
Seusai perkuliahannya, Aletta langsung keluar dari ruang tempat perkuliahan, tapi usahanya sia-sia karena sang dosen killer berusaha menahannya.
“ Aletta Wijaya, sehabis ini kamu ke kantor!” katanya dengan nada dingin.
Dosen dingin itu bernama Raihan Abimana, berusia 30 th, dengan tubuh yang atletis wajah yang tampan tentu saja bisa membuat ciwi-ciwi yang berada di kampus itu berebut perhatiannya.
Tapi jangan disangka kalau dosen itu menanggapi perhatian ciwi-ciwi yang selalu mengitari dirinya seperti lalat yang mengitari makanan kesukaannya, perangainya yang dingin dan datar juga kedisiplinannya Yang Maha ketat membuat mahasiswa-mahasiswinya selalu merasa ketakutan berada di dekatnya, apalagi kabarnya dia adalah penanam saham terbesar di Universitas ini dan juga yang menentukan kelulusan para siswa-siswinya, berdasarkan kegiatan yang diikuti serta kedisiplinan siswa-siswi yang mengikuti mata kuliah di Universitas tersebut.
Aleta hanya menundukkan kepalanya karena dia tidak mungkin melawan dosen killernya itu, padahal dirinya merasa bahwa tidak memiliki kesalahan apapun dan selalu melakukan tugasnya tepat pada waktunya.
Tapi mau tidak mau Aletta mengikuti saja apa yang diinginkan oleh sang dosen killer agar nilainya aman dan dirinya akan cepat lulus seperti janjinya kepada sang suami kalau dirinya bisa cepat tulus dan mengerjakan segala sesuatunya dengan maksimal maka dirinya akan mendapatkan kembali saham milik sang kakek yang saat ini berada di tangan sang suami.
“Baik pak!”
Aletta tentu saja menunggu sang dosen untuk balik ke kantor dan dirinya akan mengikuti sang dosen dari belakang seperti domba yang mengikuti gembalanya.
Tanpa Aleta ketahui sang dosen menyunggingkan senyum yang sangat mahal yang biasanya tidak pernah dilihat oleh orang, tapi melihat tingkah laku dan kepolosan dari siswinya ini membuat sang dosen tersenyum.
“Masuk!” kata Sang dosen dengan nada datar dan dingin, mempersilahkan mahasiswinya itu masuk ke dalam ruangan Kantornya yang privat dan hanya dihuni oleh dirinya sendiri.
Aleta hanya terdiam dan mengikuti apa yang menjadi perintah dari sang dosen, dan duduk di tempat di mana sang dosen menunjuk dengan dagunya.
“ Letta, tahu apa yang ingin saya bicarakan?”
Sebenarnya Aleta ingin mengatakan kepada sang dosen, lah situ aja Belum Ngomong Bagaimana aku bisa tahu emangnya aku Paranormal?
Tapi jelas Aleta tidak berani mengungkapkan itu di hadapan dosennya, karena kalau sampai Aleta melakukan itu maka nilainya akan jeblok dan dipastikan bahwa dirinya tidak akan lulus mata kuliah yang diampu oleh dosennya itu.
Maka akhirnya Aletta hanya menggeleng-gelengkan kepalanya tanda dirinya tidak mengetahui apa yang ingin dikatakan oleh sang dosen.
Melihat ketakutan terpancar di netra wanita yang ada di hadapannya itu membuat sang dosen hanya menarik garis bibirnya, namun sang mahasiswi juga tidak mengerti apa yang dilakukan oleh dosennya itu.
“ Hmm, kamu kan masuk ke Universitas ini dengan nilai yang mendekati sempurna, sehingga kamu mendapatkan beasiswa untuk masuk ke dalam Universitas ini, Oleh karena itu rencananya dari bagian kesiswaan akan meminta kamu untuk menjadi asisten dosen saya Karena itu adalah salah satu prasyarat untuk mendapatkan beasiswa kembali di semester berikutnya.” jelas sang dosen dengan nada tegas namun sebenarnya nada suaranya itu sangat lembut, bertolak belakang dengan kebiasaannya di dalam ruang kelas, namun tentu saja Aletta tidak memperhatikan masalah kecil seperti ini, karena fokus pemikirannya hanya perkataan dari sang dosen bahwa dirinya akan mendapatkan beasiswa kembali di semester berikutnya apabila dirinya menerima pekerjaan sebagai asisten dosen killer itu.
Sebenarnya Aleta senang dengan beasiswa yang akan ia dapatkan namun dirinya ragu-ragu untuk bisa menjadi asisten dari dosen killer itu karena dosen itu sangat perfeksionis dan Tentu saja sangat pandai, membuat Aleta minder sendiri dengan kemampuannya Apakah bisa mengimbangi sang dosen killer tersebut.
“ Tapi pak saya itu rasa-rasanya tidak akan mampu menjadi asisten dosen karena saya sebenarnya tidak terlalu pintar-pintar amat.” Aletta berusaha mengemukakan apa yang menjadi pendapat dirinya karena memang selama ini dirinya itu hanya rajin dan tidak merasa bisa untuk mengajari orang lain.
__ADS_1
“ Apa yang membuat kamu tidak percaya diri seperti ini? Bukankah nilai-nilai kamu Di semester ini pun jauh lebih tinggi di atas teman-teman kamu yang lain?” dosen itu merasa kebingungan karena biasanya wanita-wanita di luaran sana itu sangat menginginkan menjadi asisten Dari Dirinya namun Kenapa Aleta itu Justru malah berkesan menolak menjadi asisten dirinya.
