
“Eh mas, apa apaan sih?” tanya aletta sambil memelototin sang suami yang sudah dengan santainya membuka kemeja dirinya sehingga kedua dadanya yang merupakan favorit spot dari sang suami menyembul keluar karena dikeluarkan dari sarangnya oleh sang suami.
“ Lah kamu kan tadi sudah buka dua kancing milik kemeja Mas jadi Ya gantian gitu loh!” sahut sang suami tanpa ada rasa berdosa sama sekali padahal maksud dari Aleta tadi membuka dua kancing dan melonggarkan Dasi dari sang suami itu hanya supaya sang suami bisa lebih lega dalam pernapasannya bukan untuk mengajak bermain!
Aletta hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar, dan kemudian memutar bola matanya dengan kesal karena sang suami itu padahal lagi sakit tapi masih kepikirannya ke arah seperti itu saja.
Mau marah lihat wajah pucat dari sang suami menjadi kasihan, kalau nggak marah kok iya kebangetan!
Akhirnya Aletta hanya membetulkan dadanya yang terekspos jelas oleh sang suami karena dia tahu sebentar lagi Anda akan masuk ke dalam ruangan itu dan tidak mungkin dirinya akan memperlihatkan dadanya seperti orang yang ingin menyusui anak kecil saja.
“ Sebentar lagi Angga masuk dan dia akan membawakan plester demam dan juga paracetamol, Memangnya Mas rela, kalau Dada aku terlihat oleh ajudan kamu itu?” tanya Aleta dengan nada datar dan dingin.
“ Akan ku culek matanya kalau berani melihat isi bra kamu yang mantap dan menggoda. Bahkan kamu tahu gak kalau aku itu langsung sembuh ketika melihat dada kamu yang mantap jiwa itu. Kayaknya aku sudah sembuh bahkan tanpa menggunakan Paracetamol dan plester demam.” lagi-lagi Aletta hanya mendengkus kasar, apa dipikir sama suami itu dirinya bocah cilik yang bisa dibohongi begitu?
Namun melihat wajah pucat sang suami, dan dahinya yang masih panas, membuat Aletta hanya membiarkan saja sang suami mau berbuat apa namun saat ini tetap dirinya memilih untuk tidak memberikan acara pertempuran panas di ruangan tersebut karena mengingat bahwa sang Suami masih sakit.
“ Kalau nanti mas mau minum obat tanpa banyak drama, dan juga mau pakai plester demam sampai kepalanya nggak pusing lagi dan juga tubuhnya ndak panas, maka aku akan memberikan apa yang Mas inginkan. Yang penting nanti kita melakukannya Di rumah saja, setuju?” tiba-tiba Aleta memiliki pemikiran bahwa sang suami ini harus dibujuk dan juga dibohongi sedikit supaya dirinya mau dengan sukarela meminum obat dan juga memakai plester demam itu.
“ Tapi beneran ya ?nggak bohong kan ya?”masa wajah sang suami benar benar pemerintah dan berbinar-binar cerah ketika mendengarkan bahwa sang istri menjanjikan akan ada hadiah yang bisa ia dapatkan kalau mau minum obat dengan benar tanpa drama.
“ Ya nanti akan tetap aku berikan sesuai dengan janji aku toh!” sahut Aleta dengan lembut.
“ Beneran ya wifey, jangan bohongin aku loh!” desaknya dengan nada gembira, Aletta juga ga tega. Suaminya itu kayak anak kecil banget kalau sedang sakit kayak gini. jadi gak tega gitu.
Ia akan mencoba membujuk sang suami untuk ke dokter saja ya, soalnya ia juga takut kalau sang suami kenapa kenapa.
Tok tok tok . . .
“Masuk!” Aletta tahu ini pasti angga karena memang angga lah yang sedang Ditunggu oleh dirinya.
“ Nyonya, ini obat yang diminta oleh nyonya muda tadi. . . “ katanya sambil menyodorkan kresek berisi obat paracetamol cair rasa anggur yang biasa dipakai oleh anak anak bayi.
__ADS_1
“Kenapa pakai yang buat bayi sih, Angga!” tanya Aletta dengan nada sedikit kesal.
“ Maaf nyonya, tapi yang cair hanya itu yang harganya mahal.” kata Angga dengan polos.
“ Yah merek Temper emang termahal, dan juga karena ini yang mengeluarkan dengan rasa Anggur, tai ini kan buat bayi, Anggaaa!!” Aletta sedikit kesal dengan kepolosan sang judan suaminya.
“Sudahlah sayang, lebih baik aku ga usah minum saja, toh itu buat bayi.” Kata Hans merasa senang karena itu berarti dia gak perlu minum obat.
