Suamiku Kekasih Mamaku

Suamiku Kekasih Mamaku
51.Ada apa dengan kakek Wijaya?


__ADS_3

Bab 51. Ada apa dengan Kakek Wijaya?


Drrrttt drrttt…


“Heh siapa sih yang menganggu kebersamaan  ini?Baru saja ketemu loh!” rajuk Hans yang kesal karena ternyata ponsel sang istri -lah yang berbunyi tanda sedang ada  panggilan telepon dari orang yang belum ia ketahui siapa itu.


“ Astaga Mas tidak usah kesel seperti itu loh wong cuman panggilan telepon nggak sampai 5 menit!” sergah sang istri yang melirik ke arah siapa yang memanggil dirinya.


Ternyata Aletta melihat kalau sang kakek lah yang memanggil, ada apa kah gerangan?  


Wajah Aletta sedikit pucat Karena  dia teringat dengan kasus ketika sang ibu kandung meninggal dunia baru-baru ini, dia takut kalau telepon itu juga memberikan informasi kalau Kakek sedang kenapa-kenapa.


Tiba-tiba saja tubuh dari Aletta menegang dan sedikit gemetar, hal itu diketahui oleh sang suami yang langsung memeluk sang istri serta memberikan kekuatan kemudian mengambil ponsel yang saat ini ada di tangan sang istri.


“ Biar aku saja yang menerima telepon dari kakek Wijaya, “ katanya sambil memeluk sang istri lebih erat lagi karena merasakan bahwa tubuh sang istri gemetar entah karena apa.


Mungkin sang istri takut dan trauma mengingat baru-baru ini dirinya juga menerima panggilan telepon dari sang kakek yang memberitahukan bahwa mamanya meninggal dunia mungkin itu yang ditakutkan sama istri saat ini. Mungkin sang istri takut dan trauma mengingat baru-baru ini dirinya juga menerima panggilan telepon dari sang kakek yang memberitahukan bahwa mamanya meninggal dunia mungkin itu yang ditakutkan sang istri saat ini


“ Mas nanti …”


“Ssshh, tenanglah, ada aku disini, hmmm!’ kata hans mencoba menenangkan sang istri.


Hans langsung mengangkat telepon dari kakek wijaya yang ada di tangannya saat ini.

__ADS_1


“ Halo, ada apa kek?” tanya Hans dengan nada sopan.


“Ini tuan muda?” tanya seseorang di seberang sana. Rupanya ajudan sang kakek yang mengikuti kakek sejak lama itulah yang menelepon.


“Ada apa? Apa ada masalah?” tanya hans sambil tangannya masih mengelus sng istri dengan intens karena takut sang istri jatuh sakit, karena traumanya. Melihat wajah sang istri yang pucat membuatnya mengerti kalau pemikirannya itu bisa saja terjadi.


“ Kakek Wijaya masuk rumah sakit, tadi kakek jatuh di kantor, tepatnya di kamar mandi, tuan muda! Kakinya patah dan harus dirawat di rumah sakit . . “ penjelasan itu sama sekali sudah tidak terdengar karena ditimpali langsung oleh pertanyaan dari Aleta.


“Kenapa mas? Bener kakek sakit?” tanya Aletta dengan nada cemas, bahkan sekarang tubuhnya menegang. Mungkin karena aada di dalam pelukan sang suami yang efeknya menenangkan membuatnya tidak terlalu tkejut. Walau Aletta masih khawatir.


“Tenanglah sayang, mas lagi bertanya sama audan kakek . . “ katanya mencoba menenangkan sang istri.


“Kita lngsung ke rumah sakit dimana kakek dirawt saja, mas!” pinta Aletta yang tampak memelas.


“Baik tuan!”katanya dengan tenang.


“Kami akan langsung ke sana, langsung kirim lewat pesan singkat saja di mana kamar kakek berada . . “ kata Hans kembali kepada ajudan sang kakek Namun ternyata posisi kakek saat ini belum masuk ke kamar sama sekali.


