
Netra Hans membulat karena perkataan sang istri dan tak bisa menahan perasaannya yang tiba tiba bahagia seperti orang yang kepanasan trus langsung disiram air dingin, rasanya nyessss . . dan senyumnya mengembang kayak dikasih baking soda.
Dan terus terang saja kalau dikatakan secara jujurnya Hans sudah tidak menikmati makan malamnya itu.
Dia sudah ingin buru-buru pulang karena ingin mewujudkan apa yang dikatakan oleh sang istri.
Dia juga sebetulnya heran kenapa kok dia itu merasakan kebersamaan bersama istrinya itu membikin candu baru bagi kehidupannya.
“Hey bro, kamu kenapa dari tadi diam saja sih?”
“Kalian sudha selesai makannya? Kalau sudah byar sana gih!” katanya sedikit menyindir Arya dan Elish dengan raut wajah datar andalannya itu.
Membuat Arya dan Elish hanya bisa tertawa terbahak melihat kekesalan di wajah sang sahabat sekaligus bos mereka itu.
“ Aih bos! Padahal kamu itu banyak duit loh Masa cuman kadar makan habis beberapa juta aja kamu repot sih? Anggap aja kamu tuh lagi beramal sama sahabat dan sepupumu.” keluh Elish diselingi gelak tawa dari Arya yang sebetulnya tahu persis apa yang saat ini ada di dalam benak sang sahabat.
“Sudah lah yang, kamu itu mengganggu kebersamaan dari sepupu kamu itu dan istrinya. . .”
“Eh aku ga pa pa kok … bagi aku kalian itu lucu dan menghibur. Keponakan kalian juga bakalan senang kalau kalian hibur begini.” katanya dengan santai.
Tapi justru secara jujur membuat keduanya terdiam dan Saling pandang.
“Kamu sedng hmil, Letta?” tanya Elish dengan tatapan menyelidik.
“Eh iya … loh kenapa kalian jadi menatap aku kayak gitu sih?” tanya Letta kebingungan.
“Beneran hamil?”
“Eh maksud kalian mencecar istriku apa sebenarnya? Mau di bogem mentah?” tanyaHans dengan kesal karena melihat sang istri ditindas oleh sepupu dan sahabatanya.
“Kenapa kamu gak bilang sih, Hansssss!!!!”
“Kenapa harus?”
“Kan harus ada pesta buat merayakan ini?” kata Elish dengan kegembiraan yang memuncak. Elish dan Arya memang sengaja menunda kehamilan karena mereka masih suka berkeliling dunia dan itulah mimpi mereka berdua berkeliling dunia dan baru setelahnya mereka akan membuat anak.
“Kamu bikin saja sendiri anak sama Arya!” sentak Hans tak terima.
“Yah kan emang kita maunya tahun depan aja, jadi kalau anak kamu laki dan anak aku cewek kita bisa besanan.”tangkis Arya dengan cepat.
“Mimpi kamu ketinggian, gue mah ogah!” sahut Hans dengan nada kesal.
“ Ya ampun mas, … kalian ini kekanakan deh!” Aletta Jengah dengan pertengkaran Ketiga orang ini Karena itulah yang terjadi saat mereka bertemu bersama, tapi heran ya kalau tidak bertemu mereka itu saling Rindu.
“Sudah aku mau pulang sama Letta jangan ganggu kami dengan sesuatu yang gak perlu… ngerti gak?” kata Hans denan raut wajah kesal, sedang kedua temannya hanya tertawa mengejek Hans, sedang Letta menunduk malu malu.
“Halah, sok keras! Padhal dia cuman mau mlipir bermesraan dan bikin malam panas tuh . . “
“Iya beb, kita ganggu aja gimana?” tanya elish dengan nada menggoda, Hans melirik dengan tatapan tajam, serta segera menggandeng sang istri untuk segera pergi dari sana.
“ awas aja sih kalau kalian berani ganggu aku di apartemen, Aku pastikan kalian akan menyesal!” teriak hand ketika berada di dekat pintu keluar dari ruangan VIP yang seyogyanya dipakai untuk dirinya dan Aletta malah sepupunya dan juga sahabatnya tunggu makan dan menghancurkan sesi makan malam romantis dirinya dan juga sang istri.
