Suamiku Kekasih Mamaku

Suamiku Kekasih Mamaku
45. Obat Mujarab!


__ADS_3

" Sayang . . . " rengek Hans dengan nada manja.


Setelah mereka semua pulang ke rumah, Hans langsung menginginkan sang istri untuk membantu dirinya menyelesaikan permasalahan di kantor Sehingga nantinya dirinya agar bisa lebih cepat untuk bermain-main dengan sang istri.


Tahu ya maksudnya bermain main ala Hans?


“Oke oke, tapi aku gak mau kalau kita main disini . . . “ kecam Aletta yang paling tidak suka kalau tempat kerja dibuat begituan, walau sebenarnya memang di ruangan hans ada tempat untuk istirahat kalau dia kecapean.


Jadi di ruangan itulah ia pernah mengajak Aletta bermain disana.


“ Di Hotel . . ?“


“ Mas, bisa gak kalau kita bekerja dan menyelesaikan kerjaan dulu?” Letta kesal karena Hans malah mengajaknya bermain mulu, emang orang itu gak bosen ya?


“Mass . . aduh apa apaan sih ini. . .”


Aletta kesal karena tiba-tiba saja sang suami menarik tubuhnya kemudian menjatuhkannya di pangkuan sang suami, jadi saat ini dirinya duduk di atas pangkuan sang suami seperti anak TK yang sedang belajar sama gurunya.


“Disini saja, biar aku bisa konsentrasi kalau misalkan kamu tidak di sini kan aku tidak bisa konsentrasi.” kata Hans sambil mempertahankan pinggang sang istri supaya tetap berada di pangkuannya.


Bola mata dari istri sudah diputar karena Ayu istri tahu ini adalah salah satu motif yang dilakukan oleh sang suami, tapi mau bagaimana lagi bukanlah dia ini adalah istri Saatnya jadi kalau pelakor pelakor di luar sana aja bisa duduk-duduk seperti dirinya saat ini maka sebaiknya istri yang sah dia harus bisa melebihi seorang pelakor, ye kan?


Apalagi sang suami itu benar-benar idola dari semua perempuan, meleng sedikit pasti ada yang ngembat! Wk ww jadi Letta memang harus waspada.


Ia melayani hasrat sang suami dengan baik, dan mengikuti apa yang di maui oleh sang suami dengan legawa.


Omesnya sang suami juga hanya sama dirinya kan? 


Ya sudahlah . . .


Kemudian Letta memusatkan perhatiannya ke pekerjaan yang dipinta snag suami untuk ia selesaikan, dan Hans juga melakukan hal yang sama dengan serius.


Bayangkan tangan yang satu ada di pinggang sang istri dan tangan yang satunya menggerakan cursor laptop dan kemudian juga menggantinya dengan mengoperasikan keyboard. 

__ADS_1


Terkadang matanya juga menatap berkas pendukung, agar yang dimasukkan ke kolom di laptop diipastikan sama dengan yang ada di berkas serta nota.


Hans melakukan ini bukan karena nganggur, tapi emang karena ada yang janggal, karena itu ia perlu memeriksanya seorang diri dan bisa menangkap tikus kantor yang sebelah mana yang telah melakukan kecurangan.


“Mas, kalau dilihat yang ini, perhitungannya emang ga masuk loh. Kayaknya bia kamu selidiki dari sini deh . . “


“Maksudnya ada yang salah dengan bagian keuangan? Padaal keuangan itu selama ini di pegang oleh sepupu mama Merlita, yaitu tante  Ajeng.” kata Hans sambil mengarahkan tatapannya kepada Aletta yang juga tampak serius dengan data yang dipegangnya.


“Coba nanya Afid dulu,” pinta Letta dengan nada tegas.


Tapi saat ini Afid sedang ia suruh mengontrol kondisi Deera, dan tentunya itu semuanya diluar sepengetahuan Aletta yang memang tak pernah mengetahui tentang Deera.


“Ehm, Afid lagi kusuruh memantau hal yang lain, sayang! Sementara ini kita pending dulu saja, karena kita membutuhkan data data dan beberapa bukti yang lebih valid lagi. “ kata Hans sambil mengeratkan pelukannya kepada sang istri, serta kemudian meletakan kepalanya pada ceruk  kepala sang istri yang merupakan perpotongan leher dari Aleta dan menghidu aroma manis yang menguar dari sana.


Hans merasakan ketenangan ketika dia bisa mencium aroma manis dan kemudian dia lebih menyurukkan kepalanya di sana dan bertumpu pada bahu sempit sang istri.


“ Kepala ku sedikit pusing, sayang!” katanya sambil memeluk sang istri yang ada di pangkuannya dengan kedua belah tangannya.


Entah kenapa hari itu rasanya Hans tidak bersemangat untuk melakukan kegiatan-kegiatan di kantor dan dia hanya ingin cuddling saja dengan sang istri.


Sang istri langsung mengecek dahi sang suami dengan tangannya dan mendapati bahwa kondisi sang suami saat ini dahinya Memang agak hangat. Pertanda ada masalah dengan kesehatan sang suami.


“ Dahi kamu panas lho sayang! Harusnya itu kamu sedikit beristirahat dan jangan malah minta bermain-main sama aku. Biar aku akan minta Angga, ajudan kamu untuk membelikan plester kompres untuk kamu.”


Aletta segera beranjak dari pangkuan sang suami karena dirinya tidak ingin membebani sang suami yang sedang sakit dengan berat badannya.