“ Maaf tuan muda, saat ini pakai perlu dioperasi namun mereka membutuhkan persetujuan dan tanda tangan dari Nyonya muda jadi saya menelepon karena membutuhkan tanda tangan secara langsung dari pihak keluarga. Padahal sebetulnya kakek tidak ingin mengatakan hal ini kepada Nyonya muda karena takut kalau Nyonya muda akan merasa terkejut dan akan kebingungan.” Jelas sang ajudan dengan nada tegas namun penuh hormat.


“ Ck. . . Ini adalah hal yang sangat penting dan urgen kenapa kakek masih berpikiran kolot seperti itu. Ada Aku Disini yang akan menjaga cucunya supaya tidak terlalu terkejut dengan berita-berita seperti ini. Tapi semestinya kakek Wijaya itu mengatakan sesungguhnya apa yang sedang terjadi jangan ditutup-tutupi masalah seperti ini.” sahutan dengan nada marah karena dirinya juga tidak ingin kalau sampai kakek Wijaya kenapa-kenapa dia membuat sedih hati dari sang istri. Dia cukup bisa menghandel dan mengatasi perasaan sang istri tanpa kakek Wijaya harus memikirkannya juga.


“ Maaf tuan muda tapi itu adalah perintah dari kakek Wijaya kepada saya waktu itu. Ini saja Saya memutuskan sendiri untuk memberitahukan Nyonya muda tentang hal ini, karena memang diperlukan tanda tangan dari Nyonya muda.” sahabat sang ajudan dengan nada penuh hormat masih seperti tadi karena dirinya memang sangat menghormati Hans Armando Javier sebagai menantu dari keluarga Wijaya.

__ADS_1


“ Baiklah kami akan segera ke sana, berarti ini posisinya masih di UGD dan membutuhkan tanda tangan kita untuk melakukan operasi begitu kan?” tanya Hans dengan nada cepat dan tegas, serta supaya hal itu bisa didengar langsung oleh sang istri tanpa dirinya harus mengulang kembali apa yang dibutuhkan dan diinginkan oleh kakek Wijaya saat ini.


“ Benar tuan muda Saya akan menunggu di lobby supaya tuan muda tidak mencari-cari tempat di mana saya dan kakek Wijaya berada.” sahut sang ajudan dengan nada yang sama seperti tadi.


Dan tanpa menunggu perkataan dari ajudan kakek tadi, Hans langsung menutup ponselnya dan menelepon orang lain lagi yang tidak diketahui oleh Aleta. Dia kini menelepon orang lain itu menggunakan ponselnya sendiri,saupaya lebih cepat dan efisien.


“ Halo. . . kakek dari istriku … Kakek Wijaya saat ini berada di UGD rumah sakit kamu, bisa minta tolong agar kakek dari istriku diberi pelayanan kelas VIP dan langsung saja di operasi, aku takut kalau sampai kakek istriku kenapa kenapa?” kata hans kepada orang di dalam ponselnya itu.


“ Baik, Tuan Hans!”


Begitu mendengar kalau orang di seberang sana sudah menyanggupi apa yang diinginkan olehnya, tiba-tiba saja Hans langsung menutup panggilan teleponnya dan berkonsentrasi pada Jalan Raya Karena dirinya juga ingin segera sampai dan menenangkan sang istri bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“  Jangan sedih atau cemas, mas sudah menghandel segalanya. Kakek akan baik baik saja . . “ katanya karena sang istri yang ada di pelukannya tampak menatap luar jendela mobilnya itu tanpa ekspresi.


Tatapannya kosong dan jujur membuat Hans cemas.


Ia juga berdoa dalam hati dan berharap supaya kakek Wijaya baik-baik saja karena dirinya tidak sanggup melihat sang istri yang tampak sedih dan ekspresinya kosong seperti ini.


.


TBC


Hay readers,thanks buat dukungannya yang semakin oke setiap hari, maaf kalau hari aabtu bakal full day, jadi ga  janji bakalan up tapi diusahakan… so jangan lupa like dan komen yang banyak yaaaa?

__ADS_1


Okeyyy  jangan lupa keep support thor dengan komen, like dan juga fav kan ya. Oh ya vote juga ditungggguuuuu. . . makasihh!Happy reading !!Kunjungi IG @Nophie_Author yessss


__ADS_2