
Beberapa bulan kemudian, Aletta sudah masuk ke masa masa melahirkan tapi entah bagaimana anak yang ada di dalam kandungannya ini masih betah berad di dalam perut ibunya.
Pagi itu Arland dan Merlita sedang duduk di ruuang makan dan menunggu sang anak tunggalnya yang akan makan pagi bersama dengan Aletta di meja seperti biasa.
“LOh kamu mau kemana sih hans?”tanya Arland dengan kebingungan karena Hans turun dengan membawa tas perlengkapan Letta.
Suara Arland membuat Hans menoleh ke arah papanya dan memusatkan perhatian kepada papa dan mamanya yang sedang duduk manis di meja makan dan langsung menjelaskan.
“Aku akan ke rumah sakit!”
“Siapa yang sakit Hans?Letta kah?” tanya mama dengan cemas.
“Dokter kandungan Lettamenyuruh kami untu tinggal di rumah sakit saja!” katanya sambil menaruhtas ke atas kursisofa yang berada di ruang keluarga.
“apa sudah akan melahirkan?” tanya mama lagi dengan nada yang lebih cemas.
Han s menggelengkan kepalanya dan meneguk segelas jus yang emng di sediakan oleh asisten rumah tangganya di meja makan.
“HPLnya sudah lewat dan ia harus dicek kembli, takut kalau air ketubannya sudah keruh berarti ia harus segera operasi atau induksi.” katanya dengan sedikit gugup.
“Ah lalu dimana istrimu sekarang?” tanyanya dengan mendesak.
“Masih diatas dan bersiap siap saja.”
“Kamu mestinya bisa memancingnya sendiri Hans, its so easy!” cemooh papanya dengan tampang mengejek.
“”Memancing ikan?”
“Memamncing kontraksi lah … “
“aku gak tahu pa!” katanya dengan kebingungan
Pria paruh baya itu langsung saja mendekati sang anak dan membisikkan sesuatau di telinganya.
Mata Hans membulat dan langusng menatap sang papa yang tersenyum mesum, membuat dia juga semakin bersemangat.
“Benarkah?”
“Cobalah kalau kamu gak percaya!”
“Papa …awas aja kalau papa sampai bohong!’”
“Ck, gak percayaan amat sih! Sudah seegera kamu praktekan saja, pasti bener deh apa yang papa bilang!” kata papa sambil mendorong tubuh anaknya untuk segera melakuakn apa yang dia bisikkan itu.
__ADS_1
“Jamin?”
“Aku jamin pasti berhasil . . “ kata papanya sambil menuding ke atas dengan dagunya … seakan memberi isyarat agar mereka langsung melakukan saja dengan s egera apa yang ia katakan itu.
Secepat kilat Hans menyambar tas yang ia bawa tadi dan berlari naik ke atas.
Hans langsung masuk ke kamar dan kemudian Mengunci pintu meletakkan tas di samping meja nakas tempat biasanya sang istri meletakkan tas tersebut.
“ lah kamu kenapa malah membawa tas itu kembali ke kamar dan malah mengunci pintunya.” tanya sama istri dengan nada heran karena sang suami malah cengar cengir nggak karuan.
Hans malah melangkah untuk mendekati sang istri yang masih duduk di sisi ranjang dan dia pun duduk di samping sang istri.
“ kita tidak perlu ke rumah sakit terlebih dahulu karena aku tahu bagaimana caranya supaya anak kita bisa segera lahir.” katanya sambil tersenyum aneh.
“ Bagaimana bisa? Bukankah dokter kandungan kita malah justru menyuruh untuk kita segera ke rumah sakit sekarang juga?”
“ tadi papa sebagai orang yang sudah berpengalaman malah menyarankan aku untuk melakukan sendiri dengan cara memancing kamu.” Jelas Hans dengan nada menggebu-gebu.
“ memancing apa sih emangnya aku ini ikan?” sang istri tentu saja menggerutu karena apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
“ maksudku itu memancing agar kamu tuh cepat kontraksi dan anak kita cepat lahir,” ungkap Hans dengan nada menggebu-gebu.