“Ya gak apa apa kau kamu gak mau minum obat, mas! Perjanjian kita batal.” Aletta ngomong itu dengan nada flat dan ekspresi wajahnya pun datar sedatar jalan tol cipali.
Nah lo, singa betina kamu buat mainan ya jelas marah lah, tapi haus diakui kalau cara Aletta marah itu benar benar elegan, karena snag bos besar hanya bisa terdiam tanpa mau banyak berdrama saat sang istri sudah bersabda.
“Ya itu aja diminum, kalau buat bayi berarti dosisnya 3 x lipat dong y, yang biasanya 15ml, jadi 45ml . . .”
“Hah? Berrati satu botol aku minum semua dong sayang?” Hans sudah bergidik ngeri saat ini.
Ia tak mungkin bis meminum obat kalau bukan karena paksaan sang istri.
Jangan bilang kalau pas pacaran ‘hujan akan kutrabas, lautan akan kusebrangi ,,,, masa minum obat aja harus dipkasa dulu baru mau’
Sambil bergidik gidik, Hans meminum obatnya.
Hmm rasanya ternyata not bad! Dan ini worth it dengan timbal baliknya nanti yang akan mendapatkan tubuh Aleta yang legit dan menjadi candu bagi dirinya itu.
“ Nah sekarang kamu tiduran disini dan kamu pakai plester demam ini. Sementara kita nanti saja pulangnya. Kamu istirahat dulu.” kata Aletta dengan nada lembut.
Aletta menidurkan sang suami di sofa itu kemudian menepuk-nepuk punggungnya supaya lekas tidur seperti dirinya menepuk-nepuk seorang bayi. Bahkan Alita juga lupa kalau Angga masih di dalam ruangan yang sama dengan dirinya dan juga sang suami.
Begitu menyadari keberadaan Angga di dalam ruangan yang sama kemudian dengan menatap tajam sang Ajudan itu kemudian dengan Gayanya yang sinis dan juga tampangnya yang jutek, Letta langsung mengusir ajudan dari sang suami itu.
“ Angga, kamu bisa kembali menunggu di luar saja. Nanti kalau mas hans mau balik kamu akan kupanggil.” katanya dengan nada tegas, membuat Angga langsung saja menuruti apa yang dikehendki oleh sang nyonya muda.
__ADS_1
Dengan sopan dan penuh hormat ia langsung menundukkan kepala dan keluar dari ruangan itu meninggalkan sang bos dan nyonya bos.
“Oh ya, Angga! Ingat tak ada yang boleh ganggu bos kamu karena dirinya lagi beristirahat. Kalau semisal ada orang yang datang bilang saja kalau bos besar lagi keluar. Mengerti kan?” perintah Aletta kepada Angga.
Dan Angga harus memenuhi perintah dari sang Nyonya Bos karena bos besarnya saja paling takut dengan Aleta apalagi dirinya.
“Baik bos . . .” kata angga sambil keluar dari ruangan sang big boss.
Aletta langsung mengunci pintu kamar, dan mengelus sang suami dan menatap wajah tampannya yang membuatnya bisa jatuh cinta dengan mudah.
Bagaimana tidak?Hans Armando Javier itu bak titisan dewa Yunani, apalagi tubuhnya yang atletis dan juga pelukable itu.
Ekspresinya yang selalu datar dan cara bicaranya yang dingin, tapi malah emmbuat wanita itu penasaran dan menyukai sang suami dengan caranya.
Bahkan kalau ia berpergian dengan sang suami ke mall, wanita wanit dan SPG yang cantik cantik itu selalu tak bisa melepaskan dari wajah sang suami, padahal hans itu hanya menatap ke arah dirinya saja.
Aletta mendengkus kasar, dan meruntuki kenapa sang suami tampannya kayak dewa gini . . . kemudian ia tersenyum menatap sang suami yang tidur namun masih terlihat sangat tampan.
“Uhhh gimana sih bikin kamu gak cakep jadi kan ga ada yang suka sama kamu gitu loh, suamiku sayang . . “ kata Aletta dengan lirih.
Tiba tiba terdengar kehebohan di luar ruangan Hans, dan untung saja Aletta sudah menguncinya sehingga tak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa seijin dirinya.
Lagian ngapain sih ke kantor di jam yang sudah hampir lewat jam kantor?
Hmm, Letta penasaran juga siapa gerangan diluar?
.
.
.
__ADS_1
TBC
Hay readers, jangan lupa keep support thor dengan komen, like dan juga fav kan ya. Oh ya vote juga ditungggguuuuu. . . makasihh!Happy reading !!Kunjungi IG @Nophie_Author yessss