
Dia bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya kepada sang istri yang menghilang karena masuk ke dalam koridor kampus dan bahkan setelah sang istri menghilang di ujung koridor dan tidak bisa terlihat sama sekali, wajahnya yang tampan, tetap penuh senyum karena menatap sang istri yang menggemaskan itu.
“Hai, Hans ya?” tanya seorang wanita yang menepuk bahu Hans dengan gaya centil, membuat Hans harus menoleh ke arah wanita tersebut dan wajahnya terlihat terkejut saat melihat wanita itu.
Dia adalah Margareth Surya Wijaya, kakak sepupu dari Raline Surya wijaya. Entah ada keperluan apa sepupu Raline berada di sini?
“Hmm, iya!” sahutnya datar dan dingin seakan wanita itu adalah lalat yang berterbangan di depan wajahnya dan hendak ia halau dengan tangannya.
“ Ehm Hans kamu mau ngapain disini?” tanyanya dengan nada ramah… eh keterlaluan ramah ini mah!
“ Lha kamu sendiri ngapain?” Hans sellau begitu kalau ia tak ingin menjawab maka ia akan berkata seperti itu.
“Aku mengejar di sini, Hans! Kebetulan aku diminta menjadi dosbing mahasiiswi ku … gimana ? He he he aku ini juga ngajar disini, kamu kan juga tahu kalau kampus ini adalah milik dari keluarga suamiku, keluarga Abimanyu, adi wajar saja kalau pihak kampus kadang emmeinta pertolongan aku untuk mengajar juga menjadi dosen disini.” katanya dengan santai.
Eh tenang si cicak ini sudah punya laki ternyata, tapi kenapa masih ganjen ja..
“Siapa mahasiswi kamu itu?” Hans curiga, dan bisa saja wanita ini akan mempersulit istrinya, ia harus segera menghubungi rektor tempat ini buat mengalihkan cicak ini ke tempat lain.
Hans sangat tahu siapa saudara saudara Raline,semuanya angat geram saat ia memutuskan tidak menerima perjodohan yang di inginkan keluarga Suyra Wijaya dan malah menerima Nilam Wijaya yang notabene adalah janda.
“Ohh namanya sih Aletta … ini aku juga mau ke kantor, karena setelah ia tahu kalau aku pembimbingnya, dia akan ke kantorku untuk bimbingan perkenalan. Ini kayknya orang ternama soalnya rektor sendiri yang meminta aku untuk mengampu siswi ini dan memberi catatan agar mengutamakan anak ini.” kattanya sambil menghembuskan nafas, seakan ia kesal dengan kenyataan siswi yang menggunakan jalan belakang seperti ini.
Hans menelan salivenya dengan kasar karena ia baru tahu siapa yang menjadi dosbing sang istri.
Ini sih kayak keluar dari mulut buaya, trus masuk ke mulut singa.
Ia memikir startegi untuk menyelamatkan sang istri, ia kesal dengan kenyataan bahwa dosbing untuk sang istri sangat diluar rencananya.
__ADS_1
Keluarga Raline itu juga bukan pilihan yang baik untuk jadi dosbing sang istri, bisa bisa sang istri bakal kenapa kenapa. Ia harus segera menemui rektor kampus ini.
“Aku kayaknya harus ketemu dengan seseorang di dalam . . . silahkan kamu duluan deh!” kata hans yang tak mau si Mar ini tahu dia mau menemui sang rektor.
“Oke … aku akan sampaikan salam kamu ke Raline…”
“Gak usah!Aku ga mau titip salam sama Raline. Aku sudah menikah, aku gak suka menebar PHP… “kata Hans dengan ketus.
“Eh kamu sudah mneikah?” tanya sepupu Raline itu dengan nada terkejut membuat Hans memutar bola matanya dengan kesal karena Ya kalau pasti si Margaret ini pasti sudah tahu keadaan dirinya yang sudah menikah namun sengaja pura-pura tidak tahu.
“ Aku sudah menikah dan jangan kamu ganggu dengan pernyataan kepada Raline bahwa aku titip salam sama dia, dari awal aku tidak pernah memiliki rasa dengan sepupu kamu itu Jadi kamu jangan memanas-manasi keadaan.” Antam Hans dengan harga kesal karena dia tidak mau ada rumor mengenai dirinya dan Raline kembali yang akan membuat suasana akan tambah lebih ricuh lagi apalagi kalau sampai Aleta tahu tentang hal ini. Ia juga ingin menjaga perasaan sang istri yang sedang hamil buah hatinya.
