Suamiku Raja Tega

Suamiku Raja Tega
Berdalih


__ADS_3

Dini menjatuhkan tubuhnya di sofa, rasanya lelah sekali menghadapi sikap Robin yang mulai bersikap aneh-aneh ini.


Dini tak habis pikir, mengapa suaminya bisa berhutang tapi enggan membayar.


"Bagaimana dia berhutang tapi nggak mau bayar? Kok ada orang seperti itu? Apa dia nggak tau, kalo hutang itu dibawa mati?" gumam Dini sembari memijat keningnya yang mulai pening.


Dini meraih ponselnya. Mencoba menghubungi pria itu. Tapi hasilnya nihil. Panggilan itu di alihkan. Terkadang juga di luar jangkauan. Membuat Dini frustasi.


Sekarang sikap Robin sedikit berubah menurutnya. Bukan hanya jarang pulang. Tetapi Robin juga lebih sulit dihubungi. Entah apa yang terjadi.


"Ya Tuhan, hamba tidak pernah berharap buruk terhadap apapun. Tetapi jika suami hamba salah, tolong ingatkan. Tolong tegur dia ya, Tuhan. Jangan biarkan dia terus tenggelam dalam kenistaan. Kasihanilah dia," ucap Dini, memohon sembari menangis dalam doanya.


Rasanya sedih sekali jika mengingat betapa masalah ini tidak bisa di anggap remeh.


Tak ingin tenggelam dalam kebimbangan, Dini pun memutuskan untuk berangkat ke kedai sambil menunggu kabar dari suaminya itu.


***


Pagi telah berganti siang. Udara terasa lebih panas dari biasanya. Mungkin akan hujan, pikir Dini. Namun, kelembutan hatinya memintanya agar hari ini jangan hujan dulu. Setidaknya tunggulah sampai suaminya kembali.


Entah kekuatan apa yang di miliki oleh seorang Dini. Nyatanya hujan itu datang tepat setelah Robin sampai di kedai miliknya.


Dengan senyum termanis yang ia punya, Robin pun mendekati sang istri dengan kelembutannya seperti biasa.


"Assalamualaikum, Sayang. Maaf Abang nggak bisa terima telpon dari kamu, Sayang. Lihatlah layar ponsel Abang eror," ucap Robin seraya memeluk manja sang istri.

__ADS_1


"Walaikumsalam, Abang. Syukur lah Abang nggak kenapa-napa. Dini khawatirkan, Bang. Habis Abang nggak kasih kabar. Nggak jawab telepon juga," jawab Dini, sedikit cemberut.


"Maafkan Abang, Honey. Coba lihatlah, ponsel Abang, baru di geser saja sudah mati sendiri. Bagaimana mau baca sama balas pesan kamu, Sayang. Alah, nasib-nasib. Maafkan ya, Sayang," ucap Robin lagi.


Dini melirik manja pada sang suami. Lalu ia pun tersenyum dan berucap, "Lain kali jangan kek gini lagi ya, Bang. Dini khawatir tau. Dini takut Abang kenapa-napa."


"Nggak, Sayang. Semoga Abang nggak gini lagi. Abang juga nggak sengaja, Sayang. Habis nggak tau, kenapa hapenya bisa eror gini. Padahal cuma jatuh dari kantong malam tadi," jawab Robin berbohong. Padahal, andai Dini tahu, Ponsel itu tidak jatuh. Melainkan dibanting olehnya. Sebab ia kesal, semalam ia kalah judi. Sudah gitu, Sella tak mau melayaninya pula. Membuatnya gelap mata. Lalu dibantinglah ponsel itu. Hingga hancur tak berbentuk.


"Ya udah, nanti Abang pakek hape Dini yang di rumah itu aja. Masih bagus kok. Masih bisa."


"Duh, makasih banyak, Ayang. Kamu baik sekali."


"Aku selalu baik, sama semua orang, Bang. Dan aku akan selalu baik. Sekalipun orang itu jahat sama Dini. Dini akan tetap baik. Karena prinsip Dini, apapun yang kita tanam pasti akan kita tuai. Makanya Dini sangat takut menanam kebueukan. Karena Dini nggak ingin menuai keburukan juga," jawab Dini, serius.


