
Seketika mataku terbuka saat dia meniup wajah ini. Aku terpaku. Posisi wajahnya masih sangat dekat. Hanya tersekat jarak beberapa senti saja. Aku tersentak saat dia menjentikkan jari di hadapan wajah ini.
"Yeey, malah bengong! Buruan!"
"Bub-buruan apa?" Aku tergagap dan salah tingkah. Dia malah cengar-cengir nyebelin. Mataku membulat lagi, saat dia kembali mendekatkan wajahnya, semakin dekat ... dekat dan dekat. Aku pikir bakal nyium, tapi ternyata wajahnya melewati pipi ini dan berhenti di sebelah telingaku.
"Kerokin," bisiknya. Aku menghela napas lega, menunduk mengulum bibir menahan senyum. Duh, ini isi kepalaku kenapa selalu mengarah ke sana, sih?
"Ya udah, ayok. Kamunya sana!" Kutunjuk kasur, "Biar aku cari alatnya dulu. Koin sama minyak angin nyari di mana?"
"Coba tanya sama hiu di dalam laut, kali aja dia tahu," jawabnya sambil ambil posisi tengkurap di atas kasur.
"Serius napa?" Aku mulai kesal. Dia terkekeh, kemudian menunjuk koper jika di dalam koper kami yang kebetulan diletakkan di dalam kamar ini sama pegawainya Ali, ada minyak angin sekaligus alat buat ngerok.
"Udah, pake lagi bajunya!" Dia gak menyahut. Malah terdengar dengkur halus. Rupanya dia tertidur. Aku simpan minyak angin kembali ke dalam koper, dan membenarkan posisi tidurnya yang semula tengkurap menjadi telentang. Ah, dia manis sekali kalau sedang terlelap begini.
"Hmmmh." Dia melenguh, mataku membulat saat tanpa sadar ternyata tangan ini mengusap pipinya. Bocil terbangun duluan sebelum sempat aku menyingkirkan tanganku dari pipinya.
"Kenapa? Aku ganteng, ya?" ucapnya sambil menaik-turunkan alisnya. Aku tertegun. Dia langsung menarik badanku ke atas dadanya.
"Apaan sih, lepasin, gak?"
"Enggak!" Dia langsung berguling dan kini posisinya berbalik, dia yang ada di atas dadaku. Disibaknya rambut yang menutupi wajah ini. Aku tak punya lagi alasan untuk menolak melayaninya kali ini. Mungkin memang sudah tiba masanya aku menjadi istri seutuhnya. Kupejamkan mata, pasrah menikmati serangan bibir nakalnya. Lagi-lagi penyatuan kami harus tertunda. Ali mengetuk pintu dengan brutal, berteriak memanggil. Menyuruh kami keluar.
"Argh!" erang Miku. Dia langsung turun dari ranjang, mengacak rambutnya frustasi. Mengumpat panjang kali lebar. Ditendangnya kaki kursi rias yang tak berdosa itu. Lantas memakai bajunya. Aku mengulum bibir menahan tawa. Kemudian turut bangun, turun dari ranjang merapikan pakaian dan rambut.
"Ada apa?!" ketus suamiku usai membuka pintu. Aku terkekeh lirih.
"Gue ganggu, ya?"
"Enggak kok, Li. Ada apa?" sahutku sambil membuka pintu kamar lebar-lebar dan berdiri di sebelah suamiku yang manyun. Mungkin kekesalannya sudah mencapai tingkat provinsi.
"Koki baru aja selesai masak. Kita makan yuk! Nanti keburu dingin loh, makanannya," papar Ali. Bocil masih bersedekap nyender di sisi pintu.
"Ya udah, yuk, kebetulan aku juga sudah lapar." Kulingkarkan tanganku di lengan Miku sambil mengulum bibir menahan malu dan senyum. Sesuai harapan, akhirnya senyum tercetak di bibir tipisnya nan seksi itu.
"Kheeem!" Ali berdehem, "Duh, kok mendadak panas ya, suasana di dalam kapal ini?" lanjutnya.
"Nyebur sono ke laut! Reunian sama kembaran lu!" olok bocil sambil menggandengku melewati Ali.
"Kembaranku apaan?"
"Berang-berang!"
"Parah lu! Sohib ndiri disamain ama berang-berang!" sungut Ali.
__ADS_1
Usai makan, kami lanjut duduk santai. Bocil dan Ali main gitar. Bosan main gitar, lanjut nonton film.