“ Oh maaf kalau begitu aku juga pamit, tenang saja aku juga takkan melanggar apa yang aku janjikan tadi, aku juga takkan mengatakan hal ini kepada Raline.” kata Margaret dengan nada yakin kalau dia akan memegang janjinya, dan lagi kalau Raline tahu dia bertemu dengan Hans tentu wanita itu akan mencapai dan beranggapan bahwa dirinya lah yang akan mendekati sang Pujaan Hati.
“ Itu lebih bagus dan aku rasa itu lebih bijaksana…” kata Hans sambil berlalu dari tempat itu diiringi oleh tatapan wanita-wanita muda yang lainnya yang Sedang berpikir bagaimana caranya mendekati laki laki tampan itu namun ia langsung menelepon asisten pribadinya agar diri di buatkan janji kepada Rektor kampus ini.
Dia langsung melangkah ke kantor rektorat, yang membuat wanita wanita yang sedang mencari sugar daddy berusaha mendekatinya. Namun Hans tak mempedulikan mereka dan terus saja meangkah ke arah kantor rektorat dan ingin segera menemui rektor karena takut Aletta kenapa kenapa.
“Baik, apakah sudah membuat janji?” tanyanya dengan nada ramah, jarang jarang di daerah rekttorat ketemu laki laki tampan, biasanya hanya laki laki botak yang bergelar profesor dengan wajah culun yang ada di sana.
“ Sudah, atas nama Hans … tadi asisten pribadi saya sudah menghubungi pihak sini, karena saya ingin membhaas sesuatu yang penting.” kata Hans lagi, sambil menunggu sang recepsionist atau mungkin sekretaris dari rektor tersebut menyampaikan kepada sang rektor.
Bagi Hans ini sangat penting, oleh karena itu ia harus memberitahu sang rektor kalau dirinya tak mau kecolongan dan kalau Margareth melakukan hal yang tidak tidak kepada sang istri, ia bisa jadi gila.
“Oh tuan Hans, saya merasa terhormat karena Tuan Hans bersedia mampir ke tempat ini.” kata sang rektor langsung menjemput Hans di luar, karena tahu persis siapa Hans Armando Javier.
“Baik …”
__ADS_1
“Mari kita berbicara di ruangan saya saja, “ kata rektor tersebut dengan nada hormat yang dibuat-buat karena dia tahu siapakah orang yang ada di hadapan itu sekarang.
Tingkah sang rektor menjadi tanda tanya bagi sang sekretaris yang berada di depan tadi.
Biasanya Rektor itu gila hormat dan tidak mau menjemput tamunya sampai di depan seperti ini tapi begitu Hans yang datang Rektor itu langsung keluar dan menjemput tamunya sampai di luar seperti ini, membuat sekretaris itu menjadi pertanyaannya Siapakah yang menjadi tamu dari sang Rektor?
Kemudian tidak sampai 30 menit, Hans berada di dalam ruang sang Rektor karena dia tahu sebentar lagi sang istri pasti segera keluar.
Dia sudah mengantisipasi segalanya sekarang dan dia sangat lega karena Rektor sangat kooperatif sekali, apalagi ketika dirinya mengatakan ingin menyumbangkan sejumlah uang agar Universitas ini akan lebih baik lagi.
Mata sampai pun tahu nggak berbinar lagi ketika mendengar perkataan tersebut karena Tentu saja tidak ada yang lebih di agung agung kan daripada uang di tempat ini.
Hans melangkah dengan penuh optimis bisa mengendalikan keadaan.
Ia terpaksa harus melakukan ini semua karena ia tak mau sang istri kelelahan dengan sejumlah tugas dan juga penelitian. Bahkan rencananya ia akan supportive sekali, data dan bahan yang dibutuhkan sang istri akan ia sediakan dari kantor dan perusahaannya ang sanagat bermacam macam itu.
Tinggal nantinya sang istri ingin meneliti di bagian apa, ia akan membantu sehingga skripsi sang istri akan cepet selesai.
Tentunya tanpa Aletta tahu … wk wkw apa sih yang Hans ga bisa buat untuk Aletta? Ohya dosbing Aletta nantinya bukan lagi Margareth, wk wkw kw thats the power of Hans Armando Javier. . .
.
.
TBC
Hai guys welcome back Thank buat komennya yang membuat aku semangat, jadi walau masih harus jaga makan, tapi ya untuk mengobati rasa kangen kalian sama ke uwu an dari Hans dan juga Aleta, pokoknya tetap di usahakan untuk . . . Update cerita ini karena aku tahu kalian menanti-nantikan cerita ini selalu, wkwkwk sok pede!
__ADS_1
Jangan lupa untuk keep support aku ya dengan like comment yang banyak dan juga memberikan hadiah.
Ditunggu!! Happy reading!