“ Ha ha ha tenang saja bos! Kami takkan menganggu malam panas kalian karena kami juga akan membuat sesi malam panas untuk kita sendiri secara pribadi jadi nanti kita sama-sama ya! Tapi di kamar masing-masing!” Memang sahabat Hans ini sedikit ngeselin tapi bagaimana pula mereka sudah berteman dari sejak dahulu kala dan juga membuktikan kesetiaan persahabatan mereka yang tidak lekang oleh waktu.
“Harusnya kamu kasih tahu dong kalau tante dan om bakalan datang ke apartemen, sayang!”
“Ah enggak ah, biar itu jai kejutan buat mereka. Salah sendiri Hans jutek sama aku.”
“Ish kamu ini emang super jahil. Aku yakin mereka akan super terkejut dengan apa yang menunggu mereka di apartemen.”
“ Lagian Ya aku juga percaya kalau Hans Tidak mungkin mau mempercayai apa yang aku katakan, jadi lebih baik dia tahu sendiri dari matanya sendiri.”
Mereka saling berkata-kata dan bertukar tawa tanpa mengetahui bahwa nanti Hans akan merasakan malu yang tidak terhingga ketika apa yang harusnya di beritahukan kepadanya itu tidak disampaikan oleh sepupunya yang nakal dan jahil itu.
Sementara itu dimobil, Sang istri hanya menatap hal dengan senyum kecil di wajahnya karena dia sangat mengerti kenapa sang suami terburu-buru ingin pulang.
__ADS_1
Karena perjanjian antara dirinya dan sang suami itulah yang membuat sang suami tidak tahan dan ingin segera pulang untuk Menghabiskan malam panas mereka.
***
Sesampainya di rumah tanpa memberikan jeda yang panjang dan langsung saja mencumbu bibir sang istri mulai dari lift apartemen yang sepi, sampai ketika mereka ingin masuk ke dalam ruangan apartemennya.
Sang istri hanya pasrah dan hanya mendesah ketika kedua bulatan di dadanya itu diremas secara seduktif oleh sang suami.
Mereka memasuki ke dalam ruangan apartemennya dengan cepat dan menunggu lampu dinyalakan.
Tapi mereka tetap tidak melepaskan pagutan bibir mereka sehingga Hans sangat kesulitan untuk mencari saklar lampu karena matanya tetap tertuju kepada wajah sang istri dan juga tangannya yang satu merengkuh pinggang kecil sang istri agar istrinya tidak melepaskan pagutannya.
Ctak ..
Lampu menyala …
“Hans… Letta?”
“Hah?Mama sama papa ngapain disini?” tanya Hans dengan nada kesal karena lagi-lagi dirinya harus menunda malam panasnya bersama dengan sang istri gara-gara ada mama papanya di sini? Bukannya seharusnya mama papanya tinggal di rumah besar?
Dan Kenapa mereka tidak memberitahu terlebih dahulu Kalau mereka ingin datang?
Beribu pertanyaan ada di dalam benda A Hans namun saat ini adalah bagaimana cara menyelamatkan dirinya dan juga sang istri yang terlanjur malu.
Bahkan sang istri sampai saat ini masih bersembunyi di belakang tubuh dari bahan yang kekar dan besar karena dirinya malu terpergok dan terciduk sedang melakukan hal yang tidak senonoh di dalam ruangan Apartemen ini.
“ Loh bukannya aku sudah bilang sama Elish kalau kami hendak berkunjung ke sini karena kalian benar-benar sudah melupakan kami sebagai orang tua. Apalagi kamu harus sama sekali tidak ada terima kasihnya udah dijodohkan sama Aletta dan mengurung Aleta hanya di sampingmu saja sehingga Mama juga tidak pernah bisa berdekatan dengan anak perempuan Mama ini.” katanya dengan kesal sambil mendatangi Hans dan menarik Aletta untuk dipeluknya.
“Mau ada sesuatu yang kalian akui, mungkin?” tanya sang papa sambil menaik turunkan alisnya.
***
Readers, jangan lupa dukung karya ini ya dengan like dan juga komen, kemudian vote dan juga hadiah… happy reading
udah 7 episode tuhhhh
spill bab 3 ya
“Hiks hiks … “
“Eh kenapa kamu nangis, sa… eh Lea?” tanya Dilan dengan cemas, padahal sang istri masih ada di sana menatap drama ini dengan kekesalan serta amarah yang belum turun Safea ingin mencabik cabik sekretaris sang suami ini.
