisa. Jika memang Ibu mau membesuk suami, bisa datang besok di jam besuk."


"Jam berapa ya, jam besuknya, Bu?"


"Mulai dari jam 10 pagi sampai jam 02 sore, Bu Safa."


Tak ada pilihan lain. Aku terpaksa pulang, karena memohon pun percuma. Permohonanku tidak dikabulkan. Besok di jam besuk aku akan kembali melihat keadaan si Bocil, sekaligus membawakan makanan untuknya.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan aku terus kepikiran akan bagaimana nasib si Bocil. Pidana pencemaran nama baik itu sendiri bisa dipenjara selama 9 bulan. Sedangkan pidana penganiayaan bisa dipenjara 2 sampai 5 tahun lamanya. Belum lagi kalau pihak pelapor minta uang ganti rugi dan semacamnya.


Aku pasti bisa melewati ini semua. Aku harus bisa menolong suamiku keluar dari penjara. Tak peduli bagaimana pun, caranya. Aku gak tega membiarkannya terlalu lama di penjara. Juga tak sanggup jika terlalu lama terpisah darinya.


"Pak, kita ke Perumahan Mekar Jaya, jalan Kenanga, blok A, nomor 5, ya!"


"Oh, baik, Mbak."


Sampai juga di depan gerbang rumah Eza. Mendadak ragu mau masuk. Nanti kalau dia berbuat tak pantas lagi bagaimana? Tapi, demi si Bocil, aku harus berani.


Gerbang dibukakan oleh seorang scurity. Kemudian aku dipersilakan masuk. Sampai di balik sebelah dalam gerbang. Nyaliku ciut lagi.


"Oya, apa Pak Eza-nya ada di rumah, Pak?"


"Terus, sekarang tinggal di mana dia?"


"Di apartemennya, Mbak."


"Apartemen yang mana, ya?"


"Waduh, saya juga kurang tahu kalau soal itu, Mbak. Mungkin bisa silakan tanyakan orang rumahnya, Mbak, kalau mau info lebih jelasnya," sarannya.

__ADS_1


Tidak, aku tidak mau bertemu mamanya Eza. Dulu dia benci banget sama aku. Kalau aku masuk, yang ada masalah malah bertambah. Sudahlah, tunggu dia di kantor saja besok.


"Eum, gak usah deh, Pak. Terima kasih. Maaf, sudah mengganggu waktunya. Saya permisi."


"Oh, iya, Mbak. Silakan kalau gitu," katanya sambil membukakan gerbang.


Aku kembali ke dalam taksi, dan pulang. Sampai rumah sudah larut malam. Sepi. Tak bisa tidur, terus kepikiran akan bagaimana kondisi si Bocil di dalam sel sana. Lagian heran deh, kenapa bisa main tangkep aja, sih? Ck, susah memang kalau sudah uang yang bicara.


Aku seperti orang yang tidak waras. Masuk di kamar si Bocil. Kupeluk baju yang bekas dia pakai, masih tertinggal aroma parfum dan tubuhnya di sana. Lumayan, sedikit mengobati rindu yang menggebu. Kupeluk guling yang biasa dia peluk. Air mataku berderai membasahi bantalnya. Kemudian tertawa saat ingat tingkah konyolnya. Lalu nangis lagi saat aku menyadari bahwa dia tidak di sini.


****


Entah jam berapa semalam aku tertidur di kamar si Bocil. Jam 5 pagi bangun, kepala rasanya berat. Tapi, dipaksakan diri agar kuat. Demi mencari keadilan untuk suamiku. Aku harus berjuang sampai titik darah penghabisan.


Perut terasa sangat perih. Dari kemarin sore tidak makan apa-apa, tapi meski begitu, pagi ini tetap tidak selera sarapan. Kupaksakan makan, baru dapat 3 suap rasanya tenggorokanku seret. Benar-benar sudah tidak tertelan lagi. Kubiarkan nasi goreng teronggok di meja.


Mencoba membuat mie goreng sesuai buatan si Bocil. Tapi, nyatanya rasanya tetap beda. Tidak seperti buatannya. Terlebih saat ingat dia di dalam penjara sana sudah sarapan apa belum? Lagi-lagi, makanan teronggok sia-sia. Air mata berderai lagi, terbayang saat dia mengusili aku di meja makan ini.


Lantas bersiap ke kantor. Aku berharap bisa bertemu Eza hari ini di Kantor. Dia benar-benar sudah keterlaluan telah memutar-balikkan fakta. Semoga Eza mau mencabut laporannya, dan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja.


"Argh! Kenapa sih, aku harus bertemu dengan dia lagiiii?!"

__ADS_1


"Oh, jadi kamu tidak suka bertemu dengan saya?!"


Mataku membulat, urung mengunci pintu. Kemudian balik badan perlahan. Aku terpaku menatap sosok di depanku.


__ADS_2