Robin merasa tertampar dengan ucapan istrinya tersebut. Tapi mau bagaimana? Dia sangat suka berbuat demikian. Lalu apa salahnya jika dirinya ingin mengekspresikan diri. Benarkan?


Dini tersenyum. Tanpa menjawab rengekan itu, Dini pun akhirnya menuruti keinginan sang suami. Pulang ke rumah dan bermanja-manja di sana.


Namun sebelum mereka melakukan itu, tiba-tiba saja Dini teringat dengan beberapa orang yang datang ke rumah mereka lagi ini. Mengaku sebagai tukang tagih salah satu koperasi.


Tak menunggu waktu lagi, Dini pun langsung mengkonfirmasi masalah yang ia hadapi hari ini.


"Abang, Dini mau tanya sesuatu, boleh?" pancing Dini lembut. Sengaja menggunakan nada suara sedikit manja, agar suaminya tidak marah. Sebab masalah yang hendak ia sampaikan ini sangatlah sensitif.


"Boleh, mau tanya apa, Sayang? Tanyakan saja," jawab Robin sembari menyamankan posisi duduknya.

__ADS_1


"Em, Abang tau nggak koperasi simpan pinjam Barokah?"


"Tau, kenapa? Di kampung abang ada koperasi itu. Kenapa menanyakan koperasi itu? Kamu ada masalah? Lagi kesulitan uang? atau gimana?" jawab Robin santai. Padahal dalam hati, ia sangat gugup. Karena ia tahu, ia ingat, bahwa dirinya masih memiliki hutang yang cukup banyak di koperasi simpan pinjam tersebut.


"Em, bukan. Ini bukan Dini yang bermasalah. Tapi Abang!"


"Aku? Ada apa denganku?" kilah Robin, seperti tak merasa memiliki dosa.


"Tadi pagi ada tiga orang datang ke rumah. Mereka nyariin Abang. Terus mereka ninggalin ini," jawab Dini sembari menyerahkan dokumen yang ditinggalkan oleh para dep koletor itu padanya.


Pelan namun pasti, Robin pun menerima map itu. Lalu membukanya dan membaca rentetan kalimat itu dengan seksama.


"Astaga! Banyak sekali!" pekik Robin, Pura-pura terkejut. Padahal sebenarnya dia baik-baik saja. Alias tidak merasa gimana-gimana.


"Apa benar Abang punya hutang pada mereka dengan nilai pinjaman plus bunga sebesar ini?" tanya Dini, masih dengan nada lembut agar Robin tidak tersinggung.


"Tidak, Sayang. Ini bukan Abang yang pinjam. Tapi kawan Abang dengan istrinya. Dia pernah minta tolong Abang untuk membantunya meminjamkan uang ke koperasi tersebut. Abang tidak tau jika dia tak rajin membayar cicilan. Coba deh nanti kalo hape Abang udah bener, Abang gak coba ngubungin dia. Kalo kek gini kan Abang jadi serba salah sama kamu. Takutnya kamu jadi punya pikiran macam-macam sama Abang. Iya kan?" jawab Robin berdalih.


"Oh, jadi sebenarnya yang pakek uangnya temen Abang. Abang hanya meminjamkan nama saja."


"He Em, begitu, Yang. Lagian waktu itu Abang kan masih bujang. Kebutunan belum begitu banyak. Ngapain pinjam uang sebanyak itu. Bukankah ini mustahil, Yang," dalih Robin lagi.


Dini mengangguk anggukkan kepala, berusaha menerima penjelasan sang suami. Menurut Dini ucapan Robin memang logis. Tapi diam-diam, Dini tetap ingin mencari tahu. Apakah yang di sampaikan Robin ini adalah kebenaran atau Robin hanya ingin berada di posisi aman saja.


Bersambung..

__ADS_1


Sambil nunggu update, kalian bisa mampir ke karya temen emak gaes. Semoga suka😍



__ADS_2