“ Sakit, mas … eh pak!” sahut Lea dengan sengaja kepleset panggilannya supaya Safea tambah meradang.
“ Lepasin dia mas!!! “ jerit Safea dengan tambah kesal melihat sang suami malah bermesraan dengan Lea, sepatu high heels yang ada di tangannya tanpa sadar dilemparkan oleh Safea ke kepala suaminya supaya suaminya itu bisa menjauh dari wanita ****** serupa artis itu.
Safea tidak bisa memungkiri bahwa wanita yang ada di hadapannya yang saat ini sedang bermesra-mesraan dengan sang suami itu memang sangatlah cantik, masih muda dan tampak begitu seksi.
Tak heran kalau sang suami bisa kepincut dengan wanita muda tersebut.
Kecemburuan yang ada di dalam hati Safea itu membuatnya hilang akal.
Sepatu yang dilemparkan ke wajah suaminya itu mengenai telak di jidat sang suami yang memang lebar dan glowing.
“Mama apa apaan sih, sakit jidat aku ini kena sepatu lancip itu!” kata Dilan dengan kesal dan marah.
Lea menambahkan pertamax ke api yang sudah timbul di percekcokan itu.
Tanpa segan ia mengelus jidat Dilan dan berusaha menenangkannya, pertunjukkan kasih sayang itu memang membuat Dilan lerem dan tenang. Hatinya bahkan berbunga bunga karena simpanannya dengan suka hati memperhatikan kesakitannya itu.
Dilan bahkan tidak sadar kalau Lea sengaja banget untuk menunjukkan kemesraan mereka dihadapan sang istri karena dia terlanjur terhanyut pada kebaikan hati dari Lea itu.
Tentu saja Safea menjadi semakin meradang dan juga semakin marah sehingga tanpa sadar Safea dengan kuku-kukunya yang tajam langsung menyerang dua orang yang sedang mabuk asmara itu.
Krakkk!
__ADS_1
Karena tangan dari Dilan sedang memeluk Lea maka Safea bisa dengan bebasnya mencakar wajah dari sang suami sehingga menimbulkan luka yang cukup lumayan dalam di wajah Dilan.
“Mama!!!” tangan Dilan yang tanpa sengaja menepis dan mendorong tubuh sang istri sehingga mengakibatkan Safea terjatuh dan kepalanya membentur kursi kayu yang ada di depan meja kebesaran Dilan.
“Arghhh!!” teriakan menggema dari Safea berakhir dengan terkulainya tubuh Safea.
Peristiwa itu mengakibatkan Safea harus dibawa ke rumah sakit akibat tidak sadarkan diri sejak kepalanya terbentur dengan kursi kayu yang ada di depan meja kebesaran Dilan.
Lea dengan pura-pura menutup bibirnya dengan kedua belah tangannya karena terkejut kemudian terisak melihat Dilan dan Safea yang bagaikan memerankan drama ikan ****** di salah satu stasiun televisi itu.
Sedangkan Dilan juga terkejut dengan reflek yang tadi dia lakukan ketika Safea menyerang dirinya.
Namun tentunya dirinya tetap harus menyelamatkan sang istri, tidak mungkin dia membunuh sang istri di sini kan? Maka dari itu dia langsung memanggil pengawalnya untuk membereskan apa yang saat ini terjadi dan mengantarkan Safea ke rumah sakit agar pihak rumah sakit menyelamatkan sang istri.
“Dre, kamu antarkan istri saya ke rumah sakit dan pantau kondisinya laporkan kepadaku segera aku akan membereskan di sini terlebih dahulu lalu aku akan menyusul ke rumah sakit!” kata Dilan menyuruh salah satu ajudannya untuk mengantarkan sang istri ke rumah sakit.
“Baik bos!” kata Andre, itu sambil menggotong Safea ke mobil agar bisa segera dibawa ke rumah sakit.
Sedangkan Dilan malah sibuk menenangkan simpanannya yang terlihat shock dan menangis tersedu-sedu. (padahal semuanya itu adalah akting dari Lea agar dirinya bisa menyetir kondisi Dilan saat ini)
“ Sayang kamu jangan ketakutan seperti ini! Aku akan membereskan semuanya dengan segera! Kamu balik dulu ke apartemen milikmu itu lalu Tunggu aku di sana … hmm?” suruh Dilan kepada simpanannya itu agar segera menunggu dirinya di apartemen sehingga mereka bisa melanjutkan perbuatan panas mereka di sana.