Tapi seperti biasa sang suami berulah karena dirinya tetap tidak mau melepaskan keberadaan sang istri yang saat ini ada di dalam pelukannya.


“ Sayang, Biarkan saja dulu seperti ini karena aku lagi menikmati obat aku. Uhhh harum banget tubuh kamu ini sayang.” katanya sambil mencium-cium tengkuk dari sang istri membuat sang istri juga kegelian dan terus terang saja Kemudian terus terstimulasi untuk berpikir yang tidak-tidak.


“ Mas, kamu itu seharusnya istirahat bukan malah melakukan segala hal seperti ini,” tolak Aleta karena merasa bahwa sang suami itu masih dalam kondisi yang tidak sehat jadi lebih baik kan banyak istirahat dan tidur bukannya malah melakukan olahraga ekstrim di kasur.


“ Justru ini adalah obat yang mujarab bagi aku, sayang! Soalnya kalau aku tidak melakukan hal seperti ini tubuhku rasanya malah sakit semua.” katanya sambil semakin Intens menciumi tubuh sang istri bahkan sekarang dia sudah membuka blazer dari sang istri supaya dirinya bisa lebih maksimal lagi dalam membuka kemeja dan juga penutup dada yang menurutnya sangat mengganggu apabila ingin mengeksplorasi tubuh sang istri.

__ADS_1


“ No no no, kamu akan menikmati obat yang ini kalau kamu sudah benar-benar meminum Paracetamol dan juga memakai plester demam.” perintah sang istri yang tidak ingin dibantah.


“ Nanti kalau aku pakai plester demam, Apa kata dunia? Aku bagaikan anak kecil Kalau memakai hal-hal seperti itu. Nggak usah pakai plester demam ya, cukup minum Paracetamol saja deh. Tapi sebenarnya aku itu tidak bisa minum obat begitu saja jadi nanti obatnya kamu yang minum terlebih dahulu ya baru nanti kamu masukkan ke Mulutku ketika kita berciuman.” pinta hans setengah nada manja kepada Aletta seorang olah sang istri itu adalah ibunya yang mengasuh sehari-hari.


“Apaa? Ishh bukannya Mas itu usianya udah 30 lebih mau 40 ya? Kenapa minum obat aja harus pakai begitu? Susah banget! Apa gini aja kita ke rumah sakit dan Mas disuntik aja supaya nggak usah minum obat lewat mulut.” Aletta sewot dengan permintaan sang suami yang aneh-aneh saja itu.


“ Tapi memang begitu sayang, Mas bener-bener nggak bisa masukkin satu butir obat ke dalam mulut.” keluh Hans yang mulai fly gara-gara demam dan juga pusing yang melanda kepalanya saat ini.


Aleta melihat wajah sang suami tambah pucat jadi dirinya tidak bisa banyak ngomong lagi dan langsung memanggil Angga yang memang berada di luar ruangan milik sang suami karena tugas dari Angga itu adalah sebagai ajudan atau pengawal inti yang biasa membantu mobilitas sang suami.


“ Angga, Tolong kamu belikan plester demam dan juga Paracetamol yang cair saja.” perintah Aletta melalui intercom yang langsung di feedback oleh sang ajudan.


Aletta sudah tahu modus dari sang suami jadi daripada susah mendingan dibelikan aja obat yang seperti milik anak-anak, tinggal nanti dosisnya dikalikan 2 saja.


“ Obatnya itu nanti pahit!” keluhan Hans yang masih merengek manja tidak mau minum obat.


“ Ya ampun badannya kamu itu besar banget loh Mas! Masa kamu minum sirup obat Paracetamol aja harus seperti bayi. Kalau sudah berubah sirup begitu, nggak akan pahit jadi kamu nggak usah khawatir Mas. Kamu itu badannya doang yang gede cuman disuruh minum obat begini aja nyalinya nggak ada!” ejek Aleta dengan nada sinis dan sindiran yang cukup pedas tapi Hans tidak peduli mungkin karena kepalanya sudah terkadung pusing sekali jadi dirinya tidak menghiraukan apa yang dikatakan oleh sang istri dia hanya sibuk menaruh kepalanya saat ini di dada sang istri dan tangannya yang satunya lagi meremas-remasnya.


Lha wong sedang sakit kok masih aja tangannya nakal! Mikir Aletta namun dirinya membiarkan Hans melakukan apa yang dia inginkan karena Aletta khawatir dengan wajah pucat sang suami saat ini.


Aletta juga berusaha turun dari pangkuan sang suami dan mengajak sang suami untuk duduk di sofa saja supaya sang suami bisa rebahan.


Bahkan kemudian Aletta melepaskan jas yang dipakai oleh Sang suami melonggarkan dasinya dan kemudian melepas dua kancing teratas dari kemeja sang suami supaya tidak terlalu tight dan mengganggu pernafasan dari sang suami.


“ Arghh sayang …”


“Eh apaaan ini?”


.


.


TBC

__ADS_1


Penasaran? Tunggu scene besok yaaa. Jangan lupa untuk keep support author ya, dengan cara memberikan komen, like dan juga memfavoritkan, syukur syukur kalau kemudian memberikan vote dan juga hadiah buat semangat thor. 


Follow IG Nophie_Author agar tahu cerita apa yang dibuat thor dan juga, rekomendasi cerita thor taruh disana juga.


__ADS_2