"Tapi nontonnya film yang romantis aja, ya?" pintaku. Ali mengangguk setuju, tapi detik kemudian bocil berbisik dengan sahabatnya itu. Ali mengacungkan jempolnya sambil mengangguk-angguk. Dahiku mengernyit, rasa curiga seketika menyergap.
Kecurigaanku terbukti. Mereka malah memutar film horor thriller. Sontak aku menjerit dan menyembunyikan wajahku di dada si Bocil saat adegan sadisme mulai muncul. Mereka berdua malah terbahak saat aku mengomel panjang lebar.
"Jangan! Gak usah diganti, Li! Itu aja seru," cegah suamiku saat aku menyarankan agar diganti saja filmnya. Ali lebih nurut sama sohibnya. Mereka begitu seru menonton filmnya. Aku terus menyembunyikan wajahku di dada si Bocil. Sesekali mengintip sedikit. Penasaran, tapi takut lebih mendominasi.
*****
Sampai di pulau sudah hampir tengah malam. Rupanya sudah ada sepasang suami istri yang menyambut kedatangan kami. Kata Ali, kedua laki bini itu yang bekerja mengurus Villanya di pulau ini. Sementara kru kapal, sebagian turut ke Villa, dan sebagian lagi memilih tidur di dalam kapal.
Mataku menyapu ke sekeliling Villa yang diterangi lampu-lampu. Suasananya hening. Sesekali terdengar suara binatang malam. Seperti suara burung hantu, dan entah suara hewan apa lagi.
"Kalian pasti capek banget, ya?" tebak Ali. Setelah kami memasuki Villa.
"Bukan lagi. Ngantuk juga," sahut lelakiku.
"Ya udah, sana istirahat gih!" titah Ali. Detik kemudian ia meminta tolong pada wanita yang tadi memperkenalkan dirinya sebagai Ibu Rusmiati agar mengantar kami ke kamar. Sedang suaminya Bu Rus, yakni Pak Rusman menemani Ali berbincang di ruang depan.
"Siap, Den!" jawab Bu Rus patuh. Lantas menggiring aku dan si Bocil ke kamar yang luas dan mewah didominasi warna ungu.
"Selamat istirahat! Oya, toilet ada di balik pintu itu!" ujar Bu Rus menunjuk sebuah pintu yang terletak beberapa langkah di sebelah kanan ranjang, "Kalau butuh sesuatu interkom saja!" lanjutnya. Aku mengangguk, bocil mengucapkan 'terima kasih'. Keren juga, di pulau yang letaknya jauh dari perkotaan begini, tapi sudah dilengkapi dengan berbagai fasilitas.
"Gimana kalau sekarang kita melanjutkan yang tadi di kapal terjeda?" bisik lelakiku usai Bu Rus pergi. Aku gelagapan. Gugup. Dia langsung mengunci pintunya. Selepasnya melangkah mendekat.
"Boleh, tapi jangan lama-lama, ya?" Aku mengangguk.
Langkahku melambat saat kembali dari toilet dan mendapati dia sudah terlelap. Lah, katanya mau nganu, tapi malah udah molor. Ck, tertunda lagi, deh. Padahal cuma ditinggal cuci muka sama gosok gigi doang bentaran. Aku merebahkan badan perlahan di sebelahnya. Dia melenguh, merangsek mendekat, melingkarkan tangan di pinggang ini. Kubalas melingkarkan tangan ke badannya. Kutatap wajahnya yang imut saat terlelap.
******
Aku membuka mata dan ternyata sudah pagi. Bocil sudah tidak ada. Suasananya benar-benar sepi. Aku pikir suamiku masih di kamar mandi, tapi sudah keluar kamar tampaknya. Aku memeriksa ponsel dan mengirim pesan pada lelakiku.
[Kamu di mana?]
[Kenapa? Kangen yaaa?] Dibubuhi stiker dengan mata berlope-lope.
[Ck, serius napa? Kamu di mana?] Stiker marah aku tambahkan.
[Aku mancing sama Ali.]
[Ihh, kok gak ngajak-ngajak, sih?! Gak bangunin aku tadi?] Kububuhkan stiker sebal.
[Gak tega banguninnya. Tidurnya pules banget, sampek aku cium aja gak kebangun.]
__ADS_1
Hah?! Seriusan tadi dia nyolong bibir ini? Kuraba bibir dan tersenyum.
