
Sesampainya mereka di kampus, Aleta langsung menuju ke kelasnya tapi naasnya dia bertemu dengan Raihan Abimana Di tengah perjalanan dirinya menuju ke kelas.
“ Diantar sama penjaga kamu?” tanyanya dengan sarkas. Entah kenapa dia juga belum bisa move on dari seorang Aleta Wijaya yang wajahnya meskipun jutek namun sangat menggoda.
“ Iya pak, saya diantar suami saya.” sahut Aletta dengan nada datar, Entah kenapa ketika Aleta mengatakan bahwa dirinya diantar oleh sang suami ada rasa perih dan nyeri di dadanya membuat raihan harus memalingkan wajahnya dari menatap seorang wanita cantik yang berlabel istri orang.
“Oh . . “ kemudian Raihan sedikit terdiam membuat Aletta melajukan langkahnya menuju ke kelas karena Aleta tidak ingin ada gosip mata-mata mengenai dirinya dan juga dosen killer tersebut.
Raihan hanya bisa menatap punggung wanita cantik yang melaju berjalan menuju arah kelas yang akan diampu nya itu.
Mendengkus sesaat dan kembali berjalan menuju ke kelas yang sama.
Seandainya . . . oh seandainya, decaknya kesal.
“Alettaaa, tunggu!!”
Raihan berteriak, mau tidak mau Aleta harus berhenti sejenak karena Tentu saja dia tidak ingin kalau sampai timbul rumor-rumor yang akan membuat sang suami mengetahui tentang keberadaan Raihan yang masih mengejar dirinya.
“ Apa lagi pak?” tanyanya dengan dingin.
“Aku . . . aku akan pergi. Mungkin sangat sulit untuk melupakan kamu kalau aku masih disini. Aku harap ia memang yang terbaik buat kamu, dan kamu akan berbahagia. Ingatlah aku kalau dia menyakitimu . . . aku akan selalu ada buat kamu.” katanya dengan lirih, selasar itu tampak sepi dan tak berpenghuni, dan suaranya hanya bisa ditangkap oleh Aletta saja, sehingga mereka berdua tak perlu malu karenanya.
Aletta hanya termangu, sedangkan Raihan memutuskan untuk pergi dari situ menuju ke ruang kelasnya.
Rasanya cukup bagi Raihan untk mengucapkan selamat berpisah dengan pujaan hatinya, kasih tak sampai dan wanita yang masih menempati seluruh bagian di hatinya.
Ia berharap kalau nanti Aletta akan tetap menjadi tempat pelabuhan terakhirnya.
Aletta melangkahkan kakinya dengan ragu, berharap kalau apa yang ia dengar adalah hal yang tk nyata.
Sekalipun ia tidak mencintai Raihan . . . dedikasinya atas Universitas ini tidak dapat lagi diragukan dan kepandaiannya juga tidak ada banding, Sayang sekali Kalau Raihan harus pergi hanya gara-gara dirinya, apalagi sebentar lagi dirinya tidak lagi ada di tempat ini. Rasanya setelah lulus dan mencapai gelar s1-nya dia akan melanjutkan S2 nya di tempat lain bukan di universitas yang sama.
Lagian dia akan memusatkan terlebih dahulu akan kehamilannya dan anaknya, Mungkin dia akan cuti sampai anaknya berusia 1 tahun baru akan melanjutkan kuliahnya lagi.
Tapi ia memutuskan untuk tidak lagi memikirkan hal itu dan tetap mengikuti perkuliahannya dengan baik, tinggal semester ini saja dan ia akan meninggalkannya dengan prestasi yang luarbiasa yang telah ia ukir di semester semester yang lalu.
***
__ADS_1
“Hmm gimana sayang kuliahnya bersama dengan dosen caper itu?” tanya Hans yang menjemputnya setelah ia mampir ke kantor terlebih dahulu.
“ Baik, tadi ia menemuiku secara pribadi. Karena dia ingin berpamitan secara khusus kepadaku karena katanya dia akan pindah dan tidak Lagi mengajar di kampus ini.”
Aleta memilih untuk terus terang kepada sang suami karena tidak ingin kalau sang suami Mendengar hal ini dari orang lain, lebih baik jujur daripada Hans mengetahui hal ini dari orang lain.
“Baguslah, so aku gak lagi perlu cemas dengannya kan?” tanyanya dengan nada senang.
“Hum!”
