
"Haaarrr!"
Aku dan si Bocil histeris dan saling berpelukan erat. Aku menutup mata rapat-rapat. Detik kemudian suara auman macan itu berganti suara tawa yang meledak-ledak. Sontak aku dan si Bocil melepaskan pelukan, lalu melihat siapa gerangan orang iseng tersebut.
"SALIIIM!!!" teriakku dan si Bocil kompak. Salim makin terpingkal-pingkal sampai bengek. Aku dan suamiku mengusap dada menstabilkan jantung yang nyaris saja terlontar keluar dari peraduannya.
"Parah lu, Lim. Kalau bini gua kenapa-kenapa, habis lu!" tunjuk suamiku.
"Ya maap. Lagian, tukang iseng masa diisengin balik begitu. Lemah!" ejek Salim.
"Ya elu, pikir aja. Ini di hutan, Men. Dan elu ngeprank kita pake sound macan. Ya, paniklah. Masa enggak." Dua kalimat terakhir kami kompak mengucapkannya.
"Ciyeee, klop banget, sih." Salim meledek, "Ya, lagian kalian ini ya, di hutan juga sempat-sempatnya mojok. Pak Broto dan yang lainnya khawatir, tuh. Makanya nyuruh aku, Yayan dan Dito buat nyari kalian. Eh, nggak tahunya yang dicariin ampek keder di sini lagi mesra-mesraan."
"Siapa yang mojok, Salim! Gua ama bini gua tersesat beneran woi!"
"O."
"Ha?" Lagi, aku dan Miku kompak.
"Fiks, kita emang jodoh," kata lelakiku. Salim berakting mual-mual.
"Kan, emang kita jodoh," balasku. Salim semakin menjadi. Aku dan si Bocil terkekeh.
"Udah yuk, balik ke tenda. Aku capek. Lagian bentar lagi gelap, woi." Salim dan lelakiku setuju. Salim berjalan di barisan depan sebagai navigator. Aku di tengah dan suamiku di bagian paling belakang.
Sampai di perkemahan, aku dan si Bocil diberondong dengan berbagai pertanyaan oleh yang lain. Pak Broto dan istrinya menasehatiku agar lain kali lebih hati-hati dan fokus. Aku mengangguk saja. Lantas meminta maaf kepada semuanya karena sudah bikin mereka khawatir.
*****
Langit tampak cerah. Berjuta bintang bertaburan mengitari purnama yang sedang dalam bentuk sempurna. Air danau yang ada di depan perkemahan kami berkilat-kilat memantulkan refleksi sinar rembulan. Api unggun berkobar di tengah-tengah kami. Gitar dipetik mengiringi suamiku yang sedang menyanyikan lagunya Ungu dengan judul Tercipta Untukku.
🎧🎧🎧
Menatap indahnya senyuman di wajahmu
Membuatku terdiam dan terpaku
Mengerti akan hadirnya citra terindah
__ADS_1
Saat kau peluk mesra tubuhku
Banyak kata yang tak mampu
Kuungkapkan kepada dirimu
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang menyakiniku
Kau tercipta untukku
Sepanjang hidupku
Aku ingin engkau selalu
Hadir dan temani aku
Di setiap langkah yang menyakiniku
Kau tercipta untukku
Memanggil seluruh ragaku
Ku ingin kau tahu ku selalu milikmu
Yang mencintaimu
Sepanjang hidupku
🎧🎧🎧
Aku selalu saja baper setiap kali suamiku menyanyikan lagu untukku. Ya, tadi dia berteriak lantang di tengah-tengah lingkaran kalau dia akan mempersembahkan sebuah lagu untuk wanita spesial. Tentu saja aku orangnya. Apa lagi dia menyanyi sambil sesekali melirikku. Ekspresinya sangat menghayati lagu itu. Setiap bait liriknya ngena di hatiku. Dia seseorang yang mampu membuatku jatuh cinta ribuan kali. Ya, aku beruntung menjadi istrinya, bisa memilikinya. Dia anugerah terindah bagiku.
"I love you," ceplosku tanpa sadar. Sesaat setelah suamiku menyelesaikan lagunya.