[Nyusul aja ke sini. Minta tolong anter Bu Rus. Dia tahu kok tempat ini.] Aku tersentak dari lamunan oleh notifikasi pesan susulan darinya.
[Ya udah, aku mandi dulu kalo gitu.]
[Iya. Mandi yang bersih, dandan yang cantik. Siapa tahu nanti di sini kita dapat kesempatan buat hokya-hokya.] Stiker lidah melet ke samping ditambahkan.
[Dasar mes-um!] Dia membalas dengan stiker ngakak. Lantas aku letakkan hp di atas kasur dan aku tinggal mandi.
Usai mandi aku keluar kamar dan mencari keberadaan Bu Rus. Ternyata sedang berbincang dengan suaminya di dapur. Bukan berbincang, lebih tepatnya seperti sedang berdebat. Suasana kian memanas, aku jadi merasa riskan untuk mengganggu mereka.
"Eh, ada Mbaknya rupanya." Bu Rus keburu menyadari keberadaanku sebelum sempat aku pergi. Aku tersenyum canggung.
"Maaf, saya mengganggu ya, Bu?"
"Oh, enggak kok. Ada yang bisa saya bantu?" balas Bu Rus. Sedang Pak Rusman asyik menyeruput kopi sambil ngemil gorengan.
"Eum, jadi gini Bu ... saya mau nyusul suami, tapi gak tahu di mana mereka mancingnya."
"Oh, iya, tadi Den Ali sudah berpesan agar mengantar Mbak Safa ke tempat mereka mancing sambil bawain bekal."
"Ya udah, sini saya bantu menyiapkan makanannya, Bu." Bu Rus menerima bantuanku. Setelah makanan dan minuman siap. Dia mengantarku menuju tempat Ali dan bocil mancing. Melewati jalan setapak yang membelah hutan. Sejuk dan asri. Kicau burung terdengar bersahutan bak melodi pengiring langkah kami.
"Oya, Ibu bekerja mengurus Villa keluarga Ali sudah lama?" tanyaku berusaha mencairkan suasana yang kaku.
"Sudah puluhan tahun mungkin."
Aku mengangguk-angguk. "Gak bosen, Bu, tinggal di pulau yang letaknya mencil begini?"
"Enggak. Kadang seminggu sekali atau lebih kami keluar pulau kok. Mengunjungi keluarga di kota, atau berbelanja. Kadang juga keluarga Ibu ke sini. Nginep. Jadi rame."
"Oh, boleh ya, keluarga Ibu ke sini?"
"Boleh. Keluarga Den Ali itu sangat baik sekali. Saya merasa beruntung bisa mengenal dan bekerja di sini. Ibu malah merasa kayak tinggal di Villa sendiri. Gak berasa kalau sedang kerja," paparnya.
Ali beruntung banget diangkat anak oleh keluarga kaya yang baik hati. Semua kebutuhannya dipenuhi. Kasih sayang mengucur deras untuknya. Buktinya setiap apa yang Ali mau selalu berusaha dituruti oleh orang tua angkatnya itu.
"Nah, itu di sana mereka!" Bu Rus menunjuk tempat mancingnya. Rupanya terletak di sisi lain pulau ini. Tapi, kok yang terlihat hanya Ali saja. Di mana si Bocil? Mataku menyapu sekitar mencari keberadaan suamiku, tapi tidak terdeteksi oleh mata ini.
Setelah berbincang sebentar dengan Ali, dan meletakkan makanan yang tadi dibawa, Bu Rus pamit kembali ke Villa.
"Iya, terima kasih ya, Bu," sahut Ali. Bu Rus pun melangkah pergi dan kian menjauh. Aku masih celingukan mencari si Bocil.
"Dafa mana, Li?" tanyaku setelah tak kunjung menangkap keberadaannya. Ali celingukan mencari keberadaan sahabatnya.
__ADS_1
"Tadi di sana, sih!" Ali menunjuk beberapa meter di sebelah utara tempat kami berada, tapi di sana tidak ada seorang pun. Hanya ada tepian yang menjorok ke laut dan ditumbuhi ilalang campur semak liar lain.
Aku melangkah ke arah yang ditunjuk Ali. Hening. Hanya ada suara debur ombak yang ada di bawah tebing sana. Panggilanku tak disahuti oleh si Bocil. Bahkan Ali pun ikut memanggil-manggil, tapi tetap suamiku tidak menyahut. Ke mana dia? Apa yang terjadi dengannya?