“ Ayo kita lakukan saja sekarang,” kata suaminya menggeser tubuhnya untuk mendekati sang istri namun tentu saja sang istri malah kebingungan dan semakin menjauh, malah akhir-akhirnya terjadi saling pepet menghindar jadi Hans memepet, tapi Aletta menghindar.
“ Ihhh gak ahh kamu mesum pasti. Itu hanya kala akalan kamu saja kan?” tuduh Aletta dengan nada kesal.
“ Aku sudah tak sabar untuk bis a bertemu dengan dia,” rengek sang suami di telinga sang istri dan tangannya mengusap perut buncit snag istri.
“Aku juga ingin ketemu dia … hummpht!”
Hans langsung saja mengulum bibir sang istri dan tangannya meraba gundukan daging kenyal, dengan sentuhan dan rangsangan itu membuat perutnya sedikit mengencang dan mengeras.
“Ahhh …”
Suara pada saat mendesah dicampur dengan meringis kesakitan itu memang Epic banget.
“Kamu ngrasain apa?”
Dia menjeda sentuhannya dan juga rangsangannya kepada sang istri, dia juga bisa merasakan bahwa perut buncit sang istri itu mengancam dan sangat keras.
Aletta menggelengkan kepala setelah rasa itu tiba-tiba hilang namun mendadak rasa mulas itu terasa lagi seperti kram di perut bagian bawah.
‘Mas, kayaknya…”
__ADS_1
“Loh aku kan belum masuk, kok udahan?” gerutu sang suami.
Padahal tadi hans itu hanya ingin membantu proses melahirkan sang istri lebih mudah, namun kenapa malah Ketika sang istri sudah merasakan kontraksi, dirinya malah sebal campur kesal karena harus menunda hasratnya.
Sang istri Hanya bisa menarik nafas pelan dan mengingat-ingat pelajaran yang sudah diberikan oleh bidan yang memandunya senam hamil waktu itu.
“ Lebih baik kita segera ke rumah sakit mas!”
“Hah? Beneran ?”
Aletta hanya bisa menganggukkan kepala lemah
“Papaaaaa” teriak Hans dar kamarny atas itu mengkode sang papa untuk segera memanggil supir pribadinya. hans dalam keadaan panik sekarang.
Hans segera mengangkat tas yang ia letakkan dan secepat kilat ia langsung turun ke bawah.
“Hanssss, kamu mau kemana!!”
“Kita harus ke rumah sakit sekarang paaa!!Letta sudah kontraksi.”
“Kamu gila!!Balik ke kamar!” kata sang papa dengan geram.
“Pa, Letta sudah kontraksi . . “ Hans benar benar panik dan kesal dengan sang papa sekarang, kok malah mencegah dirinya untuk berangkat ke rumah sakit.
“Hans, mama tahu itu kalau kamu itu panik, tapi plis kamu juga harus sadar kalau kamu itu hanya pakai boxer doang!Kamu harus ganti celana dulu, minimal celana pendek, bukan ****** ***** doang!” kata mama dengan mengulum senyum supaya anaknya tidak malu.
Hans langsung menatap dirinya dan kemudian dia ngibrit balik ke kamar.
“Lha wongh mau nganter istrinya melahirkan kok malah istrinya juga ditinggal, apa gak menyun tuh anak. Emang yang mau melahirkan dia?Mana hanya pakai ****** ***** doang lagi!Anak kamu itu loh ma!!Udah tua tapi kok ya kau panik bisa lupa diri gitu sih?” papa menggerutu sambil memastikan kalau supir sudah di teras, agar mreka bisa segera berangkat. Mereka naik 2 mobil agar tidak terlalu membuat Letta tertekan.
Sedangkan sang mama hanya ketawa sendiri mengingat sang anak tadi.
Kini si Hans sudah turun sambil menggandeng sang istri, dan mereka pun segera berangkat karena mereka takut kalau Letta bakal melahirkan di mobil.
***
Readers, jangan lupa dukung karya ini ya dengan like dan juga komen, kemudian vote dan juga hadiah…
Soalnya karya ini akan tmat dalam beberapa episode lagi ya! Thank you and happy reading!!
Mampir juga di karya baru thor. Kupastikan kehancuran keluarga kamu!!
udah 8 episode tuhhhh
__ADS_1