“Kenapa kamu sedih? Apa kamu mulai jatuh cinta dengannya?” nada cemburu tergambar dari perkataan Hans.
“jangan menghayal, kalau aku cinta dia masa aku mau punya anak dari kamu?” sahut Letta sinis.
“Ehm, aku hanya cemburu . . . karena kamu kelihatan kepikiran gitu!” katanya dengan sarkas.
“Kepikiran sih enggak, tapi aku kan sebentar lagi bakal keluar dari kampus, dan kaupun aku lanjutin S2, aku gak akan ambil disini. Jadi seharusnya ia tak menjadikan aku sebagai alasan untuk melarikan diri.” kata Letta dengan enteng.
“ Yah mungkin gak mau sekota karena gak bisa lepas dari kamu . . .” sindirnya lagi.
Eh sudah jujur malah dicurigai, malas banget!
Lebih baik ia tidur saja, dan jangan harap ia bakalan kasi jatah sama suaminya yang ngeselin dan pecemburu itu.
***
“Sayang, bangun dong! Udah sampai nih . . “
Letta membuka matanya dan melihat kalau ia bahkan sudah berada di kamarnya, brarti tadi sang suami menggendongnya ketika ia ketiduran di dalam mobil.
“Hmm . . “Letta ingat apa yang buat ia tertidur tadi.
“Kamu masih marah sama aku, bukannya aku yang seharusnya marah karena aku cemburu?” tanya Hans sambil manyun ketika Letta kembli diam dan tak menanggapi apa yang dikatakan sang suami.
“Aku tidak masalah kalau kamu cemburu. Itu memang pertanda cinta tapi kamu itu menuduh aku suka ama tuh dosen, padahal dari awal ia tak ada dalm hatiku. Bagaimana bisa ia kemudian mendapat simpatiku? Ingat ucapan itu doa, emang kamu mau kalau kemudian aku naksir sama dia?” tanya Letta dengan judes dan ketus.
“Astaga . . amit amit!Ya gak dong say, janganlah yaaaa. Maafkan aku yang. Aku gak akan menuduh kamu lagi. Aku percaya 100 persen.” kata Hans mengiba sama sang istri.
__ADS_1
Bayangin segitu bucinnya Hans yang usianya hampir 2 x lipat usia dari Letta, eh ia malah yang tunduk sama istrinya yang jauh lebih muda. Apalagi lagi kalau sampai kena banned ga dapt jatah, auto gemetar si Hans.
“Padahal ia itu kan cuman mau pamitan aja . . .”
“ Iya iya yang, mas percaya, jangan marah lagi ya . . . kamu sama baby ada mau makan apa ga?” tanya hans sambil mengelus perut sang istri.
“Gak kepingin makan apa apa?” sahutnya pendek.
“Masih marah ya?”
“Sudah enggak, tapi masih bad mood.”
“Es krim vanilla ama strawberry mau?Apa coklat, yang?” tanya Hans dengan sabar, ia harus bisa mengembalikan mood sang istri, tapi mamanya marah karena ia telah membuat istri dan anaknya tak bahagia, padahal kehamilan ini sudah jalan 16 minggu sekarang dan Letta sudah memakai baju komprang oversize dan cardigan yang besar untuk menyembunyikan perutnya yang sedikit membuncit, tapi sumpah demi apapun ia masih terlihat cantik dan menggemaskan. Takkan banyak orang yang tahu kalau ia sedang hmil krena tubuhnya masih sama seperti saat ia menikah, hanya perutnya sedikit membuncit.
Letta tampak berpikir sejenak lalu
“Eskrim vanilla dengan coklat.” katanya dengan membayangkan makanan itu, jujur itu menaikkan moodnya.
“Hmm, tapi bukan buat di taruh di mangkuk es ya. . .”
“Lalu?” tanya Adys dengan kebingungan.
“Nanti mas ajarin ya, pokoknya kamu mesti suka.” kata Hans sambil mengedipkan matanya.
Wk wk wk kira kira mau diajarin apa ya?
Komen komen ah … gak komen gak update. Mau tamat soale
***
Readers, jangan lupa dukung karya ini ya dengan like dan juga komen, kemudian vote dan juga hadiah…
Soalnya karya ini akan tmat dalam beberapa episode lagi ya! Thank you and happy reading!!
Mampir juga di karya baru thor. Kupastikan kehancuran keluarga kamu!!
udah 8 episode tuhhhh
__ADS_1