Karena sang istri ada di rumah sakit sekarang malah membuat dirinya lebih bebas lagi untuk bisa melakukan hal yang mesum di apartemen yang sudah Ia berikan kepada Lea, simpanannya itu.
Jadi nanti malam, ia akan tidur di apartemen simpanannya itu.
“Mas, aku ke apartemen naik apa?” tanya Lea sambil masih terus berakting sedih, terkejut, dan menangis.
“Kamu pulang bersama dengan salah satu sopir kantor! Ingat jangan nakal!! ngerti ga?” katanya sambil menepuk pantat Lea dengan tendensius.
“Ish, mana ada? yang nakal itu mas Dilan lah! “ katanya dengan merajuk manja membuat Dilan tertawa renyah bak laki laki remaja yang sedang dimabuk cinta.
Ia terus menerus merasa berbunga bunga karena simpanannya itu membuatnya merasa muda dan juga melakukan hal hal kecil yang membuatnya diperhatikan, seperti saat ia ditimpuk high heels sama istrinya tadi.
Lea keluar dari tempat itu dan segera memberikan pesan singkat kepada Aira untuk menghubungi detektif sewaannya, yaitu Ghaza karena mereka harus segera bertemu di rumah besar keluarganya yang ada di pinggiran kota. Tempat yang sama sekali tidak diketahui oleh Dilan dan antek anteknya.
Lea di mobil menuju ke apartemen pemberian Dilan sambil memikirkan pertemuannya dengan Ghaza beberapa waktu sebelum ia mendekati Dilan.
Flash back
Sekarang Lea sedang bertemu dengan Ghaza, detektif yang disewanya menjadi kaki tangannya untuk menyelidiki penyebab kematian dari orang tuanya yang katanya akibat kecelakaan hebat, sehingga kedua orang tuanya meninggal di tempat, bahkan Mobilnya terbakar habis bersama dengan kedua orang tuanya yang berada di dalamnya.
Insting Milan Elea mengatakan bahwa kedua orang tuanya itu dibunuh dan bukannya kecelakaan.
“ Untuk sementara hasilnya tetap sama, kedua orang tuamu itu kecelakaan! “ kata Ghaza.
Milan yang seharusnya menjadi ahli waris malah sama sekali tidak memiliki hak atas perusahaan itu, menurut Ghaza hal ini sangat aneh!
“ Hmm, selidiki saja terus sampai kita mendapatkan bukti yang konkret tentang hal ini! Aku memang mencurigai Dilan itu sebagai dalang dari semua semua ini dan dalam dari kecelakaan maut yang menimpa kedua orang tuaku.” kata Milan sambil menundukkan kepalanya karena ada setitik perih yang ada di dalam hatinya yang membuatnya merasa geram terhadap Dilan.
“Baik bos!Saya akan menyelidiki semuanya sampai mendapatkan bukti buktinya! By the Way, untungnya semua properti milik tuan Ali dan nyonya Nesia sudah dipindah namakan menjadi milik Milan Elea Putri.” kata sang detektif memberikan info lagi.
Milan tertegun mungkin sebelum mereka mengatasnamakan semua properti atas nama dirinya, ia yakin Ali danNnesia sebagai kedua orang tuanya sudah memiliki firasat bahwa akan ada orang yang akan mengusik dan juga mengganggu perusahaan serta properti yang mereka miliki.
Jadi kemungkinan besar, orang tuanya sadar bahwa rekan bisnisnya itu seperti ular beludak yang akan mematuk mereka Apabila mereka tidak memiliki persiapan sama sekali.
Walaupun sedikit terlambat namun properti mereka serta barang-barang pribadi milik mereka tidak sampai bisa diambil alih oleh Dilan dan juga Safeea karena mereka tidak tahu bahwa barang-barang milik Ali dan istrinya itu sudah dialih namakan menjadi milik anaknya.
Milan Alias Elea yakin kalau ia pasti akan bisa menghancurkan dan mengambil alih seluruh kekayaan Dilan serta menjebloskan mereka ke dalam penjara.
Dengan tubuhnya yang bagus dan seksi dia sangat percaya diri bisa menggaet seorang Dilan yang usianya sudah mendekati uzur.
Dia akan memanfaatkan hal itu agar Dilan masuk di dalam jebakannya.
Happy reading!!
__ADS_1