“ Gini ya pak, bukannya saya nggak mau atau sombong gitu, tapi sebetulnya kepandaian saya itu bukan di bidang mengajar, gimana ya menjelaskannya?” Aleta kebingungan dalam menjelaskan apa yang menjadi kebimbangannya namun rasa-rasanya sang dosen bisa menangkap Apa yang dimaksud oleh siswinya ini.
“ menjadi asisten dosen itu sebenarnya bukan untuk mengajari teman-teman kamu, tapi lebih ke arah membantu tugas-tugas dari dosen dan men share kannya kepada teman-teman yang lain, Jadi bukan menjadi seperti saya yang mengajar ilmu kepada teman-teman kamu.” Kata dosen tersebut menjelaskan kepada Aleta supaya Aleta tidak merasa tertekan dan kebingungan dengan job description sebagai asisten dosen.
Aleta juga paham bahwa keinginan sang dosen tidak ingin ditolak, dan dirinya pun tidak akan bisa menolak apa yang menjadi pengaturan sang dosen jadi akhirnya Aletta menerimanya walaupun dengan hati yang berat serta dengan segala keterpaksaan, biar cepat gitu.
“Uhm . . . Baiklah kalau memang harus begitu ya saya akan menerimanya saja! Apakah pembicaraan kita Sudah selesai karena saya udah ditunggu oleh sopir untuk segera balik ke kantor karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan di sana!”
“ Apa kamu juga magang kerja di kantor? Bukankah kamu memiliki perusahaan yang dikelola oleh kakek kamu setelah ibu kamu tidak ada?” tanya sang dosen yang tidak mengerti Kalau sebenarnya Aleta itu sudah menikah dengan anak keluarga Javier, karena kebetulan sang dosen memang bukan berada di lingkungan pebisnis sehingga tidak mengetahui bahwa Aleta itu sudah dipersunting oleh Hans Armando Javier sebagai istrinya.
“ Iya saya magang di perusahaan Tuan Hans Armando Javier . . “ kata Aleta sambil menyembunyikan statusnya yang sudah menikah dengan pemilik perusahaan yang terbesar se-asia itu.
“Owh, ya kalau begitu silahkan saja kalau mau pulang, dan jangan lupa dengan tugas kamu di kuliah dan tugas kamu sebagai asisten saya, yang akan dimulai besok pagi.”
“ Hah? Besok saya gak ada jadwal dengan matkul bapak!”
“Memang tapi kamu harus dan kamu boleh izin ketika kamu mengikuti mata kuliah yang lain tapi selebihnya kamu akan bekerja di sini sampai jam 12.00 siang, lalu kamu akan ikut makan siang dengan saya Kecuali Kamu ada mata kuliah lain atau kalau kamu akan berangkat magang kerja di perusahaan.”
Aleta semakin pucat mendengar apa yang dikatakan oleh sang dosen karena itu berarti dirinya harus meminta izin terlebih dahulu kepada suaminya kalau ia sudah menerima pekerjaan sebagai asisten dosen tersebut, dan Alita tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan oleh sang suami apabila mengetahui hal ini.
“Ah Baiklah nanti saya akan izin ke kantor terlebih dahulu Kalau menjadi asisten di sini, Mungkin jam kerjanya bisa terlebih fleksibel ya Pak karena selain itu kan saya juga harus mengurus kebutuhan rumah tangga.”
Raihan Abimana mengerutkan keningnya karena kebingungan kalau sang mahasiswi ini juga harus mengurus kebutuhan rumah tangga di keluarga Wijaya? Kasihan sekali mahasiswi ini, padahal otaknya encer dan Sigap dalam melakukan pekerjaannya.
“Seharusnya Kamu tidak usah bekerja terlebih dahulu di kantor, Bukankah sekarang Seharusnya kamu mengejar pendidikan kamu terlebih dahulu?” tanya Raihan dengan sedikit kasihan, sehingga niatannya membantu supaya Aleta tidak perlu membayar uang kuliah dan mendapatkan beasiswa penuh dari kampus ini.
“ He he he tapi . . “
Belum saja Aleta selesai berbicara dengan sang dosen tiba-tiba ponselnya bergetar dan berbunyi dengan sangat keras.
Drrttt… drrttt..
Aletta melirik ke arah ponselnya dan id caller yang meneleponnya adalah sang suami !!
Gawattt!! Wajah Aletta kebingungan, ia harus bikin alasan apa inih?
__ADS_1
“Siapa, Letta?” tanya sang dosen dengan wajah heran karena Aleta tidak kunjung mengangkat panggilan teleponnya itu.
“Eh dari kantor tuan Hans, pak!”
“Lha kenapa tak diangkat?”
“Saya permisi saja ya pak, soalnya saya harus ke kantor sekarang!” kata Aletta berpamitan dengan tergesa.
“Oh okey . . silahkan!”
“Makasih, permisi!”
Aletta lalu menghilang di balik pintu dan entah kenapa Raihan merasa bahwa dirinya Kehilangan wajah cantik yang selalu membayangi mimpi-mimpi malam harinya.
“ Hmm Aletta Wijaya . . “
desahnya dengan nada lirih, berusaha menepis sepi yang datang saat bidadarinya berpamitan pergi.
.
.
.
TBC
Hai guys, jangan lupa untuk keep support author ya, dengan cara memberikan komen, like dan juga memfavoritkan, syukur syukur kalau kemudian memberikan vote dan juga hadiah buat semangat thor. Oke Thor juga punya rekomendasi cerita ya
Cinta Cool dan Barbar
By. alviesha_ athninamissy
Blurb.
Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.
"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.
__ADS_1
Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.