"I love you to!" balasnya. Semua orang pun mendadak riuh, ada yang berdehem, terbatuk, berakting mual dan ada juga yang berteriak ngecengin kita. Sementara yang jomlo marah-marah nggak jelas. Bocil yang semula duduk di seberang api unggun sana, dia berdiri dan melangkah kemari.
__ADS_1
"Maukah kau berdansa denganku?" ucapnya sambil mengulurkan tangan. Aku melongo tak percaya. Ah, yang benar saja. Bagaimana bisa berdansa, sedangkan kita saja tidak pernah melakukan itu.
"Nggak bisa dansa," kataku.
"Coba saja dulu. Kami juga mau berdansa," ujar Pak Broto menggamit tangan istrinya guna berdiri, "Mari kita berdansa, yang sudah punya pasangan sama pasangannya. Dan yang belum silakan berdansa sama siapa saja atau menjadi penonton. Terserah. Bagaimana enaknya saja. Enjoy to the night!"
Sound sistem kecil yang terhubung dengan bluetooth di ponsel mengalunkan musik nan merdu. Iramanya memang sangat enak jika digunakan untuk berdansa. Semua berpasangan dan melenggak-lenggok mengikuti irama.
Di saat semua fokus pada pasangan masing-masing. Bocil semakin mendekatkan wajahnya, hingga ujung hidung kami bersentuhan. Mataku terpejam menikmati embus napasnya yang hangat menerpa wajah. Aku terhanyut dalam suasana romantis ini.
"Musiknya sudah habis woi!" teriak Mail. Aku tersentak dan membuka mata. Tanganku masih melingkar di pundaknya, sedang tangan si Bocil masih melingkar di pinggang ini. Sementara yang lain sudah kembali duduk membentuk lingkaran. Semua pun langsung riuh meledek kami berdua tanpa ampun. Sampai wajah ini terasa panas karena malu. Kami berdua lantas duduk bersisian menghadap api unggun yang semakin mengecil kobarannya.
"Sudah malam, sebaiknya kita tidur. Besok kita menjelajah hutan. Semoga saja pemandunya nggak berhalangan," kata Pak Broto. Semua pun bergegas masuk ke tenda masing-masing.
"Apa?" tanyaku saat suamiku mencekal lenganku.
"Kita di sini aja dulu," katanya.
"Ngapain?"
"Duduk di sini bermandikan cahaya bulan dan memandang kelip bintang."
Aku mengulum bibir manahan senyum, lalu kembali duduk di sebelahnya. Dia merangsek mendekat, kini tak ada lagi sekat di antara kita. Aku mendongak menatap langit malam yang indah.
"Malam ini indah banget, ya," kataku sambil menyandarkan kepala di bahunya. Dia mengangkat lembut kepalaku agar menjauh dari pundaknya. Ternyata dia pindah posisi ke belakangku. Aku duduk diapit pahanya seperti saat di dalam hutan tadi sore. Tangannya melingkar di pinggang, dagunya tersandar di pundak.
"Malam ini biasa saja. Yang bikin jadi indah itu karena ada kamu di sisiku."
Aku tak bisa berkata-kata lagi. Meleleh. "Ngantuk."
"Ya udah, tidur, yuk!" Aku mengangguki ajakannya. Kami pun masuk ke dalam tenda dan tidur dengan posisi saling peluk di dalam selimut.
"Night kiss dulu," bisiknya. Aku yang semula sudah merem melek lagi.
"Tapi jangan minta lebih, hmmmph ...." Belum selesai aku bicara, bibirku sudah disergap.
*****
Aku terbangun karena mendengar suara mengaum seperti suara singa. Meraba ke sebelah, si Bocil tidak ada di tempatnya. Kupanggil-panggil tidak menyahut. Aku meraba lagi mencari letak senter. Setelah senter di tangan, aku keluar dengan perasaan ngeri.
__ADS_1
Di luar keadaan gelap. Kuperiksa tenda yang lain satu per satu, kosong. Pada ke mana mereka? Suara mengaum itu masih terdengar di dalam hutan sana.
"Ciiil! Mikuuu! Ulfaaa! Saliiim! Pak Brotooo!" Hening tak ada yang menyahuti. Ke mana mereka semua? Kenapa aku ditinggal sendirian? Apa hilangnya semua orang ada kaitannya dengan suara auman itu?